Api tersembunyi menjadi salah satu sisi paling rumit dari kebakaran hutan Indonesia. Di permukaan, kobaran mungkin sudah menghilang. Asap bahkan terlihat menipis. Namun, beberapa sentimeter atau meter di bawah tanah, bara bisa tetap hidup.
Fenomena itu kembali menjadi perhatian saat kebakaran hutan dan lahan meluas pada September 2026. Sumatra dan Kalimantan menjadi wilayah yang menghadapi tekanan berat. Musim kering yang diperkuat El Niño membuat tanah dan vegetasi kehilangan banyak kelembapan. BMKG menyebut September masih menjadi fase kritis karhutla tahun ini.
Kondisi tersebut jauh lebih rumit ketika api bertemu lahan gambut.
Gambut bukan tanah biasa. Lapisan ini terbentuk dari sisa tumbuhan yang terurai sangat lambat. Material organiknya menumpuk selama waktu panjang dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Ketika tetap basah, gambut menjadi bagian penting dari ekosistem. Namun, ketika mengering, sifatnya berubah.
Tanah yang sebelumnya menyimpan air dapat berubah menjadi bahan bakar.
Api yang Membakar Tanpa Kobaran
Kebakaran gambut berbeda dari api pada rerumputan atau pepohonan.
Api permukaan biasanya mudah dikenali melalui nyala dan panas. Gambut dapat mengalami proses yang disebut smouldering combustion atau pembakaran membara.
Proses ini berjalan perlahan tanpa kobaran besar. Suhunya lebih rendah dibandingkan api terbuka. Meski begitu, pembakaran dapat bertahan jauh lebih lama.
Penelitian tentang kebakaran membara menyebut api gambut bisa merambat ke lapisan tanah. Bara dapat bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dalam kondisi tertentu.
Inilah yang membuat pemandangan di lapangan kadang menipu.
Permukaan tanah terlihat hitam. Tidak ada lidah api tinggi. Namun, asap tipis masih keluar dari celah tanah.
Di bawahnya, panas belum tentu hilang.
Api dapat bergerak secara horizontal maupun masuk lebih dalam. Jejaknya tidak selalu mengikuti pola yang terlihat di permukaan. Bahkan, kebakaran bawah tanah menjadi lebih sulit terdeteksi oleh satelit karena pancaran panasnya lebih lemah.
Satu titik yang dianggap aman bisa kembali mengeluarkan asap.
Dalam kondisi kering, bara tersebut bahkan dapat memicu api permukaan kembali.
Mengapa Air Saja Belum Tentu Cukup?
Bayangkan menyiram api unggun dengan seember air. Api biasanya mengecil dengan cepat.
Pada gambut, urusannya berbeda.
Struktur gambut berpori dan memiliki lapisan tebal. Air yang disiram dari atas belum tentu mencapai seluruh titik panas di bawah tanah.
Sebagian permukaan dapat menjadi basah, sementara bara tetap hidup di lapisan lain.
Kajian ilmiah menunjukkan pemadaman kebakaran gambut besar membutuhkan air dalam jumlah sangat banyak. Air cukup efektif untuk kebakaran kecil. Namun, penanganannya jauh lebih sulit ketika api telah menyebar luas dan dalam.
Penelitian terbaru yang terbit pada Juli 2026 juga memperlihatkan tantangan tersebut.
Dalam percobaan laboratorium, penggunaan air pada gambut kering memerlukan sekitar 90 kilogram per meter persegi untuk mencapai tingkat pemadaman tertentu. Studi itu membandingkan air dengan beberapa bahan pendingin lain. Hasilnya menegaskan bahwa infiltrasi air yang tidak merata menjadi salah satu kendala pemadaman.
Tentu, hasil laboratorium tidak dapat diterapkan mentah-mentah di lapangan.
Namun, penelitian tersebut membantu menjelaskan satu persoalan dasar. Membasahi permukaan tidak sama dengan mendinginkan seluruh lapisan gambut.
Ada tantangan lain.
Lokasi kebakaran sering berada jauh dari sumber air. Akses kendaraan pemadam juga tidak selalu tersedia. Petugas dapat berjalan melewati permukaan yang terlihat kokoh, padahal bagian bawahnya sudah terbakar.
Pemadaman akhirnya membutuhkan ketelitian, bukan hanya volume air.
Saat Api Sulit Dilihat dari Udara
Indonesia saat ini menggunakan berbagai teknologi untuk memantau karhutla.
BMKG memiliki Sistem Peringatan Hutan dan Lahan atau SPARTAN. Sistem tersebut membaca kondisi meteorologi yang mendukung terjadinya kebakaran.
Informasi seperti tingkat kekeringan dan kondisi bahan bakar permukaan menjadi bagian pemantauan. BMKG juga menyediakan Fire Weather Index untuk memperkirakan tingkat kesulitan pengendalian api.
Teknologi satelit membantu menemukan hotspot.
Namun, gambut kembali menghadirkan tantangan.
Api yang membara di bawah tanah menghasilkan jejak panas berbeda dari kebakaran terbuka. Peneliti bahkan memperingatkan bahwa sebagian emisi kebakaran bisa tidak terdeteksi sepenuhnya karena adanya api bawah permukaan.
Situasi tahun ini memperlihatkan besarnya persoalan tersebut.
Data Copernicus mencatat emisi kebakaran Indonesia mencapai sekitar 19,7 juta ton karbon dioksida selama 1–7 September 2026. Jumlah itu lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode tersebut.
Asapnya kemudian bergerak jauh melampaui lokasi kebakaran.
Lebih dari 12,5 juta orang di tujuh provinsi dilaporkan terpapar asap dan kabut. Kasus gangguan pernapasan terkait kebakaran juga menembus 113 ribu kasus hingga Rabu (9/9/2026).
Api mungkin berada di tanah.
Dampaknya sampai ke paru-paru manusia.
Gambut Basah Lebih Berharga daripada Pemadaman
Ada satu pelajaran penting dari ilmu kebakaran gambut.
Cara terbaik menghadapi api bawah tanah bukan menunggu sampai ia muncul.
Pencegahan jauh lebih efektif.
Penelitian mengenai pembakaran membara menempatkan menjaga gambut tetap basah sebagai salah satu langkah utama. Drainase berlebihan perlu dihindari. Sumber api juga harus dicegah ketika kondisi tanah mulai kering.
Logikanya sederhana.
Gambut basah sulit terbakar. Gambut kering memberi ruang bagi api untuk bertahan.
Karena itu, restorasi gambut tidak hanya berbicara tentang menanam kembali vegetasi. Menjaga tinggi muka air menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kebakaran.
BMKG pun mendorong strategi pengendalian karhutla bergeser menuju pencegahan berbasis data. Informasi cuaca dapat digunakan untuk mengenali wilayah rawan sebelum api muncul.
Pendekatan tersebut terasa kurang dramatis dibandingkan helikopter yang menjatuhkan ribuan liter air.
Namun, justru di situlah jawabannya.
Kebakaran gambut sering kali dimenangkan atau dikalahkan sebelum ada asap.
Ketika tanah masih basah, tidak ada api yang perlu dikejar. Tidak ada bara bawah tanah yang harus ditemukan. Tidak ada hektare gambut yang harus disiram satu per satu.
Api gambut mengajarkan satu ironi sederhana. Sesuatu yang terlihat telah padam belum tentu benar-benar selesai.
Di bawah tanah yang sunyi, bara dapat terus bergerak.
Karena itu, menjaga gambut tetap hidup mungkin jauh lebih mudah daripada mencoba memadamkannya setelah ia terbakar.
