Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Ferry Pimpin Syarikat Islam, Hamdan Ketua Dewan Pusat

Cegah Karhutla Berulang, PKS Kaltim Bergerak

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 23 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

Bumi yang memberi kehidupan juga selalu bergerak di bawah kaki kita.
Alfi SalamahAlfi Salamah9 September 2026 Lingkungan
Anak Krakatau
Anak Krakatau erupsi di tengah senja Selat Sunda
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Bumi bergerak tanpa menunggu manusia siap memperhatikannya. Di tengah Selat Sunda, Anak Krakatau kembali memperlihatkan aktivitasnya. Abu melayang jauh dari kawah. Penerbangan terganggu. Sekolah beralih ke pembelajaran daring. Seketika, gunung kecil di tengah laut memengaruhi kehidupan ratusan ribu orang.

Aktivitas Anak Krakatau meningkat sejak Juli 2026. Statusnya dinaikkan menjadi Level III atau Siaga pada Kamis (2/7/2026). Memasuki September, aktivitas tersebut berkembang menjadi rangkaian erupsi yang lebih intens.

Episode paling mencolok dimulai Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Fenomena itu disertai erupsi Strombolian dan semburan material pijar menyerupai air mancur lava.

Efeknya tidak berhenti di sekitar kawah.

Abu vulkanik mengganggu operasional delapan bandara. Ribuan penerbangan terdampak dan ratusan ribu perjalanan terganggu. Semua bandara kemudian kembali beroperasi setelah sebaran abu membaik.

Cerita Anak Krakatau sekali lagi membuka kenyataan lama. Indonesia memang tumbuh di atas wilayah geologi yang tidak pernah benar-benar diam.

Lahir dari Salah Satu Letusan Paling Terkenal

Nama Krakatau memiliki sejarah panjang.

Letusan Krakatau pada 1883 menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling dikenal dalam sejarah. Bencana tersebut menghasilkan tsunami besar dan meninggalkan perubahan pada kawasan Selat Sunda.

Namun, kisah Krakatau tidak selesai setelah gunung itu runtuh.

Aktivitas vulkanik kemudian membangun gunung baru dari kawasan kaldera. Gunung tersebut dikenal sebagai Anak Krakatau. Dengan kata lain, gunung yang sekarang kita lihat merupakan hasil proses geologi yang terus berlangsung.

Peristiwa besar kembali terjadi pada Sabtu (22/12/2018). Aktivitas vulkanik dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami di kawasan Selat Sunda. Setelah peristiwa itu, erupsi berskala lebih rendah terus berlangsung hingga Desember 2023.

Setelah jeda cukup panjang, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada 2 Juli 2026. Gunung itu seperti sedang membangun dirinya sendiri.

Setiap lontaran material, aliran lava, dan endapan baru menjadi bagian dari perubahan tubuh gunung. Proses tersebut dapat berlangsung bertahun-tahun, bahkan lintas generasi manusia.

Mengapa Indonesia Punya Begitu Banyak Gunung Api?

Jawabannya tersembunyi jauh di bawah permukaan. Indonesia berada pada kawasan yang dikenal sebagai Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Wilayah ini membentang mengelilingi sebagian besar Samudra Pasifik.

Indonesia juga berada dekat pertemuan beberapa lempeng tektonik. Lempeng-lempeng tersebut terus bergerak. Pada sejumlah wilayah, satu lempeng menyusup ke bawah lempeng lainnya. Proses ini disebut subduksi.

Jauh di bawah permukaan, proses tersebut berkaitan dengan pembentukan magma. Magma kemudian dapat bergerak menuju kerak bumi dan membentuk sistem gunung api.

Baca Juga:
  • Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli
  • Buka Puasa Lintas Iman Dorong Kepedulian Lingkungan
  • Indonesia-Gold Standard Akui Sertifikat Karbon Secara Timbal Balik
  • Pupuk Kaltim Menangkan Penghargaan AREA 2023: Inovasi Kitosan Cair Limbah Cangkang Rajungan

Itulah salah satu alasan Indonesia memiliki lebih dari 100 gunung api aktif. Anak Krakatau hanyalah satu bagian dari bentang vulkanik tersebut.

Pada Selasa (8/9/2026), misalnya, aktivitas vulkanik tidak hanya terjadi di Anak Krakatau. Gunung Ibu dan Ili Lewotolok juga tercatat mengalami erupsi.

Kondisi ini membuat letusan gunung bukan kejadian asing bagi Indonesia. Bagi sebagian masyarakat, gunung bahkan menjadi bagian dari pemandangan rumah setiap pagi.

Gunung Api Tidak Hanya Membawa Ancaman

Ada paradoks dalam kehidupan di Cincin Api.

Gunung api dapat menghadirkan bencana. Namun, proses vulkanik juga ikut membentuk bentang alam yang menjadi tempat manusia hidup.

Material vulkanik yang mengalami pelapukan dapat memperkaya tanah dengan berbagai mineral. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut mendukung kesuburan banyak kawasan pertanian.

Tak mengherankan jika permukiman dan lahan pertanian berkembang di sekitar sejumlah gunung api Indonesia.

Gunung juga menjadi sumber mata air, lanskap wisata, hingga bagian penting kebudayaan masyarakat.

Di Jawa dan Bali, misalnya, gunung tidak hanya dipandang sebagai struktur geologi. Sejumlah komunitas memiliki cerita, ritual, larangan, serta pengetahuan lokal yang berkembang bersama gunung.

Hubungannya rumit.

Gunung bisa memberi kehidupan sekaligus mengingatkan manusia tentang batas.

Itulah sebabnya hidup di wilayah vulkanik tidak cukup hanya mengandalkan keberanian. Pengetahuan menjadi jauh lebih penting.

Membaca Gunung dengan Teknologi

Saat ini, aktivitas Anak Krakatau tidak hanya diamati menggunakan mata manusia.

Badan Geologi melakukan pengamatan dari pos di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Banten. Pemantauan juga menggunakan CCTV serta berbagai instrumen kegempaan.

Gempa vulkanik dapat memberikan petunjuk mengenai pergerakan di dalam gunung. Tiltmeter membaca perubahan kemiringan tubuh gunung. Sementara RSAM membantu menggambarkan perubahan energi seismik.

Artikel Terkait:
  • Bahlil Ungkap Riwayat Izin Tambang PT GAG di Raja Ampat
  • Kebun Mini Super Kilat di Rumah
  • Ile Lewotolok Erupsi Ratusan Kali, Lava Menjalar 100 Meter
  • DKI Amankan 6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Hari Ini

Satelit ikut memberikan informasi dari angkasa.

Sebelum status Anak Krakatau dinaikkan pada Juli 2026, citra Sentinel telah memperlihatkan emisi sulfur dioksida. Anomali panas dan titik api di kawah juga terdeteksi sejak Juni.

Teknologi tersebut tidak membuat manusia mampu menghentikan erupsi.

Fungsinya berbeda.

Data membantu ilmuwan memahami perubahan gunung. Informasi itu kemudian menjadi dasar menentukan zona bahaya dan rekomendasi bagi masyarakat.

Pada Kamis (10/9/2026), Badan Geologi mencatat aktivitas Anak Krakatau cenderung menurun dibandingkan episode erupsi menerus sebelumnya. Namun, kemungkinan letusan berikutnya masih dinilai tinggi. Status Level III atau Siaga tetap dipertahankan.

Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas.

Ancaman yang diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi.

Hidup Bersama Gunung, Bukan Melawannya

Erupsi Anak Krakatau memberi satu pelajaran yang lebih luas daripada sekadar memahami gunung api.

Bencana tidak selalu dapat dicegah. Namun, risiko dapat dikurangi.

Mengetahui status gunung merupakan langkah sederhana. Memahami zona bahaya jauh lebih berguna daripada mendekati kawah demi foto dramatis. Mengikuti informasi resmi juga penting ketika video lama dan kabar tanpa sumber beredar di media sosial.

Hal terakhir itu bukan persoalan sepele.

Pada Juli 2026, Badan Geologi bahkan harus mengklarifikasi video yang diklaim memperlihatkan erupsi terbaru Anak Krakatau. Setelah diperiksa, rekaman tersebut ternyata bukan kejadian saat itu.

Jangan Lewatkan:
  • BMKG Cabut Peringatan Tsunami Usai Gempa Kamchatka
  • BMKG Prediksi Musim Kemarau 2025 Lebih Kering, Sektor Pertanian Diminta Siaga
  • Sampah Jadi Energi, Empat Proyek PSEL Dimulai Juni
  • BPBD DKI Umumkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Jakarta 5-9 Mei 2023

Di negeri dengan gunung api aktif, literasi bencana akhirnya menjadi bagian dari gaya hidup.

Seseorang mungkin tinggal ratusan kilometer dari kawah. Namun, abu vulkanik bisa memengaruhi penerbangan yang hendak ditumpanginya. Sekolah dapat ditutup. Aktivitas nelayan dapat berubah. Perjalanan bisa tertunda.

Erupsi Anak Krakatau pada September 2026 membuktikannya.

Kita mungkin tidak dapat memilih tempat Indonesia berdiri di atas peta geologi. Cincin Api sudah terbentuk jauh sebelum kota, jalan, dan bandara hadir.

Yang dapat dipilih adalah bagaimana manusia hidup di atasnya.

Anak Krakatau akan terus berubah. Gunung-gunung lain pun akan tetap bernapas dengan ritmenya sendiri. Tugas manusia bukan membuat bumi berhenti bergerak, melainkan semakin pandai membaca gerakannya.

Anak Krakatau Cincin Api Gunung Api Indonesia mitigasi bencana Sains Bumi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki
Next Article MUI Bantah Keterlibatan Resmi di Islam Ala Prabowo

Informasi lainnya

Cegah Karhutla Berulang, PKS Kaltim Bergerak

19 Oktober 2026

Asap Karhutla Menggila, Udara Kalimantan Berbahaya!

14 Oktober 2026

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

25 September 2026

Ketika Bencana Mengubah Cara Kita Bepergian

13 September 2026

Wisata Gunung Api, Indah tapi Seberapa Aman?

12 September 2026

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026
Paling Sering Dibaca

Samarinda ke Bontang: Di Atas Aspal Berliku, Menuju Kota di Ujung Timur

Travel Alfi Salamah

Ijazah Pejabat Harus Diverifikasi Ulang

Editorial Udex Mundzir

MPW PP Kaltim Gelar Nuzulul Quran, Ajak Masyarakat Jaga Silaturahmi dan Peduli Sesama

Islami Dexpert Corp

Peraturan Penggunaan Media Sosial untuk Anak di Indonesia

Techno Ericka

Makanan Indonesia Memukau Arab Saudi dengan Bakso dan Rendang

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Asap Karhutla Menggila, Udara Kalimantan Berbahaya!

Wonderchicken, Jejak Burung Awal Zaman Dinosaurus

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi