Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Hari Kunjung Perpustakaan, Masihkah Siswa Gemar Membaca?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 17 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat

Ketika negara ikut menamai ketimpangan, pendidikan kehilangan wajah keadilannya.
Udex MundzirUdex Mundzir23 Mei 2025 Editorial
Ketimpangan Pendidikan di Indonesia
Ilustrasi Ketimpangan Pendidikan di Indonesia (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ketimpangan pendidikan di Indonesia tak lagi tersembunyi. Ia hadir dalam bentuk fisik, kebijakan, hingga nama. Saat istilah “Sekolah Garuda” dilekatkan pada institusi pendidikan anak pejabat dan elite, dan “Sekolah Rakyat” pada lembaga pendidikan untuk masyarakat biasa, maka negara secara tidak langsung melegitimasi dua kasta dalam dunia belajar.

Ini bukan soal nama semata. Ini soal makna simbolik yang mencerminkan pandangan struktural terhadap siapa yang dianggap layak mendapat pendidikan berkualitas.

Di satu sisi, Sekolah Garuda tampil dengan gedung megah, fasilitas modern, kurikulum unggulan, dan akses global. Di sisi lain, Sekolah Rakyat dijadikan simbol kesederhanaan, seolah cukup puas dengan keterbatasan yang dimaklumi.

Kesenjangan ini tidak lahir tiba-tiba. Ia dibentuk oleh sistem yang memprioritaskan kelompok tertentu. Anak-anak dari keluarga kaya masuk dengan mudah ke sekolah unggulan. Biaya bukan kendala. Reputasi orang tua dan jejaring sosial menjadi jaminan tidak tertulis.

Sementara itu, anak-anak miskin, meski brilian, harus menempuh jalan terjal. Mulai dari akses informasi yang terbatas, kendala administrasi, biaya seleksi, hingga hambatan psikologis karena merasa “tidak pantas” berada di sekolah elite.

Meritokrasi yang diklaim adil ternyata hanya berlaku di permukaan. Anak-anak tidak memulai dari garis start yang sama.

Pendidikan hari ini bukan lagi alat pembebasan, tapi instrumen reproduksi kelas. Anak elite tetap berada di puncak. Anak miskin ditampung dalam skema bantuan yang sering kali hanya tambal sulam.

Baca Juga:
  • Tantangan Representasi atau Simbolisme?
  • Ijazah Jokowi: Bukan Privasi, Tapi Legitimasi
  • RK vs Lisa: Viral yang Disusun Rapi
  • Waspadai, Purbaya Anak Buah Luhut

Program seperti KIP dan BOS memang membantu, tetapi tidak menyentuh akar. Sekolah negeri favorit tetap didominasi anak-anak kota dan keluarga mapan. Jalur afirmasi hanya menyisakan tempat kecil yang sering kali bersifat simbolik.

Lebih menyakitkan lagi ketika negara bukan hanya membiarkan, tapi ikut menamai ketimpangan ini. Sekolah Garuda seolah jadi menara gading modern, sementara Sekolah Rakyat dijadikan bukti bahwa negara telah hadir bagi kaum marjinal.

Padahal, dengan menamai sekolah seperti itu, negara justru menciptakan segregasi psikologis sejak dini. Anak-anak diajarkan bahwa mereka berasal dari dua dunia yang berbeda.

Narasi seperti ini harus dikritisi secara tajam. Sebab pendidikan bukan soal identitas kelompok, tetapi soal kesetaraan hak.

Jika negara serius memperjuangkan keadilan, maka istilah-istilah segregatif itu harus dihapus. Yang dibangun bukan “sekolah elite untuk elite” dan “sekolah sederhana untuk rakyat”, tapi sistem nasional yang menjamin mutu merata di seluruh wilayah.

Solusi sesungguhnya bukan menciptakan versi elite dan versi rakyat dari sekolah unggulan. Yang diperlukan adalah perombakan total dalam cara pandang dan kebijakan pendidikan.

Semua sekolah harus menjadi unggulan. Di kota maupun di desa. Di pusat maupun pinggiran.

Artikel Terkait:
  • Tarif Ojol Naik: Siapa Diuntungkan?
  • Sikap PDIP: Antara Prinsip dan Kepentingan
  • Kebakaran di Kementerian ATR/BPN: Asap Padam, Kecurigaan Membara
  • Gizi di Meja, Konglomerat di Pintu

Negara harus menjamin bahwa sekolah publik bisa menandingi bahkan melampaui sekolah swasta mahal. Dari kualitas guru, kurikulum, fasilitas, hingga akses teknologi.

Sistem seleksi juga harus adil secara struktural. Bukan hanya berdasarkan nilai ujian, tapi memperhitungkan latar belakang sosial dan geografis anak didik.

Jika ada afirmasi, maka afirmasi itu harus disertai pendampingan jangka panjang. Baik dari sisi akademik, psikologis, maupun sosial.

Pendidikan bukan proyek pencitraan. Ia adalah pondasi peradaban. Jika pemerintah membuat sekolah hanya untuk pamer kehadiran, maka pendidikan telah kehilangan maknanya yang paling hakiki.

Pendidikan adalah hak, bukan hadiah. Setiap anak, apapun latar belakangnya, berhak mendapatkan kualitas yang sama.

Ketika istilah “Sekolah Garuda” dan “Sekolah Rakyat” dibiarkan tumbuh tanpa kritik, maka yang sebenarnya sedang dibangun adalah tembok pemisah—bukan jembatan keadilan.

Jangan Lewatkan:
  • Polres Sampang Kecolongan
  • Ambisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja
  • Jejak Warisan dan Peluang di Desa Krampon
  • Logika Nol yang Menyesatkan

Jika kita ingin masa depan yang setara, maka kita harus mulai dari sekolah yang setara. Bukan dua sistem yang berjalan paralel dengan jurang di antaranya.

Karena di antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat, yang sejatinya hilang adalah: keadilan.

Keadilan Sosial Ketimpangan Pendidikan Pendidikan Nasional Sekolah Garuda Sekolah Rakyat
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRahasia Packing Cerdas untuk Liburan 1 Minggu
Next Article KLH Dorong Pembatasan Impor Plastik Virgin Demi Kurangi Sampah

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Nasib Guru Honorer di 2027, Tetap Mengajar atau Terhapus?

7 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Kunci Hidup Tenang: Belajar Bertanggung Jawab pada Diri Sendiri

Happy Assyifa

Tanda Hari Kiamat, Ini Doa Perlindungan dari Fitnah Dajjal

Islami Alfi Salamah

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Perspektif Udex Mundzir

Marselino Ferdinan, Bintang Muda Gemilang di Timnas Indonesia

Kroscek Alfi Salamah

Indonesia Memble Hadapi Tarif Trump

Perspektif Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Nama Jokowi Masih Tersemat di Situs OCCRP Meski Sempat Hilang

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi