Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?

Bentor Dimusnahkan, Pengemudi Terima Becak Listrik

Fokus Berlebih yang Tak Disadari

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 6 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Politik Warisan yang Membelit

Ketika kekuasaan lama tak mau pergi, pemerintahan baru terancam terjebak dalam lingkaran konflik dan bayang-bayang kepentingan.
Udex MundzirUdex Mundzir30 Agustus 2025 Editorial
Warisan Politik Jokowi dalam Pemerintahan Prabowo.
Ilustrasi Warisan Politik Jokowi dalam Pemerintahan Prabowo.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Panggung politik Indonesia bergetar ketika isu warisan politik kembali menjadi sorotan. Desakan agar Presiden Prabowo Subianto mundur dengan alasan gagal menjaga keamanan negara memunculkan ketegangan baru. Isu ini tidak lahir di ruang kosong, melainkan digerakkan oleh kelompok yang kerap diasosiasikan dengan lingkaran loyalis mantan Presiden Joko Widodo.

Publik mulai melihat pola yang berulang. Setiap ada kericuhan atau instabilitas, selalu muncul narasi yang diarahkan pada kegagalan pemerintahan baru. Fenomena ini menandakan bahwa bayang-bayang Jokowi masih kuat dalam lanskap politik, meski roda kekuasaan telah berganti.

Sebutan “Geng Solo” menjadi istilah populer untuk menggambarkan jejaring kekuasaan itu. Meski bukan istilah resmi, ia melekat kuat di telinga publik sebagai simbol pengaruh yang masih bercokol. Jejaring ini dituduh ikut mengendalikan berbagai sektor, dari partai politik, birokrasi, hingga aparat keamanan.

Secara politik, situasi ini bukan sekadar konflik personal antara Jokowi dan Prabowo. Ada pertarungan ideologi dan kepentingan yang jauh lebih dalam. Setiap transisi pemerintahan di Indonesia selalu menyisakan “warisan” dari rezim sebelumnya, dan kali ini, pola itu kembali terbukti.

Di bidang hukum, masalah menjadi semakin rumit. Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang diangkat pada masa Jokowi menjadi simbol berlanjutnya warisan tersebut. Sebagian kalangan menilai kehadirannya menjaga kesinambungan, sementara pihak lain menganggapnya justru menghambat independensi pemerintahan baru.

Jika Prabowo tidak mampu bersikap tegas dalam menata ulang institusi keamanan, citra pemerintahannya akan mudah digoyang. Tuduhan “pemerintahan bayangan” akan terus menghantui, dan legitimasi presiden bisa terkikis. Situasi ini tentu berbahaya bagi stabilitas nasional.

Dari sisi sosial, polarisasi semakin nyata. Sebagian masyarakat menaruh harapan pada Prabowo untuk membawa arah baru. Namun, sebagian lain tetap setia pada lingkaran lama dan mencoba menggiring opini bahwa pemerintahan ini gagal sejak awal.

Baca Juga:
  • Abolisi Tak Sama Dengan Keadilan
  • Trump Berlagak Pahlawan Tapi Kesiangan
  • Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda
  • Memisah Pemilu, Memecah Stabilitas

Narasi “mundur” dan “kudeta politik” jelas bukan sekadar wacana, melainkan strategi untuk melemahkan legitimasi presiden. Dalam kondisi ini, rakyat lagi-lagi menjadi korban. Mereka harus menanggung dampak ketidakpastian, sementara kebutuhan hidup sehari-hari semakin berat.

Ekonomi juga tak luput dari imbas. Stabilitas politik adalah syarat mutlak bagi pertumbuhan investasi. Setiap gejolak politik membuat investor menunda langkah, dan akhirnya pembangunan terhambat.

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa arus investasi melambat setiap kali tensi politik memanas. Pada tahun pertama pemerintahannya, Prabowo seharusnya mendapat ruang tenang untuk fokus pada program prioritas seperti swasembada pangan dan penguatan pertahanan. Namun, konflik elit justru mempersempit ruang itu.

Dampaknya langsung dirasakan masyarakat kecil. Inflasi bahan pokok tetap tinggi, dan daya beli melemah. Sementara itu, drama politik elit hanya menambah rasa frustrasi, karena rakyat merasa dibiarkan bergulat sendiri dengan kesulitan ekonomi.

Budaya politik patronase semakin memperburuk keadaan. Loyalitas personal lebih sering diprioritaskan daripada kepentingan negara. Prabowo kini dihadapkan pada dilema besar: menanggalkan figur warisan Jokowi atau membiarkan mereka bertahan demi stabilitas jangka pendek.

Keputusan ini akan menentukan arah sejarah. Apakah ia akan tercatat sebagai presiden yang berani memutus rantai ketergantungan, atau sekadar melanjutkan pola lama dengan wajah baru. Sikap tegas sangat dibutuhkan, tetapi langkah itu harus tetap bijak.

Meski demikian, solusi tidak cukup hanya “menyingkirkan” orang lama. Pemerintahan Prabowo perlu membangun sistem meritokrasi yang transparan dan akuntabel. Aparat hukum dan keamanan harus ditempatkan berdasarkan kapasitas, bukan loyalitas.

Artikel Terkait:
  • Golkar di Persimpangan Jalan
  • Raja Kecil di Birokrasi, Prabowo Gertak Sambal?
  • Membatasi Medsos, Mendidik Generasi
  • Benturan Kekuasaan dan Kemanusiaan

Reformasi di tubuh kepolisian adalah langkah awal yang mendesak. Tanpa itu, tudingan bahwa aparat menjadi alat politik akan terus melekat. Rakyat membutuhkan kepastian bahwa hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, bukan berdasarkan pesanan elit.

Selain itu, komunikasi politik pemerintah harus diperbaiki. Prabowo perlu menyampaikan arah kebijakan dengan jelas dan konsisten. Publik berhak tahu ke mana bangsa ini akan dibawa, tanpa dibiarkan terjebak dalam spekulasi yang memperburuk kepercayaan.

Masyarakat pun punya peran penting. Literasi politik harus ditingkatkan agar tidak mudah terjebak propaganda. Media sosial, yang sering dipakai sebagai alat provokasi, sebaiknya dimanfaatkan untuk membangun narasi positif dan memperkuat persatuan.

Jika rakyat hanya diam dan menerima narasi yang dilemparkan elit, maka konflik akan terus dimainkan. Demokrasi akan terjebak dalam permainan oligarki, dan ruang bagi partisipasi publik semakin sempit. Itulah risiko nyata dari politik yang dikuasai warisan.

Institusi hukum harus berdiri tegak. Kepolisian, kejaksaan, dan lembaga penegak hukum lain tidak boleh tunduk pada kepentingan politik. Independensi mereka menjadi kunci agar pemerintahan berjalan dengan adil dan demokrasi tetap bernyawa.

Pertarungan politik antara warisan Jokowi dan pemerintahan Prabowo adalah cermin dari rapuhnya sistem transisi kekuasaan di Indonesia. Kita terlalu lama mengandalkan loyalitas personal daripada membangun institusi yang kuat. Hasilnya, rakyat hanya melihat wajah baru dengan pola lama.

Jangan Lewatkan:
  • Israel Lahir Lewat Teror dan Genosida
  • Pilkada Jakarta: Gugat Aja Dulu
  • Pilkada Sampang 2024: Situasi Ketat, Mandat Diunggulkan
  • Kegaduhan yang Disengaja

Sebagai media, kami menegaskan bahwa bangsa ini tidak boleh terus-menerus terjebak dalam lingkaran konflik elit. Prabowo harus berani menata ulang struktur politik dan keamanan, sekaligus merangkul rakyat dengan kebijakan yang inklusif.

Hanya dengan cara itu demokrasi bisa bertahan. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu memutus rantai ketergantungan, bukan sekadar mewarisi pola lama. Kepentingan rakyat harus selalu ditempatkan di atas ambisi pribadi maupun kelompok.

Joko Widodo Politik Indonesia Prabowo Subianto Stabilitas Nasional Warisan Kekuasaan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePropam Polri Periksa 7 Anggota Brimob Terlibat Kasus Ojol Tewas
Next Article Jangan Goyang Pemerintah Sah

Informasi lainnya

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026

MBG dan Risiko Cobra Effect

4 Mei 2026

Pendidikan Tersedot Program MBG

2 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Insentif MBG: Jangan Alihkan Beban

Editorial Udex Mundzir

Hukum Jual Beli Emas Digital dalam Islam

Bisnis Ericka

Kenali Kapal Kayu Nelayan dan Kualitas Jual Tinggi

Kroscek Dexpert Corp

Sahabat AI dan Ilusi Kedaulatan Digital

Editorial Udex Mundzir

Gubernur Bayangan di Tambang Rakyat

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Nasional
Ericka3 Mei 2025

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Generasi Muda dan Pertaruhan Masa Depan Cianjur

Perspektif Ulama Mengenai Waktu Tawaf Ifadah

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi