Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Fokus Berlebih yang Tak Disadari

Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?

Ketika Notifikasi Mengalahkan Literasi

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 4 Juni 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2026
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Zainal Abidin Syah, Sultan Pejuang Papua

Ketika diplomasi dan darah mengikat Nusantara, seorang Sultan dari Tidore mengukir jejaknya dalam peta perjuangan Irian Barat.
Alfi SalamahAlfi Salamah4 Januari 2026 Profil
Sultan Tidore
Sultan Tidore, Zainal Abidin Syah (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Zainal Abidin Syah Alting lahir di Soasiu, Pulau Tidore, pada 5 Agustus 1912. Ia berasal dari garis bangsawan Kesultanan Tidore, salah satu kerajaan Islam tertua di kawasan timur Nusantara. Terlahir dalam atmosfer adat, diplomasi, dan warisan keislaman, Zainal Abidin tumbuh sebagai figur dengan pandangan luas dan semangat kebangsaan yang tinggi.

Pada 1947, ia dinobatkan sebagai Sultan Tidore ke-26, mengemban tugas tradisional dan spiritual dalam masyarakat Maluku Utara yang sarat simbol dan struktur sosial yang khas.

Ikatan Sejarah yang Panjang

Kesultanan Tidore memiliki hubungan historis dengan wilayah Papua Barat, atau yang dulu disebut Irian Barat. Sejak abad ke-17, wilayah Papua telah menjadi bagian dari pengaruh kultural dan politik Kesultanan Tidore, yang kala itu berperan sebagai mitra lokal dalam sistem kekuasaan kolonial Belanda dan juga sebagai penyebar Islam dan perdagangan.

Ikatan inilah yang kelak menjadi landasan politik kuat saat Zainal Abidin Syah memperjuangkan Papua bergabung dengan Indonesia.

Ditunjuk Soekarno: Gubernur Perjuangan Irian Barat

Pada 17 Agustus 1956, Presiden Soekarno mendeklarasikan pembentukan Provinsi Irian Barat sebagai wujud klaim Indonesia atas wilayah tersebut, yang masih dikuasai Belanda. Untuk menegaskan klaim itu, ia menunjuk Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Gubernur Perjuangan Irian Barat.

Penunjukan ini bukan sekadar simbolik. Sebagai Sultan yang memiliki legitimasi historis atas Papua, Zainal Abidin membawa otoritas kultural dan legitimasi politik. Ia ditetapkan sebagai Gubernur definitif pada 4 Mei 1962, masa di mana perjuangan diplomatik Indonesia mencapai puncaknya melalui perjanjian New York Agreement.

Baca Juga:
  • Al‑Biruni: Penjelajah Ilmu Tanpa Batas
  • S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka
  • Dalam Diam, Tumbuh Arah
  • Mas Isman, Komandan Rakyat Muda

Diplomasi dan Identitas Nusantara

Zainal Abidin Syah menjalankan diplomasi kultural menggunakan sejarah dan hubungan kekerabatan antarwilayah sebagai alat perjuangan. Ia meyakinkan publik Indonesia dan komunitas internasional bahwa Papua bukan wilayah asing, melainkan bagian dari satu kesatuan sejarah Nusantara.

Di tengah situasi geopolitik yang kompleks melibatkan Belanda, Amerika Serikat, dan PBB, Zainal Abidin Syah mampu menempatkan posisi Tidore secara strategis. Ia mengawal visi bahwa integrasi Papua ke Indonesia adalah hak sejarah, bukan sekadar urusan politik kontemporer.

Mewarisi Nasionalisme dari Timur

Sebagai pemimpin lokal, Sultan Zainal Abidin Syah mampu menjembatani identitas lokal dengan nasionalisme Indonesia. Ia bukan sekadar tokoh simbolik dari wilayah timur, tapi aktor aktif dalam proses penguatan republik yang masih muda dan rentan pecah akibat tarik-menarik kepentingan pascakolonial.

Ia menunjukkan bahwa figur bangsawan tradisional bisa bertransformasi menjadi pelaku sejarah nasional. Di tengah tekanan ideologis Orde Lama dan situasi Perang Dingin, Zainal Abidin menjadi contoh bahwa loyalitas terhadap NKRI tidak bertentangan dengan identitas lokal.

Akhir Hayat dan Pengakuan Sejarah

Sultan Zainal Abidin Syah wafat pada 4 Juli 1967 di Ambon, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha. Namun, pada 11 Maret 1986, jasadnya dipindahkan ke Sonyine Salaka di Tidore, sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari masyarakatnya.

Artikel Terkait:
  • Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu
  • Dari Dapur ke Ruang Strategis
  • Gen Z dan Tantangan Tanpa Ponsel
  • Tessa Wijaya, Wanita di Balik Kesuksesan Xendit

Baru pada 10 November 2025, pemerintah Indonesia resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Zainal Abidin Syah. Sebuah pengakuan yang terlambat, namun sangat layak, mengingat kontribusinya terhadap integrasi Papua dan penguatan identitas Indonesia dari wilayah timur.

Jejak yang Tetap Hidup

Warisan Sultan Zainal Abidin Syah tak hanya dalam bentuk nama jalan atau gelar kehormatan. Ia meninggalkan model kepemimpinan yang berakar pada sejarah, tetapi visioner pada masa depan. Ia mewakili bahwa pemimpin tradisional bisa berperan aktif dalam perubahan nasional, bukan menjadi relik masa lalu.

Dalam konteks politik Papua hari ini, nama Zainal Abidin Syah bisa menjadi jembatan untuk memahami bahwa kebhinekaan Indonesia tak bisa dilepaskan dari sejarah perjumpaan, dialog, dan keterhubungan antarpulau, antaretnis, dan antarbudaya.

Sultan yang Membelah Laut, Menyatukan Tanah

Sultan Zainal Abidin Syah adalah contoh bagaimana kekuasaan lokal bisa menjadi elemen pemersatu nasional. Ia tidak hanya menyatukan sejarah Tidore dan Papua, tetapi juga memperlihatkan bagaimana legitimasi tradisional bisa berpadu dengan semangat republik.

Jangan Lewatkan:
  • Dida Nurhayati: Membangun Pramuka Cisayong yang Berprestasi
  • Rahmah El Yunusiah, Perintis Diniyah Putri
  • Dari Sel Penjara ke Ruang Sidang
  • Ayi Mulyana: Membangun Pramuka yang Berkontribusi Nyata

Figur ini membuktikan bahwa perjuangan bukan hanya berhasil dengan senjata, tapi juga dengan sejarah, diplomasi, dan cinta pada tanah air. Dalam arus besar sejarah Indonesia, Zainal Abidin Syah menjadi suara dari timur yang layak terus digaungkan.

Irian Barat Kesultanan Tidore Pahlawan Nasional Papua Indonesia Zainal Abidin Syah
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMarsinah: Suara Buruh yang Terdiam Tragis
Next Article Mochtar Kusumaatmadja, Arsitek Laut Nusantara

Informasi lainnya

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

27 April 2026

Tidur Nanti Saja

21 April 2026

Dalam Diam, Tumbuh Arah

21 April 2026

Jejak Muda, Prestasi Nyata

21 April 2026

Dari Dapur ke Ruang Strategis

21 April 2026

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

31 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

UI Mesin Gelar Doktor Pejabat

Opini Assyifa

Sosok Mulia Ciptaan Allah, Inilah Peran Perempuan dalam Islam

Islami Alfi Salamah

Pahlawan yang Dipenjara

Editorial Udex Mundzir

Haji Ilegal, Iman yang Dimanfaatkan

Editorial Udex Mundzir

Kisah Inspiratif dari Medan Pertempuran Uhud: Pelajaran Berharga

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Nasional
Ericka3 Mei 2025

Kepala BGN Diganti, Program MBG Diminta Tetap Berjalan

Generasi Muda dan Pertaruhan Masa Depan Cianjur

Perspektif Ulama Mengenai Waktu Tawaf Ifadah

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi