Yogyakarta – Suasana emosional mewarnai penyerahan becak listrik kepada para pengemudi becak di Yogyakarta. Sebanyak 50 becak motor (bentor) yang selama bertahun-tahun menjadi alat mencari nafkah para pengemudi resmi ditarik dan dimusnahkan sebagai bagian dari program penataan transportasi di kawasan Malioboro.
Program tersebut dilakukan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Perhubungan DIY dengan mengganti armada bentor berbahan bakar minyak menjadi becak listrik yang lebih ramah lingkungan. Para pengemudi yang selama ini mengandalkan kendaraan hasil modifikasi itu kini mulai beralih ke moda transportasi rendah emisi yang diharapkan dapat mendukung wajah baru kawasan wisata Yogyakarta.
Bagi sebagian pengemudi, keputusan melepas bentor bukan perkara mudah. Kendaraan yang memadukan becak kayuh dengan mesin sepeda motor tersebut telah menjadi sumber penghidupan mereka selama bertahun-tahun, termasuk untuk melayani wisatawan maupun warga yang beraktivitas di pusat kota.
“Dulunya ini becak kayu, terus ada rezeki saya pasangi mesin. Waktu itu hampir Rp5 juta untuk beli mesinnya,” ujar Wasiyatno, pengemudi bentor yang telah mengoperasikan kendaraannya selama sekitar satu dekade.
Pria tersebut mengaku berat harus berpisah dengan kendaraan yang selama ini menjadi teman bekerja. Namun, ia menyadari perkembangan teknologi dan kebutuhan transportasi yang lebih bersih menuntut adanya perubahan.
“Kalau sudah ada yang baru, kenapa harus pakai yang lama,” katanya.
Menurut Wasiyatno, penggunaan becak listrik berpotensi menekan biaya operasional karena tidak lagi bergantung pada bahan bakar minyak. Meski demikian, ia masih memiliki kekhawatiran terkait perawatan kendaraan listrik yang dinilai membutuhkan kemampuan teknis khusus.
“Kalau bentor kan hampir semua mekanik bisa memperbaiki. Kalau listrik belum tentu semua menguasai,” ujarnya.
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Setyowati, menjelaskan pemusnahan bentor dilakukan sebagai bagian dari upaya penataan transportasi sekaligus menjaga karakter kawasan Malioboro yang lebih tertib dan ramah lingkungan. Pemerintah tidak memberikan kompensasi dalam bentuk uang tunai kepada para pemilik bentor yang mengikuti program konversi tersebut.
“Bagian rangka dan komponen kendaraan yang masih memiliki nilai ekonomi nantinya akan dikelola oleh koperasi pengemudi becak,” kata Chrestina.
Ia menambahkan, langkah tersebut diharapkan tidak hanya mendukung pengurangan emisi, tetapi juga meningkatkan kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Keberadaan becak listrik juga menjadi bagian dari transformasi transportasi tradisional agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan peran para pengemudinya.
Sejumlah pengemudi berharap program konversi serupa dapat diperluas sehingga semakin banyak rekan mereka yang memperoleh armada baru. Selain menawarkan biaya operasional yang lebih hemat, penggunaan becak listrik dinilai mampu memberikan citra transportasi yang lebih modern dan ramah lingkungan di kawasan wisata andalan Kota Yogyakarta.
Dengan dimulainya penggantian 50 bentor menjadi becak listrik, Yogyakarta memasuki babak baru dalam penataan transportasi tradisional. Di tengah rasa haru para pengemudi, harapan terhadap masa depan yang lebih bersih dan efisien pun mulai tumbuh.
