Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 4 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Menteri LH: Indonesia Dikepung Tiga Krisis

Peringatan HPSN 2026 di Bogor soroti ancaman krisis iklim, pencemaran, dan sampah.
Richard MundzirRichard Mundzir15 Februari 2026 Lingkungan
Menteri LH: Indonesia Dikepung Tiga Krisis
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Bogor – Seperti pusaran arus yang tak kasatmata namun kian kuat, Indonesia kini berada dalam lingkaran tiga krisis besar lingkungan. Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyebut kondisi tersebut sebagai “triple planetary crisis” yang tak lagi sekadar isu global, melainkan ancaman nyata yang dirasakan masyarakat dari hari ke hari.

Pernyataan itu disampaikan Hanif dalam kegiatan Aksi Bersih Sungai dan penanaman pohon di aliran Sungai Cikeas, Sentul, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/2/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026.

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa Indonesia tengah menghadapi tiga krisis utama sekaligus, yakni krisis perubahan iklim, pencemaran lingkungan, serta persoalan sampah yang belum tertangani optimal.

“Kita benar-benar berada di dalam pusaran triple planetary crisis. Ini bukan lagi isu dunia, ini sudah menjadi tantangan nyata yang kita hadapi dari hari ke hari,” kata Hanif.

Ia merujuk pada data United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang mencatat tahun 2024 sebagai periode terpanas sepanjang sejarah pencatatan suhu global, dengan kenaikan mencapai 1,4 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri. Menurutnya, kenaikan suhu tersebut membawa konsekuensi serius bagi negara tropis seperti Indonesia.

“Kenaikan suhu 1,4 derajat ini sangat berdampak bagi negara tropis seperti Indonesia. Curah hujan ekstrem, hidrometeorologi, banjir, dan kenaikan muka air laut sudah menjadi pola baru, bukan lagi anomali,” ujarnya.

Baca Juga:
  • Gen Z, Pilar Baru Gerakan Lingkungan Global
  • BNPB Tolak Bantuan Asing, Penanganan Karhutla Dianggap Masih Terkendali
  • Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang
  • Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

Selain perubahan iklim, Hanif juga menyoroti kondisi sungai di Tanah Air yang dinilai masih jauh dari kata bersih. Berdasarkan pengamatannya selama bertugas, hampir seluruh sungai di Indonesia masih tercemar sampah, baik plastik maupun limbah lainnya.

“Sepanjang saya bertugas, hampir tidak ada satu pun sungai kita yang benar-benar bersih dari sampah, baik plastik maupun limbah lainnya. Ini menjadi pekerjaan besar kita bersama,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa persoalan sampah laut berawal dari daratan dan aliran sungai. Sampah yang tidak terkelola dengan baik akan terbawa arus hingga ke laut dan memperburuk krisis lingkungan secara menyeluruh.

“Sampah laut dimulai dari sampah sungai. Dari daratan yang jatuh ke sungai lalu ke laut dan memperparah krisis iklim. Karena itu kita harus bergerak dari hulu,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Hanif, tengah memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui berbagai program, termasuk National Plastic Action Plan, serta menjalin sinergi dengan mitra internasional untuk menekan laju pencemaran plastik.

Dalam kegiatan yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Ekonomi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Hazuarli Halim, menekankan pentingnya pendekatan moral dan keagamaan dalam menjaga lingkungan.

Artikel Terkait:
  • Indonesia Dinilai Kurang Serius Atasi Polusi Plastik
  • Gempa Poso M 5,8 Picu Tsunami Minor 4 Cm
  • Galunggung Dilirik UNESCO, Warga Didorong Jadi Penjaga Alam
  • Erupsi Semeru Semburkan Awan Panas 7 Km dari Puncak

“Telah nyata kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia. Karena itu kita wajib menjaga keseimbangan lingkungan yang telah Allah ciptakan,” kata Hazuarli.

Ia menegaskan bahwa tindakan membuang sampah sembarangan, khususnya ke sungai, danau, dan laut, telah difatwakan haram oleh MUI karena menimbulkan mudarat bagi kehidupan dan kesehatan masyarakat.

“Menjaga lingkungan itu kewajiban dan berpahala, sementara mencemarkan lingkungan adalah haram dan berdosa. Ini harus menjadi kesadaran kolektif,” ujarnya.

Hazuarli berharap gerakan literasi lingkungan melalui masjid dan dakwah dapat memperkuat perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan. Dengan pendekatan spiritual yang menyentuh nilai dasar kehidupan, diharapkan kesadaran menjaga bumi tumbuh dari dalam diri setiap individu.

Peringatan HPSN 2026 di Bogor menjadi pengingat bahwa krisis iklim, pencemaran, dan sampah bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini yang menuntut aksi nyata dari semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Tanpa langkah bersama yang konsisten, pusaran tiga krisis tersebut dikhawatirkan akan semakin memperberat beban generasi mendatang.

Jangan Lewatkan:
  • BMKG Cabut Peringatan Tsunami Usai Gempa Kamchatka
  • WWF gandeng 100 perusahaan jaga ekosistem laut
  • BMKG: Cuaca ekstrem mengancam sejumlah wilayah Indonesia
  • Krisis Plastik Jadi Peluang Gaya Hidup Ramah Lingkungan

HPSN 2026 Krisis Iklim Lingkungan Indonesia Sampah Sungai Triple Planetary Crisis
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleMeal Prep, Solusi Orang Sibuk
Next Article Minuman Viral, Benarkah Sehat?

Informasi lainnya

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

25 September 2026

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

9 September 2026

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

8 September 2026

Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak

2 September 2026

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

30 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Kiat SDM Kawakan: Kuasai Ilmu Keberlanjutan

Bisnis Udex Mundzir

Hasil Pilkada Jakarta Dua Putaran Ditepis KPU

Kroscek Silva

Mewaspadai Komunisme

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Mengukir Adab Haji dan Sunnah Wasiat Sebelum Berangkat

Islami Alfi Salamah

Manusia Bersifat Air

Refleksi Syamril Al-Bugisyi
Berita Lainnya
Saintek
Ericka28 April 2025

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi