Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Gen Z Mulai Bosan dengan Aplikasi Kencan

Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla di 9 Polda

Robot Masuk Rumah, Siap Berbagi Ruang?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Senin, 24 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Menteri LH: Indonesia Dikepung Tiga Krisis

Peringatan HPSN 2026 di Bogor soroti ancaman krisis iklim, pencemaran, dan sampah.
Richard MundzirRichard Mundzir15 Februari 2026 Lingkungan
Menteri LH: Indonesia Dikepung Tiga Krisis
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Bogor – Seperti pusaran arus yang tak kasatmata namun kian kuat, Indonesia kini berada dalam lingkaran tiga krisis besar lingkungan. Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyebut kondisi tersebut sebagai “triple planetary crisis” yang tak lagi sekadar isu global, melainkan ancaman nyata yang dirasakan masyarakat dari hari ke hari.

Pernyataan itu disampaikan Hanif dalam kegiatan Aksi Bersih Sungai dan penanaman pohon di aliran Sungai Cikeas, Sentul, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/2/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026.

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa Indonesia tengah menghadapi tiga krisis utama sekaligus, yakni krisis perubahan iklim, pencemaran lingkungan, serta persoalan sampah yang belum tertangani optimal.

“Kita benar-benar berada di dalam pusaran triple planetary crisis. Ini bukan lagi isu dunia, ini sudah menjadi tantangan nyata yang kita hadapi dari hari ke hari,” kata Hanif.

Ia merujuk pada data United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang mencatat tahun 2024 sebagai periode terpanas sepanjang sejarah pencatatan suhu global, dengan kenaikan mencapai 1,4 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri. Menurutnya, kenaikan suhu tersebut membawa konsekuensi serius bagi negara tropis seperti Indonesia.

“Kenaikan suhu 1,4 derajat ini sangat berdampak bagi negara tropis seperti Indonesia. Curah hujan ekstrem, hidrometeorologi, banjir, dan kenaikan muka air laut sudah menjadi pola baru, bukan lagi anomali,” ujarnya.

Baca Juga:
  • Krisis Plastik Jadi Peluang Gaya Hidup Ramah Lingkungan
  • Bendung Katulampa Siaga 3, Banjir Ancam Jakarta di Musim Hujan
  • Indonesia Miliki Potensi 59 GW PLTS dari Lahan Bekas Tambang
  • Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

Selain perubahan iklim, Hanif juga menyoroti kondisi sungai di Tanah Air yang dinilai masih jauh dari kata bersih. Berdasarkan pengamatannya selama bertugas, hampir seluruh sungai di Indonesia masih tercemar sampah, baik plastik maupun limbah lainnya.

“Sepanjang saya bertugas, hampir tidak ada satu pun sungai kita yang benar-benar bersih dari sampah, baik plastik maupun limbah lainnya. Ini menjadi pekerjaan besar kita bersama,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa persoalan sampah laut berawal dari daratan dan aliran sungai. Sampah yang tidak terkelola dengan baik akan terbawa arus hingga ke laut dan memperburuk krisis lingkungan secara menyeluruh.

“Sampah laut dimulai dari sampah sungai. Dari daratan yang jatuh ke sungai lalu ke laut dan memperparah krisis iklim. Karena itu kita harus bergerak dari hulu,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Hanif, tengah memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui berbagai program, termasuk National Plastic Action Plan, serta menjalin sinergi dengan mitra internasional untuk menekan laju pencemaran plastik.

Dalam kegiatan yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Ekonomi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Hazuarli Halim, menekankan pentingnya pendekatan moral dan keagamaan dalam menjaga lingkungan.

Artikel Terkait:
  • BMKG Tanggapi Isu Gelombang Panas Indonesia April
  • BNPB Minta Evaluasi Sistem Peringatan Tsunami Daerah
  • Rafflesia Hasseltii Bermekaran, Mitos Kelangkaan Buyar
  • BMKG Prediksi Hujan di Jakarta Sepanjang Malam Tahun Baru

“Telah nyata kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia. Karena itu kita wajib menjaga keseimbangan lingkungan yang telah Allah ciptakan,” kata Hazuarli.

Ia menegaskan bahwa tindakan membuang sampah sembarangan, khususnya ke sungai, danau, dan laut, telah difatwakan haram oleh MUI karena menimbulkan mudarat bagi kehidupan dan kesehatan masyarakat.

“Menjaga lingkungan itu kewajiban dan berpahala, sementara mencemarkan lingkungan adalah haram dan berdosa. Ini harus menjadi kesadaran kolektif,” ujarnya.

Hazuarli berharap gerakan literasi lingkungan melalui masjid dan dakwah dapat memperkuat perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan. Dengan pendekatan spiritual yang menyentuh nilai dasar kehidupan, diharapkan kesadaran menjaga bumi tumbuh dari dalam diri setiap individu.

Peringatan HPSN 2026 di Bogor menjadi pengingat bahwa krisis iklim, pencemaran, dan sampah bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini yang menuntut aksi nyata dari semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Tanpa langkah bersama yang konsisten, pusaran tiga krisis tersebut dikhawatirkan akan semakin memperberat beban generasi mendatang.

Jangan Lewatkan:
  • Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang
  • Mahasiswa Geruduk Gedung Dewan, Tuntut Tambang Ilegal Ditutup
  • Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?
  • Udin Kecam Perusahan hanya Keruk Batubara, Salurkan Bantuan ke Luar Kaltim

HPSN 2026 Krisis Iklim Lingkungan Indonesia Sampah Sungai Triple Planetary Crisis
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMeal Prep, Solusi Orang Sibuk
Next Article Minuman Viral, Benarkah Sehat?

Informasi lainnya

Kalimantan Diselimuti Asap, Ribuan Warga Kena ISPA

21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

21 Agustus 2026

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

12 Juli 2026

Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

10 Juli 2026

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

6 Juli 2026

Taman Pompeii Ungkap Jejak Parfum Kuno

18 April 2026
Paling Sering Dibaca

Membedah Tren Pembelian Barang Palsu di Dunia Fashion

Bisnis Ericka

Kaya SDA, Tapi Hidup dari Pajak

Editorial Udex Mundzir

Dari Dapur ke Ruang Strategis

Profil Alfi Salamah

Mindset Hack to Stop Overthinking

Happy Assyifa

Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025

Happy Assyifa
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Resmi Kembali di SMA Mulai 2025

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi