Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

JPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

Venezuela Diguncang Dua Gempa dalam 39 Detik, Korban Berjatuhan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Sabtu, 4 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

Populasi ikan invasif melonjak tajam, ahli ungkap strategi terpadu paling efektif kendalikan ekosistem sungai ibu kota.
Alfi SalamahAlfi Salamah12 April 2026 Lingkungan
Netralkan sungai dari ikan sapu-sapu
Ikan sapu-sapu (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Seperti tamu tak diundang yang kian merajalela, ikan sapu-sapu kini menjelma ancaman serius bagi ekosistem sungai di Ibu Kota.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersiap memperluas operasi penangkapan massal, namun para ahli mengingatkan langkah itu belum cukup untuk menahan laju “invasi senyap” yang terus berkembang.

Ledakan populasi ikan sapu-sapu atau Amazon sailfin catfish (Pterygoplichthys pardalis) telah terdeteksi di sejumlah aliran sungai, termasuk Ciliwung. Spesies asing ini berkembang pesat karena kemampuan reproduksi yang luar biasa, minimnya predator alami, serta daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan.

Upaya penangkapan massal yang tengah direncanakan pemerintah dinilai perlu diperkuat dengan strategi lain agar lebih efektif menekan jumlah populasi.

“Ikan sapu-sapu termasuk ‘a breeding machine’ karena memiliki fekunditas sangat tinggi, bisa mencapai 19.000 telur per betina dan mampu berkembang biak beberapa kali dalam setahun,” ujar Charles P. H. Simanjuntak, ahli ikan dan konservasi dari IPB, dalam keterangannya yang dikutip pada Minggu (12/4/2026).

Ia menjelaskan, tingkat keberhasilan hidup ikan ini juga tinggi karena adanya perlindungan dari induk jantan yang menjaga telur hingga menetas. Selain itu, ikan ini dapat berkembang biak sejak ukuran tubuh masih relatif kecil, sehingga siklus invasinya berlangsung sangat cepat dan sulit dikendalikan.

Lebih jauh, Charles menyoroti ketiadaan predator alami di ekosistem sungai Jakarta sebagai faktor utama keberhasilan spesies ini mendominasi habitat. Berbeda dengan di habitat aslinya di Sungai Amazon, ikan sapu-sapu di Jakarta tidak menghadapi ancaman dari predator seperti ikan besar, reptil, maupun burung air. Kondisi ini membuat populasinya tumbuh tanpa kontrol alami.

Baca Juga:
  • BMKG Prediksi Musim Kemarau 2025 Lebih Kering, Sektor Pertanian Diminta Siaga
  • Menghindari Pelanggaran dan Mencegah Viralitas: Kapolda Metro Jaya Mengingatkan Jajarannya untuk Disiplin
  • Inovasi Panel Surya Ramah Lingkungan Putra Bojonegoro
  • Sikat Gigi: Kontributor Tersembunyi Krisis Iklim

“Ketidakhadiran predator spesifik di ekosistem non-asli menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sukses sebagai spesies invasif,” katanya.

Sebagai solusi, Charles menekankan pentingnya pendekatan terpadu yang tidak hanya bergantung pada penangkapan. Strategi tersebut mencakup pencegahan, pengendalian fisik, hingga pendekatan biologis.

“Pengendalian harus dilakukan melalui kombinasi tindakan pencegahan, penyingkiran fisik, dan kontrol biologis secara bersamaan,” ujarnya.

Dari sisi pencegahan, pemerintah diminta memperketat regulasi perdagangan ikan hias serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan umum.

Selain itu, teknologi deteksi dini seperti eDNA dinilai mampu membantu memantau penyebaran ikan secara lebih akurat sebelum populasinya tak terkendali.

Dalam kondisi populasi tinggi, penangkapan tetap diperlukan, namun dengan strategi yang lebih terarah. Penangkapan selektif terhadap ikan berukuran kecil disebut lebih efektif dalam menekan populasi jangka panjang.

Artikel Terkait:
  • Menteri LH Percepat Daur Ulang untuk Atasi Sampah Plastik
  • 157 Paus Terdampar di Tasmania, Separuh Ditemukan Mati
  • BMKG: Cuaca ekstrem mengancam sejumlah wilayah Indonesia
  • Banjir 3 Meter di Pancoran, Anak-anak Nekat Bermain Air

Charles juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengendalian populasi. Perburuan berbasis komunitas dapat memberikan dampak signifikan di tingkat lokal, meski perlu dilakukan secara berkelanjutan di sepanjang aliran sungai untuk mencegah migrasi ulang.

Di sisi lain, pendekatan biologis melalui pemanfaatan predator lokal seperti ikan baung dan betutu juga dapat membantu, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu.

Ia turut mengingatkan bahwa pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai sumber daya harus dilakukan secara hati-hati.

“Tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi jika berasal dari perairan tercemar karena berpotensi mengandung logam berat,” ungkapnya.

Dengan kompleksitas permasalahan ini, pengendalian ikan sapu-sapu di Jakarta bukan sekadar soal penangkapan, melainkan membutuhkan sinergi kebijakan, teknologi, dan kesadaran publik. Tanpa langkah terpadu, ancaman terhadap keseimbangan ekosistem sungai diperkirakan akan terus membesar.

Jangan Lewatkan:
  • Suhu Laut Global Masih Tinggi Usai Rekor 2025
  • Bendung Katulampa Siaga 3, Banjir Ancam Jakarta di Musim Hujan
  • Koalisi Papua Kecam Intervensi Pejabat Terkait Tambang Raja Ampat
  • Menteri LH: Indonesia Dikepung Tiga Krisis

DKI Jakarta Ekosistem Sungai Ikan Sapu-sapu Konservasi Lingkungan Spesies Invasif
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleWar Ticket: Ilusi Akses Setara
Next Article Ekoenzim Lawan Limbah Binatu

Informasi lainnya

Taman Pompeii Ungkap Jejak Parfum Kuno

18 April 2026

DKI Amankan 6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Hari Ini

17 April 2026

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

15 April 2026

El Nino “Godzilla” Mengintai Kemarau 2026

14 April 2026

Suhu Laut Global Masih Tinggi Usai Rekor 2025

13 April 2026

Ekoenzim Lawan Limbah Binatu

13 April 2026
Paling Sering Dibaca

B.J. Habibie: Arsitek Kebebasan Pers Indonesia

Profil Ericka

Job Fair SMK Daarul Abroor Siap Digelar, Dibuka Ust. Hudaifah Aslam Mubarak

Happy Alfi Salamah

Inilah Harga Baru Pembuatan Paspor Mulai 17 Desember

Travel Udex Mundzir

Prabowo itu Bayang-Bayang Jokowi atau Pemimpin Baru?

Editorial Udex Mundzir

Phil Knight dan Nike

Profil Lina Marlina
Berita Lainnya
Hukum
Lisda Lisdiawati11 Januari 2026

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

Venezuela Diguncang Dua Gempa dalam 39 Detik, Korban Berjatuhan

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

Malaysia Susah Payah Kalahkan Timor Leste di Piala AFF

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi