Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 4 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

Disaat orang memilih mengeluh, ia memilih menggali bukit dengan tangan sendiri demi hidup orang banyak.
Richard MundzirRichard Mundzir31 Januari 2026 Profil
Jejak Kepahlawanan Ma Eroh, Belah Gunung untuk Alirkan Air Menuju Desa
Jejak Kepahlawanan Ma Eroh, Belah Gunung untuk Alirkan Air Menuju Desa (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Di lereng Gunung Galunggung, sebuah kisah perjuangan luar biasa lahir dari tangan seorang perempuan desa. Namanya Ma Eroh, atau akrab dipanggil Mak Eroh oleh warga. Ia bukan pejabat, bukan insinyur, bukan tokoh politik.

Ia hanyalah seorang petani biasa dari Kampung Pasirkadu, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Namun tindakannya membuatnya layak disebut pahlawan bukan karena retorika, tapi karena kerja kerasnya menggali bukit demi mengalirkan air untuk rakyat.

Terlahir dalam Kehidupan Sederhana

Ma Eroh lahir sekitar tahun 1934 di lereng gunung yang sunyi, tempat kehidupan bergantung pada sawah dan hujan. Sejak muda ia telah akrab dengan kerja fisik: mencangkul, menanam, memanen. Di desa kecilnya, sumber air adalah segalanya. Namun kehidupan berubah drastis saat Gunung Galunggung meletus pada 1982.

Letusan tersebut menghancurkan irigasi dan menutup jalur air yang selama ini menghidupi sawah dan kebun warga. Kekeringan melanda. Ladang-ladang mengering, hasil panen gagal. Sementara banyak orang mengeluh dan menunggu bantuan, Ma Eroh memilih langkah berbeda: ia ingin mengalirkan kembali air dari hulu dengan tangannya sendiri.

Menggali Bukit Sendirian

Di usia hampir 50 tahun, Ma Eroh memikul linggis, cangkul, dan tali rotan. Dengan alat seadanya, ia mulai menggali bukit cadas yang menjadi penghalang aliran air. Di tengah hutan rimbun, tanpa bantuan siapa pun, ia mulai membuka jalur yang kemudian menjadi saluran air sepanjang 4,5 hingga 6 kilometer.

Ia bekerja tanpa rencana besar, tanpa peta teknik, tanpa gaji. Setiap hari ia menembus semak, memotong akar pohon, dan memecah batu. Banyak warga awalnya menganggapnya “gila” bagaimana mungkin seorang perempuan bisa mengerjakan proyek sebesar itu seorang diri?

Namun Ma Eroh tidak tergoyahkan oleh celaan. Ia terus menggali, dan kerja kerasnya mulai menarik perhatian warga. Perlahan, satu per satu warga mulai ikut membantunya. Dalam waktu 2,5 tahun, saluran air itu akhirnya selesai dan mampu mengairi sawah di tiga desa.

Baca Juga:
  • Dalam Diam, Tumbuh Arah
  • Marsinah: Suara Buruh yang Terdiam Tragis
  • Juara dari Kebiasaan Kecil 
  • Phil Knight dan Nike

Air untuk Rakyat, Bukan untuk Nama

Yang paling istimewa dari perjuangan Ma Eroh adalah tujuannya. Ia tidak mencari pujian, tidak mengejar penghargaan. Ia hanya ingin air mengalir kembali ke sawah-sawah yang kering, agar warga bisa menanam kembali padi dan bertahan hidup.

Saluran yang ia buka bukan hanya mengairi kampungnya sendiri, tapi juga dua desa tetangga.
Ia juga tidak pernah meminta bayaran. Ketika warga bertanya apa imbalan yang ia inginkan, Ma Eroh hanya menjawab, “Yang penting sawah bisa ditanami. Kalau panen bagus, kita bisa makan.”

Perjuangannya menjadi simbol nyata bahwa kepahlawanan tidak selalu hadir dari panggung politik atau senjata perang. Kadang, kepahlawanan hadir dalam bentuk perempuan desa yang menggali bukit agar anak-anak di kampungnya bisa makan nasi.

Penghargaan Datang, Tapi Terlambat

Atas jasanya, Ma Eroh menerima Kalpataru, penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup, dari Presiden Soeharto pada tahun 1988. Setahun kemudian, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memberikan penghargaan lingkungan hidup kepadanya.

Namun dalam kenyataannya, penghargaan itu tidak pernah menyentuh hidupnya secara langsung. Piala Kalpataru bahkan tidak disimpan oleh keluarga, melainkan oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Ia tetap hidup sederhana hingga akhir hayatnya. Rumahnya terbuat dari bilik bambu, dan ia meninggal dunia pada 18 Oktober 2004 dalam usia sekitar 70 tahun.

Penghargaan datang, tapi kehidupan Ma Eroh tidak pernah berubah. Ia tetap hidup seperti rakyat yang ia perjuangkan. Barangkali inilah bentuk ketulusan sejati: berbuat tanpa pamrih.

Artikel Terkait:
  • Al‑Biruni: Penjelajah Ilmu Tanpa Batas
  • S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka
  • Rhenald Kasali: Merantau, Sekolah Kehidupan yang Sesungguhnya
  • Nick Woodman dan Kisah Sukses GoPro

Warisan yang Terlupakan?

Kini, dua dekade sejak kepergiannya, nama Ma Eroh mulai terdengar samar. Tugu peringatan memang telah didirikan di Alun-Alun Tasikmalaya, tapi semangat perjuangannya belum sepenuhnya diwarisi. Banyak anak muda bahkan tidak mengenalnya. Saluran air yang ia gali kini masih digunakan, tapi tidak semua tahu siapa penggalinya.

Beberapa pihak menganggap pemerintah setempat belum cukup serius mengangkat warisan perjuangan Ma Eroh. Tidak ada buku biografi resmi, tidak ada film dokumenter besar, bahkan tidak ada kurikulum sekolah yang mengisahkan perjuangan lokal seperti milik Ma Eroh.

Padahal, di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan saat ini, kisah Ma Eroh bisa menjadi inspirasi nasional tentang ketahanan, kerja nyata, dan kepemimpinan lokal yang lahir dari kebutuhan, bukan pencitraan.

Keteladanan untuk Masa Kini

Ma Eroh adalah simbol ketangguhan perempuan desa. Ia menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari satu orang dengan alat sederhana dan niat yang kuat. Ia tidak menunggu program pemerintah, tidak menuntut proyek besar. Ia bertindak dan tindakannya membawa air ke ribuan petak sawah.

Di masa kini, ketika pembangunan kerap dibingkai oleh angka dan laporan, Ma Eroh mengajarkan bahwa membangun tidak selalu membutuhkan dana besar. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk bergerak, dan keyakinan bahwa satu orang bisa membuat perbedaan.

Jangan Lewatkan:
  • Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota
  • Adam D’Angelo: Pendiri Quora dan Mantan CTO Facebook
  • dr. Dara Ayu: Dari Madrasah Aliyah ke Fakultas Kedokteran
  • Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Baru

Perjuangan Ma Eroh adalah narasi alternatif dari pembangunan: narasi tentang gotong royong, keteguhan hati, dan cinta tanah. Kisahnya layak dikenang, diajarkan, dan dijadikan teladan.

Kalpataru Lingkungan Hidup Pahlawan Lokal Perempuan Tangguh Tasikmalaya
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMahmud Marhaba: Penetapan Tersangka Wartawan Babel Langgar UU Pers
Next Article Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

Informasi lainnya

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

6 Agustus 2026

Ketua Dewan Racana Pesantren Khalifa Dilantik

6 Agustus 2026

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

27 April 2026

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

23 April 2026

Tidur Nanti Saja

21 April 2026

Dalam Diam, Tumbuh Arah

21 April 2026
Paling Sering Dibaca

Belajar Efektif, Hasil Maksimal

Daily Tips Alfi Salamah

Tips Terbaru Kementerian Haji Saudi, Hati-hati Travel Haji-Umroh

Islami Alfi Salamah

Nikah Anti Ribet: Cara Mudah Daftar di KUA

Islami Assyifa

Hukum Berhubungan Suami Istri Malam Idulfitri

Islami Ericka

Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital

Perspektif Alfi Salamah
Berita Lainnya
Saintek
Ericka28 April 2025

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi