Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sudah Kerja Keras, Mengapa Sukses Belum Juga Datang?

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

Tren Hidup Hemat Gen Z, Gengsi Mulai Ditinggalkan?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 15 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

Kesederhanaan mengajarkan bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan kita sendiri.
Alfi SalamahAlfi Salamah5 September 2026 Travel
Masyarakat adat Ammatoa Kajang
Mengenal Suku Kajang di Bulukumba, masyarakat adat yang menjaga hutan
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Hitam yang sederhana menjadi pemandangan khas saat memasuki kawasan adat Ammatoa Kajang. Masyarakatnya tinggal di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pakaian hitam menjadi identitas yang mudah dikenali. Namun, kehidupan mereka menyimpan cerita lebih dalam. Kesederhanaan menjadi prinsip yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Masyarakat Ammatoa Kajang memiliki hubungan kuat dengan hutan di sekitar permukiman mereka. Hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan. Kawasan itu dipandang sebagai bagian penting kehidupan masyarakat. Data pemerintah mencatat Hutan Adat Ammatoa Kajang seluas 313,99 hektare. Status hutan adat tersebut tercatat sejak 2016.

Kawasan itu meliputi beberapa desa di Kecamatan Kajang. Di antaranya Tana Towa, Pattiroang, Bonto Baji, dan Malleleng. Keberadaan hutan tetap terjaga berkat aturan adat yang diwariskan turun-temurun.

Masyarakat Kajang mengenal pedoman kehidupan bernama Pasang ri Kajang. Pesan leluhur tersebut mengatur banyak sisi kehidupan masyarakat. Isinya mencakup hubungan manusia, lingkungan, hukum adat, hingga nilai kehidupan.

Salah satu prinsipnya mengingatkan masyarakat agar menjaga dunia dan seluruh isinya. Manusia, langit, dan hutan dipandang sebagai bagian yang saling berhubungan. Prinsip tersebut kemudian diterapkan dalam pengelolaan lingkungan sehari-hari.

“Hutan adalah sumber kehidupan!”

Pesan Ammatoa itu disampaikan saat kunjungan kebudayaan pada 4 Desember 2019 lalu. Ketika itu, perwakilan dari 15 daerah datang mempelajari kehidupan masyarakat Kajang. Mereka mempelajari cara masyarakat menjaga adat sekaligus melindungi lingkungan.

Baca Juga:
  • 5 Kota Dingin di Jawa Timur yang Cocok untuk Liburan
  • Wisata Instagramable Jadi Pangsa Pasar Baru
  • Bingung Mau Liburan Kemana? Yuk Nikmati Keindahan Wisata Alam Musim Panas di Nikko Jepang
  • Savoy Homann Hotel, Saksi Bisu Kejayaan Bandung

Aturan terhadap hutan juga tidak berhenti sebagai nasihat. Masyarakat mengenal hukum adat untuk melindungi kawasan tersebut. Menebang pohon secara sembarangan termasuk pelanggaran berat. Mengganggu lebah dan mengambil ikan tanpa izin juga dilarang.

Kehidupan masyarakat Kajang juga identik dengan warna hitam. Pilihan tersebut bukan sekadar gaya berpakaian tradisional. Hitam memiliki makna kesederhanaan dan kesetaraan dalam kehidupan masyarakat. Warna itu mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama.

Kesederhanaan tersebut dikenal melalui prinsip kamase-masea. Prinsip ini mendorong kehidupan yang bersahaja dan tidak berlebihan. Ammatoa sebagai pemimpin adat juga menjadi teladan dalam menjalankan nilai tersebut.

Menariknya, aturan adat tetap berjalan berdampingan dengan kehidupan bernegara. Masyarakat Kajang menjunjung hukum adat, aturan agama, serta hukum negara. Ketiganya menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Keberadaan masyarakat adat Ammatoa juga memperoleh pengakuan dari pemerintah daerah. Hak dan keberadaannya diperkuat melalui Peraturan Daerah Bulukumba Nomor 9 Tahun 2015. Pengakuan tersebut kemudian diperkuat dengan Peraturan Bupati Nomor 40 Tahun 2018.

Namun, daya tarik Kajang sebenarnya bukan hanya pada aturan tertulis. Filosofi kehidupan masyarakatnya terasa relevan bagi kehidupan modern.

Artikel Terkait:
  • Menikmati Senja dari Shibuya Sky Tokyo
  • Kyoto Kerek Tarif Wisata Demi Selamatkan Warisan Budaya
  • Pulau Sumba, Surga Eksotis Baru
  • Menembus Gelap

Saat banyak orang mengejar kecepatan, masyarakat Kajang mempertahankan kesederhanaan. Ketika konsumsi meningkat, mereka mengingatkan pentingnya mengambil secukupnya. Saat kerusakan lingkungan menjadi perhatian dunia, mereka telah lama menjaga hutannya.

Masyarakat Kajang menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu bermula dari teknologi canggih. Perlindungan alam dapat tumbuh dari nilai budaya yang dipatuhi bersama.

Hutan akhirnya bukan hanya sumber kayu atau ruang ekonomi. Hutan menjadi warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, berkunjung ke kawasan adat Ammatoa bukan sekadar perjalanan wisata budaya. Pengunjung dapat menemukan cara pandang berbeda mengenai hubungan manusia dengan alam.

Di tengah perubahan zaman, Suku Kajang membawa sebuah pesan sederhana. Kemajuan tidak harus membuat manusia meninggalkan kebijaksanaan leluhur. Terkadang, masa depan justru dapat diselamatkan dengan mengingat kembali nilai masa lalu.

Jangan Lewatkan:
  • Kastil Neuschwanstein, Dongeng Itu Nyata
  • Liburan Seru Cuma Rp1 Juta?
  • Curug Pelangi, Panorama Air dan Cahaya
  • Tips dan Perlengkapan Mendaki Gunung Rinjani bagi Pemula

Dari Bulukumba, masyarakat Kajang memberi pelajaran penting bagi Indonesia. Menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan. Tanggung jawab itu dapat dimulai dari cara manusia memandang alam.

Ketika alam dihormati sebagai bagian kehidupan, keinginan merusaknya menjadi semakin kecil. Itulah warisan berharga yang masih dijaga masyarakat Ammatoa Kajang hingga sekarang.

Ammatoa Kajang Budaya Bulukumba Hutan Adat Kearifan Lokal Suku Kajang
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleEmas Antam Naik Rp46 Ribu, Tembus Rp2,71 Juta
Next Article Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

Informasi lainnya

Ketika Bencana Mengubah Cara Kita Bepergian

13 September 2026

Wisata Gunung Api, Indah tapi Seberapa Aman?

12 September 2026

Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

6 September 2026

Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak

2 September 2026

Keindahan Desa Shirakawa-go yang Menawan

14 April 2026

Menjelajah Dunia Digital di teamLab Planets Tokyo

13 April 2026
Paling Sering Dibaca

Bersih-Bersih Kabinet Prabowo Dimulai

Editorial Udex Mundzir

Sahabat AI dan Ilusi Kedaulatan Digital

Editorial Udex Mundzir

Tiga Kelompok Wanita bagi Laki-laki dalam Islam: Mahram, Azwaj, dan Ajnabi

Islami Udex Mundzir

Modal Waktu

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Dari Memalukan ke Menakutkan

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi