Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

BEM UI Turun ke Bundaran HI, Soroti Ekonomi dan APBN

Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 13 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kenaikan Harga BBM dan Tantangan Ketahanan Energi

Udex MundzirUdex Mundzir1 November 2024 Editorial
Kenaikan Harga Pertamina
Kenaikan Harga Pertamina (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Lagi-lagi, Pertamina menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi mulai 1 November 2024, termasuk produk populer seperti Pertamax Turbo, Pertamax Green 95, Dexlite, dan Pertamina DEX. Kebijakan ini diambil dengan mengikuti ketentuan terbaru Kementerian ESDM yang memperbarui formula perhitungan harga BBM berdasarkan harga minyak dunia, kurs dolar, dan beban operasional.

Kenaikan ini jelas berdampak pada masyarakat, mengingat BBM adalah kebutuhan yang tak terelakkan bagi sektor transportasi dan industri. Namun, di balik kebijakan ini, muncul pertanyaan yang semakin mengemuka: Bagaimana pemerintah menjamin ketahanan energi di tengah fluktuasi harga BBM yang terus terjadi?

Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo yang kini menjadi Rp13.500 per liter, atau Dexlite yang melonjak dari Rp12.700 menjadi Rp13.050 per liter, menambah beban biaya yang cukup signifikan bagi konsumen. Tidak hanya itu, kenaikan ini menciptakan ketimpangan antara harga BBM non-subsidi dan subsidi, mengingat harga Pertalite dan Solar bersubsidi tetap tidak berubah.

Pemerintah tampak menghadapi dilema antara menjaga daya beli masyarakat dengan mempertahankan ketahanan fiskal. Terlebih, menjaga stabilitas harga bahan bakar non-subsidi tanpa subsidi tambahan menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam menghadapi harga minyak global yang fluktuatif.

Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada individu atau konsumen akhir, tetapi juga pada sektor industri dan transportasi yang mengandalkan BBM non-subsidi untuk operasional mereka. Biaya operasional yang meningkat berpotensi memicu inflasi, terutama pada harga barang dan jasa yang diangkut melalui transportasi darat.

Baca Juga:
  • Tegakkan Hukum, Bukan Cari Kambing Hitam
  • Danantara: Mesin Kapital yang Mengabaikan Darah Palestina
  • RK vs Lisa: Viral yang Disusun Rapi
  • Zakat Ternoda, Amanah Diperdagangkan

Inflasi yang terjadi akibat kenaikan biaya transportasi, pada gilirannya, dapat memperburuk daya beli masyarakat yang sudah melemah. Dalam kondisi ekonomi yang masih dalam pemulihan, efek domino dari kenaikan harga BBM berpotensi menekan sektor-sektor yang paling rentan.

Pemerintah telah menyatakan niat untuk mencapai swasembada energi dalam jangka panjang, namun realisasi ini masih tampak jauh. Kenaikan harga BBM seolah menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada impor minyak mentah tetap menjadi kelemahan yang serius bagi perekonomian Indonesia.

Walaupun pembangunan infrastruktur energi terbarukan telah digalakkan, misalnya dengan memperbanyak Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan peningkatan produksi biofuel, ketergantungan pada BBM fosil masih dominan.

Tanpa diversifikasi energi yang lebih agresif, tujuan swasembada energi akan sulit tercapai, terutama jika ketergantungan pada impor minyak mentah tidak dikurangi secara signifikan.

Solusi jangka pendek yang realistis adalah meningkatkan sinergi antara pemerintah dan Pertamina dalam upaya diversifikasi energi, terutama untuk sektor transportasi. Peningkatan fasilitas transportasi publik berbasis energi listrik perlu dipercepat, agar konsumsi BBM dapat ditekan.

Artikel Terkait:
  • Taman di Jakarta akan Dibuka 24 Jam, Siapa yang Jaga?
  • Tarif Trump: Senjata Makan Tuan
  • Pemblokiran Rekening Tanpa Akal
  • Ketika Vape Jadi Narkoba Baru

Selain itu, pemberlakuan subsidi atau insentif bagi kendaraan listrik juga dapat menjadi salah satu cara mengurangi konsumsi BBM di sektor ritel. Pemerintah juga dapat mendorong program efisiensi energi di sektor industri, yang selama ini menjadi konsumen utama BBM non-subsidi.

Dalam jangka panjang, percepatan transisi ke energi terbarukan sangat krusial untuk meminimalisir dampak volatilitas harga minyak global terhadap perekonomian nasional. Pengembangan energi terbarukan, seperti biofuel berbasis kelapa sawit, perlu terus dikaji dan disempurnakan agar dapat diimplementasikan lebih luas tanpa mengorbankan lingkungan.

Selain itu, percepatan eksplorasi energi baru seperti hidrogen dan energi angin dapat dijadikan prioritas investasi jangka panjang bagi pemerintah. Investasi ini harus didukung kebijakan yang jelas dan insentif bagi sektor swasta agar turut terlibat aktif dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.

Akhirnya, kenaikan harga BBM non-subsidi ini menggarisbawahi pentingnya peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pemerintah perlu memastikan agar setiap langkah dalam kebijakan energi mencerminkan visi yang kuat dan berorientasi pada keberlanjutan.

Jangan Lewatkan:
  • Menakar Usia Ideal Penggunaan HP bagi Anak
  • Jamnas Bukan Ajang Si Punya Uang
  • Pilkada Sampang 2024: Situasi Ketat, Mandat Diunggulkan
  • Keadilan Dibelokkan oleh Kekuasaan

Penyesuaian harga BBM adalah realitas ekonomi yang tak terhindarkan, tetapi dengan perencanaan yang baik, Indonesia dapat mencapai kemandirian energi tanpa harus bergantung pada volatilitas pasar internasional.

Harga BBM non-subsidi Ketahanan Energi Pertamina
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDPRD Kaltim Mantapkan Langkah, Evaluasi Kinerja lewat Tiga Pokja
Next Article Harga BBM Pertamina, Shell, dan BP Kompak Naik, Begini Rinciannya

Informasi lainnya

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Panduan Lengkap Berpakaian untuk Wanita Muslimah Menurut Islam

Islami Udex Mundzir

Merince Kogoya dan Batas Ekspresi

Editorial Udex Mundzir

Mengenal IHSG: Indeks Utama Pasar Saham Indonesia

Bisnis Ericka

Minuman Viral, Benarkah Sehat?

Food Alfi Salamah

Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?

Opini Udex Mundzir
Berita Lainnya
Ekonomi
Lisda Lisdiawati8 Desember 2025

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Aturan Baru SD: Tak Wajib Usia 7 Tahun

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Batal Jadi Ibu Kota? MK Tegaskan IKN Belum Gantikan Jakarta

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi