Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Ketua Dewan Racana Pesantren Khalifa Dilantik

Efisiensi atau Salah Kelola?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 6 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Eksploitasi Konsumen: Kuota Hangus, Manipulasi Digital Terstruktur

Ketika kita bayar penuh tapi hanya dapat setengah, itu bukan strategi pemasaran—itu eksploitasi konsumen.
Udex MundzirUdex Mundzir26 Juni 2025 Editorial
dampak kuota hangus operator
Ilustrasi kuota hangus (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Suatu praktik tersembunyi terus berjalan diam-diam sejak 2009, yaitu kuota hangus. Konsumen membeli paket data 100 GB untuk 30 hari, bayar Rp150.000 hingga Rp200.000. Tapi begitu jam menunjukkan pukul 00.01 di hari ke-30, sisa kuota—bisa 20 sampai 30 GB—langsung hilang.

Tidak bisa dipakai, tidak dikembalikan, dan tidak ada kompensasi.

Pertanyaannya sederhana: ke mana perginya kuota itu? Uang kita sudah dibayarkan penuh. Nilai yang kita bayar semestinya kita nikmati sepenuhnya. Tapi kenyataannya, hak kita justru dilenyapkan tanpa alasan masuk akal.

Bukan cuma satu-dua orang yang mengalami. Jutaan pengguna merasakannya tiap bulan. Menurut beberapa pengamat, total potensi kerugian publik akibat kuota yang hangus ini bisa mencapai Rp63 miliar setiap tahun.

Dan praktik ini tidak berhenti pada soal waktu.

Kita beli paket 10 GB, tapi yang bisa dipakai bebas hanya 2 GB. Sisanya dipecah jadi kuota malam, kuota lokal, kuota aplikasi. Semua dengan batas waktu, batas lokasi, atau batas jenis aplikasi. Ada juga yang menyindir: “kuota planet Mars”—karena tak pernah terpakai.

Inilah bentuk manipulasi digital paling kasat mata.

Konsumen disodori paket data dengan tampilan besar. Tapi isinya jebakan teknis. Kita membeli “kucing dalam karung”, dibungkus promosi yang tampak canggih. Padahal nilainya tidak sepadan dengan yang kita bayar.

Secara hukum, praktik ini merusak prinsip transparansi.

Baca Juga:
  • Pers Dibelenggu, Demokrasi Tercekik
  • Titik Kritis Kepemimpinan Prabowo
  • Di Atas Hukum, Di Luar Akal Sehat
  • Wibawa Prabowo Dipertanyakan, Siapa Pemimpin Sebenarnya?

Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengharuskan semua informasi produk disampaikan dengan jelas dan jujur. Tapi banyak operator menyembunyikan detail pembagian kuota dalam tulisan kecil, atau bahkan tidak menyebutkannya sama sekali sebelum transaksi.

Negara pun belum sungguh-sungguh hadir.

Tidak ada aturan tegas soal rollover kuota. Tidak ada kewajiban pengembalian sisa kuota. Operator bebas menentukan kebijakan, selama tidak melanggar batas teknis. Tapi justru di situ masalahnya—hak konsumen dikaburkan lewat celah teknis.

Dari sisi ekonomi, ini adalah keuntungan sepihak.

Operator tetap menerima uang penuh, meski konsumennya hanya bisa menggunakan sebagian kuota. Lebih banyak kuota yang tak terpakai, lebih besar margin keuntungannya. Tapi keuntungan ini didapat dari model yang eksploitatif.

Di sisi sosial, ini menciptakan pola konsumsi yang keliru.

Masyarakat terdorong menghabiskan kuota malam jam 01.00–05.00 hanya agar tak hangus. Atau dipaksa menonton video di aplikasi tertentu karena ada “kuota khusus aplikasi”. Bukan berdasarkan kebutuhan, tapi karena struktur paket yang memaksa.

Lalu bagaimana masyarakat bisa merasa aman di ruang digital kalau aturan mainnya tidak adil sejak awal?

Artikel Terkait:
  • Jamnas Bukan Ajang Si Punya Uang
  • Haji Ilegal, Iman yang Dimanfaatkan
  • Wartawan Gadungan, Luka di Wajah Jurnalisme
  • Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan

Kesenjangan relasi ini harus segera diperbaiki.

Pertama, negara wajib hadir dengan regulasi yang memaksa rollover kuota. Kalau sisa kuota tidak habis, maka konsumen berhak menggunakannya di bulan berikutnya.

Kedua, pembagian kuota harus dijelaskan secara terbuka sebelum pembelian. Tak boleh ada istilah teknis yang menyembunyikan batasan penting.

Ketiga, jika rollover belum memungkinkan, maka sisa kuota harus dikompensasi. Bisa dalam bentuk diskon, tambahan masa aktif, atau pulsa. Pilihannya bisa fleksibel, asal mengembalikan nilai kepada konsumen.

Keempat, edukasi digital harus diperkuat.

Konsumen perlu paham hak-haknya. Perlu tahu cara membaca rincian paket. Dan perlu berani bersuara jika merasa dirugikan.

Jangan Lewatkan:
  • Menakar Usia Ideal Penggunaan HP bagi Anak
  • Siapa Kenyang dari Proyek Makan Bergizi?
  • Mengakhiri Bayang Jokowi
  • Relawan Muda di Arus Mudik

Keadilan digital bukan isu teknis. Ini soal relasi yang setara antara konsumen dan penyedia layanan.

Kalau negara terus diam, maka eksploitasi ini akan jadi hal biasa.

Dan ketika praktik tak adil jadi kebiasaan, maka kita tak hanya kehilangan kuota—kita kehilangan hak kita sebagai warga digital.

KeadilanDigital KuotaHangus ManipulasiDigital OperatorTelekomunikasi PerlindunganKonsumen
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDiskominfo Kukar Bahas Tata Kelola Aset TIK Lewat On Desk Survey
Next Article Pemkab Kukar Terima Peta Zona Nilai Tanah Muara Badak

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Tips Penting bagi Jamaah Haji Baru Tiba, Perhatikan 5 Hal Ini

Islami Alfi Salamah

Digital Nomad, Hidup atau Ilusi?

Daily Tips Alfi Salamah

Minuman Viral, Benarkah Sehat?

Food Alfi Salamah

Kreasi Lezat dari Tape Bandung yang Bikin Nagih

Food Ericka

Kenaikan Harga BBM dan Tantangan Ketahanan Energi

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Adit Musthofa6 Agustus 2026

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Gus Iqdam Mengaku Dipersekusi Petugas Imigrasi Bandara Soekarno Hatta

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Ketua Dewan Racana Pesantren Khalifa Dilantik

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi