Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

Danny Setiawan Wafat, Jejak Panjang Birokrat Jabar

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Jumat, 25 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

Pakar IPB menyebut polusi cahaya dan kerusakan habitat mempercepat penurunan populasi kunang-kunang di Indonesia.
Alfi SalamahAlfi Salamah6 Juli 2026 Lingkungan
Kunang-Kunang
Ilustrasi Kunag-Kunang dibawah lampu LED
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jakarta – Cahaya lampu yang menerangi malam ternyata menyisakan sisi gelap bagi alam. Kunang-kunang yang dahulu mudah dijumpai di pematang sawah, tepi sungai, hingga pekarangan rumah kini semakin jarang terlihat. Di balik hilangnya cahaya alami itu, pakar IPB University menyoroti polusi cahaya dari lampu LED sebagai salah satu penyebab utama yang mengganggu kelangsungan hidup serangga bercahaya tersebut.

Fenomena berkurangnya populasi kunang-kunang bukan sekadar nostalgia generasi yang tumbuh di pedesaan. Dosen dan peneliti entomologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, menjelaskan bahwa penurunan populasi kunang-kunang merupakan indikator memburuknya kualitas lingkungan. Selain kerusakan habitat, polusi cahaya akibat penggunaan lampu LED yang terlalu terang membuat proses reproduksi serangga itu terganggu.

Kunang-kunang termasuk bioindikator, yakni organisme yang keberadaan maupun ketidakhadirannya mencerminkan kondisi kesehatan suatu ekosistem. Karena sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, populasinya menjadi salah satu penanda awal ketika kualitas alam mengalami penurunan.

“Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” ujar Upik dalam keterangan IPB University di Bogor 20 Juni2026 lalu. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global.

Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kategori terancam. Bahkan, beberapa spesies yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand kini telah berstatus rentan.

Baca Juga:
  • Normalisasi Sungai di Bontang Atasi Banjir Rob,Pemprov Kaltim-TNI
  • DKI Amankan 6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Hari Ini
  • El Nino “Godzilla” Mengintai Kemarau 2026
  • Gubernur Elisa Sebut Warga Tolak Penutupan Tambang Nikel Gag

Di Indonesia, berbagai kajian entomologi juga mencatat penurunan populasi kunang-kunang, terutama di wilayah perkotaan. Serangga ini sangat bergantung pada lingkungan yang lembap, minim pencemaran, dan memiliki tingkat kegelapan alami untuk berkembang biak.

Menurut Upik, penyebab terbesar berkurangnya populasi kunang-kunang adalah hilangnya habitat. Alih fungsi lahan hijau, rawa, persawahan, dan tepian sungai menjadi kawasan permukiman maupun industri menghilangkan tempat hidup larva yang memerlukan tanah lembap sebagai media tumbuh.

Selain itu, penggunaan lampu LED berintensitas tinggi pada malam hari memunculkan polusi cahaya yang mengganggu komunikasi alami antar kunang-kunang. Serangga jantan mengandalkan kilatan cahaya dari betina sebagai sinyal untuk kawin. Ketika lingkungan dipenuhi cahaya buatan, sinyal tersebut menjadi sulit dikenali sehingga peluang reproduksi menurun drastis.

Faktor lain yang turut mempercepat penurunan populasi adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, hingga laju urbanisasi yang terus meluas. Kombinasi berbagai tekanan tersebut membuat habitat kunang-kunang semakin sempit dari tahun ke tahun.

Meski demikian, kunang-kunang masih dapat dijumpai di sejumlah kawasan yang kondisi lingkungannya relatif terjaga. Habitat seperti hutan tropis yang lembap, kawasan mangrove, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, dan tepian sungai yang masih alami menjadi tempat yang masih mendukung kehidupan serangga tersebut.

Artikel Terkait:
  • Buka Puasa Lintas Iman Dorong Kepedulian Lingkungan
  • Plt Bupati Sidoarjo Tinjau Penanganan Banjir
  • BNPB Minta Evaluasi Sistem Peringatan Tsunami Daerah
  • Kebun Mini Super Kilat di Rumah

“Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” katanya. Ia juga mengajak masyarakat mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, tidak menutup seluruh pekarangan dengan semen, memanfaatkan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air.

Fenomena hilangnya kunang-kunang menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu tampak dalam bentuk bencana besar. Berkurangnya satu jenis serangga justru dapat menjadi sinyal awal perubahan ekosistem yang lebih luas. Saat bioindikator mulai menghilang, kualitas tanah, air, dan keanekaragaman hayati ikut berada dalam tekanan.

Bagi masyarakat, menjaga keberadaan kunang-kunang bukan sekadar mempertahankan keindahan malam yang pernah menjadi bagian dari masa kecil banyak orang. Upaya tersebut juga berarti menjaga keseimbangan ekosistem agar tetap mampu menopang kehidupan berbagai spesies, termasuk manusia.

Jangan Lewatkan:
  • Ribuan Warga Riau Ikuti Karhutla Fun Run 2025
  • Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis
  • Seno Aji Kecam Penambang Nakal di Kaltim
  • Sejumlah Perusahaan Dituding Rusak KHG dan Picu Banjir

Apabila kerusakan habitat dan polusi cahaya terus meningkat tanpa pengendalian, generasi mendatang berisiko hanya mengenal kunang-kunang melalui buku pelajaran, museum, atau layar digital. Karena itu, langkah sederhana di lingkungan sekitar dapat menjadi bagian penting dalam menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap hadir di malam Nusantara.

Kunang-kunang Lampu LED Lingkungan Polusi Cahaya Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleJPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah
Next Article Mau Berhasil ? Inilah Morning Routine Orang Sukses

Informasi lainnya

Sejauh Apa Abu Vulkanik Bisa Terbang?

11 September 2026

Ketika Langit Kelabu Mengubah Kehidupan

11 September 2026

Anak Krakatau, Pengingat dari Negeri Cincin Api

9 September 2026

Bekas Karhutla Berau Ditanami Sawit, Polisi Selidiki

8 September 2026

Bakar Batu Papua, Lebih dari Sekadar Memasak

2 September 2026

Jakarta Darurat Sampah, Pencegahan Jadi Kunci

30 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Dampak Psikologis Nama Umum di Indonesia

Daily Tips Assyifa

Menaklukkan Gunung Cikuray, Atap Tertinggi di Garut

Travel Alfi Salamah

Keistimewaan Buah Strawberry, Inilah Manfaat dan Fakta Menariknya

Food Alfi Salamah

THR 2025 Cair Lebih Cepat, Siapkan Rencana Anda!

Bisnis Assyifa

8 Manfaat Berhenti Konsumsi Gula bagi Kesehatan

Daily Tips Assyifa
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi