Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

Danny Setiawan Wafat, Jejak Panjang Birokrat Jabar

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 25 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak

Hidangan paling bermakna lahir ketika banyak tangan bekerja dan menikmatinya bersama.
Alfi SalamahAlfi Salamah2 September 2026 Lingkungan
Masyarakat Papua memasak makanan dengan batu panas
Tradisi Bakar Batu Papua penuh makna kebersamaan
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Batu yang membara ternyata menyimpan cerita panjang tentang persaudaraan masyarakat Papua. Tradisi itu dikenal sebagai Bakar Batu. Masyarakat mengolah makanan menggunakan batu yang dipanaskan hingga bersuhu tinggi. Namun, maknanya jauh melampaui sebuah teknik memasak. Bakar Batu menjadi ruang syukur, pertemuan, perdamaian, dan kebersamaan masyarakat.

Tradisi Bakar Batu dikenal pada berbagai kelompok masyarakat Papua, terutama di kawasan pegunungan. Namanya juga berbeda pada beberapa kelompok masyarakat. Masyarakat Paniai mengenalnya sebagai gapii atau mogo gapii. Di Wamena, tradisi tersebut dikenal sebagai kit oba isago. Sementara itu, masyarakat Biak mengenalnya sebagai barapen.

Perbedaan nama menunjukkan luasnya pengetahuan memasak menggunakan batu panas. Setiap kelompok mempunyai ciri sesuai lingkungan dan kebiasaan masyarakatnya.

Bakar Batu biasanya digelar ketika masyarakat memiliki peristiwa penting. Tradisi ini hadir dalam pesta adat dan berbagai perayaan bersama. Bakar Batu juga memiliki hubungan dengan perdamaian setelah perselisihan antarkelompok.

“Simbol perdamaian jika terjadi perang suku.”

Keterangan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya tersebut menunjukkan makna penting Bakar Batu. Hidangan bersama dapat mempertemukan kembali masyarakat setelah muncul perselisihan.

Tradisi Memasak dengan Batu Panas

Proses Bakar Batu dimulai jauh sebelum makanan siap disantap. Masyarakat harus mengumpulkan berbagai kebutuhan secara bersama-sama.

Batu dan kayu menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Batu disusun bersama kayu sebelum api dinyalakan. Pembakaran berlangsung hingga batu menjadi sangat panas.

Pada saat bersamaan, bahan makanan mulai dipersiapkan. Umbi dan sayuran dibersihkan sebelum dimasak. Daging juga digunakan dalam beberapa pelaksanaan tradisi.

Sebuah lubang kemudian disiapkan sebagai tempat memasak. Batu panas ditempatkan pada bagian dasar lubang tersebut. Dedaunan digunakan sebagai lapisan sebelum bahan makanan dimasukkan.

Makanan kemudian disusun secara berlapis bersama batu panas. Lapisan daun kembali ditambahkan untuk mempertahankan suhu di dalamnya.

Panas yang terperangkap kemudian memasak bahan secara perlahan. Teknik sederhana tersebut tidak membutuhkan peralatan memasak modern.

Proses memasaknya tentu membutuhkan kesabaran. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menyebut proses tersebut memerlukan sekitar satu jam.

Waktu menunggu justru menjadi bagian menarik dalam Bakar Batu. Masyarakat tidak sekadar berdiri menanti makanan matang.

Mereka dapat berbincang dan menikmati suasana bersama. Kaum muda juga dapat mengisi suasana dengan tarian dan kegembiraan.

Ketika makanan matang, lapisan penutup mulai dibuka. Aroma makanan kemudian menjadi penanda bahwa hidangan siap dinikmati.

Baca Juga:
  • Seno Aji Kecam Penambang Nakal di Kaltim
  • WWF gandeng 100 perusahaan jaga ekosistem laut
  • Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Usai Karhutla
  • Menteri ESDM Hentikan Tambang Nikel di Raja Ampat Milik Antam

Makanan dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Anak-anak hingga orang tua dapat menikmati hidangan tersebut bersama.

Bakar Batu sebagai Simbol Kebersamaan

Di sinilah Bakar Batu berbeda dari acara makan biasa. Nilai terbesarnya tidak hanya berada pada makanan.

Ada semangat gotong royong sejak persiapan dimulai. Banyak orang mempunyai peran dalam keberhasilan acara.

Seseorang dapat bertugas mencari kayu. Orang lainnya menyiapkan batu atau membersihkan bahan makanan. Ada pula yang membantu mengatur proses memasak.

Pembagian pekerjaan membuat sebuah hidangan menjadi hasil usaha bersama. Tidak mengherankan jika makan kemudian menjadi momen yang sangat dinantikan.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana makanan mampu menghubungkan manusia. Meja makan bahkan tidak selalu dibutuhkan untuk menciptakan kebersamaan.

Bakar Batu juga digunakan dalam berbagai peristiwa masyarakat. Tradisi tersebut dapat menyertai kelahiran, perkawinan, hingga kegiatan adat lainnya.

Dalam konteks tertentu, Bakar Batu menjadi ungkapan rasa syukur. Masyarakat berkumpul dan membagikan makanan kepada orang-orang yang hadir.

Nilai berbagi menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari tradisi tersebut. Makanan tidak hanya disiapkan untuk satu orang atau satu keluarga.

Semangat itu membuat Bakar Batu mempunyai makna sosial yang kuat. Tradisi memasak berubah menjadi cara merawat hubungan antarmanusia.

Bakar Batu sekaligus memperlihatkan pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan lingkungan. Batu, kayu, daun, dan hasil kebun mempunyai fungsi masing-masing.

Alam menyediakan bahan makanan sekaligus alat untuk mengolahnya. Pengetahuan tersebut diwariskan melalui pengalaman dari generasi sebelumnya.

Teknik memasak menggunakan batu panas ternyata tidak hanya ditemukan di Papua. Masyarakat Larat di Kepulauan Tanimbar mengenal teknik bernama taangumun.

Teknik tersebut juga memanfaatkan batu panas untuk mengolah makanan. Umbi, sayuran, ikan, atau daging dapat dimasak dengan metode tersebut.

Kesamaan ini memperlihatkan kekayaan pengetahuan kuliner masyarakat Indonesia. Kondisi alam melahirkan berbagai teknologi memasak yang sederhana tetapi efektif.

Warisan Papua yang Tetap Relevan

Bakar Batu tetap hadir dalam berbagai kegiatan kebudayaan hingga masa modern. Tradisi tersebut juga diperkenalkan melalui berbagai festival budaya Papua.

Artikel Terkait:
  • Supermoon Akhir Mei Diprediksi Picu Rob di Pesisir Utara Jawa
  • Banjir 3 Meter di Pancoran, Anak-anak Nekat Bermain Air
  • Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci
  • Menteri LH: Indonesia Dikepung Tiga Krisis

Pesta Budaya Papua pada 2016 menjadi salah satu contohnya. Kegiatan tersebut ditutup dengan pelaksanaan pesta Bakar Batu.

Tradisi ini juga memperlihatkan kemampuannya beradaptasi. Bakar Batu dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan keyakinan masyarakat yang terlibat.

Sebuah kajian mengenai pelestariannya mencatat praktik Bakar Batu pada komunitas Muslim Papua. Bahan makanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Perubahan tersebut tidak harus menghilangkan inti sebuah tradisi. Kebersamaan tetap menjadi nilai yang dipertahankan.

Bagi kehidupan modern, pesan Bakar Batu terasa semakin menarik. Banyak orang sekarang terbiasa mendapatkan makanan secara cepat.

Makanan dapat dipesan hanya melalui beberapa sentuhan layar. Proses makan bahkan sering berlangsung tanpa interaksi dengan orang lain.

Bakar Batu menawarkan pengalaman yang berbeda. Sebuah makanan membutuhkan waktu, tenaga, komunikasi, dan kerja sama.

Tidak ada tombol untuk mempercepat prosesnya. Setiap orang harus menunggu hingga panas batu menyelesaikan pekerjaannya.

Kesabaran tersebut memberikan ruang bagi manusia untuk berinteraksi. Percakapan tumbuh ketika masyarakat menunggu makanan matang.

Tradisi ini juga mengingatkan bahwa sebuah perayaan tidak membutuhkan kemewahan. Kebahagiaan dapat hadir melalui bahan makanan sederhana.

Umbi dari kebun dapat menjadi bagian pesta besar. Batu dari alam dapat berubah menjadi alat memasak.

Namun, unsur terpentingnya tetap manusia yang berkumpul di sekelilingnya. Tanpa kebersamaan, Bakar Batu hanya menjadi sebuah teknik memasak.

Api memang menghangatkan batu. Namun, kebersamaan memberikan makna kepada makanan yang dihasilkan.

Jangan Lewatkan:
  • Rano Karno: Inovasi Sampah Kunci Agar Jakarta Tak Tenggelam
  • Gempa Poso M 5,8 Picu Tsunami Minor 4 Cm
  • DKI Amankan 6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Hari Ini
  • Larangan Baru di Bandara Terkenal Eropa Menjadi Sorotan!

Dari Papua, Bakar Batu membawa pelajaran sederhana bagi kehidupan hari ini. Makanan dapat menjadi jalan untuk mendekatkan manusia.

Tradisi ini juga menunjukkan bahwa warisan leluhur tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilainya masih dapat ditemukan dalam kehidupan sekarang.

Ketika makanan dibagikan, kebersamaan ikut dirawat. Ketika tradisi diteruskan, ingatan tentang leluhur tetap hidup.

Bakar Batu akhirnya bukan sekadar cara masyarakat Papua mematangkan makanan. Tradisi tersebut menjadi cara merayakan kehidupan bersama.

Di balik batu panas dan kepulan uap, tersimpan nilai yang lebih besar. Ada gotong royong, rasa syukur, perdamaian, dan semangat berbagi.

Warisan seperti inilah yang membuat kekayaan budaya Papua terus menarik untuk dikenali. Sebab, sebuah hidangan terkadang menyimpan cerita lebih panjang daripada rasanya.

Bakar Batu Papua Budaya Papua Kearifan Lokal Kuliner Papua Tradisi Papua
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleJakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci
Next Article 100 Mahasiswa UBB Dapat Beasiswa Kelapa 2026

Informasi lainnya

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

9 September 2026

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

8 September 2026

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

5 September 2026

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

30 Agustus 2026

Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Usai Karhutla

25 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Hindari 5 Jenis Orang Ini Jika Ingin Sukses dalam Bisnis

Bisnis Assyifa

Di Atas Hukum, Di Luar Akal Sehat

Editorial Udex Mundzir

Kisah Keluarga Imran, Inilah Perempuan Terpilih dan Mulia yang Harus Diketahui!

Islami Alfi Salamah

Urban Farming: Mandiri di Kota

Perspektif Alfi Salamah

6 Amalan Sunnah Malam Idulfitri

Islami Ericka
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi