Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

Indonesia Jadi Tuan Rumah Forum Imam Dunia 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 28 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Lebih Berat dari Zina, Inilah Beberapa Larangan Keras Berghibah!

Adakah seseorang di antara kamu sekalian yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang
Alfi SalamahAlfi Salamah13 Maret 2024 Islami
Ghibah
Ilustrasi Ghibah (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Ghibah bukan lagi kata yang asing terdengar di telinga kita bukan? Kata ini kerap kali merujuk pada aktivitas bergosip atau bergunjing. Lantas apa sih sebenarnya arti ghibah itu?

Dalam bahasa Arab, ghibah merujuk pada membicarakan keburukan atau celaan seseorang, khususnya ketika percakapan terjadi tanpa kehadiran subjek yang dibicarakan.

Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ghibah artinya membicarakan keburukan (keaiban) orang lain; bergunjing Gibah sendiri disebut dapat terjadi secara lisan, tulisan, atau bahkan hanya dengan bahasa tubuh.

Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya: ‘Tahukah kamu, apakah gibah itu?’. Para sahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ‘Gibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.’

Baca Juga:
  • Menjaga Amanah
  • 10 Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan
  • Ilmu dan Inovasi dalam Peradaban
  • Madinah Menjadi Tempat Percetakan Alquran Terbesar di Dunia

Seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?’. Beliau berkata, ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.’.

Secara lisan, gibah terjadi saat sekelompok orang membicarakan keburukan orang lain yang tidak ada di sana. Sementara dalam bentuk tulisan, gibah bisa berbentuk surat atau bentuk publikasi apa pun dalam berbagai medium.

Hukum ghibah dalam Islam

Dari sana, sudah jelas bahwa Islam melarang keras kebiasaan gibah. Tak main-main, gibah bahkan tergolong sebagai dosa besar.

Larangan ini juga tersemat dalam ayat suci Al-Qur’an surat Al Hujurat ayat 12.

-يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬ -١٢

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sekalian bergibah( menggunjing) satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu sekalian yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.”

Artikel Terkait:
  • Adab dan Sunnah Menyambut Ibadah Qurban
  • Bulu Kucing Rontok, Najis atau Tidak?
  • Menjaga Lisan
  • Doa Awal Ramadhan: Sambut Bulan Suci dengan Penuh Berkah

Kutipan ayat Al-Qur’an ini mengisyarakatkan kesamaan dosa gibah dengan memakan daging bangkai saudara sendiri.

Lebih berat daripada zina

Mengutip NU Online, diriwayatkan bahwa pada zaman Rasulullah SAW, apabila ada orang yang bergibah, maka hukumannya akan langsung diperlihatkan. Misalnya saja, dua wanita yang Rasulullah perintahkan untuk memuntahkan darah kental dari mulutnya setelah menggunjing saudaranya.

Pada zaman itu, gibah bahkan lebih berat daripada zina. Hal ini juga tercantum dalam salah satu hadis.

الْغِيبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا . قِيلَ: وَكَيْفَ؟ قَالَ: الرَّجُلُ يَزْنِي ثُمَّ يَتُوبُ، فَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيبَةِ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبُهُ

“Gibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’. Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun, pelaku gibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang digibahnya.” (HR At-Thabrani).

Jangan Lewatkan:
  • Menggapai Suci Haji: Panduan Menyeluruh Lahir dan Batin
  • Etika Menemukan Barang di Jalan
  • 5 Tips Efektif Mengatur Waktu Selama Ramadhan
  • Sunnah Sunnah Sholat Ied di Hari Raya

Dalam Islam, ghibah ternilai sebagai tindakan yang sangat tercela. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tegas menekankan pentingnya menjauhi perbuatan ini dalam banyak hadisnya. Menggunjing tidak hanya merusak hubungan antar sesama manusia, tetapi juga menimbulkan kerusakan dalam kehidupan sosial dan spiritual.

Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita harus memperhatikan setiap perkataan dan tindakan kita, menjaga lidah agar tidak terjatuh dalam perbuatan yang menyakitkan hati orang lain serta membangun budaya saling menghormati dan menyayangi sesama, sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT.

Ghibah Nabi Muhammad SAW Ramadhan 1445 H
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBisakah Bertafakur dengan Berjalan Kaki? Ini Penjelasannya
Next Article Selimiye Peninggalan Emperium Usmaniyah menjadi Masjid Bersejarah di Turki

Informasi lainnya

Lupa Takbir Shalat Id, Sahkah Ibadahnya?

22 Maret 2026

Makna Idul Fitri

20 Maret 2026

Sunnah Sunnah Sholat Ied di Hari Raya

20 Maret 2026

Mengeluh Lapar dan Haus Saat Puasa, Ini Hukumnya

15 Maret 2026

Sahabat Kecil Rasulullah

13 Februari 2026

Senyum di Tengah Derita

12 Februari 2026
Paling Sering Dibaca

Harta Melimpah, Hati Tetap Zuhud

Islami Alfi Salamah

Polemik Privasi di Era Digital

Opini Udex Mundzir

Al‑Biruni: Penjelajah Ilmu Tanpa Batas

Profil Alfi Salamah

Nusaibah binti Ka’ab, Ikon Keberanian

Profil Alfi Salamah

Risma Nurrohmah, Empati yang Menjadi Strategi

Profil Adit Musthofa
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi