Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?

Bentor Dimusnahkan, Pengemudi Terima Becak Listrik

Fokus Berlebih yang Tak Disadari

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 6 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Benturan Kekuasaan dan Kemanusiaan

Kasus pemukulan dokter koas Unsri menjadi cermin relasi kuasa yang merendahkan nilai kemanusiaan.
AssyifaAssyifa15 Desember 2024 Editorial
Polisi menyebut pelaku penganiayaan dokter koas di Palembang kesal dengan korban.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kekerasan bukanlah solusi yang dapat diterima dalam masyarakat yang menjunjung nilai kemanusiaan. Kasus pemukulan dokter koas Universitas Sriwijaya (Unsri) di Palembang telah menghebohkan publik setelah rekamannya viral di media sosial. Peristiwa ini tidak hanya mengekspos perilaku individu, tetapi juga menunjukkan sisi kelam budaya kekerasan dan relasi kuasa yang timpang dalam struktur sosial kita.

Motif pelaku, seperti yang dijelaskan oleh pihak kepolisian, menunjukkan loyalitas berlebih kepada seorang atasan, Lina Dedy. Loyalitas ini, yang seharusnya dimanifestasikan melalui kerja keras atau penghormatan profesional, justru diwujudkan dalam bentuk kekerasan terhadap korban. Pelaku, yang merasa perlu menunjukkan kesetiaannya, memukul seorang dokter koas yang dianggap bersikap kurang sopan. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana subordinasi dan relasi kuasa dapat menciptakan tindakan destruktif, terutama dalam konteks masyarakat yang masih terjebak dalam pola pikir feodal.

Kejadian ini juga mencerminkan bagaimana budaya kekerasan telah terinternalisasi dalam norma sosial. Insiden ini terjadi di ruang publik dan disaksikan oleh banyak orang, tetapi tidak ada upaya untuk mencegah tindakan tersebut. Hanya setelah rekaman video penganiayaan itu viral, perhatian masyarakat dan aparat hukum terarah pada kasus ini. Fenomena ini menyoroti bahwa media sosial kini berfungsi sebagai alat pemicu keadilan di tengah sistem yang sering kali lamban merespons kebutuhan korban.

Dari perspektif hukum, pelaku kini menghadapi ancaman hukuman penjara maksimal lima tahun sesuai Pasal 351 ayat 2 KUHP. Namun, pertanyaannya adalah, apakah sanksi hukum ini mampu menyentuh akar persoalan? Relasi kuasa yang timpang dan budaya feodal yang mengakar bukanlah isu yang dapat diselesaikan hanya dengan hukuman pidana.

Baca Juga:
  • Meski Terlambat, Tetap Harus Dipercepat
  • Kekalahan RIDO: Pelajaran dari Jakarta
  • Rendi Solihin Buka Takjil War Perdana di Tenggarong
  • Golkar di Persimpangan Jalan

Dalam banyak kasus, budaya feodal menciptakan hierarki sosial yang mengurangi hak individu, terutama mereka yang berada di posisi subordinat. Fenomena ini diperparah oleh kurangnya pemahaman tentang hak asasi manusia, baik oleh pelaku maupun korban. Edukasi yang memadai tentang pentingnya menghormati hak setiap individu masih menjadi tantangan besar di masyarakat kita.

Kasus ini juga membuka diskusi tentang perlindungan tenaga kesehatan, terutama mereka yang masih dalam masa pendidikan seperti dokter koas. Mereka berada dalam posisi yang rentan, baik dari segi fisik maupun mental, karena sistem pendidikan dan praktik yang tidak menawarkan perlindungan optimal. Mereka sering kali menghadapi tekanan berlebih dari berbagai pihak, mulai dari institusi pendidikan hingga lingkungan kerja, tanpa adanya mekanisme perlindungan yang memadai.

Untuk menghindari terulangnya kasus serupa, diperlukan langkah-langkah strategis. Pertama, edukasi terkait hak asasi manusia harus dijadikan prioritas nasional, mencakup semua lapisan masyarakat. Pemahaman bahwa kekerasan bukanlah solusi harus ditanamkan sejak dini, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan kerja. Kedua, kebijakan perlindungan tenaga kesehatan, termasuk dokter koas, harus dirancang secara lebih rinci dan diberlakukan secara ketat. Misalnya, regulasi yang melarang segala bentuk tindakan intimidasi atau kekerasan di lingkungan kerja dapat menjadi langkah awal yang baik.

Ketiga, pemberdayaan hukum harus dilakukan secara proaktif. Aparat penegak hukum perlu memastikan bahwa setiap tindakan kekerasan ditangani dengan serius, tidak hanya karena viral di media sosial, tetapi karena nilai kemanusiaan yang dilanggar. Penegakan hukum yang tegas dan adil dapat menjadi sinyal kuat bagi masyarakat bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun tidak akan ditoleransi.

Artikel Terkait:
  • Politik Warisan yang Membelit
  • Batas Usia Pensiun Naik Jadi 59 Tahun pada 2025
  • Guru ASN di Sekolah Swasta
  • Antara Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat

Akhirnya, peristiwa ini adalah pengingat pahit bahwa nilai kemanusiaan sering kali baru menjadi perhatian setelah korban menjadi pusat perhatian publik. Kita harus mulai membangun budaya yang menolak kekerasan sebagai cara penyelesaian konflik dan memperkuat kesadaran bahwa setiap individu memiliki hak untuk diperlakukan dengan hormat dan bermartabat.

Jangan Lewatkan:
  • Nasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik
  • UMP 2025: Melampaui Angka, Memahami Kebutuhan
  • Prabowo Ingin Naikkan Gaji Hakim demi Hapus Suap
  • Hotel Aston Samarinda Tawarkan Paket Spesial untuk Perayaan
Dokter Unsri Dianiaya Kasus Pemukulan Dokter Koas Penganiayaan Viral Palembang
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleCara Efektif Menghitung Dana Pensiun di Indonesia
Next Article Hotel Aston Samarinda Tawarkan Paket Spesial untuk Perayaan

Informasi lainnya

Dolar AS Sentuh Rp17.700, Rupiah Makin Tertekan

19 Mei 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

WHO Selidiki Misteri Hantavirus di Kapal Pesiar

9 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Pramuka Indonesia: Dukungan Solidaritas untuk Palestina

Gagasan Ericka

Mengagumkan Kiswah Mengalami Transformasi dalam 10 Fase

Islami Alfi Salamah

Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat

Editorial Udex Mundzir

Cuaca Panas? Inilah Tanaman yang Bisa Menyejukan Rumah

Opini Alfi Salamah

Pengalaman Naik Bus Umum Samarinda-Balikpapan: Tiket Murah, Musik Dangdut, dan Jalanan Bergelombang

Travel Udex Mundzir
Berita Lainnya
Nasional
Ericka3 Mei 2025

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Generasi Muda dan Pertaruhan Masa Depan Cianjur

Perspektif Ulama Mengenai Waktu Tawaf Ifadah

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi