Anak muda ini rasanya tidak butuh tidur.
Pagi jadi santri. Siang melayani pembeli di koperasi. Sorenya ia jurnalis. Malamnya ia peneliti. Usianya baru 23 tahun, tapi Lisda Lisdiawati hidup layaknya sedang diburu waktu.
Ketika banyak anak sebayanya mengeluh lelah karena tugas kuliah yang menumpuk, Lisda justru sengaja menambah beban. Ia menggandeng dua temannya, merumuskan ide, dan mengirimkan proposal ke Universitas Terbuka (UT).
Hasilnya tidak main-main. Riset yang ia pimpin baru saja diganjar pendanaan penuh: sepuluh juta rupiah.
Proposal itu bukan karya kaleng-kaleng. Judulnya tajam: “Pengaruh Implementasi Program Makan Bergizi Gratis terhadap Perubahan Perilaku Konsumsi Siswa”. Bersama Siti Aisyah dan Aditya Musthofa, ia membedah kebijakan gizi nasional. Menggunakan kacamata perilaku konsumen. Sesuatu yang rupanya sangat ia kuasai dari rutinitasnya menjaga Koperasi Pesantren Pramuka Khalifa, Tasikmalaya.
Banyak yang heran. Bagaimana ia mengatur waktu?
Ia mahasiswa Manajemen UT. Ia penulis aktif portal Onews. Ia santri. Ia juga rajin memburu sertifikasi. Dari mulai Pelatihan Pendamping Proses Produk Halal (PPH), karya ilmiah, bisnis, hingga digital marketing.
Lisda punya rumusnya sendiri.
”Dengan aktivitas yang cukup padat, aku biasanya bagi waktu dengan cara bikin prioritas. Jadi aku lihat dulu mana yang harus dikerjakan lebih dulu,” tutur Lisda. “Kalau ada waktu luang sedikit, aku coba manfaatkan sebaik mungkin, tapi tetap kasih waktu buat istirahat biar nggak tumbang,” sambungnya.
Tentu saja, ia bukan robot. Ada kalanya tugas menumpuk di satu waktu. Laporan koperasi belum kelar, naskah artikel ditagih redaktur, sementara revisi proposal riset juga menanti.
Pernah lelah? Pasti.
”Kalau soal capek, pasti pernah ngerasa lelah, apalagi kalau semuanya datang barengan. Tapi biasanya aku coba ingat lagi tujuan awal aku, kenapa aku mulai semua ini,” akunya jujur.
Lisda tahu kapan harus menekan pedal gas, kapan harus mengerem. “Kadang juga aku kasih waktu buat diri sendiri, istirahat sebentar, nenangin pikiran, biar bisa lanjut lagi dengan energi yang lebih fresh.”
Pertanyaan terbesarnya: untuk apa semua lelah ini?
Di sinilah kita melihat kedalaman pemikiran seorang Lisda. Semua sertifikasi, tumpukan tulisan, hingga pendanaan riset puluhan juta itu bukanlah piala untuk sekadar dipamerkan. Semua itu adalah modal. Modal untuk membangun “rumah” besarnya: pesantren.
”Dengan pengalaman yang sedang saya jalani sekarang, impian terbesar saya adalah bisa memberikan manfaat yang nyata untuk lingkungan sekitar, khususnya di pesantren,” tegas perempuan kelahiran 28 September 2002 ini.
Ia tidak ingin sukses sendirian. Ia ingin sistem di sekitarnya ikut maju.
”Saya ingin ikut berkontribusi dalam membangun sistem yang lebih baik. Baik dari segi pendidikan, kemandirian ekonomi seperti pengelolaan koperasi, maupun dalam menyebarkan tulisan-tulisan yang bisa menginspirasi dan memberi dampak positif,” tambahnya.
Riset evaluasi kebijakan nasional dari bilik pesantren ini adalah bukti nyata visinya. Lisda mendobrak batasan. Ia membuktikan bahwa santri dan mahasiswa jarak jauh bisa berkontribusi dalam kajian kebijakan publik di tingkat negara.
Di akhir perbincangan, ia membagikan satu pesan. Khusus untuk teman-teman santri dan mahasiswa UT yang masih ragu untuk bergerak.
”Tidak apa-apa untuk mulai dari hal kecil. Tidak harus langsung banyak, yang penting berani mencoba dan konsisten. Karena dari situ kita akan belajar, berkembang, dan menemukan potensi diri kita,” pesannya.
Lisda menutupnya dengan kalimat yang patut dicetak tebal.
”Jangan takut capek. Lelah itu bagian dari proses. Dan semua yang kita jalani hari ini insyaAllah akan membawa hasil di masa depan.”
Lisda sudah mengambil langkahnya. Dari balik meja koperasi, menuju panggung riset nasional. Lelahnya menjadi karya. Dan mimpinya, kini mulai menjadi nyata. Tidur, tampaknya, memang bisa nanti saja.
