Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 22 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ketika Putra Mahkota Solo ‘Menyesal’ Bergabung dengan Republik

Ungkapan satir dari Keraton Surakarta bukan sekadar nostalgia masa lalu, tetapi kritik keras terhadap janji yang tak kunjung ditepati.
Udex MundzirUdex Mundzir4 Maret 2025 Editorial
Kritik Putra Mahkota Solo terhadap Pemerintah
Putra Mahkota Solo dan Penyesalan Bergabung dengan Republik (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Gelombang kekecewaan terhadap pemerintah kini datang dari tempat yang tak terduga: Keraton Surakarta. Putra Mahkota Solo, KGPAA Hamengkunegoro, lewat unggahannya di media sosial mengungkapkan sindiran tajam: “Nyesel Gabung Republik.” Pernyataan ini langsung memicu perdebatan. Apakah ini bentuk nostalgia feodalisme atau justru cerminan dari kekecewaan yang lebih luas?

Keraton Surakarta, bersama Kesultanan Yogyakarta, dahulu berperan besar dalam pembentukan Republik Indonesia. Pada 5 September 1945, Kasunanan Surakarta menjadi wilayah pertama yang menyatakan diri bergabung dengan NKRI, bahkan sebelum Yogyakarta. Namun, hanya setahun kemudian, status istimewanya dicabut oleh pemerintah pusat akibat tekanan politik dan konflik internal.

Sejak saat itu, Keraton Surakarta terus mengalami kemunduran. Tidak seperti Yogyakarta yang mempertahankan status Daerah Istimewa, Surakarta terpinggirkan dari struktur politik nasional. Kekuasaan politiknya hilang, otoritasnya melemah, dan aset-asetnya menjadi polemik berkepanjangan.

Baca Juga:
  • Hukum yang Dikebut, Rakyat yang Terjebak
  • Bahlil Membuat Gaduh, Lalu Berlagak Penyelamat
  • Terpidana Dilindungi, Hukum Dipermalukan
  • Pilkada Sampang 2024: Situasi Ketat, Mandat Diunggulkan

Ungkapan Putra Mahkota Solo bukan sekadar ekspresi pribadi. Ini adalah refleksi dari kekecewaan yang lebih dalam terhadap tata kelola negara. Ia menyoroti berbagai persoalan nasional, mulai dari korupsi, pengelolaan sumber daya, hingga kebijakan ekonomi yang dinilai tak berpihak pada rakyat.

Dalam sejarah politik Indonesia, kritik dari kalangan bangsawan bukanlah hal baru. Raja-raja di Nusantara pernah berperan sebagai penjaga keseimbangan kekuasaan, memberikan peringatan terhadap penyimpangan penguasa. Namun, kritik dari Keraton Surakarta kali ini berbeda: ia datang dari lembaga yang sudah lama terpinggirkan, tanpa posisi strategis di pemerintahan.

Publik merespons dengan beragam. Ada yang menilai ini sebagai upaya mencari perhatian, ada pula yang melihatnya sebagai kritik yang sah. Namun, satu hal yang tak bisa diabaikan: ketika simbol budaya mulai bersuara lantang, ini menandakan ada sesuatu yang benar-benar salah dalam sistem pemerintahan.

Artikel Terkait:
  • Refleksi Kemenangan dan Kekalahan dalam Pilkada 2024
  • Logika Nol yang Menyesatkan
  • Riset Murah, Mimpi Besar
  • Ilmu yang Terasing di Negeri Sendiri

Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah pemerintah akan menanggapi kritik ini dengan bijak atau justru mengabaikannya? Jika suara dari Keraton saja tidak didengar, bagaimana dengan rakyat biasa yang terus berjuang dalam ketidakpastian ekonomi dan sosial?

Ungkapan satir dari Putra Mahkota Solo ini harus dibaca lebih dari sekadar nostalgia feodal. Ini adalah cermin bagi penguasa hari ini, bahwa sejarah akan selalu mencatat janji-janji yang tak ditepati.

Jangan Lewatkan:
  • Dilema Profesi Guru di Tengah Ancaman Kriminalisasi
  • Rombak Kabinet, Reformasi Aparat
  • Sekolah Bukan Mesin Hafalan
  • Golkar di Persimpangan Jalan
Keraton Surakarta Kritik Pemerintah Politik Indonesia Putra Mahkota Solo Sejarah Kesunanan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRun Street Ramadhan Kukar Dorong Gaya Hidup Positif Pemuda
Next Article Pidato Perdana Wali Kota Tasikmalaya: Komitmen Bangun Kota Santri yang Maju

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Integritas di Balik Gelar Akademik

Editorial Udex Mundzir

Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana

Editorial Udex Mundzir

Adam D’Angelo: Pendiri Quora dan Mantan CTO Facebook

Profil Ericka

Menjelajahi Dunia Cookies yang Tak Bisa Ditolak

Food Alfi Salamah

Demokrasi Tak Boleh Kalah Oleh Lumpur

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Daerah
Alfi Salamah19 Juli 2026

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Bukan Kutukan, Ini Penyebab Mata Kedutan Menurut Medis

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi