Bandung – Perjalanan panjang Danny Setiawan di pemerintahan Jawa Barat berakhir pada Sabtu pagi. Mantan Gubernur Jawa Barat itu meninggal dunia pada usia 81 tahun setelah puluhan tahun hidupnya lekat dengan birokrasi, dari tingkat kecamatan hingga memimpin provinsi.
Danny Setiawan wafat di Bandung, Sabtu (19/9/26), sekitar pukul 06.00 WIB. Kabar duka tersebut disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, sementara jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Anggrek No. 14, Kota Bandung, sebelum dibawa ke Kabupaten Purwakarta untuk dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga.
“Kami menyampaikan kabar duka. Telah meninggalkan kita semua, Bapak Haji Danny Setiawan, mantan Gubernur Jawa Barat,” kata Dedi Mulyadi saat menyampaikan kabar wafatnya Danny Setiawan di Jawa Barat, Sabtu (19/9/26).
Kepergian Danny bukan hanya kabar duka bagi keluarga. Ia meninggalkan catatan panjang dalam sejarah pemerintahan Jawa Barat, terutama sebagai birokrat karier yang berhasil mencapai posisi tertinggi di pemerintahan provinsi.
Danny memimpin Jawa Barat pada 13 Juni 2003 hingga 13 Juni 2008 bersama Wakil Gubernur Nu’man Abdul Hakim. Masa kepemimpinannya berada di antara pemerintahan HR Nuriana dan Ahmad Heryawan, pada periode ketika Indonesia masih menjalani tahun-tahun awal pelaksanaan otonomi daerah.
Dedi Mulyadi mengenang Danny sebagai pejabat yang meninggalkan karya selama mengabdi di pemerintahan Jawa Barat.
“Saya meyakini Pak Danny Setiawan adalah ahli kebaikan. Banyak karya-karya yang diperbuat untuk kemajuan Provinsi Jawa Barat,” ujar Dedi saat mengenang Danny Setiawan di Jawa Barat, Sabtu (19/9/26).
Dari Camat hingga Gubernur Jawa Barat
Perjalanan Danny Setiawan menuju kursi gubernur tidak berlangsung singkat. Ia meniti karier melalui jalur birokrasi pemerintahan sejak usia muda dan melewati berbagai jenjang sebelum dipercaya memimpin Jawa Barat.
Danny lahir pada 28 Agustus 1945. Catatan perjalanan karier yang dihimpun ANTARA menyebut ia pernah menjadi Camat Cimarga, Kabupaten Lebak, pada 1968.
Selepas itu, kariernya berlanjut di sejumlah daerah dan lembaga pemerintahan. Danny pernah menjadi Wakil KPS Ransiki di Manokwari, kemudian Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Lebak, sebelum menempati sejumlah posisi strategis di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Ia pernah bertugas di Bappeda, menjadi Kepala Biro Keuangan, Kepala Biro Pembangunan Daerah, hingga Kepala Dinas Pendapatan Daerah Jawa Barat. Pada 1998, Danny mencapai salah satu jabatan tertinggi birokrasi daerah dengan menjadi Sekretaris Daerah Jawa Barat.
Perjalanan itu membuat kiprah Danny memiliki posisi tersendiri dalam sejarah pemerintahan provinsi. Ia dikenal sebagai pejabat yang tumbuh dari birokrasi hingga kemudian mencapai kursi Gubernur Jawa Barat.
Jejak tersebut penting karena memperlihatkan jalur pengabdian seorang aparatur yang dibangun melalui berbagai tingkat pemerintahan. Dari mengurus wilayah kecamatan hingga kebijakan tingkat provinsi, sebagian besar kehidupan profesional Danny berlangsung di lingkungan pelayanan publik.
Pendidikan Mengiringi Perjalanan Karier
Karier pemerintahan Danny juga berjalan beriringan dengan pendidikan. Ia pernah menempuh pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Bandung dan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Malang.
Danny kemudian meraih gelar Magister Kebijakan Publik dari Universitas Padjadjaran pada 2000. Ia juga tercatat pernah mengikuti pendidikan kepemimpinan di University of Pittsburgh, Amerika Serikat.
Semangat belajar itu pula yang dikenang keluarganya setelah Danny berpulang. Tomi, adik sepupu Danny, menyebut pendidikan dan pengabdian kepada negara menjadi bagian yang menonjol dari kehidupan almarhum.
“Beliau kakak yang paling diteladani… beliau tidak berhenti sekolah dan mengabdikan diri untuk negara, semangat untuk belajarnya, top,” kata Tomi saat memberikan keterangan mengenai Danny Setiawan di Desa Ciwareng, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (19/9/26).
Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan aparatur tidak berhenti ketika seseorang telah mendapatkan jabatan. Danny tetap melanjutkan pendidikan ketika kariernya telah berada pada tingkat pemerintahan provinsi.
Bagi dunia birokrasi, perjalanan semacam itu berkaitan dengan kebutuhan aparatur untuk terus memperbarui pengetahuan. Kebijakan publik berubah bersama persoalan masyarakat, sehingga pengalaman lapangan dan pendidikan menjadi dua bekal yang saling melengkapi.
Rumah Duka Dipenuhi Pelayat
Suasana duka menyelimuti kediaman Danny di Jalan Anggrek, Bandung. Sejak pagi, pelayat berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga.
Sejumlah tokoh dan pejabat Jawa Barat terlihat hadir, di antaranya mantan Wali Kota Bandung Dada Rosada, Popong Otje Djundjunan atau Ceu Popong, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, serta sejumlah kepala dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Karangan bunga juga memenuhi sekitar rumah duka. Di antaranya terdapat kiriman Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Danny meninggalkan istrinya, Rinania Sastrawiguna, serta empat anak, yakni Renny Dewi Pratami, Anny Dewi Lasmiani, Rio Teguh Pribadi, dan Winny Citra Dewi Utami.
Setelah disemayamkan di Bandung, jenazah dijadwalkan dibawa menuju Kabupaten Purwakarta. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar mengatakan pemakaman dilakukan setelah waktu Zuhur.
“Akan dimakamkan di Kabupaten Purwakarta setelah Zuhur,” kata Kepala Diskominfo Jawa Barat Adi Komar saat memberikan keterangan mengenai pemakaman Danny Setiawan di Bandung, Sabtu (19/9/26).
Pulang ke Tanah Kelahiran
Desa Ciwareng, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, menjadi tempat peristirahatan terakhir Danny. Makam dipersiapkan di kompleks pemakaman keluarga.
Pemilihan lokasi itu bukan keputusan yang muncul setelah Danny meninggal. Menurut pihak keluarga, almarhum sebelumnya telah menyampaikan keinginan untuk dimakamkan di tanah kelahirannya.
“Almarhum rencananya akan dimakamkan berdampingan langsung di samping pusara sang ibunda tercinta, Ibu Juwita. Itu permintaan almarhum,” ujar Tomi di lokasi pemakaman keluarga di Desa Ciwareng, Babakancikao, Purwakarta, Sabtu (19/9/26).
Pihak keluarga menyebut kondisi kesehatan Danny menurun seiring bertambahnya usia. Dalam sekitar dua tahun terakhir, ia juga disebut sudah jarang berkunjung ke Purwakarta.
Namun, Purwakarta tetap menjadi tujuan akhirnya. Setelah perjalanan panjang dari daerah ke daerah dan puluhan tahun berada di pusat pemerintahan Jawa Barat, Danny kembali ke tanah kelahirannya untuk dimakamkan di sisi pusara sang ibu.
Wafatnya Danny Setiawan menutup perjalanan seorang aparatur yang meniti pemerintahan dari tingkat kecamatan hingga kursi gubernur. Bagi Jawa Barat, rekam jejak itu menjadi bagian dari sejarah birokrasi daerah sekaligus menunjukkan bagaimana pendidikan, pengalaman lapangan, dan jenjang pengabdian dapat berjalan dalam satu perjalanan karier.
Pada Sabtu itu, perjalanan tersebut berakhir bukan di kantor pemerintahan di Bandung, melainkan di kompleks pemakaman keluarga di Purwakarta. Di sana, Danny Setiawan kembali ke tempat yang telah dipilihnya sendiri, beristirahat di dekat ibunya setelah lebih dari setengah abad perjalanan di dunia pemerintahan.
