Warisan rasa laut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Di pesisir berpasir hitam, petani masih mempertahankan cara tradisional membuat garam. Keunikan tersebut bahkan menarik wisatawan mancanegara untuk datang langsung dan membeli hasil produksinya.
Garam Kusamba kembali menarik perhatian setelah dikunjungi wisatawan asal Prancis pada Selasa (15/9/2026). Dua wisatawan bernama Jean Luc dan Maria mendatangi sentra produksi milik petani Nengah Kerta. Mereka tertarik setelah mengetahui proses pembuatan garam melalui internet. Keduanya membeli dua kilogram garam untuk dibawa pulang ke negaranya.
Keistimewaan Garam Kusamba tidak hanya terletak pada cita rasanya. Proses pembuatannya masih menggunakan teknik turun-temurun yang memanfaatkan pasir, air laut, dan sinar matahari. Cara tersebut menjadi identitas budaya masyarakat pesisir Kusamba.
Tradisi Membuat Garam yang Bertahan Berabad-abad
Tradisi pembuatan garam Kusamba diperkirakan telah berlangsung selama lebih dari sepuluh generasi. Sejarahnya berkaitan dengan kehidupan masyarakat pesisir sejak masa Kerajaan Klungkung.
Pengetahuan membuat garam diwariskan melalui pengalaman langsung dalam keluarga. Anak-anak petani biasanya mengenal proses produksi dari aktivitas orang tua mereka.
Berbeda dari produksi garam menggunakan tambak modern, petani Kusamba mengolah air laut melalui media pasir. Prosesnya membutuhkan ketelitian, tenaga, dan kondisi cuaca yang mendukung.
Petani memulai pekerjaan dengan mengambil air laut dari pesisir. Air tersebut kemudian disiramkan pada hamparan pasir yang telah disiapkan.
Panas matahari membantu menguapkan air dan meninggalkan kandungan garam pada pasir. Setelah mengering, pasir dikumpulkan untuk menjalani proses penyaringan.
Air digunakan kembali untuk melarutkan garam yang terkandung dalam pasir. Hasil penyaringan berupa larutan garam pekat kemudian ditampung dalam wadah tradisional.
Salah satu ciri khas produksi Kusamba adalah penggunaan palungan dari batang pohon kelapa. Larutan garam dituangkan ke dalam palungan tersebut untuk dijemur.
Penguapan berlangsung secara alami dengan bantuan sinar matahari. Setelah air menguap, kristal garam terbentuk dan siap dipanen.
Proses ini memperlihatkan hubungan erat antara keterampilan manusia dan kondisi alam. Petani harus memahami cuaca serta menentukan waktu yang tepat untuk setiap tahapan.
Garam Kusamba Menarik Wisatawan Mancanegara
Keunikan proses pembuatan Garam Kusamba menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Mereka tidak hanya membeli garam, tetapi juga tertarik menyaksikan proses produksinya.
Kunjungan Jean Luc dan Maria menjadi salah satu contohnya. Berdasarkan laporan detikBali pada Rabu (16/9/2026), keduanya membeli garam seharga Rp50.000 per kilogram.
Garam tersebut dibawa ke Prancis setelah mereka melihat langsung proses pengolahannya. Pengalaman ini memperlihatkan daya tarik produk tradisional bagi pengunjung internasional.
Wisatawan asal Jepang, Australia, dan Belanda juga pernah dilaporkan mengunjungi sentra produksi Kusamba. Sebagian membeli garam dalam jumlah kecil untuk dijadikan oleh-oleh.
Garam Kusamba memiliki nilai lebih karena proses pembuatannya menyimpan cerita budaya. Setiap butiran garam menjadi hasil keterampilan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Selain dijual langsung kepada wisatawan, Garam Kusamba juga dipasarkan untuk kebutuhan konsumsi. Sebagian produk dikembangkan menjadi garam aromatik untuk kebutuhan spa.
Pengembangan tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Garam tradisional tidak hanya digunakan sebagai bumbu dapur, tetapi juga produk perawatan tubuh.
Identitas Garam Kusamba semakin kuat setelah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis. Pengakuan ini membantu menjaga karakteristik dan asal produk dari kawasan Kusamba.
Di Balik Popularitas, Petani Menghadapi Tantangan
Meski menarik perhatian wisatawan asing, keberlanjutan tradisi Garam Kusamba menghadapi berbagai tantangan.
Laporan detikBali pada Minggu (3/5/2026) menyebut jumlah keluarga petani garam semakin berkurang. Dari ratusan keluarga pada masa lalu, hanya sekitar 16 keluarga yang dilaporkan masih bertahan.
Berkurangnya jumlah petani menjadi perhatian bagi keberlangsungan warisan budaya tersebut. Apalagi, proses produksi membutuhkan tenaga fisik dan waktu yang tidak sedikit.
Perubahan cuaca juga memengaruhi hasil produksi. Hujan dapat menghambat pengeringan pasir dan pembentukan kristal garam.
Selain itu, abrasi pantai menjadi ancaman bagi ruang produksi masyarakat. Berkurangnya kawasan pesisir dapat menyulitkan petani mempertahankan aktivitas tradisional mereka.
Tantangan lainnya muncul dari regenerasi yang semakin terbatas. Sebagian anak petani memilih pekerjaan lain karena mempertimbangkan pendapatan dan masa depan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup mengandalkan kebanggaan terhadap tradisi. Keberlanjutan ekonomi juga menjadi faktor penting bagi masyarakat.
Menjaga Tradisi Lewat Inovasi dan Kepedulian
Di tengah berbagai tantangan, masyarakat Kusamba terus berupaya mempertahankan keterampilan membuat garam.
Sebagian petani mengembangkan produk bernilai tambah untuk menjangkau pasar lebih luas. Garam aromatik menjadi salah satu inovasi yang pernah dikembangkan kelompok petani setempat.
Kehadiran wisatawan juga membuka peluang memperkenalkan proses produksi sebagai wisata edukasi. Pengunjung dapat mengenal hubungan antara kehidupan pesisir, budaya, dan sumber daya alam.
Namun, pengembangan wisata perlu tetap menghormati aktivitas petani. Proses pembuatan garam merupakan pekerjaan utama yang membutuhkan ruang dan waktu.
Dukungan terhadap produk lokal dapat membantu menjaga keberlanjutan tradisi. Membeli langsung dari petani menjadi salah satu cara menghargai hasil kerja mereka.
Pelestarian lingkungan pesisir juga memiliki peran penting. Tanpa kondisi pantai yang mendukung, proses produksi tradisional akan semakin sulit dipertahankan.
Garam Kusamba membuktikan bahwa kekayaan budaya Indonesia dapat ditemukan melalui aktivitas sederhana masyarakat. Keterampilan mengolah air laut menjadi garam menyimpan sejarah panjang dan pengetahuan berharga.
Ketertarikan wisatawan mancanegara menunjukkan bahwa tradisi lokal memiliki daya tarik melampaui batas negara. Namun, keberlanjutannya tetap bergantung pada kesejahteraan petani dan keterlibatan generasi penerus.
Dari pesisir Klungkung, Garam Kusamba membawa pesan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur. Setiap butirnya bukan sekadar penyedap makanan, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang patut dilestarikan.
