Tasikmalaya – Musim kemarau mengubah wajah Situ Gede di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. Permukaan air yang surut drastis menyisakan hamparan rumput hijau di sisi barat danau, menciptakan pemandangan yang jarang terlihat sekaligus menarik perhatian warga untuk datang dan mengabadikannya.
Fenomena tersebut terjadi setelah pasokan air ke Situ Gede terus berkurang selama beberapa pekan terakhir akibat minimnya curah hujan. Area yang biasanya tergenang kini berubah menjadi daratan luas yang ditumbuhi rerumputan hijau. Kondisi itu paling jelas terlihat di bagian barat situ, sementara bagian tengah, timur, dan selatan masih menyimpan genangan air meski volumenya jauh menurun.
Di balik keindahan lanskap yang menyerupai sabana, surutnya debit air menjadi tanda bahwa salah satu danau alami kebanggaan Kota Tasikmalaya sedang menghadapi tekanan musim kemarau. Situ Gede selama ini tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga memiliki fungsi penting sebagai sumber irigasi bagi lahan pertanian di kawasan sekitarnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan hamparan rumput hijau yang muncul di dasar danau menjadi daya tarik baru bagi pengunjung. Banyak warga memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto karena pemandangan seperti ini hanya muncul ketika air surut pada musim kemarau panjang.
Namun, keindahan tersebut menyimpan konsekuensi yang tidak ringan. Menyusutnya air membuat aktivitas wisata air menurun dan mulai memengaruhi pendapatan pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan dari kunjungan wisatawan. Di sisi lain, berkurangnya cadangan air juga mengancam kebutuhan irigasi pertanian.
“Debit air Situ Gede terus mengalami penyusutan. Area yang biasanya tergenang kini berubah menjadi hamparan rumput hijau dan menjadi lokasi favorit warga untuk berfoto,” demikian hasil pantauan di kawasan Situ Gede, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Rabu (15/7/26).
Fenomena tersebut dipicu kemarau yang telah berlangsung selama beberapa pekan.
Penjaga Pintu Air (PPA) Situ Gede, Satia Triadi, menjelaskan bahwa penyusutan air sudah berlangsung selama beberapa bulan. Pasokan dari saluran irigasi Cibanjaran berhenti mengalir sehingga air di danau kini hanya mengandalkan mata air yang tersisa.
“Kondisi surutnya air sudah berlangsung sekitar tiga bulan. Pasokan dari irigasi Cibanjaran sudah tidak masuk lagi sehingga debit air terus berkurang,” ujar Satia Triadi di Situ Gede, Kota Tasikmalaya, Kamis (16/7/26).
Kondisi tersebut juga berdampak terhadap fungsi Situ Gede sebagai penyuplai air pertanian. Dari lima pintu air yang tersedia, hanya satu pintu penguras yang masih dapat dioperasikan karena keterbatasan volume air. Akibatnya, distribusi air menuju lahan pertanian ikut terganggu.
Sejumlah petani di wilayah Mangkubumi mulai mengantisipasi kemungkinan kekurangan air jika kemarau berlangsung lebih lama. Pemerintah daerah sebelumnya juga telah mengingatkan petani di sejumlah kecamatan rawan kekeringan agar tidak memaksakan menanam komoditas yang membutuhkan banyak air dan mulai mempertimbangkan tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Fenomena hamparan rumput hijau di Situ Gede memperlihatkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, lanskap yang muncul menjadi daya tarik visual yang mengundang rasa ingin tahu masyarakat. Di sisi lain, penyusutan air merupakan indikator berkurangnya cadangan air yang menopang kehidupan, mulai dari sektor pertanian hingga aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Bagi masyarakat Kota Tasikmalaya, Situ Gede bukan sekadar objek wisata. Danau alami ini telah lama menjadi bagian dari sistem lingkungan sekaligus ruang publik yang mendukung aktivitas ekonomi dan sosial. Karena itu, kondisi yang terjadi saat musim kemarau menjadi pengingat pentingnya menjaga daerah tangkapan air, saluran irigasi, dan kelestarian ekosistem agar fungsi Situ Gede tetap terpelihara di tengah perubahan iklim yang semakin terasa.
Keindahan hamparan rumput hijau mungkin hanya berlangsung sementara. Ketika musim hujan kembali tiba, kawasan tersebut diperkirakan akan kembali tertutup air. Namun, fenomena ini meninggalkan catatan bahwa menjaga keseimbangan lingkungan menjadi kebutuhan bersama agar Situ Gede tetap mampu menjalankan perannya sebagai sumber kehidupan sekaligus destinasi wisata andalan Kota Tasikmalaya.
