Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pertalite Tetap Rp10.000, Konsumsi Naik dan Stok Tertekan

PHK 1.100 Buruh di Lebak, Nasib Industri Padat Karya

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 26 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kekalahan RIDO: Pelajaran dari Jakarta

Dukungan besar tanpa strategi matang hanya menjadi bayangan kekalahan yang tak terhindarkan.
Udex MundzirUdex Mundzir11 Januari 2025 Editorial
Kekalahan Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta
Kekalahan Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kekalahan Ridwan Kamil dan Suswono (RIDO) dalam Pilkada Jakarta 2024 menjadi antiklimaks yang mengejutkan. Pasangan ini didukung koalisi besar, Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus, yang mendominasi DPRD Jakarta. Selain itu, dukungan terbuka dari Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo seharusnya menjadi keunggulan. Namun, hasil akhir menunjukkan pasangan Pramono Anung dan Rano Karno (Pramono-Rano) keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara 50,07%. Sementara RIDO hanya meraih 39,4%.

Fakta ini menggambarkan bahwa dukungan politik yang besar tidak selalu menjadi jaminan kemenangan. Kekalahan RIDO membuka diskusi tentang strategi politik, respons publik, hingga dinamika sosial yang memengaruhi hasil Pilkada Jakarta.

Hasil survei dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa dukungan terbuka dari Prabowo dan Jokowi justru memicu sentimen negatif. Sebanyak 34%-38% responden menilai bahwa kepala negara, baik yang sedang menjabat maupun mantan, tidak seharusnya memberikan dukungan politik secara terang-terangan.

Sentimen itu semakin kuat di kalangan pemilih Jakarta, yang cenderung lebih kritis dan sensitif terhadap isu oligarki serta dinasti politik.

Selain itu, lemahnya efektivitas mesin politik KIM Plus di Jakarta menjadi faktor lain. Tidak seperti di provinsi lain, basis suara partai koalisi di Jakarta terlihat terpecah. PKS, yang sebelumnya menjadi pendukung Anies Baswedan, bahkan mengalami pergeseran suara karena konflik internal dan dinamika Pilpres 2024.

Baca Juga:
  • e-KTP: Teknologi Tanpa Arah
  • Pajak Bukan Satu-Satunya Jalan
  • Prabowo Lebih Pro pada Koruptor
  • Isu, Skandal, dan Politik Panggung

Dalam Pilkada Jakarta, popularitas individu sering kali menjadi faktor penentu. Rano Karno, dengan citranya sebagai tokoh budaya Betawi melalui perannya sebagai “Doel,” berhasil meraih simpati masyarakat Jakarta. Tingkat kesukaan terhadap Rano mencapai 92,4%, jauh melampaui Suswono yang hanya mencapai 74,4%.

Pramono-Rano juga memiliki strategi kampanye yang lebih efektif. Data Parameter Politik Indonesia menunjukkan bahwa alat peraga kampanye Pramono-Rano terlihat oleh 87,3% responden, dibandingkan hanya 80,5% untuk RIDO. Kampanye yang agresif dan didukung oleh narasi yang kuat mampu menjangkau basis massa yang lebih luas.

Sebaliknya, pasangan RIDO menghadapi berbagai tantangan. Salah satu penyebab utama adalah ketidaksukaan terhadap sejumlah pernyataan kontroversial Suswono, termasuk isu “kartu janda,” yang dianggap tidak sensitif dan merugikan citra pasangan tersebut. Dukungan dari tokoh-tokoh populer seperti Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terhadap Pramono-Rano juga memberikan dampak signifikan.

Basis pendukung Anies yang besar di Jakarta berpindah ke pasangan ini setelah Anies secara terbuka memberikan endorsement pada November 2024.

Kekalahan RIDO mengajarkan pentingnya memahami dinamika sosial dan politik lokal. Jakarta, sebagai pusat politik dan ekonomi nasional, memiliki karakteristik pemilih yang berbeda dibandingkan daerah lain. Rasionalitas, sensitivitas terhadap isu oligarki, dan apresiasi terhadap pemimpin dengan kedekatan budaya lokal menjadi faktor penentu.

Artikel Terkait:
  • Jangan Mencari Tumbal demi Kemenangan Pilkada di Sampang
  • Gelar Akademik dan Integritas Pejabat Publik
  • Pilwalkot Samarinda 2024: Formalitas Saja
  • Alibi Efisiensi, Pilkada Tetap Harus Langsung

Strategi kampanye yang hanya mengandalkan dukungan elit politik tanpa memperhatikan aspirasi akar rumput terbukti tidak efektif. RIDO kehilangan momentum untuk membangun narasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Jakarta.

Dari kekalahan ini, ada beberapa rekomendasi yang dapat diambil. Partai pendukung perlu lebih memahami kebutuhan dan preferensi pemilih lokal. Strategi kampanye harus relevan dengan konteks budaya dan sosial setempat.

Dukungan politik dari tokoh nasional harus dilengkapi dengan upaya untuk membangun kepercayaan langsung dengan masyarakat. Komunikasi yang kuat di tingkat lokal menjadi kunci keberhasilan. Kandidat harus menghindari pernyataan atau kebijakan yang kontroversial dan tidak sensitif.

Sebaliknya, fokus pada solusi konkret untuk masalah lokal lebih diutamakan. Koalisi pendukung juga harus solid dalam menggerakkan mesin politik, dengan memastikan keselarasan antara narasi nasional dan lokal.

Jangan Lewatkan:
  • Paradoks Pembangunan Desa
  • Tantangan Representasi atau Simbolisme?
  • War Ticket: Ilusi Akses Setara
  • Koperasi Desa Tanpa Arah Nyata

Kekalahan RIDO di Pilkada Jakarta menunjukkan bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh dukungan besar dari elite politik, tetapi juga oleh kemampuan untuk menjangkau hati dan pikiran masyarakat. Pemilih Jakarta membutuhkan pemimpin yang memahami kebutuhan mereka, bukan sekadar figur yang didukung oleh kekuatan politik besar.

Koalisi Indonesia Maju Pilkada Jakarta Politik Indonesia Ridwan Kamil
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSikap PDIP: Antara Prinsip dan Kepentingan
Next Article Perselisihan Jabatan dan Integritas Pilkada

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Senyum Sebagai Sedekah yang Bernilai Ibadah

Islami Silva

Rekomendasi 10 Restaurant Terbaik di Jepang yang Harus Kamu Kunjungi!

Travel Alfi Salamah

Kisah Inspiratif dari Medan Pertempuran Uhud: Pelajaran Berharga

Islami Alfi Salamah

Tabrani dan Jejak Madura untuk Bangsa

Editorial Lisda Lisdiawati

Saat Bahasa Membentuk Hirarki: Ucapan ‘Mohon Izin’ dan ‘Siap’

Daily Tips Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Pesantren Pramuka Khalifa Gebrak Panggung ICOMUS 2026

Wonderchicken, Jejak Burung Awal Zaman Dinosaurus

Ferry Pimpin Syarikat Islam, Hamdan Ketua Dewan Pusat

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi