Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

Indonesia Jadi Tuan Rumah Forum Imam Dunia 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 2 Mei 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Warisan Masalah Era Jokowi

Pembangunan yang melaju cepat tanpa ketelitian tata kelola sering kali meninggalkan biaya sosial dan hukum yang lebih mahal daripada manfaat jangka pendeknya.
Udex MundzirUdex Mundzir19 Januari 2026 Editorial
Warisan Masalah Era Jokowi
Ilustrasi Warisan Pembangunan Era Jokowi (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Setiap rezim selalu meninggalkan jejak yang tidak sepenuhnya bisa dihapus oleh pergantian kekuasaan. Pada masa pemerintahan Joko Widodo, jejak itu hadir dalam bentuk paradoks yang tajam. Infrastruktur dibangun cepat, proyek strategis dipacu besar-besaran, namun ketelitian negara sering tertinggal dari ambisi politiknya.

Editorial ini tidak menafikan seluruh capaian. Jalan tol, bendungan, dan konektivitas memang bertambah. Namun warisan lain juga menguat: persoalan hukum, legitimasi kebijakan, dan konflik sosial yang ditinggalkan untuk ditanggung pemerintahan berikutnya.

Masalah utamanya bukan pembangunan itu sendiri. Masalahnya adalah pola. Ketika proyek besar diprioritaskan, sementara partisipasi publik, audit kebijakan, dan konsistensi hukum diperlakukan sebagai pelengkap belaka, negara sedang menanam benih krisis lanjutan.

Pola itu paling jelas terlihat pada proyek Ibu Kota Nusantara. Sejak awal, Ibu Kota Nusantara dipromosikan sebagai lompatan peradaban. Kota hijau, pintar, dan simbol pemerataan luar Jawa menjadi narasi utama.

Namun proyek sebesar itu mensyaratkan kepastian pembiayaan yang kokoh. Data anggaran menunjukkan ketergantungan kuat pada APBN pada fase awal. Ketika investasi swasta belum masuk sesuai janji, publik wajar mempertanyakan siapa yang menanggung risiko.

Ketergantungan ini memunculkan persoalan biaya peluang. Puluhan triliun rupiah yang terkonsentrasi pada satu wilayah berarti agenda dasar di daerah lain harus menunggu. Pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan bersaing dengan beton dan aspal.
Masalah IKN tidak berhenti pada pendanaan.

Catatan lembaga audit negara menunjukkan persoalan kesiapan lahan dan tata kelola teknis. Rekomendasi perbaikan berulang kali muncul, menandakan bahwa perencanaan belum sebanding dengan skala proyek.

Jika legitimasi politik melemah atau ekonomi melambat, risiko mangkrak menjadi nyata. IKN bisa menjadi kota masa depan. Tetapi ia juga berpotensi menjadi monumen kebijakan yang terburu-buru.

Baca Juga:
  • Lumbung Korupsi dalam Demokrasi yang Terganjal
  • Fakta Sebenernya, Inflasi Pejabat
  • Kabut Dalang, Gagalnya Aparat
  • Tarif Ojol Naik: Siapa Diuntungkan?

Pola serupa terlihat pada pemekaran wilayah Papua. Pemerintah mengesahkan provinsi baru dengan dalih percepatan pelayanan dan pemerataan. Secara administratif, argumen itu terdengar rasional.

Namun Papua bukan sekadar ruang administratif. Ia memuat sejarah panjang konflik, ketidakpercayaan, dan luka kolektif. Ketika pemekaran dilakukan secara top-down, defisit partisipasi berubah menjadi masalah legitimasi.

Berbagai laporan masyarakat sipil mencatat penolakan, protes, dan pembatasan kebebasan berekspresi pascapemekaran. Negara lalu merespons dengan pendekatan keamanan. Di titik inilah kebijakan administratif bertransformasi menjadi masalah hak asasi.

Provinsi baru berarti birokrasi baru. Biaya aparatur, gedung, dan rantai administrasi bertambah. Tanpa fondasi sosial yang kokoh, pemekaran justru mempercepat konflik, bukan kesejahteraan.
Warisan berikutnya menyentuh jantung tata kelola: pelemahan lembaga antikorupsi. Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi pada 2019 menjadi titik balik yang menentukan.

Penurunan jumlah operasi tangkap tangan bukan sekadar statistik. Ia adalah simbol yang hilang. Ketika simbol itu melemah, pesan yang sampai ke publik adalah menurunnya risiko bagi koruptor.

Organisasi pemantau korupsi mencatat penurunan persepsi independensi dan efektivitas KPK. Korupsi pun kembali dipandang sebagai kejahatan berisiko rendah. Kepercayaan publik terhadap hukum ikut tergerus.

Masalah ini bersifat struktural. Antikorupsi tidak cukup menjadi slogan. Ia membutuhkan sistem yang berani, independen, dan konsisten. Tanpa itu, warisan yang ditinggalkan adalah normalisasi impunitas.

Persoalan prosedur juga tampak pada pembentukan Undang-Undang Cipta Kerja. Pemerintah menjanjikan deregulasi demi investasi. Namun Mahkamah Konstitusi menyatakan undang-undang tersebut inkonstitusional bersyarat karena cacat formil.

Artikel Terkait:
  • Nasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik
  • Guru ASN di Sekolah Swasta
  • UU TNI Disahkan, Sipil Terancam Diam
  • Rusia dan Ancaman Tsunami Abadi

Putusan ini menciptakan preseden berbahaya. Prosedur hukum seolah dapat dibengkokkan demi target ekonomi. Dalam demokrasi, prosedur bukan formalitas. Ia adalah pagar legitimasi kebijakan.

Ketika pagar itu dilompati, biaya sosialnya mahal. Protes buruh berkepanjangan, ketidakpastian hukum, dan konflik regulasi menjadi konsekuensi yang harus ditanggung negara.
Di penghujung masa jabatan, problem etika kekuasaan ikut mencuat. Penurunan skor kebebasan sipil Indonesia dalam laporan Freedom House menegaskan kemunduran kualitas demokrasi.

Putusan kontroversial lembaga peradilan terkait aturan pemilu memperkuat kesan lenturnya hukum bagi elite tertentu. Ketika publik melihat hukum bisa dinegosiasikan, demokrasi berubah menjadi kompetisi akses, bukan gagasan.

Warisan ini tidak kasat mata seperti jalan tol atau gedung baru. Namun dampaknya jauh lebih lama. Ketidakpercayaan publik adalah racun yang bekerja perlahan, tetapi merusak fondasi negara.

Semua persoalan ini terhubung oleh satu benang merah. Ambisi politik bergerak lebih cepat daripada kesiapan tata kelola. Negara tampak berlari kencang, tetapi sering lupa membawa kompas hukum dan partisipasi.

Pemerintahan pasca-Jokowi mewarisi bukan hanya aset fisik, tetapi juga tumpukan pekerjaan rumah. Audit menyeluruh proyek strategis harus dilakukan secara serius, bukan seremonial.
Pemulihan independensi antikorupsi menjadi prasyarat mutlak. Tanpa itu, janji efisiensi dan pembangunan berkelanjutan hanya akan menjadi jargon.

Jangan Lewatkan:
  • UMP 2025: Melampaui Angka, Memahami Kebutuhan
  • Golkar di Persimpangan Jalan
  • Coba Vaksin? Wakil Rakyat Dulu!
  • e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

Pendekatan Papua harus bergeser dari keamanan ke legitimasi sosial. Dialog bermakna dan perlindungan hak asasi bukan penghambat pembangunan, melainkan syaratnya. Negara boleh besar dalam ambisi. Tetapi negara tidak boleh ceroboh dalam tata kelola. Tanpa koreksi mendasar, warisan masalah akan terus berulang, melampaui satu periode kekuasaan.

Antikorupsi Demokrasi Indonesia Kebijakan Publik Politik Nasional Tata Kelola Negara
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMakna Kiai dalam Tradisi Jawa: Antara Simbol dan Ilmu
Next Article Gen Z dan Tantangan Tanpa Ponsel

Informasi lainnya

Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

27 April 2026

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

26 April 2026

e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

25 April 2026

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

23 April 2026

UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN

19 April 2026

War Ticket: Ilusi Akses Setara

12 April 2026
Paling Sering Dibaca

Garuda Diselamatkan, Tapi Sampai Kapan?

Editorial Udex Mundzir

Tips Mengatur Waktu agar Gak Overwhelmed Tiap Hari

Daily Tips Alfi Salamah

Asal-Usul Tradisi Memberi Takjil di Bulan Ramadan

Islami Ericka

Persaingan Global dalam Pengembangan Kecerdasan Buatan

Techno Ericka

Pramuka Cisayong, Saatnya Bergerak

Opini Silva
Berita Lainnya
Ekonomi
Assyifa10 Januari 2025

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Minuman Ini Redakan Nyeri Haid

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Prabowo Klaim Hemat Rp308 Triliun dari APBN

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi