Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 17 Mei 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Yang Mau Lanjutkan Bangun IKN, Silakan Patungan

Jika ambisi pembangunan tak sejalan dengan logika rakyat, mungkin saatnya diuji: siapa yang benar-benar mau menanggung biayanya?
Udex MundzirUdex Mundzir9 Februari 2025 Editorial
Pembangunan IKN dan Kritik Publik
Pembangunan IKN (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Gagasan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang awalnya dibungkus dengan narasi modernisasi, transformasi, dan kebanggaan nasional, kini justru menjadi bahan olok-olok di ruang publik.

Slogan sarkastis “yang mau lanjutkan bangun IKN, silakan patungan” bukan sekadar guyonan biasa. Itu adalah ekspresi frustrasi yang mencerminkan betapa renggangnya jarak antara kebijakan ambisius pemerintah dan realitas kehidupan sehari-hari rakyat.

Ketika rakyat diminta berhemat, menghadapi harga kebutuhan pokok yang melambung, dan berjuang dengan akses layanan publik yang minim, pemerintah justru sibuk mengurus megaproyek yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan sederhana namun fundamental: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari proyek ini?

Jika manfaatnya begitu jelas dan besar, mengapa antusiasme masyarakat justru lebih banyak diwujudkan dalam bentuk sindiran ketimbang dukungan nyata?

Fenomena ini memperlihatkan kegagalan pemerintah dalam membaca suasana kebatinan publik. Warga tidak sekadar menolak karena tidak suka dengan perubahan, tetapi karena mereka melihat ketimpangan antara kebutuhan dasar yang belum terpenuhi dan obsesi pemerintah terhadap pembangunan fisik yang megah.

Publik lelah dengan janji-janji manis yang tidak menyentuh kebutuhan riil mereka. Di tengah inflasi yang menekan daya beli, sulit untuk mengharapkan rakyat bersimpati pada proyek yang terasa jauh dari urgensi hidup mereka.

Apalagi, narasi yang dibangun pemerintah tentang IKN sering kali terdengar klise: “akan menjadi pusat ekonomi baru,” “mendorong pemerataan pembangunan,” atau “menciptakan lapangan kerja.”

Klaim-klaim ini tanpa disertai bukti konkret di lapangan hanya akan menjadi jargon kosong.

Masyarakat sudah cukup kenyang dengan pengalaman masa lalu di mana proyek-proyek besar justru menjadi lahan subur untuk korupsi, pemborosan anggaran, dan ketidaktransparanan.

Baca Juga:
  • Negara Diam, Judi Online Merajalela
  • Waspadai, Purbaya Anak Buah Luhut
  • Pajak dan Beban Kehidupan
  • Keadilan Dibelokkan oleh Kekuasaan

Kritik yang muncul di media sosial menunjukkan bahwa masyarakat bukan sekadar apatis, melainkan semakin kritis.

Mereka mempertanyakan transparansi anggaran, akuntabilitas pemerintah, serta urgensi proyek ini di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Warganet dengan sarkas mengatakan, jika IKN memang bermanfaat dan menguntungkan, para politisi, pengusaha besar, dan pendukung setia proyek ini seharusnya rela urunan.

Ironi ini menyentil logika para pengambil kebijakan yang selalu mengklaim proyek ini untuk kepentingan rakyat, namun biaya dan risikonya sepenuhnya dibebankan kepada publik.

Ketidakpercayaan ini diperparah oleh berbagai kasus korupsi yang melibatkan proyek infrastruktur di masa lalu.

Rakyat belajar bahwa anggaran besar selalu membawa risiko besar: dari mark-up, pengadaan fiktif, hingga permainan kotor di balik lelang proyek.

Sikap skeptis ini semakin sulit dihapus tanpa komitmen transparansi yang nyata dari pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah tampak terjebak dalam logika pembangunan yang usang—mengukur kemajuan dari seberapa besar gedung yang dibangun, seberapa panjang jalan yang diaspal, dan seberapa banyak proyek infrastruktur yang diresmikan.

Padahal, esensi pembangunan seharusnya lebih dari sekadar fisik.

Pembangunan yang bermakna adalah yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperluas akses terhadap layanan publik, dan menciptakan rasa keadilan sosial.

Artikel Terkait:
  • Provokator di Balik Api Jalanan
  • Jangan Mencari Tumbal demi Kemenangan Pilkada di Sampang
  • Bukan Sekadar Angka Kemiskinan
  • Dilema Profesi Guru di Tengah Ancaman Kriminalisasi

Sindiran soal “patungan untuk IKN” adalah refleksi dari rasa ketidakadilan itu.

Di satu sisi, rakyat disuruh maklum atas kenaikan harga bahan bakar, tarif listrik, atau kebijakan ekonomi yang membebani.

Di sisi lain, mereka melihat anggaran negara dihamburkan untuk proyek yang manfaatnya masih abu-abu.

Ini bukan hanya tentang angka dalam APBN, melainkan tentang prioritas: mana yang benar-benar mendesak untuk diperjuangkan.

Jika pemerintah percaya diri bahwa proyek ini akan menguntungkan, mengapa tidak membuka opsi investasi publik secara sukarela?

Bukan dalam bentuk pajak atau pungutan wajib, tetapi benar-benar sukarela—lihat seberapa banyak orang yang rela mengeluarkan uang pribadi mereka untuk mendukung IKN.

Jika ternyata responnya minim, itu adalah sinyal bahwa proyek ini tidak memiliki dukungan sosial yang cukup kuat.

Pada akhirnya, proyek IKN bukan hanya soal membangun gedung-gedung baru di tanah kosong.

Ia adalah cermin dari bagaimana pemerintah memandang pembangunan: apakah sebagai alat untuk memuliakan rakyat, atau sekadar monumen ambisi politik.

Jangan Lewatkan:
  • Ijazah Pejabat Harus Diverifikasi Ulang
  • Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda
  • Pers Dibelenggu, Demokrasi Tercekik
  • Menghapus Jerat Judi Online Pasca Pilkada

Jika pemerintah tetap bersikeras melanjutkan tanpa evaluasi kritis, maka IKN akan menjadi simbol ketidakpekaan rezim terhadap jeritan warganya sendiri.

Jadi, yang mau lanjutkan bangun IKN, silakan patungan.

Rakyat sudah cukup lelah menjadi penonton sekaligus korban dari mimpi-mimpi besar yang tak pernah berpijak di tanah tempat mereka berdiri.

Anggaran Negara Kritik Publik Pembangunan IKN Proyek Infrastruktur Transparansi Pemerintah
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleAmbisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja
Next Article Pers Dibelenggu, Demokrasi Tercekik

Informasi lainnya

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026

Pendidikan Tersedot Program MBG

2 Mei 2026

LPDP: Hibah atau Pinjaman?

30 April 2026
Paling Sering Dibaca

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

Editorial Udex Mundzir

Bahlil dan Wajah Baru Penjajahan

Editorial Udex Mundzir

XL dan Smartfren Merger, Bagaimana ‘Nasib’ Pelanggan?

Techno Silva

Sunnah Sunnah Sholat Ied di Hari Raya

Islami Lisda Lisdiawati

Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Baru

Profil Ericka
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Waktu Pencernaan Makanan, Kenali Sebelum Mengatur Pola Makan

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

Waspada Makan Berlebih Saat Lebaran, Ini Risikonya

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi