Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Santriwati Digerebek, DPR Desak Usut Tindakan Polisi

Raffi Ahmad Ajak Lawan Hoaks, Peserta Deklarasi Sumpah Pemuda Akui Dibayar

Kopdes Bidik Dana Pensiun ASN, Taspen Tunggu Aturan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 5 November 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

Populasi ikan invasif melonjak tajam, ahli ungkap strategi terpadu paling efektif kendalikan ekosistem sungai ibu kota.
Alfi SalamahAlfi Salamah12 April 2026 Lingkungan
Netralkan sungai dari ikan sapu-sapu
Ikan sapu-sapu (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Seperti tamu tak diundang yang kian merajalela, ikan sapu-sapu kini menjelma ancaman serius bagi ekosistem sungai di Ibu Kota.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersiap memperluas operasi penangkapan massal, namun para ahli mengingatkan langkah itu belum cukup untuk menahan laju “invasi senyap” yang terus berkembang.

Ledakan populasi ikan sapu-sapu atau Amazon sailfin catfish (Pterygoplichthys pardalis) telah terdeteksi di sejumlah aliran sungai, termasuk Ciliwung. Spesies asing ini berkembang pesat karena kemampuan reproduksi yang luar biasa, minimnya predator alami, serta daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan.

Upaya penangkapan massal yang tengah direncanakan pemerintah dinilai perlu diperkuat dengan strategi lain agar lebih efektif menekan jumlah populasi.

“Ikan sapu-sapu termasuk ‘a breeding machine’ karena memiliki fekunditas sangat tinggi, bisa mencapai 19.000 telur per betina dan mampu berkembang biak beberapa kali dalam setahun,” ujar Charles P. H. Simanjuntak, ahli ikan dan konservasi dari IPB, dalam keterangannya yang dikutip pada Minggu (12/4/2026).

Ia menjelaskan, tingkat keberhasilan hidup ikan ini juga tinggi karena adanya perlindungan dari induk jantan yang menjaga telur hingga menetas. Selain itu, ikan ini dapat berkembang biak sejak ukuran tubuh masih relatif kecil, sehingga siklus invasinya berlangsung sangat cepat dan sulit dikendalikan.

Lebih jauh, Charles menyoroti ketiadaan predator alami di ekosistem sungai Jakarta sebagai faktor utama keberhasilan spesies ini mendominasi habitat. Berbeda dengan di habitat aslinya di Sungai Amazon, ikan sapu-sapu di Jakarta tidak menghadapi ancaman dari predator seperti ikan besar, reptil, maupun burung air. Kondisi ini membuat populasinya tumbuh tanpa kontrol alami.

Baca Juga:
  • Rafflesia Hasseltii Bermekaran, Mitos Kelangkaan Buyar
  • UI Edukasi Bahaya Limbah Minyak Jelantah kepada Siswa SD
  • Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Usai Karhutla
  • Warga Papua Tolak Tambang Nikel, Menpar Dukung Lindungi Raja Ampat

“Ketidakhadiran predator spesifik di ekosistem non-asli menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sukses sebagai spesies invasif,” katanya.

Sebagai solusi, Charles menekankan pentingnya pendekatan terpadu yang tidak hanya bergantung pada penangkapan. Strategi tersebut mencakup pencegahan, pengendalian fisik, hingga pendekatan biologis.

“Pengendalian harus dilakukan melalui kombinasi tindakan pencegahan, penyingkiran fisik, dan kontrol biologis secara bersamaan,” ujarnya.

Dari sisi pencegahan, pemerintah diminta memperketat regulasi perdagangan ikan hias serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan umum.

Selain itu, teknologi deteksi dini seperti eDNA dinilai mampu membantu memantau penyebaran ikan secara lebih akurat sebelum populasinya tak terkendali.

Dalam kondisi populasi tinggi, penangkapan tetap diperlukan, namun dengan strategi yang lebih terarah. Penangkapan selektif terhadap ikan berukuran kecil disebut lebih efektif dalam menekan populasi jangka panjang.

Artikel Terkait:
  • BMKG: Cuaca ekstrem mengancam sejumlah wilayah Indonesia
  • Normalisasi Sungai di Bontang Atasi Banjir Rob,Pemprov Kaltim-TNI
  • DPR Desak Pemulihan Tambang Nikel Usai Izin Dicabut
  • Inovasi Panel Surya Ramah Lingkungan Putra Bojonegoro

Charles juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengendalian populasi. Perburuan berbasis komunitas dapat memberikan dampak signifikan di tingkat lokal, meski perlu dilakukan secara berkelanjutan di sepanjang aliran sungai untuk mencegah migrasi ulang.

Di sisi lain, pendekatan biologis melalui pemanfaatan predator lokal seperti ikan baung dan betutu juga dapat membantu, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu.

Ia turut mengingatkan bahwa pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai sumber daya harus dilakukan secara hati-hati.

“Tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi jika berasal dari perairan tercemar karena berpotensi mengandung logam berat,” ungkapnya.

Dengan kompleksitas permasalahan ini, pengendalian ikan sapu-sapu di Jakarta bukan sekadar soal penangkapan, melainkan membutuhkan sinergi kebijakan, teknologi, dan kesadaran publik. Tanpa langkah terpadu, ancaman terhadap keseimbangan ekosistem sungai diperkirakan akan terus membesar.

Jangan Lewatkan:
  • Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?
  • Suhu Laut Global Masih Tinggi Usai Rekor 2025
  • Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli
  • Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

DKI Jakarta Ekosistem Sungai Ikan Sapu-sapu Konservasi Lingkungan Spesies Invasif
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleWar Ticket: Ilusi Akses Setara
Next Article Ekoenzim Lawan Limbah Binatu

Informasi lainnya

Cegah Karhutla Berulang, PKS Kaltim Bergerak

19 Oktober 2026

Asap Karhutla Menggila, Udara Kalimantan Berbahaya!

14 Oktober 2026

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

25 September 2026

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

9 September 2026

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

8 September 2026
Paling Sering Dibaca

Cuaca Panas? Inilah Tanaman yang Bisa Menyejukan Rumah

Perspektif Alfi Salamah

Puasa 72 Jam, Sehatkah Menurut Islam dan Ilmu Kedokteran?

Daily Tips Ericka

1 Agustus, Hari Scarf Pramuka Se-Dunia: Ayo Tunjukkan Scarf-mu

Daily Tips Lina Marlina

Kontroversi Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Antikritik dan Kemewahan Helikopter

Refleksi Udex Mundzir

Keunikan Sapaan Akrab Laki-Laki di Indonesia

Happy Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih Dipersoalkan di MK

Dua Anak Menteri Haji Mundur Usai Disorot Nepotisme

PHK 1.100 Buruh di Lebak, Nasib Industri Padat Karya

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing

☪   JADWAL SALAT

Mendeteksi lokasi...

Memuat tanggal...

⌖  Menyiapkan lokasi
Memuat jadwal salat...
SALAT BERIKUTNYA —
Menunggu jadwal...
Metode Kemenag RI

© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi