Jakarta – Riuh percakapan di media sosial kini tak selalu mencerminkan suara manusia. Di balik layar, kecerdasan buatan diam-diam menyusun “keramaian” yang tampak nyata, seolah publik sepakat pada satu pandangan tertentu.
Fenomena ini menjadi sorotan para peneliti lintas negara yang memperingatkan bahwa persona berbasis AI dapat memainkan peran besar dalam membentuk opini publik. Dalam kajian terbaru yang dimuat di jurnal Science, mereka mengungkap bagaimana sistem ini mampu meniru perilaku manusia secara daring dan masuk ke berbagai komunitas digital.
Persona AI tidak sekadar menyebar pesan, tetapi juga aktif berdiskusi, merespons komentar, dan membangun narasi yang konsisten. Dengan dukungan model bahasa besar dan sistem multi-agen, satu operator bahkan bisa mengendalikan ribuan “identitas digital” sekaligus.
“Kita tidak seharusnya membayangkan bahwa masyarakat akan tetap tidak berubah seiring munculnya sistem-sistem ini. Kemungkinan hasilnya adalah menurunnya kepercayaan terhadap suara-suara yang tidak dikenal di media sosial, yang dapat memberdayakan para selebritas dan mempersulit pesan-pesan dari akar rumput untuk menembusnya,” ujar Kevin Leyton-Brown, ilmuwan komputer dari University of British Columbia.
Kemampuan AI untuk menyesuaikan bahasa, memahami konteks lokal, dan bereaksi secara real-time membuatnya sulit dibedakan dari pengguna manusia. Bahkan, sistem ini mampu menguji berbagai pendekatan komunikasi dalam skala besar untuk menemukan pesan paling persuasif.
Akibatnya, apa yang terlihat sebagai kesepakatan publik sebenarnya bisa jadi hasil rekayasa algoritma. Konsensus semu ini berpotensi mengarahkan opini masyarakat, terutama dalam isu politik dan momentum penting seperti pemilihan umum.
Tanda-tanda ancaman ini sudah mulai terlihat melalui maraknya deepfake dan situs berita palsu berbasis AI. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa teknologi tersebut telah memengaruhi percakapan publik di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Selain memengaruhi opini saat ini, aktivitas jaringan AI juga diduga berdampak jangka panjang. Konten yang disebarkan secara masif dapat menjadi bahan pelatihan sistem AI berikutnya, sehingga membentuk pola informasi yang terus berulang dan bias.
Para ahli menilai, tantangan terbesar ke depan adalah mendeteksi serta mengendalikan kampanye pengaruh berbasis AI sebelum berkembang luas. Tanpa langkah antisipatif, demokrasi digital berisiko terdistorsi oleh suara-suara buatan yang sulit dikenali.
Pada akhirnya, masyarakat dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah yang kita lihat di ruang digital benar-benar cerminan opini publik, atau sekadar ilusi yang dibangun mesin?
