Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Danny Setiawan Wafat, Jejak Panjang Birokrat Jabar

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 20 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Danantara: Mesin Kapital yang Mengabaikan Darah Palestina

Ketika investasi dijadikan kiblat, nyawa manusia tak lagi jadi pertimbangan kebijakan.
Udex MundzirUdex Mundzir29 Juli 2025 Editorial
Danantara
Gedung Danantara (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Di tengah serangan brutal Israel ke Gaza, Indonesia justru menjalin kerja sama strategis dengan BlackRock—raksasa investasi global yang terlibat dalam pendanaan industri militer Israel. Danantara, lembaga sovereign wealth fund yang dibentuk di era Prabowo Subianto, kini menggandeng BlackRock untuk membiayai proyek-proyek ambisius seperti IKN, transisi energi, dan infrastruktur digital.

Namun, keputusan ini sangat problematik. BlackRock memiliki saham besar di perusahaan-perusahaan senjata seperti Lockheed Martin, Raytheon (RTX), dan Northrop Grumman. Perusahaan-perusahaan ini dikenal luas sebagai pemasok utama senjata, sistem pertahanan, dan drone tempur yang digunakan militer Israel dalam agresi ke wilayah Palestina.

Lockheed Martin bahkan secara terbuka menyebut dirinya sebagai mitra strategis militer Israel sejak 1970. Mereka memasok pesawat F-16, F-35, dan rudal Hellfire. Sementara RTX adalah penyedia sistem Iron Dome dan bom presisi. Northrop Grumman turut menyumbang drone serta teknologi radar tempur yang digunakan dalam operasi militer Israel di wilayah pendudukan.

Kerja sama Danantara dengan BlackRock bukan sekadar langkah investasi, tetapi kompromi terang-terangan terhadap nilai dan komitmen moral Indonesia. Bagaimana mungkin negara yang mendukung kemerdekaan Palestina secara politik, justru membiayai mitra yang memperkuat mesin perang penjajahnya?

Baca Juga:
  • Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua
  • Hakim Bisa Dibeli? Ini Darurat!
  • Bahlil Membuat Gaduh, Lalu Berlagak Penyelamat
  • Jangan Lupa! Palestina Dirampas, Israel Berdiri

Yang lebih menyakitkan adalah fakta bahwa modal Danantara tidak turun dari langit. Uang yang dihimpun berasal dari kebijakan “efisiensi fiskal” yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Belanja negara dipangkas. Program-program rakyat dikurangi. Ribuan proyek lokal di daerah dibatalkan. Ratusan ribu pegawai dirumahkan lewat restrukturisasi BUMN. Dan jutaan rakyat mengalami lonjakan harga, penghapusan subsidi, dan kekurangan pasokan pangan sebagai dampak dari pengetatan anggaran negara demi menyiapkan modal Danantara.

Inilah pengkhianatan berlapis: rakyat lapar, pekerja kehilangan pekerjaan, dan anggaran sosial dipotong demi menciptakan dana investasi yang kemudian diberikan kepada mitra asing—yang keuntungannya sebagian berasal dari senjata yang membunuh anak-anak Palestina. Ini bukan sekadar salah urus. Ini adalah kebijakan yang kehilangan arah etik dan empati.

Danantara disebut-sebut sebagai proyek unggulan pemerintahan baru Prabowo-Gibran. Lembaga ini didesain meniru model Temasek Singapura dan Khazanah Malaysia. Tapi semangatnya bukan lagi kedaulatan ekonomi—melainkan ekspansi kapital lewat logika pasar bebas. Dan sementara rakyat diminta bersabar menghadapi PHK dan krisis biaya hidup, elite justru membuka pintu bagi modal yang membiayai genosida.

Tragedi moral ini dipertajam oleh diamnya elite terhadap pertanyaan publik. Tidak ada audit independen. Tidak ada kajian etis. Tidak ada keterlibatan masyarakat sipil dalam menentukan mitra strategis negara. Transparansi hanyalah jargon. Di baliknya, keputusan dibuat di ruang tertutup—jauh dari kendali rakyat.

Artikel Terkait:
  • Pahlawan yang Dipenjara
  • QR Warung dan Ketakutan Amerika
  • Tantangan Representasi atau Simbolisme?
  • Sentralisasi Berkedok Nasionalisme

Dan kalau Indonesia tetap menjadikan BlackRock sebagai mitra utama, maka bukan tidak mungkin dana negara akan terseret dalam konflik yang lebih besar. Di banyak negara, perusahaan dan entitas yang terlibat dalam pembiayaan perang kini mulai diboikot atau dijatuhi sanksi. Reputasi Indonesia sebagai negara yang menjunjung HAM bisa runtuh hanya karena kehausan investasi.

Indonesia punya pilihan. Pemerintah bisa mengevaluasi ulang kerja sama Danantara–BlackRock dan membuka jalur ke mitra lain yang lebih etis. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, bahkan negara Islam seperti UEA, Qatar, dan Turki memiliki dana investasi besar yang tidak terlibat dalam industri militer penjajah.

Selain itu, harus ada reformasi dalam pengelolaan dana publik. Uang negara tidak boleh dihimpun dari pengorbanan rakyat kecil lalu diinvestasikan kepada kapital asing yang tak peduli pada penderitaan manusia. Danantara harus tunduk pada prinsip akuntabilitas publik dan etika global. Jika tidak, maka lembaga ini akan menjadi mesin kapitalisme predator, bukan solusi pembangunan.

Solidaritas terhadap Palestina tidak boleh tinggal slogan. Ia harus diterjemahkan dalam keberpihakan nyata, termasuk dalam kebijakan ekonomi. Jika negara ini membiarkan uang rakyat ikut menghidupi industri perang, maka kita semua bertanggung jawab atas darah yang tumpah di Gaza.

Jangan Lewatkan:
  • Abolisi Tak Sama Dengan Keadilan
  • Celah Curang Layanan Rumah Sakit
  • Ketika Kebijakan Membakar Dapur Rakyat
  • Tegakkan Hukum, Bukan Cari Kambing Hitam
Efisiensi Anggaran Investasi Etis Konflik Palestina Politik Global Prabowo Subianto
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSuara Kritis Itu Telah Diam, Indonesia Kehilangan Kwik Kian Gie
Next Article Pemkab Kukar Ingin BBM SKK Migas Disuplai Lokal

Informasi lainnya

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Gaya Politik Kekanak-Kanakan Ala RIDO

Editorial Udex Mundzir

Menepi di Jejeran Cemara & Laut Lepas Pangempang

Travel Alfi Salamah

Groundsel Raksasa: Harta Prasejarah di Atap Afrika

Travel Ericka

10 Situs Legal dan Terpercaya untuk Nonton Film Gratis dengan Kualitas HD

Happy Dexpert Corp

Hakim Mana yang Berani Vonis Ijazah Palsu?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Wawan Raih Penghargaan atas Lagu Arjaun di Cisayong

Nama Jokowi Masih Tersemat di Situs OCCRP Meski Sempat Hilang

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Mic Wireless Untuk Masjid Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi