Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 3 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Wisata Gunung Api, Indah tapi Seberapa Aman?

Keindahan alam selalu lebih bermakna ketika dinikmati dengan menghormati batasnya.
Alfi SalamahAlfi Salamah12 September 2026 Travel
Wisatawan menikmati gunung aktif dari zona pandang aman
Ilustrasi wisatawan menikmati gunung aktif dari zona pandang aman
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pesona berbahaya mungkin menjadi cara paling tepat menggambarkan wisata gunung api. Asap tipis dari kawah, lanskap hitam bekas lava, dan puncak yang menyala saat senja memang memikat. Namun, gunung aktif bukan panggung yang selalu bisa didekati sesuka hati.

Peristiwa Anak Krakatau pada September 2026 kembali mengingatkan hal tersebut. Gunung di Selat Sunda itu mengalami rangkaian erupsi yang mengganggu penerbangan, aktivitas nelayan, hingga kehidupan masyarakat. Statusnya masih berada pada Level III atau Siaga hingga Kamis (10/9/2026).

Badan Geologi secara tegas melarang masyarakat, wisatawan, dan pendaki memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Ancaman yang perlu diwaspadai mencakup awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.

Pemandangannya boleh indah.

Tetapi garis tiga kilometer itu bukan saran.

Gunung Aktif Bukan Destinasi Biasa

Wisata gunung api sebenarnya bukan fenomena baru.

Banyak pelancong tertarik melihat kawah, aliran lava lama, bentang pasir vulkanik, hingga matahari terbit dari ketinggian. Indonesia bahkan memiliki lebih dari 100 gunung api aktif karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik.

Kondisi geologi tersebut menciptakan lanskap yang sulit ditemukan di banyak negara.

Gunung api membentuk kaldera, danau, lembah, dataran tinggi, hingga tanah pertanian subur. Beberapa kawasan kemudian tumbuh menjadi destinasi wisata populer.

Masalah muncul ketika rasa penasaran mengalahkan kewaspadaan.

Gunung yang tampak tenang belum tentu benar-benar tenang.

Aktivitas vulkanik dapat berubah. Gempa kecil meningkat. Gas keluar lebih banyak. Material pijar dapat terlontar. Arah abu juga dapat bergeser mengikuti angin.

Perubahan seperti itu tidak selalu mudah dikenali wisatawan hanya dengan melihat kawah.

Itulah alasan status gunung dan rekomendasi resmi jauh lebih penting daripada penilaian mata.

Pada Anak Krakatau, status Level III telah berlaku sejak Kamis (2/7/2026). Wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi.

Larangan itu tetap berlaku lebih dari dua bulan kemudian.

Baca Juga:
  • Ledakan Wisata Labuan Bajo
  • Pesona Kawaguchiko dengan Latar Gunung Fuji
  • Wae Rebo, Desa di Atas Awan yang Menyimpan Pesona Budaya dan Alam
  • Ephesus: Kota Legendaris yang Tak Pernah Mati

Ketika Foto Bagus Membawa Orang Terlalu Dekat

Media sosial mengubah cara manusia melihat alam.

Sebuah foto kawah, semburan lava, atau kepulan abu dapat menyebar dalam hitungan menit. Pemandangan yang sebelumnya dianggap berbahaya kemudian terlihat seperti pengalaman yang harus dicoba.

Di sinilah muncul dilema.

Semakin dramatis aktivitas sebuah gunung, semakin menarik pula gambar yang dihasilkan.

Namun, titik terbaik untuk foto belum tentu titik terbaik untuk keselamatan.

Anak Krakatau menjadi contoh nyata.

Pada Sabtu (5/9/2026), gunung tersebut mengalami erupsi menerus. Semburan berwarna merah terlihat dari kejauhan seperti air mancur lava. Suara gemuruh bahkan dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Banten, Lampung, dan Jawa Barat.

Pemandangan semacam itu tentu mudah memancing rasa penasaran.

Namun, fenomena tersebut hadir bersama potensi lontaran batu pijar dan aliran lava. Mendekat demi mendapatkan gambar berarti memasuki kawasan yang sudah dinyatakan berbahaya.

Badan Geologi bahkan sempat mengklarifikasi informasi keliru yang beredar tentang radius aman Anak Krakatau. Rekomendasi resminya tetap tiga kilometer, bukan jarak lain yang beredar tanpa sumber.

Hal kecil seperti salah membaca angka dapat memiliki konsekuensi besar.

Bahaya Gunung Tidak Berhenti di Kawah

Ada anggapan bahwa seseorang aman selama tidak berdiri dekat kawah.

Kenyataannya lebih kompleks.

Erupsi Anak Krakatau pada awal September 2026 menghasilkan abu yang bergerak jauh mengikuti atmosfer. Delapan bandara sempat terganggu. Lebih dari 340 ribu pelancong terdampak sebelum seluruh bandara kembali beroperasi.

Aktivitas sekolah dan nelayan juga sempat terganggu karena abu. BNPB mengingatkan masyarakat menggunakan masker, melindungi mata, mengurangi kegiatan luar ruang, dan berhati-hati ketika berkendara.

Artinya, risiko vulkanik mempunyai banyak bentuk.

Artikel Terkait:
  • Menepi di Jejeran Cemara & Laut Lepas Pangempang
  • Menembus Gelap
  • Gunung Andong, Primadona Pendaki Pemula
  • Asal Usul Istilah “Pedagang Kaki Lima”

Ada abu. Ada lava. Ada batu pijar. Ada awan panas. Bahkan gangguan transportasi bisa terjadi ratusan kilometer dari pusat aktivitas.

Setiap gunung juga memiliki karakter berbeda.

Pada Gunung Semeru, misalnya, rekomendasi keselamatan bisa mencakup larangan aktivitas pada jarak tertentu dari kawah serta kawasan sepanjang aliran sungai. Ancaman awan panas dan lahar mengikuti bentuk lembah, bukan lingkaran sempurna seperti garis pada peta.

Karena itu, wisata gunung api tidak memiliki satu aturan aman yang berlaku untuk semua gunung.

Wisatawan perlu membaca rekomendasi khusus pada hari perjalanan.

Cara Menikmati Gunung Tanpa Menantangnya

Wisata gunung api tetap dapat memberikan pengalaman berharga.

Kuncinya bukan mendekati bahaya, melainkan memahami lanskap.

Pengunjung dapat menikmati panorama dari zona aman. Pusat informasi vulkanologi, museum geologi, desa di sekitar gunung, dan jalur wisata resmi juga dapat memberi pengalaman yang lebih kaya.

Cerita gunung tidak hanya berada di kawah.

Ada masyarakat yang hidup dari tanah vulkanik. Ada petani yang menyesuaikan musim tanam. Ada petugas pos pengamatan yang membaca data setiap hari. Ada tradisi lokal yang tumbuh dari hubungan panjang antara manusia dan gunung.

Wisata semacam itu bahkan bisa memberi pemahaman lebih dalam dibanding sekadar mengejar foto erupsi.

Sebelum berangkat, wisatawan juga perlu memeriksa status gunung melalui kanal resmi seperti MAGMA Indonesia atau Badan Geologi. Rekomendasi dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas.

Jangan hanya mengandalkan unggahan media sosial.

Jangan Lewatkan:
  • Samarinda ke Bontang: Di Atas Aspal Berliku, Menuju Kota di Ujung Timur
  • Curug Pelangi, Panorama Air dan Cahaya
  • Keindahan Alam Jepang yang Mempesona di Setiap Musim
  • 5 Kota Dingin di Jawa Timur yang Cocok untuk Liburan

Video lama bisa beredar kembali. Foto dari lokasi berbeda dapat diberi keterangan baru. Pada Juli 2026, Badan Geologi sampai harus mengklarifikasi video terkait Anak Krakatau yang beredar dengan informasi menyesatkan. Informasi resmi mungkin terlihat kurang dramatis. Namun, justru itulah yang dibutuhkan sebelum perjalanan.

Berwisata Tanpa Kehilangan Rasa Hormat

Indonesia hidup bersama gunung api. Kondisi tersebut membuat wisata vulkanik akan selalu memiliki daya tarik. Ada sesuatu yang memikat ketika manusia melihat langsung bagaimana bumi membentuk dirinya.

Tetapi pengalaman terbaik tidak harus menjadi pengalaman paling dekat.

Erupsi Anak Krakatau pada September 2026 memperlihatkan betapa cepat situasi dapat berubah. Dalam beberapa hari, abu mampu mengganggu ribuan penerbangan dan aktivitas masyarakat.

Wisatawan tidak perlu takut berlebihan terhadap gunung. Yang dibutuhkan adalah rasa hormat.

Mengikuti radius aman mungkin membuat pemandangan terasa sedikit lebih jauh. Membatalkan perjalanan juga mungkin mengecewakan. Namun, gunung masih akan ada ketika situasi kembali aman. Foto bisa menunggu. Keselamatan tidak selalu mendapatkan kesempatan kedua.

Anak Krakatau mitigasi bencana Travel Aman Wisata Gunung Api Wisata Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?
Next Article Ketika Bencana Mengubah Cara Kita Bepergian

Informasi lainnya

Ketika Bencana Mengubah Cara Kita Bepergian

13 September 2026

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

9 September 2026

Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

6 September 2026

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

5 September 2026

Keindahan Desa Shirakawa-go yang Menawan

14 April 2026
Paling Sering Dibaca

UI di Puncak Ranking, Tercoreng Predator Tambang

Editorial Udex Mundzir

Tren Global dan Peran Strategis Laporan Keberlanjutan

Bisnis Alfi Salamah

Sahabat Kecil Rasulullah

Islami Alfi Salamah

Cara Efektif Menghitung Dana Pensiun di Indonesia

Daily Tips Assyifa

Tantangan Representasi atau Simbolisme?

Editorial Alfi Salamah
Berita Lainnya
Hukum
Ericka25 Maret 2025

Hukum Barang Temuan dalam Islam

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi