Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

Eksotisme Surabaya dalam Ikan Sambal Nasi Kelapa

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 9 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Sahabat AI dan Ilusi Kedaulatan Digital

Ketika teknologi lahir dari negeri sendiri tapi tetap dikendalikan oleh segelintir elit industri, kedaulatan hanya jadi slogan.
Udex MundzirUdex Mundzir8 Juni 2025 Editorial
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) bersama Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) resmi meluncurkan Sahabat-AI
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) bersama Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) resmi meluncurkan Sahabat-AI (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Indonesia sedang jatuh cinta pada kecerdasan buatan. Peluncuran Sahabat AI, model bahasa besar buatan Indosat dan GoTo, disambut dengan euforia.

Model ini diklaim paling canggih untuk Bahasa Indonesia. Disebut mengungguli LLaMA dari Meta dan model dari Tiongkok.

Pemerintah menyambutnya penuh kebanggaan. Menteri Kominfo menyebutnya sebagai alat pemersatu. Teknologi yang tumbuh dari konteks Indonesia.

Namun di balik pujian itu, ada satu pertanyaan besar. Apakah ini sungguh milik publik, atau hanya milik para konglomerat?

Sahabat AI dikembangkan dua raksasa korporasi. Infrastruktur penyimpanan berada di dalam negeri. Parameter model mencapai 70 miliar.

Terdengar menjanjikan. Tapi siapa yang mengontrolnya? Siapa yang menentukan ke mana arah model ini dibawa?

Jika benar model ini dibuat untuk rakyat, mengapa distribusinya tertutup? Mengapa hanya bisa diakses lewat aplikasi layanan keuangan?

Kedaulatan digital tidak diukur dari lokasi server. Tapi dari siapa yang memiliki akses. Siapa yang bisa mengembangkan. Dan siapa yang diuntungkan.

Model ini disebut dapat digunakan oleh startup, universitas, dan lembaga publik. Namun tidak ada jaminan teknis soal lisensi terbuka atau akses setara.

Apakah startup kecil bisa melatih ulang model ini? Apakah komunitas bisa mengaudit datanya? Apakah masyarakat sipil dilibatkan?

Baca Juga:
  • Ambisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja
  • Dilema Profesi Guru di Tengah Ancaman Kriminalisasi
  • Regulasi Pers Tanpa Arah
  • Paradoks Pembangunan Desa

Tanpa itu semua, Sahabat AI hanya jadi etalase. Tampak lokal, tapi tetap elitis.

Indonesia memang butuh model bahasa lokal. Kita tidak bisa terus bergantung pada teknologi asing yang tak paham budaya sendiri.

Namun kebutuhan itu tidak bisa menjadi pembenaran atas konsolidasi kuasa oleh segelintir pemain besar.

Salah satu petinggi perusahaan menyebut model ini lahir dari gotong royong. Ia menyebut kampus dan media ikut terlibat.

Tapi gotong royong seperti apa yang tidak terbuka? Seperti apa kolaborasi yang hanya menguntungkan satu arah?

Di lapangan, teknologi seperti ini masih sangat dikendalikan dari atas. Korporasi membentuk narasi. Pemerintah ikut promosi. Publik hanya menjadi pengguna pasif.

Bahaya lebih besar pun mengintai. AI bukan alat netral. Ia membawa nilai. Membawa bias. Membawa kepentingan mereka yang mengendalikannya.

Tanpa transparansi, kita tak tahu apakah model ini benar-benar merepresentasikan masyarakat Indonesia. Atau justru membentuk ulang masyarakat sesuai selera pemilik modal.

Bahasa daerah memang disebut didukung. Tapi tidak dijelaskan bagaimana mereka dikumpulkan. Siapa yang melatihnya. Atau apakah komunitas bahasa dilibatkan.

Artikel Terkait:
  • Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua
  • Suara Moral yang Tersisa
  • Ijazah Pejabat Harus Diverifikasi Ulang
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri

Jangan sampai ini hanya jadi hiasan. Penambahan kata “Batak” atau “Jawa” bukan bukti keberpihakan.

Kita sedang berada di titik kritis. Teknologi AI bisa mempercepat kemajuan. Tapi juga bisa memperkuat ketimpangan.

Jika kita tidak mengatur arah sejak awal, kita hanya akan mengganti penjajahan digital asing dengan penjajahan digital lokal.

Solusinya bukan sekadar membuat model. Tapi membuka akses. Membuka kode. Membuka diskusi.

Pemerintah harus memastikan bahwa teknologi yang dibiayai atau didukung negara dapat diakses masyarakat luas.

Model-model seperti Sahabat AI harus tersedia untuk publik. Dengan dokumentasi jelas. Dengan mekanisme audit. Dan dengan kontrol sosial.

Literasi AI juga harus dibangun. Bukan sekadar pelatihan teknis. Tapi kesadaran kritis bahwa teknologi membawa dampak sosial.

Kita harus bertanya. Siapa yang diuntungkan. Siapa yang dikorbankan. Siapa yang diberi suara. Siapa yang dilupakan.

Jangan Lewatkan:
  • Ijazah Asli (KataPolisi), Proses Masih Abu-Abu
  • Peluang Usaha di Balik Batas Medsos
  • Gelar Akademik dan Integritas Pejabat Publik
  • Orde Baru Jauh Lebih Baik

Sahabat AI adalah langkah awal. Tapi belum cukup.

Kedaulatan digital sejati bukan tentang label lokal. Tapi tentang kepemilikan kolektif. Akses terbuka. Partisipasi nyata.

Dan itu hanya bisa terjadi jika rakyat benar-benar dilibatkan. Bukan hanya disebut.

Artificial Intelligence Indonesia Kedaulatan Digital Model Bahasa Lokal Sahabat AI Teknologi Nasional
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePetugas Imbau Lansia Tak Ikut Lempar Jumrah demi Keselamatan
Next Article Koalisi Papua Kecam Intervensi Pejabat Terkait Tambang Raja Ampat

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Minuman Viral, Benarkah Sehat?

Food Alfi Salamah

Prabowo Akan Kehilangan Kesempatan Emas

Editorial Udex Mundzir

Kuliner Viral 2026, Sekadar Gaya?

Food Alfi Salamah

Banyak Tapi Kurang

Perspektif Alfi Salamah

Refleksi Kemenangan dan Kekalahan dalam Pilkada 2024

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi