Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mau Berhasil ? Inilah Morning Routine Orang Sukses

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

JPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 7 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Jangan Serahkan Pendidikan ke Negara yang Tak Konsisten

Pemerintah tak pernah serius membangun pendidikan, kecuali saat butuh legitimasi politik dari generasi muda.
Udex MundzirUdex Mundzir30 April 2025 Editorial
Ilustrasi guru yang sedang mengajar dihadapan siswa (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Enam kali ganti kurikulum dalam dua dekade terakhir mencerminkan betapa pendidikan di Indonesia dijalankan tanpa arah yang konsisten. Mulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, KTSP 2006, Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat saat pandemi, Kurikulum Merdeka 2022, hingga Kurikulum Nasional 2024. Semua datang silih berganti, seolah pendidikan bisa disesuaikan dengan selera kekuasaan.

Rata-rata, satu kurikulum hanya bertahan kurang dari empat tahun. Setiap kali kursi Menteri Pendidikan berganti, arah kurikulum pun ikut berubah. Padahal, pendidikan bukan ruang eksperimentasi kebijakan. Ini adalah ruang kehidupan yang menentukan masa depan generasi bangsa.

Perubahan itu bukan persoalan. Yang jadi masalah adalah perubahan yang terlalu cepat, terlalu sering, dan tanpa evaluasi menyeluruh. Kurikulum seharusnya tumbuh bersama proses, bukan didorong oleh ego birokrasi yang ingin meninggalkan jejak kebijakan.

Guru menjadi korban utama dari instabilitas ini. Mereka harus mengikuti pelatihan berulang, menyusun ulang perangkat ajar, dan menyesuaikan metode yang terus berubah. Dalam kondisi semrawut seperti ini, bagaimana mungkin kualitas pendidikan dapat dijaga?

Siswa pun tak luput dari dampaknya. Mereka tumbuh dalam sistem yang tak sempat matang. Belum sempat memahami pendekatan satu kurikulum, mereka sudah dihadapkan pada sistem baru. Alih-alih memfasilitasi pembelajaran, kurikulum justru membingungkan.

Pendidikan seharusnya menjadi investasi jangka panjang. Namun apa yang kita lihat adalah keputusan jangka pendek yang hanya menguntungkan satu periode jabatan. Padahal, generasi muda tidak hidup untuk masa jabatan menteri. Mereka hidup untuk masa depan mereka sendiri.

Baca Juga:
  • Danantara: Mesin Kapital yang Mengabaikan Darah Palestina
  • Sentralisasi Berkedok Nasionalisme
  • Trump Berlagak Pahlawan Tapi Kesiangan
  • Ketika Narkoba Dilindungi Oknum

Kita tak bisa lagi menyerahkan seluruh urusan pendidikan anak kepada negara. Negara tak pernah serius membangun sistem pendidikan yang tahan lama. Yang mereka urus hanyalah akreditasi, sertifikasi, dan distribusi ijazah.

Maka, didiklah anak kita sendiri. Jadikan rumah sebagai sekolah yang pertama dan utama. Jangan serahkan akal sehat anak-anak kita pada kurikulum yang berubah setiap kali kabinet reshuffle.

Nilai-nilai hidup seperti kejujuran, keberanian, logika berpikir, dan empati sosial tidak akan diajarkan secara utuh di sekolah. Apalagi jika sekolah hanya fokus pada pencapaian angka ujian.

Ijazah masih dibutuhkan untuk hidup di Indonesia. Maka, ambillah ijazah itu dari sekolah. Namun arahkan pendidikan sejati anak kita di rumah, di lingkungan, dan dalam praktik hidup sehari-hari.

Jargon “Merdeka Belajar” hanya akan jadi slogan jika sistemnya tetap otoriter. Tidak ada kemerdekaan di bawah sistem pendidikan yang dipakai sebagai alat kontrol birokrasi.

Artikel Terkait:
  • Jabatan Simbolis atau Ancaman Toleransi?
  • Narasi Globalis dan Politik Ketakutan
  • Politik Sengketa, Demokrasi yang Tercederai
  • Ketika Moral Publik Mati

Jika pendidikan terus dijadikan proyek politis, maka anak-anak kita akan terus menjadi korban. Mereka tak pernah punya kesempatan untuk mengenali potensi dirinya karena terus dibentuk sesuai proyek pejabat.

Saatnya orang tua bangun dari tidur panjang. Jangan biarkan negara yang belum selesai dengan urusan kekuasaannya, turut mengatur seluruh isi pikiran anak-anak kita.

Mereka berhak tumbuh dalam sistem yang mendidik, bukan menekan. Mereka berhak mengenal nilai-nilai hidup, bukan sekadar hafalan dan lembar soal.

Pendidikan sejati tak bisa diproduksi massal. Ia hanya bisa ditanamkan secara personal—oleh orang tua yang sadar, oleh keluarga yang peduli.

Jangan Lewatkan:
  • Siapa Kenyang dari Proyek Makan Bergizi?
  • Sekolah Bukan Mesin Hafalan
  • Hukum yang Dikebut, Rakyat yang Terjebak
  • Pajak dan Beban Kehidupan

Ambillah peran itu. Jangan tunggu negara berubah. Karena sejarah membuktikan, negara terlalu lambat, terlalu ragu, dan terlalu politis dalam soal pendidikan.

Kritik Pendidikan Kurikulum Nasional Pendidikan Indonesia Peran Orang Tua Politik Pendidikan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleLoa Kulu Ikuti Pelatihan Kelola Sampah Berbasis Masyarakat
Next Article DPRD Kaltim Kawal Pengalihan Jalan Nasional di Kutim

Informasi lainnya

JPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

1 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Wisata Instagramable Jadi Pangsa Pasar Baru

Travel Alfi Salamah

Gunung Andong, Primadona Pendaki Pemula

Travel Alfi Salamah

Prabowo Lebih Pro pada Koruptor

Editorial Udex Mundzir

Sarwo Edhie Wibowo, Prajurit dalam Badai Sejarah

Profil Alfi Salamah

Fitur Baru BRImo Mudahkan Transfer Uang ke Luar Negeri

Bisnis Ericka
Berita Lainnya
Hukum
Lisda Lisdiawati30 Juni 2026

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Venezuela Diguncang Dua Gempa dalam 39 Detik, Korban Berjatuhan

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi