Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hari Konservasi Dunia, Saatnya Menjaga Bumi

URI: Lantik Dulu, Masalah Kemudian

KMD Pramuka Penggalang Resmi Dibuka di PGSD Bone

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 1 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Pencemaran sungai merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan
Richard MundzirRichard Mundzir12 Juli 2026 Lingkungan
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Sungai seharusnya menjadi sumber kehidupan. Dari aliran sungailah masyarakat memperoleh air untuk kebutuhan rumah tangga, mengairi sawah, menopang ekosistem, hingga menjadi habitat berbagai jenis ikan dan satwa liar. Namun, di banyak daerah di Indonesia, kondisi sungai justru semakin memprihatinkan. Air berubah keruh, dipenuhi sampah, mengeluarkan bau tidak sedap, bahkan kehilangan kehidupan yang dahulu menjadi ciri khasnya.

Lantas, mengapa sungai di Indonesia begitu cepat kotor? Apakah penyebabnya semata-mata karena masyarakat masih membuang sampah sembarangan?

Jawabannya ternyata lebih kompleks. Para ahli lingkungan menjelaskan bahwa pencemaran sungai merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari perubahan tata ruang, limbah domestik, aktivitas industri, hingga lemahnya pengelolaan sampah.

Sungai Menjadi Tempat Bermuaranya Berbagai Limbah

Pada dasarnya, sungai berada di titik terendah dalam suatu daerah aliran sungai (DAS). Air hujan yang turun di pegunungan, permukiman, jalan raya, sawah, hingga kawasan industri akan mengalir menuju sungai.

Artinya, apa pun yang dibuang di daratan berpotensi berakhir di sungai.

Ketika sampah plastik dibuang ke selokan, limbah rumah tangga dialirkan tanpa pengolahan, atau tanah tererosi akibat pembukaan lahan, semuanya akan terbawa aliran air menuju sungai. Karena itulah, kondisi sungai sering kali mencerminkan bagaimana masyarakat memperlakukan lingkungan di sekitarnya.

Limbah Rumah Tangga Menjadi Penyumbang Terbesar

Banyak orang mengira pencemaran sungai lebih banyak berasal dari pabrik. Padahal, di berbagai wilayah Indonesia, limbah domestik justru menjadi penyumbang utama.

Air bekas mencuci pakaian, sabun, deterjen, minyak goreng, sisa makanan, hingga limbah dari kamar mandi umumnya langsung dialirkan ke saluran drainase tanpa melalui proses pengolahan.

Dalam jumlah kecil, dampaknya mungkin tidak terlihat. Namun ketika jutaan rumah tangga melakukan hal yang sama setiap hari, beban pencemaran terhadap sungai menjadi sangat besar.

Kandungan fosfat dari deterjen, misalnya, dapat memicu ledakan pertumbuhan alga yang mengurangi kadar oksigen di dalam air. Kondisi ini membuat ikan dan organisme air lainnya sulit bertahan hidup.

Baca Juga:
  • DPR Desak Pemulihan Tambang Nikel Usai Izin Dicabut
  • Rafflesia Hasseltii Bermekaran, Mitos Kelangkaan Buyar
  • Pertamina Perluas Produksi Bioavtur Jelantah di Dua Kilang
  • Gen Z, Pilar Baru Gerakan Lingkungan Global

Sampah Plastik Masih Menjadi Masalah Besar

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat konsumsi plastik yang tinggi. Sayangnya, tidak semua sampah berhasil dikelola dengan baik.

Saat hujan turun, kantong plastik, botol minuman, kemasan makanan, hingga styrofoam yang berserakan di jalan atau selokan akan hanyut menuju sungai.

Sampah tersebut tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menyumbat aliran air, memperbesar risiko banjir, dan perlahan terurai menjadi mikroplastik yang mencemari lingkungan.

Ironisnya, mikroplastik tersebut kemudian dapat kembali kepada manusia melalui air, ikan, dan makanan yang dikonsumsi.

Berkurangnya Ruang Hijau Mempercepat Pencemaran

Pembangunan kota yang pesat mengubah banyak lahan hijau menjadi kawasan permukiman dan area komersial.

Akibatnya, air hujan tidak lagi mudah meresap ke dalam tanah. Sebaliknya, air langsung mengalir di atas permukaan beton sambil membawa tanah, pasir, oli kendaraan, logam berat, dan berbagai jenis polutan menuju sungai.

Fenomena ini dikenal sebagai runoff, yaitu limpasan air permukaan yang menjadi salah satu penyebab utama penurunan kualitas air di kawasan perkotaan.

Aktivitas Industri Turut Memberikan Tekanan

Di sejumlah daerah, pencemaran sungai juga berasal dari limbah industri yang tidak diolah secara optimal sebelum dibuang ke lingkungan.

Jenis limbahnya beragam, mulai dari zat pewarna tekstil, logam berat, bahan kimia, hingga limbah organik.

Meski pemerintah telah mewajibkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), pelanggaran masih ditemukan di beberapa wilayah sehingga kualitas air sungai terus menurun.

Artikel Terkait:
  • Bima Arya Curhat Kemacetan Bogor pada Heru Budi di Balai Kota DKI
  • Indonesia Miliki Potensi 59 GW PLTS dari Lahan Bekas Tambang
  • BMKG Prediksi Banjir Masih Ancam Bali hingga Tiga Hari
  • Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

Sungai Kehilangan Kemampuan Membersihkan Diri

Secara alami, sungai sebenarnya memiliki kemampuan melakukan pemurnian (self purification). Mikroorganisme akan menguraikan bahan organik sehingga kualitas air dapat pulih.

Namun kemampuan tersebut memiliki batas.

Ketika jumlah limbah yang masuk jauh lebih besar daripada kemampuan alam untuk menguraikannya, sungai kehilangan fungsi pemulihan alaminya. Air menjadi keruh, berbau, kadar oksigen menurun, dan kehidupan akuatik mulai terganggu.

Mengapa Kondisi Ini Perlu Diwaspadai?

Sungai yang tercemar bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat.

Air sungai yang kotor dapat menjadi media penyebaran bakteri, virus, dan parasit penyebab penyakit. Selain itu, pencemaran logam berat maupun mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan melalui ikan dan hasil perikanan lainnya.

Kerusakan sungai juga berdampak pada sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga meningkatkan biaya pengolahan air bersih yang harus ditanggung pemerintah dan masyarakat.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Menjaga sungai bukan hanya tugas pemerintah. Perubahan juga dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  • tidak membuang sampah ke sungai atau saluran air;
  • mengurangi penggunaan plastik sekali pakai;
  • menggunakan deterjen secukupnya dan memilih produk yang lebih ramah lingkungan;
  • memilah sampah organik dan anorganik;
  • ikut dalam kegiatan bersih sungai di lingkungan sekitar;
  • serta mendukung penghijauan di daerah aliran sungai.

Di tingkat kebijakan, penguatan sistem pengelolaan limbah domestik, peningkatan fasilitas pengolahan air limbah, penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan, dan edukasi masyarakat menjadi langkah penting untuk memperbaiki kualitas sungai Indonesia.

Jangan Lewatkan:
  • Banjir 3 Meter di Pancoran, Anak-anak Nekat Bermain Air
  • Rano Karno: Inovasi Sampah Kunci Agar Jakarta Tak Tenggelam
  • WWF gandeng 100 perusahaan jaga ekosistem laut
  • Menteri LH Percepat Daur Ulang untuk Atasi Sampah Plastik

Sungai yang Bersih Mencerminkan Peradaban

Banyak kota besar di dunia menjadikan sungai sebagai pusat kehidupan dan ruang publik yang bersih. Hal tersebut menunjukkan bahwa sungai bukan sekadar saluran air, melainkan aset ekologis dan sosial yang harus dijaga bersama.

Di Indonesia, sungai juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang besar. Banyak peradaban tumbuh di sepanjang aliran sungai, dan hingga kini jutaan masyarakat masih bergantung pada keberadaannya.

Karena itu, menjaga sungai berarti menjaga sumber air, keanekaragaman hayati, serta kualitas hidup generasi mendatang. Sungai yang bersih bukanlah sesuatu yang mustahil, tetapi membutuhkan perubahan perilaku, pengelolaan lingkungan yang lebih baik, dan komitmen bersama dari seluruh lapisan masyarakat.

Konservasi Air Lingkungan Pencemaran Sungai Sampah Plastik Sungai Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBenarkah Mikroplastik Sudah Masuk ke Tubuh Manusia? Ini Fakta Ilmiahnya
Next Article Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Informasi lainnya

Benarkah Mikroplastik Sudah Masuk ke Tubuh Manusia? Ini Fakta Ilmiahnya

11 Juli 2026

Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

10 Juli 2026

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

6 Juli 2026

Taman Pompeii Ungkap Jejak Parfum Kuno

18 April 2026

DKI Amankan 6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Hari Ini

17 April 2026

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

15 April 2026
Paling Sering Dibaca

Ibu Rumah Tangga di Musi Banyuasin Raup Penghasilan dari Ternak Jangkrik

Bisnis Silva

Dari Sel Penjara ke Ruang Sidang

Profil Lisda Lisdiawati

Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan

Editorial Udex Mundzir

Rupiah Terjun Bebas, Ekonomi ke Mana?

Editorial Udex Mundzir

Empat Kunci Hidup Tenang dalam Islam

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Global
Ericka10 Mei 2023

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

URI: Lantik Dulu, Masalah Kemudian

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Tahun 2026, ASN Tak Lagi Terima Uang Saku dan Tunjangan Pulsa

Mengapa Universitas Republik Indonesia Jadi Sorotan?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Mic Wireless Untuk Masjid Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi