Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Benarkah Mikroplastik Sudah Masuk ke Tubuh Manusia? Ini Fakta Ilmiahnya

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 14 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

ASEAN di Tengah Preseden Maduro

Ketika kedaulatan diinjak negara kuat, negara menengah diuji: bersuara atau menjadi penonton.
Udex MundzirUdex Mundzir5 Januari 2026 Editorial
ASEAN di Tengah Preseden Maduro
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan elit Amerika Serikat bukan peristiwa jauh yang hanya layak diamati. Bagi Indonesia dan ASEAN, ini adalah peringatan langsung tentang masa depan tatanan global.

Apa yang terjadi di Caracas menyentuh prinsip yang selama ini menjadi pegangan Asia Tenggara. Prinsip non-intervensi. Prinsip kedaulatan. Prinsip penyelesaian damai.

Jika prinsip itu runtuh di Amerika Latin, maka ia juga rapuh di kawasan lain. Tidak ada pagar geografis yang bisa menjamin kekebalan. Amerika Serikat menyebut aksinya sebagai penegakan hukum. Dunia melihatnya sebagai operasi militer lintas batas. Di titik inilah masalah dimulai.

Maduro bukan buronan biasa. Ia adalah kepala negara berdaulat. Penangkapannya tanpa mandat internasional menciptakan preseden serius. Bagi negara-negara besar, preseden bisa menjadi alat. Bagi negara menengah dan berkembang, preseden adalah ancaman.

Indonesia memahami ini dengan sangat baik. Sejarah kolonial mengajarkan bahwa dalih moral sering digunakan untuk membenarkan dominasi.

ASEAN lahir dari trauma yang sama. Campur tangan asing. Perang proksi. Destabilisasi politik. Karena itu, ASEAN sejak awal menempatkan non-intervensi sebagai fondasi. Bukan karena takut, tetapi karena sadar risiko.

Kasus Maduro mengguncang fondasi itu. Dunia seolah mengatakan bahwa prinsip hanya berlaku jika disetujui negara kuat. Jika hari ini kepala negara Amerika Latin bisa ditangkap sepihak, besok siapa? Pemimpin Afrika? Timur Tengah? Asia?

Pertanyaan ini relevan bagi Indonesia. Negara besar dengan posisi strategis. Kaya sumber daya. Aktif secara diplomatik. Indonesia bukan negara kecil yang bisa bersembunyi. Tapi juga bukan negara adidaya yang bisa memaksakan kehendak.

Posisi ini membuat Indonesia harus cermat. Dunia multipolar tidak selalu lebih adil. Ia sering lebih liar.

Baca Juga:
  • Ilmu yang Terasing di Negeri Sendiri
  • Buruh Sejahtera, Pengusaha Tertekan
  • Bahlil Memang Tidak Punya Urat Malu
  • Zakat Ternoda, Amanah Diperdagangkan

ASEAN pun berada di persimpangan. Di satu sisi, kawasan ini menghindari konflik terbuka. Di sisi lain, tekanan geopolitik meningkat. Laut China Selatan, konflik Myanmar, rivalitas AS–China. Semua sudah cukup membebani.

Kasus Venezuela menambah satu lapisan ketidakpastian. Ia menunjukkan bahwa hukum internasional bisa dilewati jika dianggap mengganggu kepentingan.

Bagi ASEAN, ini sinyal bahaya. Ketergantungan pada stabilitas global tidak bisa lagi dianggap aman. Selama ini, ASEAN bertahan dengan konsensus dan kehati-hatian. Strategi ini efektif dalam menjaga perdamaian internal.

Namun dunia sedang berubah. Kekuatan militer kembali menjadi bahasa utama. Diplomasi sering tertinggal.

Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN tidak bisa pasif. Diam berarti membiarkan preseden berkembang. Indonesia memiliki modal moral. Politik luar negeri bebas aktif. Sejarah kepemimpinan di Gerakan Non-Blok.

Modal ini harus digunakan. Bukan dengan konfrontasi, tetapi dengan konsistensi prinsip.
Indonesia perlu mendorong ASEAN bersuara kolektif. Tidak menyerang siapa pun. Tetapi menegaskan batas.

Bahwa penangkapan kepala negara tanpa mandat internasional tidak bisa dinormalisasi. Bahwa hukum internasional bukan alat selektif.

Jika ASEAN gagal bersuara, pesan yang muncul jelas. Kawasan ini hanya mengikuti arus kekuatan. Itu berbahaya. Bukan hanya bagi ASEAN, tetapi bagi stabilitas global.

Artikel Terkait:
  • Tabrani dan Jejak Madura untuk Bangsa
  • Sekolah Jam 6, Jam Malam Jam 9
  • Jurnalisme di Bawah Bayang Algoritma
  • Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Siapa Masuk Penjara?

Negara-negara menengah adalah penyangga sistem internasional. Jika mereka diam, ekstremisme kekuatan akan menang.

Kasus Maduro juga mengajarkan satu hal penting. Tuduhan kriminal bisa menjadi senjata politik. Hari ini narkotika dan terorisme. Besok bisa HAM, lingkungan, atau demokrasi.Isu-isu ini penting. Tetapi tanpa mekanisme kolektif, ia bisa disalahgunakan.

Indonesia berkepentingan menjaga agar penegakan hukum internasional tetap melalui jalur multilateral. Bukan operasi sepihak.

Peran PBB memang melemah. Tetapi meninggalkannya bukan solusi. Justru reformasi harus diperjuangkan. ASEAN bisa menjadi jembatan. Antara Barat dan Selatan Global. Antara kekuatan dan hukum.

Langkah konkret diperlukan. Pernyataan bersama. Diplomasi aktif. Penguatan posisi di forum global. Ini bukan soal membela Maduro. Ini soal membela aturan. Indonesia tidak harus memilih blok. Tetapi harus memilih prinsip.

Jika prinsip dikorbankan demi kenyamanan jangka pendek, risikonya jangka panjang. Dunia sedang bergerak menuju era di mana “siapa kuat dia benar” kembali relevan. Ini kemunduran.

ASEAN selama ini adalah contoh bahwa stabilitas bisa dijaga tanpa dominasi. Contoh ini perlu dipertahankan. Kasus Venezuela harus menjadi momentum refleksi. Bahwa tatanan global tidak bisa diserahkan pada satu kekuatan.

Jangan Lewatkan:
  • Stop Putar Lagu atau Musik Lokal Indonesia
  • Menyingkap Tabir di Balik ‘Penyalahgunaan Wewenang’
  • Keadilan Dibelokkan oleh Kekuasaan
  • Bayang-Bayang Dwifungsi

Indonesia dan ASEAN harus bersiap. Bukan dengan militerisasi. Tetapi dengan kejelasan sikap. Karena dalam dunia yang semakin keras, ketegasan prinsip adalah satu-satunya perlindungan. Jika ASEAN hanya menjadi penonton, maka cepat atau lambat ia akan menjadi sasaran.

Penangkapan Presiden Venezuela membuka preseden berbahaya bagi dunia. Bagi Indonesia dan ASEAN, ini adalah ujian keberanian untuk membela hukum, kedaulatan, dan tatanan global yang adil.

Geopolitik Global Hukum Internasional Indonesia ASEAN Kedaulatan Negara Non-Intervensi
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleHAB ke-80 Kemenag Digelar Sederhana, Dana Dialihkan
Next Article Gunung Andong, Primadona Pendaki Pemula

Informasi lainnya

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026

Sekolah Bukan Mesin Hafalan

13 Mei 2026

Gaji Dokter Tak Boleh Tertunda

12 Mei 2026

Dosen: Akademisi atau Aparatur?

5 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Menunda Panggilan Haji: Benarkah Kehendak atau Keragu-raguan

Islami Alfi Salamah

Jenis-Jenis Bunga, Mengungkap Keindahan dan Pesan di Baliknya

Opini Alfi Salamah

Sahabat Kecil Rasulullah

Islami Alfi Salamah

Jangankan Membuktikan Ijazah Asli?

Opini Udex Mundzir

5 Kota Dingin di Jawa Timur yang Cocok untuk Liburan

Travel Alfi Salamah
Berita Lainnya
Hukum
Ericka5 Agustus 2025

Silfester Matutina Dieksekusi Terkait Fitnah Jusuf Kalla

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Pelayanan Terbaik Arab Saudi untuk Jamaah Haji Indonesia

Mengenang Rachmat Gobel, Putra Bangsa yang Mendedikasikan Hidup bagi Industri dan Negeri

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi