Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 1 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Mengapa Api Gambut Sulit Benar-Benar Padam?

Yang tak terlihat sering kali justru membutuhkan perhatian paling besar.
Alfi SalamahAlfi Salamah11 September 2026 Saintek
Petugas memadamkan bara tersembunyi di gambut
Petugas memadamkan bara tersembunyi di gambut
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Api tersembunyi menjadi salah satu sisi paling rumit dari kebakaran hutan Indonesia. Di permukaan, kobaran mungkin sudah menghilang. Asap bahkan terlihat menipis. Namun, beberapa sentimeter atau meter di bawah tanah, bara bisa tetap hidup.

Fenomena itu kembali menjadi perhatian saat kebakaran hutan dan lahan meluas pada September 2026. Sumatra dan Kalimantan menjadi wilayah yang menghadapi tekanan berat. Musim kering yang diperkuat El Niño membuat tanah dan vegetasi kehilangan banyak kelembapan. BMKG menyebut September masih menjadi fase kritis karhutla tahun ini.

Kondisi tersebut jauh lebih rumit ketika api bertemu lahan gambut.

Gambut bukan tanah biasa. Lapisan ini terbentuk dari sisa tumbuhan yang terurai sangat lambat. Material organiknya menumpuk selama waktu panjang dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Ketika tetap basah, gambut menjadi bagian penting dari ekosistem. Namun, ketika mengering, sifatnya berubah.

Tanah yang sebelumnya menyimpan air dapat berubah menjadi bahan bakar.

Api yang Membakar Tanpa Kobaran

Kebakaran gambut berbeda dari api pada rerumputan atau pepohonan.

Api permukaan biasanya mudah dikenali melalui nyala dan panas. Gambut dapat mengalami proses yang disebut smouldering combustion atau pembakaran membara.

Proses ini berjalan perlahan tanpa kobaran besar. Suhunya lebih rendah dibandingkan api terbuka. Meski begitu, pembakaran dapat bertahan jauh lebih lama.

Penelitian tentang kebakaran membara menyebut api gambut bisa merambat ke lapisan tanah. Bara dapat bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dalam kondisi tertentu.

Inilah yang membuat pemandangan di lapangan kadang menipu.

Permukaan tanah terlihat hitam. Tidak ada lidah api tinggi. Namun, asap tipis masih keluar dari celah tanah.

Di bawahnya, panas belum tentu hilang.

Api dapat bergerak secara horizontal maupun masuk lebih dalam. Jejaknya tidak selalu mengikuti pola yang terlihat di permukaan. Bahkan, kebakaran bawah tanah menjadi lebih sulit terdeteksi oleh satelit karena pancaran panasnya lebih lemah.

Satu titik yang dianggap aman bisa kembali mengeluarkan asap.

Dalam kondisi kering, bara tersebut bahkan dapat memicu api permukaan kembali.

Mengapa Air Saja Belum Tentu Cukup?

Bayangkan menyiram api unggun dengan seember air. Api biasanya mengecil dengan cepat.

Baca Juga:
  • Chatbot Jadi Sahabat, Kesepian Bisa Hilang?
  • Jejak Stonehenge Ternyata Bermula dari Wales?
  • Bos ChatGPT Puji DeepSeek, Microsoft dan Elon Musk Ragu
  • Gerhana Matahari Total 2027 Tak Akan Terlihat di Indonesia

Pada gambut, urusannya berbeda.

Struktur gambut berpori dan memiliki lapisan tebal. Air yang disiram dari atas belum tentu mencapai seluruh titik panas di bawah tanah.

Sebagian permukaan dapat menjadi basah, sementara bara tetap hidup di lapisan lain.

Kajian ilmiah menunjukkan pemadaman kebakaran gambut besar membutuhkan air dalam jumlah sangat banyak. Air cukup efektif untuk kebakaran kecil. Namun, penanganannya jauh lebih sulit ketika api telah menyebar luas dan dalam.

Penelitian terbaru yang terbit pada Juli 2026 juga memperlihatkan tantangan tersebut.

Dalam percobaan laboratorium, penggunaan air pada gambut kering memerlukan sekitar 90 kilogram per meter persegi untuk mencapai tingkat pemadaman tertentu. Studi itu membandingkan air dengan beberapa bahan pendingin lain. Hasilnya menegaskan bahwa infiltrasi air yang tidak merata menjadi salah satu kendala pemadaman.

Tentu, hasil laboratorium tidak dapat diterapkan mentah-mentah di lapangan.

Namun, penelitian tersebut membantu menjelaskan satu persoalan dasar. Membasahi permukaan tidak sama dengan mendinginkan seluruh lapisan gambut.

Ada tantangan lain.

Lokasi kebakaran sering berada jauh dari sumber air. Akses kendaraan pemadam juga tidak selalu tersedia. Petugas dapat berjalan melewati permukaan yang terlihat kokoh, padahal bagian bawahnya sudah terbakar.

Pemadaman akhirnya membutuhkan ketelitian, bukan hanya volume air.

Saat Api Sulit Dilihat dari Udara

Indonesia saat ini menggunakan berbagai teknologi untuk memantau karhutla.

BMKG memiliki Sistem Peringatan Hutan dan Lahan atau SPARTAN. Sistem tersebut membaca kondisi meteorologi yang mendukung terjadinya kebakaran.

Informasi seperti tingkat kekeringan dan kondisi bahan bakar permukaan menjadi bagian pemantauan. BMKG juga menyediakan Fire Weather Index untuk memperkirakan tingkat kesulitan pengendalian api.

Teknologi satelit membantu menemukan hotspot.

Namun, gambut kembali menghadirkan tantangan.

Api yang membara di bawah tanah menghasilkan jejak panas berbeda dari kebakaran terbuka. Peneliti bahkan memperingatkan bahwa sebagian emisi kebakaran bisa tidak terdeteksi sepenuhnya karena adanya api bawah permukaan.

Artikel Terkait:
  • Waspada Banjir Rob! Gerhana Matahari Akan Terjadi 29 Maret 2025
  • Hari Konservasi Dunia, Saatnya Menjaga Bumi
  • Misteri 5 Agustus, Mengapa Hari Ini Lebih Pendek?
  • Digital Paper 2023 Lonjakan Inovasi Keluaran Terbaru

Situasi tahun ini memperlihatkan besarnya persoalan tersebut.

Data Copernicus mencatat emisi kebakaran Indonesia mencapai sekitar 19,7 juta ton karbon dioksida selama 1–7 September 2026. Jumlah itu lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode tersebut.

Asapnya kemudian bergerak jauh melampaui lokasi kebakaran.

Lebih dari 12,5 juta orang di tujuh provinsi dilaporkan terpapar asap dan kabut. Kasus gangguan pernapasan terkait kebakaran juga menembus 113 ribu kasus hingga Rabu (9/9/2026).

Api mungkin berada di tanah.

Dampaknya sampai ke paru-paru manusia.

Gambut Basah Lebih Berharga daripada Pemadaman

Ada satu pelajaran penting dari ilmu kebakaran gambut.

Cara terbaik menghadapi api bawah tanah bukan menunggu sampai ia muncul.

Pencegahan jauh lebih efektif.

Penelitian mengenai pembakaran membara menempatkan menjaga gambut tetap basah sebagai salah satu langkah utama. Drainase berlebihan perlu dihindari. Sumber api juga harus dicegah ketika kondisi tanah mulai kering.

Logikanya sederhana.

Gambut basah sulit terbakar. Gambut kering memberi ruang bagi api untuk bertahan.

Karena itu, restorasi gambut tidak hanya berbicara tentang menanam kembali vegetasi. Menjaga tinggi muka air menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kebakaran.

BMKG pun mendorong strategi pengendalian karhutla bergeser menuju pencegahan berbasis data. Informasi cuaca dapat digunakan untuk mengenali wilayah rawan sebelum api muncul.

Jangan Lewatkan:
  • Chatbot Religius Merebak, Akankah Tuhan Hadir Lewat Kode?
  • ChatGPT di WhatsApp Kini Bisa Proses Perintah Gambar dan Suara
  • Lima Fakta Menarik tentang Penemuan Ruang Antarbintang Voyager
  • RI Krisis Talenta Digital, Masih Defisit 4 Juta

Pendekatan tersebut terasa kurang dramatis dibandingkan helikopter yang menjatuhkan ribuan liter air.

Namun, justru di situlah jawabannya.

Kebakaran gambut sering kali dimenangkan atau dikalahkan sebelum ada asap.

Ketika tanah masih basah, tidak ada api yang perlu dikejar. Tidak ada bara bawah tanah yang harus ditemukan. Tidak ada hektare gambut yang harus disiram satu per satu.

Api gambut mengajarkan satu ironi sederhana. Sesuatu yang terlihat telah padam belum tentu benar-benar selesai.

Di bawah tanah yang sunyi, bara dapat terus bergerak.

Karena itu, menjaga gambut tetap hidup mungkin jauh lebih mudah daripada mencoba memadamkannya setelah ia terbakar.

Karhutla Indonesia Kebakaran Gambut Lahan Gambut Perubahan Iklim Sains Lingkungan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSyekh Al-Albani, Ketekunan Menjaga Warisan Hadis
Next Article Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

Informasi lainnya

Ketika Langit Kelabu Mengubah Kehidupan

11 September 2026

Jejak Stonehenge Ternyata Bermula dari Wales?

29 Agustus 2026

Ampas Kopi Bisa Membuat Beton 30 Persen Lebih Kuat

27 Agustus 2026

Robot Masuk Rumah, Siap Berbagi Ruang?

23 Agustus 2026

Internet Penuh AI, Keaslian Jadi Barang Mahal

22 Agustus 2026

Era Smartphone Berakhir, Apa Penggantinya?

21 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Mengulang Jejak Sejarah: Tradisi Mengantar Jamaah Haji

Islami Udex Mundzir

Dari Memalukan ke Menakutkan

Editorial Udex Mundzir

Komdigi: Permohonan Merger XL-Smartfren Belum Diterima

Techno Assyifa

Calon Kalah Kolom Kosong, Maju Lagi?

Perspektif Udex Mundzir

Perjalanan Spiritual, Sunnah-Sunnah Wukuf di Arafah

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

Hamangkunegoro Dinobatkan sebagai Pakubuwono XIV di Surakarta

UNESCO Akui 5 Arsip Indonesia Sebagai Warisan Dunia

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Produk Dapur Terlaris Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi