Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hari Konservasi Dunia, Saatnya Menjaga Bumi

URI: Lantik Dulu, Masalah Kemudian

KMD Pramuka Penggalang Resmi Dibuka di PGSD Bone

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 28 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Chatbot Religius Merebak, Akankah Tuhan Hadir Lewat Kode?

Kecerdasan buatan kini tak hanya menjawab soal teknis, tapi juga menggantikan bisikan spiritual manusia.
Lisda LisdiawatiLisda Lisdiawati23 November 2025 Saintek
Chatbot Religius Merebak, Akankah Tuhan Hadir Lewat Kode?
Ilustrasi para pemeluk agama kini beralih pada kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk ibadah dan panduan spiritual. (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

New Delhi – Di tengah gegap gempita zaman digital, kecerdasan buatan (AI) mulai merambah ranah paling personal dan sakral manusia: keimanan. Dari kuil-kuil di India hingga gereja di Amerika, AI kini digunakan sebagai perantara spiritual, menampilkan wajah baru ibadah yang menantang batas antara kode dan keyakinan.

Fenomena ini terlihat dari kisah Vijay Meel, seorang pemuda di Rajasthan, India, yang beralih dari pemuka agama ke chatbot spiritual bernama GitaGPT saat mengalami krisis hidup. Dengan menyampaikan kutipan Bhagavad Gita, chatbot ini memberinya kelegaan batin, menjelma menjadi teman refleksi yang menggantikan peran guru spiritual.

“Ada kenyamanan yang tak saya duga ketika mendengar kata-kata itu, meski keluar dari layar,” ujar Vijay.

Fenomena spiritual digital ini merepresentasikan pergeseran besar dalam praktik beragama global. AI seperti GitaGPT, Text With Jesus, hingga QuranGPT menjangkau jutaan pengguna, bahkan melayani konsultasi religius dalam berbagai agama. Ini menandai tren baru di mana manusia mulai berinteraksi dengan ‘nabi digital’ sebagai sumber pencerahan.

Baca Juga:
  • Piala Dunia 2026 Jadi Arena Persaingan AI Global
  • DeepSeek vs ChatGPT, Mana yang Lebih Unggul?
  • Kemenkes Tegaskan ChatGPT Tak Bisa Gantikan Diagnosis Dokter
  • Robot Humanoid Beratribut Polisi Hadir di Gladi HUT Bhayangkara

Menurut antropolog Holly Walters dari Wellesley College, India menjadi semacam “laboratorium iman” modern. Walters menjelaskan bahwa dalam konteks alienasi masyarakat modern, chatbot religius menawarkan ruang privat yang mudah diakses dan tidak menghakimi.

“Dalam teologi Hindu, wujud fisik seperti patung dianggap sakral. Maka, tidak mengherankan jika masyarakat mulai menerima AI sebagai medium spiritual,” katanya.

Robot Krishna, chatbot Confucius, hingga gajah robot bernama Raman yang memimpin ritual di Kerala, menjadi bagian dari lanskap religius baru ini. Bahkan, pada ajang Maha Kumbh Mela 2025, asisten AI multibahasa disiapkan untuk membimbing jutaan peziarah.

Namun, tak sedikit yang menyoroti bahaya etisnya. Lyndon Drake, peneliti dari Universitas Oxford, memperingatkan soal “halusinasi AI” ketika chatbot memberikan jawaban ngawur namun meyakinkan. Dalam kasus GitaGPT, algoritma sempat menjustifikasi kekerasan atas nama dharma. Sementara bot ‘pastor digital’ Catholic Answers sempat menyarankan baptisan dengan Gatorade, menimbulkan kegaduhan besar.

Artikel Terkait:
  • Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan
  • BRIN Kembangkan Robot Lunak untuk Medis dan SAR
  • Celios: AI Dongkrak Ekonomi RI, 97 Juta Pekerjaan Baru Menanti
  • Gerhana Matahari Total 2027 Tak Akan Terlihat di Indonesia

“AI bisa tahu isi kitab, tapi tidak punya konteks moral atau pengalaman spiritual,” ujar Drake.

Kekhawatiran lain muncul dari kesenjangan literasi digital. Banyak pengguna yang tidak memahami bahwa jawaban AI bukan wahyu ilahi, melainkan hasil pengolahan data buatan manusia. Ini bisa menimbulkan anggapan sesat bahwa AI adalah suara Tuhan itu sendiri.

Meski begitu, era spiritualitas digital tampaknya tak terelakkan. AI menawarkan solusi bagi generasi muda yang mencari akses spiritual cepat dan personal, di tengah keterbatasan pemuka agama yang makin sulit dijangkau.

Ketika manusia mulai mencari Tuhan dalam pantulan layar dan suara algoritma, satu pertanyaan kian mengemuka: apakah iman masih butuh jiwa manusia, atau cukup lewat cloud server?

Jangan Lewatkan:
  • Cahaya Purba Ini Bantu Kumbang Temukan Tanaman
  • Waspada Banjir Rob! Gerhana Matahari Akan Terjadi 29 Maret 2025
  • Pendaftar Domain .id Capai 1,2 Juta Sepanjang 2024
  • PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting
AI dan Agama Chatbot Religius Etika AI Kecerdasan Buatan Spiritualitas Digital
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKH Miftachul Akhyar Desak Gus Yahya Mundur dari PBNU
Next Article MUI Serukan Evaluasi Pajak Agar Lebih Berkeadilan

Informasi lainnya

Hari Konservasi Dunia, Saatnya Menjaga Bumi

28 Juli 2026

Piala Dunia 2026 Jadi Arena Persaingan AI Global

14 Juni 2026

Pose Jari V Saat Selfie Disebut Simpan Risiko Siber

9 Juni 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Tembok Hijau Tiongkok Ubah Gurun Jadi Penyerap Karbon

3 Mei 2026

AI Ciptakan Konsensus Palsu di Ruang Digital

25 April 2026
Paling Sering Dibaca

Kosakata Hari yang Jarang Diketahui Masyarakat

Daily Tips Udex Mundzir

Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”

Perspektif Lina Marlina

AISNESIA Luncurkan Virtual Buoy untuk Efisiensi Navigasi Maritim

Techno Nugroho

Podcast vs YouTube: Rebutan Atensi Gen Z

Refleksi Alfi Salamah

Sabar dan Doa: Kunci Mengubah Hidup Menjadi Lebih Baik

Islami Assyifa
Berita Lainnya
Daerah
Alfi Salamah19 Juli 2026

Kemarau Ubah Situ Gede Tasikmalaya Jadi Hamparan Rumput Hijau

URI: Lantik Dulu, Masalah Kemudian

Pulau Natal Pernah Luput dari Republik Indonesia, Kini Milik Australia

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi