Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Eksotisme Surabaya dalam Ikan Sambal Nasi Kelapa

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 7 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat

Ketika negara ikut menamai ketimpangan, pendidikan kehilangan wajah keadilannya.
Udex MundzirUdex Mundzir23 Mei 2025 Editorial
Ketimpangan Pendidikan di Indonesia
Ilustrasi Ketimpangan Pendidikan di Indonesia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ketimpangan pendidikan di Indonesia tak lagi tersembunyi. Ia hadir dalam bentuk fisik, kebijakan, hingga nama. Saat istilah “Sekolah Garuda” dilekatkan pada institusi pendidikan anak pejabat dan elite, dan “Sekolah Rakyat” pada lembaga pendidikan untuk masyarakat biasa, maka negara secara tidak langsung melegitimasi dua kasta dalam dunia belajar.

Ini bukan soal nama semata. Ini soal makna simbolik yang mencerminkan pandangan struktural terhadap siapa yang dianggap layak mendapat pendidikan berkualitas.

Di satu sisi, Sekolah Garuda tampil dengan gedung megah, fasilitas modern, kurikulum unggulan, dan akses global. Di sisi lain, Sekolah Rakyat dijadikan simbol kesederhanaan, seolah cukup puas dengan keterbatasan yang dimaklumi.

Kesenjangan ini tidak lahir tiba-tiba. Ia dibentuk oleh sistem yang memprioritaskan kelompok tertentu. Anak-anak dari keluarga kaya masuk dengan mudah ke sekolah unggulan. Biaya bukan kendala. Reputasi orang tua dan jejaring sosial menjadi jaminan tidak tertulis.

Sementara itu, anak-anak miskin, meski brilian, harus menempuh jalan terjal. Mulai dari akses informasi yang terbatas, kendala administrasi, biaya seleksi, hingga hambatan psikologis karena merasa “tidak pantas” berada di sekolah elite.

Meritokrasi yang diklaim adil ternyata hanya berlaku di permukaan. Anak-anak tidak memulai dari garis start yang sama.

Pendidikan hari ini bukan lagi alat pembebasan, tapi instrumen reproduksi kelas. Anak elite tetap berada di puncak. Anak miskin ditampung dalam skema bantuan yang sering kali hanya tambal sulam.

Baca Juga:
  • Koperasi Desa Tanpa Arah Nyata
  • Di Atas Hukum, Di Luar Akal Sehat
  • Ketika Putra Mahkota Solo ‘Menyesal’ Bergabung dengan Republik
  • PDIP Pecat Jokowi: Dinamika Baru

Program seperti KIP dan BOS memang membantu, tetapi tidak menyentuh akar. Sekolah negeri favorit tetap didominasi anak-anak kota dan keluarga mapan. Jalur afirmasi hanya menyisakan tempat kecil yang sering kali bersifat simbolik.

Lebih menyakitkan lagi ketika negara bukan hanya membiarkan, tapi ikut menamai ketimpangan ini. Sekolah Garuda seolah jadi menara gading modern, sementara Sekolah Rakyat dijadikan bukti bahwa negara telah hadir bagi kaum marjinal.

Padahal, dengan menamai sekolah seperti itu, negara justru menciptakan segregasi psikologis sejak dini. Anak-anak diajarkan bahwa mereka berasal dari dua dunia yang berbeda.

Narasi seperti ini harus dikritisi secara tajam. Sebab pendidikan bukan soal identitas kelompok, tetapi soal kesetaraan hak.

Jika negara serius memperjuangkan keadilan, maka istilah-istilah segregatif itu harus dihapus. Yang dibangun bukan “sekolah elite untuk elite” dan “sekolah sederhana untuk rakyat”, tapi sistem nasional yang menjamin mutu merata di seluruh wilayah.

Solusi sesungguhnya bukan menciptakan versi elite dan versi rakyat dari sekolah unggulan. Yang diperlukan adalah perombakan total dalam cara pandang dan kebijakan pendidikan.

Semua sekolah harus menjadi unggulan. Di kota maupun di desa. Di pusat maupun pinggiran.

Artikel Terkait:
  • Antara Harapan dan Kekecewaan
  • Pilwalkot Samarinda 2024: Formalitas Saja
  • Meski Terlambat, Tetap Harus Dipercepat
  • Larangan Baju Bekas: Tegas Boleh, Serampangan Jangan

Negara harus menjamin bahwa sekolah publik bisa menandingi bahkan melampaui sekolah swasta mahal. Dari kualitas guru, kurikulum, fasilitas, hingga akses teknologi.

Sistem seleksi juga harus adil secara struktural. Bukan hanya berdasarkan nilai ujian, tapi memperhitungkan latar belakang sosial dan geografis anak didik.

Jika ada afirmasi, maka afirmasi itu harus disertai pendampingan jangka panjang. Baik dari sisi akademik, psikologis, maupun sosial.

Pendidikan bukan proyek pencitraan. Ia adalah pondasi peradaban. Jika pemerintah membuat sekolah hanya untuk pamer kehadiran, maka pendidikan telah kehilangan maknanya yang paling hakiki.

Pendidikan adalah hak, bukan hadiah. Setiap anak, apapun latar belakangnya, berhak mendapatkan kualitas yang sama.

Ketika istilah “Sekolah Garuda” dan “Sekolah Rakyat” dibiarkan tumbuh tanpa kritik, maka yang sebenarnya sedang dibangun adalah tembok pemisah—bukan jembatan keadilan.

Jangan Lewatkan:
  • Serangan Fajar: Hari Tenang yang Tak Tenang
  • Wartawan Gadungan, Luka di Wajah Jurnalisme
  • Makan Gratis, Simbol Negara Gagal
  • Jejak Warisan dan Peluang di Desa Krampon

Jika kita ingin masa depan yang setara, maka kita harus mulai dari sekolah yang setara. Bukan dua sistem yang berjalan paralel dengan jurang di antaranya.

Karena di antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat, yang sejatinya hilang adalah: keadilan.

Keadilan Sosial Ketimpangan Pendidikan Pendidikan Nasional Sekolah Garuda Sekolah Rakyat
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRahasia Packing Cerdas untuk Liburan 1 Minggu
Next Article KLH Dorong Pembatasan Impor Plastik Virgin Demi Kurangi Sampah

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Nasib Guru Honorer di 2027, Tetap Mengajar atau Terhapus?

7 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Koneksi dengan Allah Harus Lebih Kuat

Islami Assyifa

Akar Rasa Nusantara yang Terlupakan di Dapur Modern

Food Alfi Salamah

Eksotisme Surabaya dalam Ikan Sambal Nasi Kelapa

Food Udex Mundzir

Prabowo Lebih Pro pada Koruptor

Editorial Udex Mundzir

Menikmati Kuliner Autentik Khas Turki, Dari Kudapan Manis hingga Minuman Tradisional

Food Alfi Salamah
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi