Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

Kenapa Kita Sering Lelah Padahal Tidur Sudah Cukup?

Tahun Ajaran Baru 2026, MPLS Ramah Jadi Wajah Baru Sekolah

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 10 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Populer, Bukan Baik: Demokrasi yang Terjebak

Udex MundzirUdex Mundzir25 November 2024 Editorial
Pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan
Pasangan Cagub-Cawagub Jabar, Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Sayangnya, demokrasi kita tidak memilih orang baik. Pilihan rakyat sering kali jatuh pada mereka yang populer, bukan yang berkualitas. Pilkada, termasuk Pilgub Jabar 2024, adalah cerminan dari tren ini, di mana elektabilitas lebih sering ditentukan oleh citra dibandingkan substansi.

Pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, misalnya, mendominasi survei dengan angka elektabilitas di atas 65% menurut enam lembaga survei berbeda. Dukungan yang masif ini tentu mencerminkan popularitas mereka di tengah masyarakat Jawa Barat. Namun, apakah popularitas ini berbanding lurus dengan kemampuan dan komitmen untuk memperbaiki Jawa Barat?

Demokrasi modern sering kali menjadi panggung kontestasi pencitraan. Kandidat berlomba-lomba menghadirkan janji manis, kampanye megah, hingga slogan yang menarik perhatian. Sayangnya, substansi program sering kali tenggelam di balik hingar-bingar kampanye. Pemilih jarang diajak berdialog tentang visi jangka panjang atau rencana konkrit pembangunan daerah.

Keberhasilan pasangan Dedi-Erwan di survei mungkin juga dipengaruhi oleh dukungan besar dari koalisi partai-partai kuat, seperti Gerindra, Golkar, dan Demokrat. Dengan kekuatan logistik dan jaringan yang mumpuni, mereka mampu menjangkau basis pemilih yang luas. Namun, apakah ini berarti pasangan lain, seperti Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie, tidak layak diperhitungkan?

Baca Juga:
  • Revisi Dam: Ibadah atau Administrasi?
  • Di Balik Kegelapan yang Diteriakkan
  • Kenaikan Harga BBM dan Tantangan Ketahanan Energi
  • Jokowi, Mengapa Masih Ikut Campur?

Di sisi lain, pasangan seperti Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina dan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja tampak kesulitan keluar dari bayang-bayang ketidakpopuleran. Elektabilitas mereka yang berkisar di angka 4-5% menunjukkan bahwa popularitas tetap menjadi tiket utama untuk memenangkan kompetisi demokrasi.

Analisis ini mencerminkan kegagalan demokrasi kita dalam menghadirkan pemimpin berkualitas. Demokrasi sejatinya adalah proses memilih yang terbaik, bukan sekadar yang terkenal. Ketika popularitas menjadi satu-satunya ukuran, isu-isu mendasar seperti kemiskinan, pengangguran, atau pendidikan sering kali tidak mendapatkan perhatian serius.

Budaya politik kita juga turut andil dalam melanggengkan pola ini. Masyarakat cenderung terpesona oleh kemeriahan kampanye dibandingkan rekam jejak kandidat. Kandidat dengan latar belakang teknokrat atau religius seperti Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie, yang menawarkan solusi berbasis teknologi dan spiritualitas, justru kurang menarik perhatian publik dibandingkan pasangan yang lebih atraktif di media.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi ini? Pertama, pendidikan politik harus menjadi prioritas. Pemilih harus diajak memahami pentingnya memilih berdasarkan kompetensi dan integritas, bukan sekadar pesona. Media juga memiliki peran penting untuk menggali isu substansial dan mendorong debat yang bermutu.

Artikel Terkait:
  • Celah Curang Layanan Rumah Sakit
  • Ambisi Politik Bahlil: Kursi Lebih Penting dari Kinerja
  • Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana
  • Pemerintahan Indonesia Masih Menggunakan Manajemen Penjajah

Kedua, regulasi kampanye perlu diperketat agar lebih fokus pada program kerja. Pembatasan kampanye yang berlebihan, seperti hura-hura atau pembagian suvenir, dapat mengurangi polarisasi yang tidak sehat.

Ketiga, partai politik harus menanamkan budaya meritokrasi dalam pencalonan kandidat. Alih-alih mengutamakan popularitas, partai harus berani memajukan figur dengan rekam jejak yang jelas dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Jika langkah-langkah ini diterapkan, demokrasi Indonesia tidak lagi menjadi arena perebutan popularitas semata. Pilkada, termasuk Pilgub Jabar 2024, dapat menjadi momentum memilih pemimpin yang benar-benar layak. Namun, tanpa reformasi mendalam, kita hanya akan terus mengulang pola lama: memilih yang populer, bukan yang baik.

Jangan Lewatkan:
  • Jangan Lempar Beban ke Rakyat
  • Bukan Lalai, Tapi Sinyal Korupsi
  • Ijazah Jokowi: Bukan Privasi, Tapi Legitimasi
  • Taman di Jakarta akan Dibuka 24 Jam, Siapa yang Jaga?
Demokrasi Indonesia Pemimpin berkualitas Pilgub Jabar 2024 Pilkada 2024
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKutim Tetapkan Libur Nasional untuk Pilkada 2024, Pelayanan Esensial Tetap Berjalan
Next Article KPU Sidoarjo Tuntaskan Logistik Pilkada, KPPS Sebar Formulir C

Informasi lainnya

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

19 Juni 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Eksploitasi Konsumen: Kuota Hangus, Manipulasi Digital Terstruktur

Editorial Udex Mundzir

Energi Para Pahlawan

Gagasan Syamril Al-Bugisyi

Hari Dongeng Nasional 28 November

Happy Udex Mundzir

Pengalaman Naik Bus Umum Samarinda-Balikpapan: Tiket Murah, Musik Dangdut, dan Jalanan Bergelombang

Travel Udex Mundzir

Mengapa Sandal dan Sepatu Harus Diparkir dengan Rapi?

Daily Tips Assyifa
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah15 April 2026

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

120 Saksi dan 4 Ahli Jadi Bukti Jerat Nadiem Makarim

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi