Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Hari Kunjung Perpustakaan, Masihkah Siswa Gemar Membaca?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 16 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Jangan Lempar Beban ke Rakyat

Jika rakyat yang harus mengawasi, lalu apa kerja lembaga negara yang dibiayai anggaran triliunan rupiah?
Udex MundzirUdex Mundzir2 Agustus 2025 Editorial
Kepercayaan Publik Terhadap Penegakan Hukum
Ilustrasi Kepercayaan Publik Terhadap Penegakan Hukum.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Rasa muak makin mengeras di tengah masyarakat ketika janji-janji antikorupsi justru dibalikkan arah beban moralnya kepada publik. Belum lama ini, Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat untuk aktif melaporkan pejabat korup di wilayah masing-masing. Niatnya bisa jadi baik. Tapi reaksi warganet justru didominasi sinisme. Bukan tanpa alasan.

Di ruang komentar media sosial, respons spontan masyarakat mengungkap sesuatu yang lebih dalam: krisis kepercayaan. Rakyat sudah terlalu sering melihat bagaimana pelapor malah dikriminalisasi, diintimidasi, bahkan “menghilang” secara sosial atau literal. Beberapa komentar viral menyebutkan, “Kemarin ada yang lapor, malah pelapornya yang dipecat,” atau “Setelah lapor, eksekusinya apa? Bisa-bisa kita yang ilang.”

Pernyataan-pernyataan ini memperlihatkan luka kolektif akibat kegagalan sistem perlindungan pelapor. Indonesia memang memiliki regulasi perlindungan whistleblower, tapi dalam praktiknya, sangat jarang diterapkan dengan integritas. Contoh paling nyata adalah kasus pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang membongkar korupsi atasan, lalu malah dibekukan posisinya. Dalam sistem demokrasi, ini adalah kegagalan etik sekaligus administratif.

Di sisi lain, permintaan kepada rakyat untuk melaporkan korupsi juga menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah negara telah menyerah terhadap fungsi pengawasan internal dan penegakan hukum? Dalam struktur birokrasi kita, pengawasan seharusnya dilakukan oleh Inspektorat, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan lembaga audit internal lainnya. Semua lembaga ini dibiayai dari APBN—uang rakyat—dengan alokasi anggaran yang tidak kecil.

Menurut data APBN 2025, anggaran KPK mencapai lebih dari Rp1,3 triliun, sementara BPK menyentuh Rp4,7 triliun. Belum termasuk anggaran untuk kejaksaan dan kepolisian yang masing-masing di atas Rp15 triliun. Lalu, di tengah belanja negara sebesar itu, kenapa beban justru kembali dibebankan kepada rakyat sipil?

Baca Juga:
  • Jejak Warisan dan Peluang di Desa Krampon
  • Warisan Masalah Era Jokowi
  • Prabowo Lebih Pro pada Koruptor
  • Integritas di Balik Gelar Akademik

Logika ini memperlihatkan adanya pembelokan tanggung jawab. Dalam sistem tata kelola negara yang baik, rakyat berhak untuk tahu dan turut mengawasi, tetapi bukan menjadi garda terdepan dalam pengungkapan. Itu bukan tugas rakyat. Itu tugas negara.

Kita tak bisa menutup mata bahwa permintaan kepada rakyat untuk melaporkan korupsi juga menyimpan paradoks. Di waktu yang sama ketika seruan itu dilontarkan, banyak pejabat tinggi yang justru belum tersentuh proses hukum. Dalam kabinet saat ini, masih ada menteri aktif yang terseret kasus korupsi namun belum jelas proses lanjutannya. Beberapa di antaranya bahkan sudah diperiksa, namun status hukumnya tidak pernah diumumkan ke publik.

Fenomena ini memunculkan persepsi bahwa hukum di Indonesia masih tumpul ke atas. Rakyat tentu paham. Dan karena itu, mereka enggan untuk menjadi “pahlawan laporan.” Sebab sejarah menunjukkan, banyak yang menjadi pelapor justru berakhir sebagai korban. Mereka dituntut balik dengan UU ITE, dipaksa mundur dari jabatannya, atau dikucilkan dari lingkungan sosial dan profesional.

Sikap netizen dalam komentar-komentar viral bukanlah sekadar sindiran. Itu cermin dari trauma struktural. Rakyat bukan tidak mau terlibat dalam pemberantasan korupsi. Tapi mereka muak ketika diberi tugas tanpa perlindungan. Disuruh melapor, tapi tidak diberi tempat aman. Diminta berani, tapi tidak diberi jaminan hukum.

Sebagai presiden terpilih, Prabowo perlu memahami bahwa membangun kepercayaan tidak cukup dengan ajakan. Ia harus membuktikan bahwa negara benar-benar serius dalam melindungi integritas hukum. Langkah konkret pertama adalah menjamin perlindungan total bagi pelapor. Ini berarti, bukan hanya sekadar tidak dituntut balik, tetapi juga dilindungi identitas dan kehidupannya.

Artikel Terkait:
  • Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Siapa Masuk Penjara?
  • Provokator di Balik Api Jalanan
  • Pilkada Jakarta: Gugat Aja Dulu
  • Pilwalkot Samarinda 2024: Formalitas Saja

Langkah berikutnya, lakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan internal pemerintah. Apakah Inspektorat Jenderal di tiap kementerian benar-benar bekerja? Apakah sistem audit internal bisa diakses publik? Apakah KPK masih independen, atau justru sudah dikooptasi oleh kekuasaan?

Publik menilai bukan dari pidato, tapi dari proses hukum yang adil dan transparan. Rakyat akan percaya jika pelanggaran oleh pejabat—tanpa pandang jabatan dan koneksi politik—diproses dengan tegas dan terbuka. Jika seorang menteri korup ditangkap, rakyat akan melihat bahwa hukum bekerja. Jika seorang gubernur bersalah dipenjara tanpa kompromi, rakyat akan kembali berharap.

Pemberantasan korupsi tidak bisa diserahkan kepada rakyat yang tanpa kekuasaan. Tugas rakyat bukan menegakkan hukum, tapi memastikan bahwa yang berkuasa melakukannya. Ketika peran dibalik, maka fungsi negara menjadi kabur.

Jangan Lewatkan:
  • Stop Putar Lagu atau Musik Lokal Indonesia
  • Pers Dibelenggu, Demokrasi Tercekik
  • IKN: Jawaban atas Pesimisme
  • Tarif Ojol Naik: Siapa Diuntungkan?

Sebagai pemimpin baru, Prabowo perlu menetapkan standar baru. Jangan mulai dengan melempar beban. Mulailah dengan menanggung tanggung jawab. Karena hanya dengan memberi contoh dari atas, kepercayaan dari bawah akan tumbuh.

Kepercayaan Publik Korupsi pejabat Penegakan Hukum Politik Indonesia Whistleblower Protection
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRUU Haji Dinilai Bermasalah, Amphuri Tolak Skema Umrah Mandiri
Next Article Tarif Transportasi Umum Jakarta Hanya Rp80 pada 17 Agustus

Informasi lainnya

Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla di 9 Polda

23 Agustus 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Perselisihan Jabatan dan Integritas Pilkada

Editorial Udex Mundzir

Ujian Jabatan

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Cara Mengetahui Sifat Asli Manusia

Perspektif Udex Mundzir

Eksploitasi Konsumen: Kuota Hangus, Manipulasi Digital Terstruktur

Editorial Udex Mundzir

Pulau Sumba, Surga Eksotis Baru

Travel Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Harga Plastik Naik Tajam, Pedagang Kopi Tertekan

5 Amalan Utama Ketika Gerhana Bulan Terjadi

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi