Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Garam Kusamba Bali, Warisan Leluhur yang Mendunia

Larung Cai Cirebon, Warisan Budaya Penuh Makna

Prabowo Pecat Listyo Sigit, Ariyo Windutomo Jadi Plt KSP

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 6 November 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Garam Kusamba Bali, Warisan Leluhur yang Mendunia

Warisan budaya akan terus hidup selama ada tangan yang setia menjaga dan meneruskannya.
Alfi SalamahAlfi Salamah6 November 2026 Travel 1K Views
Garam tradisional Kusamba Bali yang diminati wisatawan mancanegara
Proses pembuatan Garam tradisional Kusamba Bali yang diminati wisatawan mancanegara
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Warisan rasa laut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Di pesisir berpasir hitam, petani masih mempertahankan cara tradisional membuat garam. Keunikan tersebut bahkan menarik wisatawan mancanegara untuk datang langsung dan membeli hasil produksinya.

Garam Kusamba kembali menarik perhatian setelah dikunjungi wisatawan asal Prancis pada Selasa (15/9/2026). Dua wisatawan bernama Jean Luc dan Maria mendatangi sentra produksi milik petani Nengah Kerta. Mereka tertarik setelah mengetahui proses pembuatan garam melalui internet. Keduanya membeli dua kilogram garam untuk dibawa pulang ke negaranya.

Keistimewaan Garam Kusamba tidak hanya terletak pada cita rasanya. Proses pembuatannya masih menggunakan teknik turun-temurun yang memanfaatkan pasir, air laut, dan sinar matahari. Cara tersebut menjadi identitas budaya masyarakat pesisir Kusamba.

Tradisi Membuat Garam yang Bertahan Berabad-abad

Tradisi pembuatan garam Kusamba diperkirakan telah berlangsung selama lebih dari sepuluh generasi. Sejarahnya berkaitan dengan kehidupan masyarakat pesisir sejak masa Kerajaan Klungkung.

Pengetahuan membuat garam diwariskan melalui pengalaman langsung dalam keluarga. Anak-anak petani biasanya mengenal proses produksi dari aktivitas orang tua mereka.

Berbeda dari produksi garam menggunakan tambak modern, petani Kusamba mengolah air laut melalui media pasir. Prosesnya membutuhkan ketelitian, tenaga, dan kondisi cuaca yang mendukung.

Petani memulai pekerjaan dengan mengambil air laut dari pesisir. Air tersebut kemudian disiramkan pada hamparan pasir yang telah disiapkan.

Panas matahari membantu menguapkan air dan meninggalkan kandungan garam pada pasir. Setelah mengering, pasir dikumpulkan untuk menjalani proses penyaringan.

Air digunakan kembali untuk melarutkan garam yang terkandung dalam pasir. Hasil penyaringan berupa larutan garam pekat kemudian ditampung dalam wadah tradisional.

Salah satu ciri khas produksi Kusamba adalah penggunaan palungan dari batang pohon kelapa. Larutan garam dituangkan ke dalam palungan tersebut untuk dijemur.

Penguapan berlangsung secara alami dengan bantuan sinar matahari. Setelah air menguap, kristal garam terbentuk dan siap dipanen.

Proses ini memperlihatkan hubungan erat antara keterampilan manusia dan kondisi alam. Petani harus memahami cuaca serta menentukan waktu yang tepat untuk setiap tahapan.

Baca Juga:
  • WNI Bisa Kunjungi 42 Negara Ini Tanpa Visa
  • Rekomendasi 10 Restaurant Terbaik di Jepang yang Harus Kamu Kunjungi!
  • Sensasi Tak Terlupakan Menginap Bersama Keluarga di Mercure & Ibis Samarinda
  • Curug Pelangi, Panorama Air dan Cahaya

Garam Kusamba Menarik Wisatawan Mancanegara

Keunikan proses pembuatan Garam Kusamba menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Mereka tidak hanya membeli garam, tetapi juga tertarik menyaksikan proses produksinya.

Kunjungan Jean Luc dan Maria menjadi salah satu contohnya. Berdasarkan laporan detikBali pada Rabu (16/9/2026), keduanya membeli garam seharga Rp50.000 per kilogram.

Garam tersebut dibawa ke Prancis setelah mereka melihat langsung proses pengolahannya. Pengalaman ini memperlihatkan daya tarik produk tradisional bagi pengunjung internasional.

Wisatawan asal Jepang, Australia, dan Belanda juga pernah dilaporkan mengunjungi sentra produksi Kusamba. Sebagian membeli garam dalam jumlah kecil untuk dijadikan oleh-oleh.

Garam Kusamba memiliki nilai lebih karena proses pembuatannya menyimpan cerita budaya. Setiap butiran garam menjadi hasil keterampilan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Selain dijual langsung kepada wisatawan, Garam Kusamba juga dipasarkan untuk kebutuhan konsumsi. Sebagian produk dikembangkan menjadi garam aromatik untuk kebutuhan spa.

Pengembangan tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Garam tradisional tidak hanya digunakan sebagai bumbu dapur, tetapi juga produk perawatan tubuh.

Identitas Garam Kusamba semakin kuat setelah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis. Pengakuan ini membantu menjaga karakteristik dan asal produk dari kawasan Kusamba.

Di Balik Popularitas, Petani Menghadapi Tantangan

Meski menarik perhatian wisatawan asing, keberlanjutan tradisi Garam Kusamba menghadapi berbagai tantangan.

Laporan detikBali pada Minggu (3/5/2026) menyebut jumlah keluarga petani garam semakin berkurang. Dari ratusan keluarga pada masa lalu, hanya sekitar 16 keluarga yang dilaporkan masih bertahan.

Berkurangnya jumlah petani menjadi perhatian bagi keberlangsungan warisan budaya tersebut. Apalagi, proses produksi membutuhkan tenaga fisik dan waktu yang tidak sedikit.

Artikel Terkait:
  • Menaklukkan Gunung Cikuray, Atap Tertinggi di Garut
  • Nikmati Liburan Tanpa Sakit dengan Gaya CERIA
  • Savoy Homann Hotel, Saksi Bisu Kejayaan Bandung
  • Perjalanan Pulang ke Samarinda: Di Bawah Langit Bontang yang Segar

Perubahan cuaca juga memengaruhi hasil produksi. Hujan dapat menghambat pengeringan pasir dan pembentukan kristal garam.

Selain itu, abrasi pantai menjadi ancaman bagi ruang produksi masyarakat. Berkurangnya kawasan pesisir dapat menyulitkan petani mempertahankan aktivitas tradisional mereka.

Tantangan lainnya muncul dari regenerasi yang semakin terbatas. Sebagian anak petani memilih pekerjaan lain karena mempertimbangkan pendapatan dan masa depan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup mengandalkan kebanggaan terhadap tradisi. Keberlanjutan ekonomi juga menjadi faktor penting bagi masyarakat.

Menjaga Tradisi Lewat Inovasi dan Kepedulian

Di tengah berbagai tantangan, masyarakat Kusamba terus berupaya mempertahankan keterampilan membuat garam.

Sebagian petani mengembangkan produk bernilai tambah untuk menjangkau pasar lebih luas. Garam aromatik menjadi salah satu inovasi yang pernah dikembangkan kelompok petani setempat.

Kehadiran wisatawan juga membuka peluang memperkenalkan proses produksi sebagai wisata edukasi. Pengunjung dapat mengenal hubungan antara kehidupan pesisir, budaya, dan sumber daya alam.

Namun, pengembangan wisata perlu tetap menghormati aktivitas petani. Proses pembuatan garam merupakan pekerjaan utama yang membutuhkan ruang dan waktu.

Dukungan terhadap produk lokal dapat membantu menjaga keberlanjutan tradisi. Membeli langsung dari petani menjadi salah satu cara menghargai hasil kerja mereka.

Jangan Lewatkan:
  • Eksotisme Gunung Papandayan, Surga Alam di Garut
  • Groundsel Raksasa: Harta Prasejarah di Atap Afrika
  • Wisata Gunung Api, Indah tapi Seberapa Aman?
  • Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

Pelestarian lingkungan pesisir juga memiliki peran penting. Tanpa kondisi pantai yang mendukung, proses produksi tradisional akan semakin sulit dipertahankan.

Garam Kusamba membuktikan bahwa kekayaan budaya Indonesia dapat ditemukan melalui aktivitas sederhana masyarakat. Keterampilan mengolah air laut menjadi garam menyimpan sejarah panjang dan pengetahuan berharga.

Ketertarikan wisatawan mancanegara menunjukkan bahwa tradisi lokal memiliki daya tarik melampaui batas negara. Namun, keberlanjutannya tetap bergantung pada kesejahteraan petani dan keterlibatan generasi penerus.

Dari pesisir Klungkung, Garam Kusamba membawa pesan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur. Setiap butirnya bukan sekadar penyedap makanan, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang patut dilestarikan.

Budaya Bali Garam Kusamba Tradisi Pesisir Warisan Leluhur Wisata Budaya Bali
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleLarung Cai Cirebon, Warisan Budaya Penuh Makna

Informasi lainnya

Ketika Bencana Mengubah Cara Kita Bepergian

13 September 2026

Wisata Gunung Api, Indah tapi Seberapa Aman?

12 September 2026

Wulla Poddu, Bulan Sakral yang Hidup di Sumba

6 September 2026

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

5 September 2026

Keindahan Desa Shirakawa-go yang Menawan

14 April 2026

Menjelajah Dunia Digital di teamLab Planets Tokyo

13 April 2026
Paling Sering Dibaca

Prabowo Tidak Peka Terhadap Derita Rakyat

Editorial Udex Mundzir

Kenapa Kita Sering Lelah Padahal Tidur Sudah Cukup?

Daily Tips Alfi Salamah

Persiapan Ramadhan

Islami Assyifa

Elon Musk Cetak Sejarah, Kekayaan Tembus Rp 7.000 Triliun

Profil Silva

Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar

Perspektif Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih Dipersoalkan di MK

Dua Anak Menteri Haji Mundur Usai Disorot Nepotisme

Raffi Ahmad Ajak Lawan Hoaks, Peserta Deklarasi Sumpah Pemuda Akui Dibayar

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi