Langit kelabu kini bukan sekadar pertanda hujan bagi sebagian warga Sumatra dan Kalimantan. Bau asap masuk ke rumah. Anak-anak mengurangi waktu bermain di luar. Masker kembali menemani aktivitas harian. Sekolah bahkan harus memindahkan ruang kelas ke layar.
Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali membawa kabut asap pada September 2026. Dampaknya kini bergerak jauh melampaui kawasan yang terbakar. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 113 ribu gangguan pernapasan terkait karhutla hingga Rabu (9/9/2026). Angka itu melonjak dari 50.891 kasus pada 1 September 2026.
Lebih dari 12,5 juta orang di tujuh provinsi juga terpapar asap dan kabut. Wilayah terdampak berada di Sumatra dan Kalimantan. Situasi tahun ini diperberat suhu tinggi dan kekeringan akibat kondisi El Niño yang kuat.
Karhutla akhirnya bukan hanya cerita tentang pohon yang terbakar. Ia masuk ke sekolah, rumah, jalanan, dan paru-paru manusia.
Ketika Sekolah Harus Pindah ke Rumah
Di Pontianak, Kalimantan Barat, rutinitas sekolah ikut berubah.
Pada Senin (7/9/2026), kegiatan belajar masih dilakukan secara daring. Kabut asap yang menyelimuti kota membuat kualitas udara berada pada kondisi berbahaya. Hujan yang sempat turun juga belum langsung membersihkan udara.
“Meski Kota Pontianak sudah diguyur hujan cukup merata, tapi asap masih tebal dan kondisi udara masih berbahaya,” kata Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono.
Pemerintah kota memilih menunggu kualitas udara membaik sebelum membuka kembali pembelajaran secara normal.
Situasi serupa terjadi di daerah lain.
Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pembelajaran jarak jauh sempat diperpanjang hingga Rabu (9/9/2026). Tatap muka terbatas baru dimulai kembali pada Kamis (10/9/2026), setelah kondisi udara dinilai membaik.
Kabut asap bahkan mengubah kegiatan pendidikan di Dharmasraya, Sumatera Barat. Pelajar PAUD hingga SMP menjalani pembelajaran daring pada 10–11 September 2026.
Perubahan tersebut memperlihatkan sisi karhutla yang jarang terlihat dari foto kebakaran.
Bagi seorang anak, karhutla bisa berarti tidak bertemu teman sekolah. Waktu bermain di luar berkurang. Jendela rumah lebih sering tertutup. Masker menjadi benda yang harus dibawa ketika keluar.
Kehidupan tetap berjalan. Hanya caranya yang berubah.
Asap yang Tak Berhenti di Tenggorokan
Ancaman terbesar karhutla justru datang dari sesuatu yang berukuran sangat kecil.
Asap kebakaran membawa partikel halus seperti PM2,5. Kementerian Kesehatan juga mengingatkan keberadaan karbon monoksida dan nitrogen dioksida. Berbagai senyawa berbahaya lain dapat ikut terbawa dalam asap.
Partikel tersebut dapat memasuki sistem pernapasan manusia.
Dampaknya bisa berupa batuk, sesak napas, radang tenggorokan, hingga infeksi saluran pernapasan akut. Paparan asap juga dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis.
Risikonya tidak sama bagi setiap orang.
Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Paru-paru mereka masih berkembang. Lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit bawaan juga lebih rentan.
Pekerja yang menghabiskan banyak waktu di luar menghadapi dilema berbeda. Tidak semua orang bisa memilih tinggal di rumah ketika kualitas udara memburuk.
Ada pekerjaan yang tetap harus dilakukan.
Di titik inilah persoalan lingkungan bertemu langsung dengan gaya hidup dan kesehatan. Udara menentukan kapan seseorang bisa berolahraga, bekerja, bersekolah, bahkan sekadar membuka jendela rumah.
Jutaan Orang Bernapas di Bawah Kabut
Skala kebakaran tahun ini juga memberikan gambaran mengkhawatirkan.
Data pemantauan iklim Copernicus menunjukkan emisi kebakaran Indonesia mencapai 19,7 juta ton karbon dioksida selama 1–7 September 2026. Jumlah tersebut mencapai lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode itu.
Emisinya tercatat 273 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman.
Pontianak menjadi salah satu kota yang merasakan kualitas udara paling berat. Indeks kualitas udara di sana sempat mencapai 394, yang berada dalam kategori berbahaya.
Kebakaran gambut membuat persoalan semakin rumit.
Api tidak selalu terlihat jelas di permukaan. Material organik pada gambut memungkinkan bara bertahan di bawah tanah. Kondisi tersebut membuat pemadaman lebih sulit dan asap dapat terus muncul.
Karena itu, respons tidak berhenti pada pemadaman.
Pemerintah melakukan operasi modifikasi cuaca dan water bombing. Puluhan pesawat dikerahkan untuk menangani kebakaran. Jepang juga mengirim tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu operasi di Kalimantan Barat.
Kementerian Kesehatan turut mengirim tenaga kesehatan dan perlengkapan pendukung. Masker, konsentrator oksigen, serta pelayanan kesehatan disiapkan untuk wilayah terdampak.
Namun, bagi masyarakat, pertahanan pertama tetap dimulai dari keputusan sehari-hari.
Memeriksa Indeks Standar Pencemar Udara dapat menentukan aktivitas hari itu. Kegiatan luar ruang perlu dikurangi ketika kualitas udara memburuk. Masker yang mampu menyaring partikel halus juga menjadi perlindungan penting.
Sederhana, tetapi relevan.
Karhutla Bukan Hanya Masalah Saat Api Menyala
Ada pelajaran lain dari kabut yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia tahun ini.
Kita sering baru memperhatikan karhutla ketika langit berubah warna. Padahal, banyak risikonya dapat dipantau jauh sebelumnya.
Musim kemarau dapat diprediksi. Titik panas bisa dideteksi. Kondisi gambut dapat dipantau. Arah angin dan kualitas udara juga dapat dibaca.
Artinya, perlindungan kesehatan tidak harus menunggu ruang tunggu puskesmas dipenuhi pasien.
Pencegahan dapat dimulai ketika udara masih terlihat bersih.
Karhutla juga memperlihatkan betapa dekat hubungan lingkungan dengan rutinitas manusia. Hutan mungkin terbakar puluhan kilometer dari rumah. Namun, asapnya dapat menentukan apakah seorang anak berangkat sekolah keesokan pagi.
Pada akhirnya, kabut asap membuat sesuatu yang biasanya dianggap biasa menjadi terasa mahal: udara bersih.
Kita tidak melihatnya ketika tersedia. Tidak memikirkannya ketika bernapas dengan mudah. Namun, ketika langit berubah kelabu, setiap tarikan napas mengingatkan bahwa kesehatan manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari kesehatan alam.
