Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Hari Kunjung Perpustakaan, Masihkah Siswa Gemar Membaca?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 16 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Polres Sampang Kecolongan

Seminggu lagi pencoblosan, Pilkada Sampang 2024 krisis keamanan
Udex MundzirUdex Mundzir18 November 2024 Editorial 1K Views
Polres Sampang kecolongan keamanan Pilkada
Ka Polres Sampang AKBP Hendro Sukmono (.trm)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Insiden tragis yang terjadi dalam Pilkada Sampang 2024 mengejutkan publik setelah seorang pria bernama Jimmy Sugito Putra, saksi dari pasangan calon, meninggal dunia akibat pengeroyokan di Desa Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang, pada Minggu (17/11/2024) sore.

Insiden itu, yang direkam dalam video dan viral di media sosial, mengungkap lemahnya pengawasan dan respons aparat dalam menjamin keamanan proses politik di daerah tersebut.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar terkait kelalaian intelijen dan koordinasi keamanan Polres Sampang, yang tampaknya tidak mengantisipasi bahwa Ketapang bisa menjadi lokasi yang rawan.

Kejadian di Ketapang Laok memperlihatkan adanya celah besar dalam pemetaan wilayah rawan konflik di Sampang. Parahnya, wilayah Ketapang itu sendiri tidak masuk ke dalam pantauan titik rawan di Pilkada Sampang 2024, yang seharusnya menjadi perhatian sejak awal mengingat potensi ketegangan politik yang ada.

Seharusnya, intelijen bekerja lebih teliti dan waspada terhadap berbagai kemungkinan konflik yang bisa muncul, terutama pada lokasi yang mungkin dianggap aman tetapi memiliki dinamika politik yang kompleks. Kecolongan yang terjadi kali ini membuktikan perlunya pendekatan yang lebih mendalam dalam menilai situasi politik setempat.

Korban mengalami pengeroyokan di Ketapang Laok saat rombongan pasangan calon selesai menghadiri pertemuan dengan tokoh masyarakat setempat. Setelah acara berakhir, rombongan mereka dihadang oleh sekelompok orang yang diduga afiliasi politik dari lawan.

Meskipun negosiasi sempat dilakukan dan rombongan berhasil meninggalkan lokasi tanpa insiden, ketegangan kembali meningkat beberapa saat kemudian. Kelompok yang mengadang diduga mengejar dan melakukan pengeroyokan secara terhadap korban. Insiden tragis ini menunjukkan betapa lemahnya pengawasan serta koordinasi pengamanan, terutama di wilayah yang luput dari pantauan titik rawan.

Penyelidikan yang kini dilakukan oleh Polres Sampang patut diapresiasi, namun ini tidak bisa menggantikan fakta bahwa nyawa seseorang telah hilang akibat lemahnya pengawasan dan ketidaksiapan aparat. Dalam konteks ini, kecolongan yang dialami Polres Sampang mencerminkan kegagalan serius dalam menjamin keamanan Pilkada. Itu juga ancaman bagi demokrasi itu sendiri ketika intimidasi dan kekerasan seolah menjadi alat politik yang brutal.

Baca Juga:
  • Tegakkan Hukum, Bukan Cari Kambing Hitam
  • Bukan Sekadar Angka Kemiskinan
  • Menguji Gelar Pahlawan Soeharto
  • Raja Kecil di Birokrasi, Prabowo Gertak Sambal?

Masyarakat yang seharusnya mendapatkan jaminan keamanan kini harus menyaksikan ketidakhadiran atau keterlambatan respons aparat yang seharusnya bisa mencegah kejadian ini.

Namun, jangan salahkan warga masyarakat dalam hal ini. Dalam suasana politik yang semakin memanas, kekerasan kerap kali muncul dari ketegangan yang tidak terkendali.

Justru yang patut dipertanyakan adalah kemampuan aparat dalam mengendalikan situasi dan membaca perkembangan keamanan di lapangan. Kesalahan jelas ada pada kepolisian yang gagal mengantisipasi potensi konflik serta tidak siap meredam ketegangan di tengah masyarakat.

Intelijen kepolisian semestinya mampu mendeteksi risiko dan menempatkan Ketapang dalam daftar wilayah yang perlu dipantau ketat. Dengan demikian, konflik yang berujung pada tragedi ini sebenarnya bisa dihindari jika aparat keamanan lebih waspada dan profesional.

Kekerasan dalam Pilkada Sampang ini menambah daftar panjang aksi brutal yang kerap menyertai proses pemilu di berbagai daerah di Indonesia. Setiap kali insiden seperti ini terjadi, respons aparat sering kali hanya berupa penanganan pasca-kejadian tanpa ada langkah preventif yang nyata. Tanpa pemetaan dan persiapan yang lebih matang di lapangan, kejadian serupa bisa terulang dan membahayakan proses demokrasi.

Polres Sampang, pun dalam konteks ini, tidak hanya harus mengusut kejadian secara tuntas, tetapi juga perlu memikirkan langkah-langkah preventif yang lebih strategis agar hal serupa tidak terjadi lagi di masa depan.

Parahnya, kasus ini mengindikasikan bahwa pemetaan konflik di Pilkada masih terlalu sempit dan mengabaikan dinamika politik lokal yang lebih kompleks.

Artikel Terkait:
  • Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Siapa Masuk Penjara?
  • Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua
  • Yang Mau Lanjutkan Bangun IKN, Silakan Patungan
  • Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Selain itu, lemahnya pemantauan dari aparat intelijen di wilayah-wilayah yang dianggap aman, seperti Ketapang, menjadi celah besar yang rentan disusupi konflik. Polres Sampang perlu memastikan bahwa setiap wilayah yang memiliki potensi konflik politik mendapatkan perhatian penuh dan pengamanan yang memadai.

Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, pembenahan besar-besaran perlu dilakukan dalam sistem pengamanan Pilkada, khususnya di wilayah dengan potensi konflik yang tinggi. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah memperketat koordinasi antara tim intelijen dengan aparat pengamanan di lapangan untuk memastikan pemetaan konflik yang lebih akurat.

Dengan demikian, aparat bisa bertindak tidak hanya secara reaktif, tetapi juga secara preventif untuk mencegah hal serupa terjadi di kemudian hari.

Di tengah rasa khawatir yang menyelimuti masyarakat, harapan besar diberikan kepada Polres Sampang agar dapat mengembalikan situasi yang kondusif serta mengusut tuntas pelaku yang bertanggung jawab atas insiden ini. Penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu sangat dibutuhkan untuk meredam potensi konflik lanjutan dan memastikan bahwa tidak ada pihak yang merasa kebal terhadap hukum.

Tantangan terbesar bagi kepolisian saat ini adalah memulihkan kepercayaan masyarakat. Transparansi dalam proses penyelidikan, pengamanan yang lebih ketat, dan pernyataan komitmen untuk menjaga demokrasi adalah langkah penting yang bisa diambil untuk kembali meraih kepercayaan publik.

Kasus di Sampang ini harus menjadi peringatan serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses Pilkada. Demokrasi yang sehat hanya bisa berjalan dengan adanya penegakan hukum yang tegas dan pengamanan yang solid. Jika aparat terus kecolongan, maka proses demokrasi akan berubah menjadi arena kekerasan yang tak berkesudahan.

Jangan Lewatkan:
  • Negeri Pungli dan Pajak Tinggi
  • Di Atas Hukum, Di Luar Akal Sehat
  • Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)
  • Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

Demi mewujudkan Pilkada yang damai, semua elemen masyarakat perlu menahan diri, menjunjung tinggi aturan, dan menghormati proses hukum.

Dengan harapan besar, kita semua berharap agar kasus ini menjadi yang terakhir dalam sejarah Pilkada di Indonesia. Demokrasi harus bisa berjalan tanpa darah dan air mata, dan itu adalah tanggung jawab bersama, terutama bagi aparat keamanan yang berperan sebagai penjaga keadilan.

Keamanan Pilkada Kekerasan politik Pilkada 2024 Polres Sampang
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDP3A Kutim Gelar Bimtek Aplikasi Srikandi
Next Article Gus Nadir: Fiqih Sosial Harus Adaptif di Tengah Kemajuan Teknologi

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Menakar Usia Ideal Penggunaan HP bagi Anak

Editorial Udex Mundzir

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Perspektif Udex Mundzir

Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025

Happy Assyifa

Ketika Putra Mahkota Solo ‘Menyesal’ Bergabung dengan Republik

Editorial Udex Mundzir

Gunung Andong, Primadona Pendaki Pemula

Travel Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Harga Plastik Naik Tajam, Pedagang Kopi Tertekan

5 Amalan Utama Ketika Gerhana Bulan Terjadi

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi