Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Main Character Energy, Saat Hidup Terasa Seperti Film

Rekening Botok Dibuka Lagi Usai Klarifikasi Polisi

Kwarnas Dorong Jutaan Jam Bakti Pramuka Tercatat Global

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 27 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ambisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja

Ketika kekuasaan diukur dari jumlah kursi, bukan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat.
Udex MundzirUdex Mundzir9 Februari 2025 Editorial
Ambisi Politik Bahlil Lahadalia Pemilu 2029
Ambisi Politik Bahlil Lahadalia Pemilu 2029 (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pernyataan Bahlil Lahadalia dalam Rapat Kerja Nasional Partai Golkar tahun 2025 menunjukkan bagaimana politik di Indonesia sering kali terjebak dalam logika kekuasaan yang dangkal. Target Bahlil untuk meraih lebih dari 102 kursi di Pemilu 2029 bukanlah hal yang mengejutkan. Namun, yang patut dikritisi adalah bagaimana kursi tersebut diposisikan seolah menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pemimpin partai.

“Jadi, biar kita pintar tetapi kalau kursinya enggak naik, output politik partai itu kan kursi, ukurannya itu saja,” kata Bahlil. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana politik elektoral di Indonesia lebih menitikberatkan pada capaian kuantitatif semata, tanpa memperhatikan kualitas kontribusi politik yang diberikan kepada rakyat.

Seolah-olah, kursi di parlemen hanyalah angka, bukan mandat yang harus dijaga untuk mengabdi kepada masyarakat.

Yang lebih ironis, Bahlil justru sibuk mengumbar ambisi politik saat kinerjanya sebagai Menteri ESDM tengah disorot karena serangkaian kebijakan yang kontroversial dan menimbulkan kegaduhan publik. Kasus terbaru terkait blunder pengaturan distribusi LPG 3 kg adalah contoh nyata bagaimana kebijakan yang tidak matang bisa menciptakan keresahan di masyarakat.

Larangan penjualan LPG 3 kg di pengecer, yang kemudian diubah kembali setelah menimbulkan antrean panjang dan kelangkaan, memperlihatkan betapa lemahnya perencanaan di level kementerian yang dipimpinnya. Alih-alih berfokus memperbaiki kinerja dan menyelesaikan masalah yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat, Bahlil malah sibuk menghitung kursi untuk 2029.

Baca Juga:
  • Pajak dan Beban Kehidupan
  • Tegakkan Hukum, Bukan Cari Kambing Hitam
  • Makan Gratis, Simbol Negara Gagal
  • Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Padahal, kerja belum becus, hanya bikin gaduh, kursi saja yang dipikirkan. Seharusnya, seorang pejabat publik yang juga menjabat sebagai ketua partai politik bisa menyeimbangkan perannya: memastikan kinerja di pemerintahan berjalan optimal sebelum memikirkan urusan elektoral.

Lebih jauh, Bahlil juga meminta kader Golkar di kabinet Merah Putih untuk setia mendukung pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran. Dukungan ini tentu penting, tetapi jika hanya sebatas loyalitas tanpa evaluasi kritis terhadap kebijakan pemerintah, maka partai politik kehilangan fungsinya sebagai pengawas kekuasaan.

Alih-alih menjadi penjaga demokrasi, partai justru terjebak dalam logika patronase yang hanya mengutamakan stabilitas politik untuk kepentingan elite.

Ambisi Bahlil ini menunjukkan bagaimana politik di Indonesia sering kali berjalan tanpa refleksi mendalam tentang makna kekuasaan itu sendiri. Apakah kursi di parlemen hanya sekadar alat untuk berkuasa, ataukah seharusnya menjadi ruang untuk memperjuangkan kepentingan publik?

Artikel Terkait:
  • Negara Diam, Judi Online Merajalela
  • Taksi Terbang IKN: Mimpi yang Terbang Terlalu Tinggi
  • Buruh Sejahtera, Pengusaha Tertekan
  • Korupsi Makan Bergizi: Kejahatan yang Harus Dihabisi

Jika kursi hanya dilihat sebagai trofi politik, maka tak heran jika kualitas legislasi dan kebijakan publik terus mengalami stagnasi. Seharusnya, partai politik berbicara tentang visi dan gagasan, bukan sekadar target kursi.

Partai politik harus menjadi tempat lahirnya ide-ide progresif untuk menjawab tantangan zaman, bukan hanya mesin elektoral yang bergerak berdasarkan kalkulasi pragmatis. Politik bukan hanya tentang menang, tetapi tentang bagaimana kemenangan itu diterjemahkan menjadi kebijakan yang bermanfaat bagi rakyat.

Di tengah kondisi politik yang penuh ketidakpastian, rakyat butuh lebih dari sekadar janji penambahan kursi. Mereka butuh kepastian bahwa setiap suara yang diberikan akan diwakili oleh politisi yang benar-benar peduli dengan nasib mereka.

Jangan Lewatkan:
  • Narasi Globalis dan Politik Ketakutan
  • Ketika Putra Mahkota Solo ‘Menyesal’ Bergabung dengan Republik
  • Relawan Muda di Arus Mudik
  • Apa yang Sebenarnya Disembunyikan dari Dana Desa?

Bukan politisi yang sibuk menghitung kursi, tetapi lupa menghitung berapa banyak kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat.

Bahlil Lahadalia Kursi Parlemen Partai Golkar Pemilu 2029 Politik Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePrabowo Ingin Ubah Desain Gedung Legislatif dan Yudikatif di IKN
Next Article Yang Mau Lanjutkan Bangun IKN, Silakan Patungan

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dapur Warga Bakal Berubah? Pemerintah Siapkan Gas Pengganti LPG

7 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

UMP 2025: Melampaui Angka, Memahami Kebutuhan

Editorial Udex Mundzir

Enam Penyakit Hati dalam Islam dan Cara Menyembuhkannya

Islami Alfi Salamah

Chef Degan Septoadji: Membawa Rasa Indonesia ke Meja Dunia

Biografi Alfi Salamah

Ibnu Al‑Haytham: Sang Bapak Optik Dunia

Profil Richard Mundzir

Mindset Hack to Stop Overthinking

Happy Assyifa
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi