Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

36 Juta Warga Jabar Gunakan Handphone, Pers Ditantang Jaga Kredibilitas

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 27 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Pahlawan yang Dipenjara

Ketika orang jujur dikurung dan koruptor dibiarkan bebas, maka krisis terbesar bukan ekonomi, melainkan moral bangsa.
Udex MundzirUdex Mundzir20 Juli 2025 Editorial
Thomas Trikasih Lembong
Thomas Trikasih Lembong (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pemandangan aneh terjadi di depan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat 18 Juli 2025. Di hari ketika Thomas Trikasih Lembong divonis 4 tahun 6 bulan penjara, puluhan orang datang bukan untuk mencaci, tapi memberi hormat. Mereka membawa bunga, membentangkan poster dukungan, bahkan meneriakkan yel-yel solidaritas. Seolah-olah Tom Lembong bukan seorang terpidana, melainkan seorang korban—atau lebih tepatnya: seorang pahlawan moral.

Ini bukan kejadian biasa. Dan tentu saja, bukan pula ekspresi spontan tanpa makna. Sebab hanya di negeri yang sedang sakit secara sistemik, seseorang yang divonis bersalah justru dipuja sebagai simbol kejujuran. Maka pertanyaannya bukan lagi, “Apakah Tom Lembong bersalah?” Tapi, “Ada apa dengan sistem hukum kita sampai orang yang diyakini bersih justru dipenjarakan?”

Fakta-fakta kasus ini telah banyak dibedah. Tom Lembong—seorang mantan menteri perdagangan yang dikenal teknokratik, reformis, dan anti oligarki—dihukum karena dianggap melakukan korupsi dalam kebijakan impor gula tahun 2015–2016. Padahal semua proses berjalan dalam koridor kebijakan publik yang sah. Tidak ada uang negara yang masuk ke kantong pribadinya. Tidak ada rekening gendut. Tidak ada villa mewah. Tidak ada bukti suap. Tapi tetap saja, ia divonis bersalah.

Ironisnya, masyarakat—yang katanya objek hukum tertinggi—justru menyambut vonis itu dengan marah, getir, dan tidak percaya. Warganet ramai-ramai menulis #FreeTomLembong. Akademisi menggelar diskusi darurat. Bahkan sejumlah tokoh lintas partai dan ideologi, dari Anies Baswedan hingga ekonom senior, menyatakan kekhawatiran atas “kerusakan sistem hukum” yang begitu nyata. Di luar itu, masyarakat akar rumput menyambut Tom bukan dengan hinaan, tetapi penghormatan.

Kenapa? Karena publik bisa melihat ketimpangan. Mereka tahu siapa yang benar-benar mencuri uang rakyat. Mereka juga tahu siapa yang hanya menjadi tumbal sistem. Dan Tom Lembong, bagi banyak orang, adalah contoh nyata dari orang baik yang justru dikorbankan.

Baca Juga:
  • Tantangannya Kebocoran Data Pribadi
  • Waspadai, Purbaya Anak Buah Luhut
  • Siapa Kenyang dari Proyek Makan Bergizi?
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri

Kasus ini menelanjangi luka lama bangsa ini: hukum yang tidak berdiri di atas keadilan, melainkan tunduk pada kuasa. Ketika seseorang yang jujur justru dikriminalisasi karena kebijakan yang dilaksanakan bersama tim, maka keadilan menjadi ilusi. Apalagi jika sang pengambil keputusan tertinggi, dalam hal ini Presiden Joko Widodo, justru tidak pernah dimintai pertanggungjawaban. Padahal, kebijakan impor itu merupakan hasil rapat lintas kementerian yang tak bisa diputuskan seorang menteri sendirian.

Yang lebih menyakitkan: publik juga melihat banyak kasus korupsi yang jauh lebih besar—baik dari segi nilai kerugian maupun dampak sosialnya—justru berakhir dengan vonis ringan, atau bahkan tak disentuh sama sekali. Beberapa nama besar yang sudah bertahun-tahun masuk daftar hitam KPK tak pernah diadili. Sebagian justru mendapatkan posisi baru di pemerintahan atau perusahaan BUMN. Lalu orang seperti Tom Lembong—yang memperjuangkan kebijakan berdasarkan data dan rasionalitas—malah dipenjara.

Dalam kondisi ini, masyarakat berbalik arah. Mereka tak lagi menjadikan pengadilan sebagai tolok ukur kebenaran. Mereka lebih percaya pada rekam jejak, integritas, dan logika. Dan itulah sebabnya Tom Lembong disambut bak pahlawan. Karena dalam situasi hukum yang kian gelap, satu-satunya pegangan publik adalah moralitas personal. Tom bukan dihormati karena bebas dari kesalahan, tapi karena publik yakin ia tidak bersalah.

Tentu ini sangat berbahaya bagi legitimasi negara. Sebab jika vonis tidak lagi dipercaya, maka sistem hukum kehilangan wibawa. Dan kalau hukum kehilangan wibawa, maka negara kehilangan kekuatannya untuk menertibkan dan menjaga keadilan. Itulah awal dari disintegrasi kepercayaan sosial. Hukum bukan lagi alat keadilan, tapi alat represi. Dan di titik itu, demokrasi tinggal kulit tanpa isi.

Apa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini? Pertama-tama, kita harus jujur mengakui bahwa sistem hukum kita sakit. Bukan hanya karena oknum, tapi karena struktur, proses, dan mentalitasnya. Maka reformasi hukum tidak bisa lagi bersifat kosmetik. Kita butuh pembenahan menyeluruh, mulai dari rekrutmen hakim dan jaksa, sistem pengawasan internal, hingga keberanian untuk menindak kasus-kasus besar tanpa pandang bulu.

Artikel Terkait:
  • Ijazah Jokowi dan Dagelan Akademik
  • Titik Kritis Kepemimpinan Prabowo
  • Hukum yang Dikebut, Rakyat yang Terjebak
  • Wibawa Prabowo Dipertanyakan, Siapa Pemimpin Sebenarnya?

Kedua, harus ada mekanisme hukum lanjutan yang benar-benar objektif. Kasasi atau Peninjauan Kembali (PK) atas kasus Tom Lembong harus dikawal bukan hanya oleh tim hukum, tapi oleh kekuatan publik sipil. Lembaga HAM, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, dan media harus ikut mengawal proses ini sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap kebenaran yang lebih tinggi dari sekadar legalitas formal.

Ketiga, publik harus terus bersuara. Karena diam adalah bentuk persetujuan. Jika masyarakat berhenti mengkritik, maka ketidakadilan akan menjadi norma. Sebaliknya, ketika publik bersuara secara kolektif dan terus-menerus, maka sistem hukum akan dipaksa untuk berbenah. Itulah kekuatan demokrasi yang sesungguhnya: suara rakyat yang konsisten dan bermartabat.

Dan yang paling penting, kita harus mendidik generasi baru untuk tidak sinis terhadap keadilan. Pendidikan hukum, etika, dan kewarganegaraan harus kembali ditegakkan. Kita tidak boleh membiarkan generasi muda tumbuh dengan keyakinan bahwa kejujuran selalu berakhir di penjara. Sebab jika itu terjadi, maka seluruh masa depan bangsa ini ikut terpenjara dalam siklus korupsi yang tak berujung.

Jangan Lewatkan:
  • Politik Sengketa, Demokrasi yang Tercederai
  • Membatasi Medsos, Mendidik Generasi
  • Tom Lembong dan Kriminalisasi Kebijakan Publik
  • Prabowo-Gibran dan Propaganda 78% Publik Puas

Tom Lembong mungkin hari ini duduk di balik jeruji. Tapi dalam benak jutaan orang, ia berdiri tegak sebagai simbol bahwa kebenaran tidak bisa dipadamkan oleh vonis. Dan jika negara ini masih punya harapan, maka harapan itu tumbuh dari suara-suara yang berani mengatakan: ada yang salah, dan kita tidak akan diam.

Keadilan Sosial Krisis Hukum Pahlawan Publik Reformasi Yudisial Tom Lembong
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleVonis Sepotong, Keadilan Cacat
Next Article Kukar Dorong Diri Jadi Pusat Budaya Kalimantan Timur

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Prabowo itu Bayang-Bayang Jokowi atau Pemimpin Baru?

Editorial Udex Mundzir

Cara Efektif Menyusun To-Do List agar Tidak Sekadar Jadi Hiasan Meja

Daily Tips Ericka

Jamaah Haji Wafat Dibadalkan Gratis dengan Sertifikat Bukti

Islami Alfi Salamah

Lindungi Uangmu, Cerdas Finansial dengan PeKA

Daily Tips Ericka

Pesona Kawaguchiko dengan Latar Gunung Fuji

Travel Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

Gelombang PHK Global 2025: Amazon hingga Nestlé Pangkas Ribuan Pekerja

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi