Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ketika Langit Kelabu Mengubah Kehidupan

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

MUI Bantah Keterlibatan Resmi di Islam Ala Prabowo

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 11 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ketika Langit Kelabu Mengubah Kehidupan

Udara yang tak terlihat justru mengingatkan betapa berharganya setiap tarikan napas.
Alfi SalamahAlfi Salamah11 September 2026 Kesehatan
Pelajar bermasker memandang kota berselimut asap
Pelajar bermasker menghadapi kota berselimut asap
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Langit kelabu kini bukan sekadar pertanda hujan bagi sebagian warga Sumatra dan Kalimantan. Bau asap masuk ke rumah. Anak-anak mengurangi waktu bermain di luar. Masker kembali menemani aktivitas harian. Sekolah bahkan harus memindahkan ruang kelas ke layar.

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali membawa kabut asap pada September 2026. Dampaknya kini bergerak jauh melampaui kawasan yang terbakar. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 113 ribu gangguan pernapasan terkait karhutla hingga Rabu (9/9/2026). Angka itu melonjak dari 50.891 kasus pada 1 September 2026.

Lebih dari 12,5 juta orang di tujuh provinsi juga terpapar asap dan kabut. Wilayah terdampak berada di Sumatra dan Kalimantan. Situasi tahun ini diperberat suhu tinggi dan kekeringan akibat kondisi El Niño yang kuat.

Karhutla akhirnya bukan hanya cerita tentang pohon yang terbakar. Ia masuk ke sekolah, rumah, jalanan, dan paru-paru manusia.

Ketika Sekolah Harus Pindah ke Rumah

Di Pontianak, Kalimantan Barat, rutinitas sekolah ikut berubah.

Pada Senin (7/9/2026), kegiatan belajar masih dilakukan secara daring. Kabut asap yang menyelimuti kota membuat kualitas udara berada pada kondisi berbahaya. Hujan yang sempat turun juga belum langsung membersihkan udara.

“Meski Kota Pontianak sudah diguyur hujan cukup merata, tapi asap masih tebal dan kondisi udara masih berbahaya,” kata Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono.

Pemerintah kota memilih menunggu kualitas udara membaik sebelum membuka kembali pembelajaran secara normal.

Situasi serupa terjadi di daerah lain.

Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pembelajaran jarak jauh sempat diperpanjang hingga Rabu (9/9/2026). Tatap muka terbatas baru dimulai kembali pada Kamis (10/9/2026), setelah kondisi udara dinilai membaik.

Kabut asap bahkan mengubah kegiatan pendidikan di Dharmasraya, Sumatera Barat. Pelajar PAUD hingga SMP menjalani pembelajaran daring pada 10–11 September 2026.

Perubahan tersebut memperlihatkan sisi karhutla yang jarang terlihat dari foto kebakaran.

Bagi seorang anak, karhutla bisa berarti tidak bertemu teman sekolah. Waktu bermain di luar berkurang. Jendela rumah lebih sering tertutup. Masker menjadi benda yang harus dibawa ketika keluar.

Kehidupan tetap berjalan. Hanya caranya yang berubah.

Baca Juga:
  • Dugaan Pemotongan Anggaran MBG, Apakah Cukup untuk Gizi Anak?
  • Kemendagri Pastikan Dukung Eliminasi Malaria di Wilayah Papua
  • Krisis Kesehatan Hantui Pengungsian Aceh Pascabanjir
  • Dinas Kesehatan Jakarta Catat 79 Kasus Virus HMPV Selama 2025

Asap yang Tak Berhenti di Tenggorokan

Ancaman terbesar karhutla justru datang dari sesuatu yang berukuran sangat kecil.

Asap kebakaran membawa partikel halus seperti PM2,5. Kementerian Kesehatan juga mengingatkan keberadaan karbon monoksida dan nitrogen dioksida. Berbagai senyawa berbahaya lain dapat ikut terbawa dalam asap.

Partikel tersebut dapat memasuki sistem pernapasan manusia.

Dampaknya bisa berupa batuk, sesak napas, radang tenggorokan, hingga infeksi saluran pernapasan akut. Paparan asap juga dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis.

Risikonya tidak sama bagi setiap orang.

Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Paru-paru mereka masih berkembang. Lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit bawaan juga lebih rentan.

Pekerja yang menghabiskan banyak waktu di luar menghadapi dilema berbeda. Tidak semua orang bisa memilih tinggal di rumah ketika kualitas udara memburuk.

Ada pekerjaan yang tetap harus dilakukan.

Di titik inilah persoalan lingkungan bertemu langsung dengan gaya hidup dan kesehatan. Udara menentukan kapan seseorang bisa berolahraga, bekerja, bersekolah, bahkan sekadar membuka jendela rumah.

Jutaan Orang Bernapas di Bawah Kabut

Skala kebakaran tahun ini juga memberikan gambaran mengkhawatirkan.

Data pemantauan iklim Copernicus menunjukkan emisi kebakaran Indonesia mencapai 19,7 juta ton karbon dioksida selama 1–7 September 2026. Jumlah tersebut mencapai lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode itu.

Emisinya tercatat 273 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman.

Pontianak menjadi salah satu kota yang merasakan kualitas udara paling berat. Indeks kualitas udara di sana sempat mencapai 394, yang berada dalam kategori berbahaya.

Artikel Terkait:
  • Waspadai Tanda Masalah Usus Sejak Dini
  • Kerja Sama Indonesia-Swedia, RS Dharmais Terima Hibah Rp15,3 Miliar
  • Sarapan Sehat, Hidup Lebih Kuat
  • Self Love, Kunci Kesehatan Mental dan Kebahagiaan Diri

Kebakaran gambut membuat persoalan semakin rumit.

Api tidak selalu terlihat jelas di permukaan. Material organik pada gambut memungkinkan bara bertahan di bawah tanah. Kondisi tersebut membuat pemadaman lebih sulit dan asap dapat terus muncul.

Karena itu, respons tidak berhenti pada pemadaman.

Pemerintah melakukan operasi modifikasi cuaca dan water bombing. Puluhan pesawat dikerahkan untuk menangani kebakaran. Jepang juga mengirim tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu operasi di Kalimantan Barat.

Kementerian Kesehatan turut mengirim tenaga kesehatan dan perlengkapan pendukung. Masker, konsentrator oksigen, serta pelayanan kesehatan disiapkan untuk wilayah terdampak.

Namun, bagi masyarakat, pertahanan pertama tetap dimulai dari keputusan sehari-hari.

Memeriksa Indeks Standar Pencemar Udara dapat menentukan aktivitas hari itu. Kegiatan luar ruang perlu dikurangi ketika kualitas udara memburuk. Masker yang mampu menyaring partikel halus juga menjadi perlindungan penting.

Sederhana, tetapi relevan.

Karhutla Bukan Hanya Masalah Saat Api Menyala

Ada pelajaran lain dari kabut yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia tahun ini.

Kita sering baru memperhatikan karhutla ketika langit berubah warna. Padahal, banyak risikonya dapat dipantau jauh sebelumnya.

Musim kemarau dapat diprediksi. Titik panas bisa dideteksi. Kondisi gambut dapat dipantau. Arah angin dan kualitas udara juga dapat dibaca.

Jangan Lewatkan:
  • Manfaat Sehat Biji Selasih untuk Tubuh dan Kulit
  • Pentingnya Mengonsumsi Sayuran untuk Kesehatan
  • Kelas 1-3 Dihapus, Iuran BPJS Kesehatan Berubah Juli 2025
  • Mitos dan Fakta Seputar Vape yang Perlu Kamu Tahu

Artinya, perlindungan kesehatan tidak harus menunggu ruang tunggu puskesmas dipenuhi pasien.

Pencegahan dapat dimulai ketika udara masih terlihat bersih.

Karhutla juga memperlihatkan betapa dekat hubungan lingkungan dengan rutinitas manusia. Hutan mungkin terbakar puluhan kilometer dari rumah. Namun, asapnya dapat menentukan apakah seorang anak berangkat sekolah keesokan pagi.

Pada akhirnya, kabut asap membuat sesuatu yang biasanya dianggap biasa menjadi terasa mahal: udara bersih.

Kita tidak melihatnya ketika tersedia. Tidak memikirkannya ketika bernapas dengan mudah. Namun, ketika langit berubah kelabu, setiap tarikan napas mengingatkan bahwa kesehatan manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari kesehatan alam.

Kabut Asap Karhutla Indonesia Kesehatan Pernapasan Lingkungan Polusi Udara
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKetika Peneliti Mengurus Kuitansi

Informasi lainnya

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

8 September 2026

Kalimantan Diselimuti Asap, Ribuan Warga Kena ISPA

21 Agustus 2026

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

12 Juli 2026

Benarkah Mikroplastik Sudah Masuk ke Tubuh Manusia? Ini Fakta Ilmiahnya

11 Juli 2026

Mengapa Burung di Kota Semakin Jarang Terlihat?

10 Juli 2026

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

6 Juli 2026
Paling Sering Dibaca

7 Rekomendasi Masakan Sehat untuk Bekal Anak Sekolah

Daily Tips Alfi Salamah

Rahasia Puasa Dzulhijjah dan Keutamaannya

Islami Udex Mundzir

Generasi Emas, Fondasi Kelas Kacau

Editorial Udex Mundzir

Investigasi MUI Terhadap Al Zaytun Mencapai Tahap Penting, Fatwa Menanti!

Islami Adit Musthofa

Groundsel Raksasa: Harta Prasejarah di Atap Afrika

Travel Ericka
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Kemenhaj Umumkan Penyakit Tak Lolos Syarat Haji 2026

Temaram di Khalifa

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi