Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sudah Kerja Keras, Mengapa Sukses Belum Juga Datang?

Martha Tilaar Wafat, Wariskan Kecantikan Nusantara

Tren Hidup Hemat Gen Z, Gengsi Mulai Ditinggalkan?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Langkah Skuad Muda yang Tertatih

Perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2024 mencerminkan dilema antara harapan dan realitas.
AssyifaAssyifa22 Desember 2024 Perspektif
Perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2024
Timnas Indonesia gagal lolos fase grup Piala AFF 2024, namun menjadi pelajaran berharga bagi pemain muda.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Langkah pertama yang penuh tantangan memberi secercah optimisme. Kemenangan tipis 1-0 atas Myanmar, lewat gol Ramadhan Sananta, menunjukkan determinasi awal yang menjanjikan dari skuad muda. Namun, keajaiban itu hanya bertahan sebentar.

Pada laga kedua melawan Laos, permainan yang penuh semangat berubah menjadi bumerang. Setelah unggul lebih dulu, Indonesia kehilangan fokus di menit-menit akhir, hingga laga berakhir imbang 3-3. Dua poin penting terlepas, mencerminkan masalah dalam manajemen permainan yang belum stabil.

Melawan Vietnam, yang dikenal sebagai tim kuat Asia Tenggara, Indonesia menghadapi tantangan nyata. Strategi bertahan yang solid bertahan hingga menit ke-78. Namun, satu kelengahan menjadi mahal, ketika Vietnam berhasil mencetak gol tunggal kemenangan. Kekalahan 0-1 ini menjadi pukulan telak sekaligus sinyal bahwa Garuda Muda masih membutuhkan banyak pembenahan.

Laga terakhir melawan Filipina menjadi klimaks yang pahit. Penalti Bjorn Kristensen dan kartu merah Muhammad Ferarri di babak pertama membuat Indonesia kehilangan kendali pertandingan. Kekalahan 0-1 memastikan mereka hanya finis di posisi ketiga Grup B dengan empat poin, tertinggal dari Vietnam dan Filipina yang melaju ke semifinal.

Meski langkah Indonesia terhenti, ada dimensi lain yang patut dicermati. Dengan rata-rata usia 20,3 tahun, Timnas Indonesia adalah tim termuda di Piala AFF 2024. Pemain-pemain muda seperti Arkhan Kaka (17 tahun) dan Cahya Supriadi menunjukkan potensi besar untuk masa depan. Pelatih Shin Tae-yong sejak awal sudah menekankan bahwa turnamen ini adalah bagian dari strategi jangka panjang.

Baca Juga:
  • Djibouti dan Politik Geografi
  • Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”
  • Generasi Muda dan Tren Slow Living di Era Digital
  • Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

Ketika publik menantikan trofi, federasi dan tim pelatih memilih untuk memprioritaskan pembinaan. Ini adalah langkah yang tak populer di mata banyak orang, tetapi sangat strategis dalam membangun fondasi masa depan. Melalui pengalaman ini, para pemain muda mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi di level tertinggi Asia Tenggara, sebuah pembelajaran yang tak ternilai harganya.

Namun demikian, evaluasi kritis tetap diperlukan. Kekurangan dalam transisi permainan, lemahnya koordinasi antarlini, serta ketidakmampuan menjaga fokus di momen-momen penting menjadi catatan yang harus segera diperbaiki. Shin Tae-yong dan jajaran pelatih harus memastikan bahwa kelemahan ini tidak berulang di turnamen mendatang.

Tidak hanya dari sisi teknis, tantangan sepak bola Indonesia juga datang dari aspek manajemen dan politik olahraga. Konsistensi program pembinaan usia muda masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. PSSI, sebagai federasi, memegang peran penting untuk memastikan regenerasi ini berjalan mulus. Dukungan terhadap pelatih, peningkatan kualitas kompetisi domestik, serta investasi pada akademi dan infrastruktur adalah langkah yang harus diambil dengan serius.

Selain itu, sinergi dengan klub-klub lokal perlu diperkuat. Kompetisi yang kompetitif di level domestik akan menciptakan pemain-pemain berkualitas yang siap bersaing di level internasional. Jika ekosistem sepak bola tidak mendukung, regenerasi hanya akan menjadi mimpi tanpa wujud.

Artikel Terkait:
  • Negara Hukum yang Pengadilannya Banyak, tapi Sulit Mencari Keadilan
  • Kalau Tidak Viral, Mana Mau Kalian Membantu?
  • Titik Berat Indonesia dalam Konflik Timur Tengah
  • Suka Membaca? Ini Tips Efektif untuk Menambah Pengetahuan

Meski tersingkir, perjalanan ini tetap menawarkan harapan. Para pemain muda yang kini mendapatkan pengalaman berharga akan menjadi tulang punggung Timnas Indonesia di masa depan. Turnamen seperti SEA Games, kualifikasi Piala Asia U-23, hingga kejuaraan lainnya akan menjadi panggung lanjutan bagi mereka untuk menunjukkan perkembangan.

Publik sepak bola Indonesia harus bersabar. Kebangkitan bukanlah proses instan. Langkah tertatih ini mungkin menyakitkan, tetapi jika diolah dengan benar, akan menjadi pijakan kokoh menuju kejayaan yang lebih besar. Dukungan terhadap pelatih, pemain, dan federasi harus konsisten.

Sepak bola Indonesia membutuhkan keberanian untuk menempuh jalan yang tidak populer demi masa depan yang lebih cerah. Kegagalan kali ini adalah awal dari perjalanan panjang yang akan menentukan arah perkembangan sepak bola nasional. Dengan visi jangka panjang yang jelas, Timnas Indonesia akan melangkah dengan lebih percaya diri di masa depan.

Jangan Lewatkan:
  • Membentuk Generasi Hebat, Lima Syarat Menjadi Anak Hebat
  • Investasi Milenial Kini dan Masa Depan
  • Jangankan Membuktikan Ijazah Asli?
  • Biru Fund dan Masa Depan Tambak

Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKetua MPR RI Bahas Museum Rasulullah dan Kolaborasi Global di Mekah
Next Article 5 Peran Penting Dalam Tim yang Solid

Informasi lainnya

Parlemen Ringkas, Pilpres Terbuka

10 Oktober 2026

Siapa yang Layak Dipidana dalam Kasus Gibran

8 Oktober 2026

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

3 Oktober 2026

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

22 September 2026

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Sensasi Tak Terlupakan Menginap Bersama Keluarga di Mercure & Ibis Samarinda

Travel Alwi Ahmad

Bulu Kucing Rontok, Najis atau Tidak?

Islami Udex Mundzir

Warisan Masalah Era Jokowi

Editorial Udex Mundzir

Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?

Perspektif Alfi Salamah

Pengalaman Naik Bus Umum Samarinda-Balikpapan: Tiket Murah, Musik Dangdut, dan Jalanan Bergelombang

Travel Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Alat Tulis Sekolah Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi