Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 6 Oktober 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”

Ketika rakyat hanya jadi latar pencitraan, dan pemimpinnya sibuk tampil di depan kamera.
Lina MarlinaLina Marlina13 April 2025 Perspektif
Rakyat Figuran dalam Pencitraan Politik
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Julukan “Bapak Aing” yang disematkan pada Kang Dedi Mulyadi telah melejit menjadi simbol populisme digital. Di balik tawa dan komentar lucu netizen, sesungguhnya ada ironi sosial yang dalam. Rakyat tidak benar-benar sedang dibantu. Mereka sedang digunakan. Dijadikan latar cerita dramatis. Dijadikan figuran dalam panggung besar seorang politisi yang sedang memoles citra.

Setiap konten yang viral itu tampak heroik di permukaan. Tapi narasinya nyaris sama: pemimpin muncul tiba-tiba, melihat rakyat yang “salah”, memberi teguran keras, lalu mengakhiri dengan bantuan uang, barang, atau sekadar pelukan. Semua dalam satu frame. Semua di depan kamera.

Terlalu sering, terlalu rapi, terlalu sesuai dengan algoritma. Sulit untuk percaya bahwa semua itu alami. Apalagi jika muncul secara rutin dan teratur di berbagai platform sosial media. Semuanya terlihat seperti bagian dari strategi komunikasi politik yang disengaja.

Di titik ini, kita patut bertanya: benarkah rakyat menyebutnya “Bapak Aing” karena cinta dan kedekatan? Ataukah sebutan itu dimunculkan secara sistematis oleh buzzer dan tim media untuk membentuk persepsi publik bahwa KDM adalah pemimpin sejati yang membumi?

Rakyat yang benar-benar membutuhkan pertolongan biasanya tidak ingin direkam saat sedang susah. Mereka tidak ingin dihujat, dinasihati keras, lalu disorot kamera. Apalagi dipermalukan di hadapan jutaan penonton demi konten yang mendulang simpati.Ini bukan empati. Ini eksploitasi visual.

Baca Juga:
  • Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan
  • UI Mesin Gelar Doktor Pejabat
  • Efisiensi atau Salah Kelola?
  • Makan Siang Gratis, Solusi Nutrisi?

Sungguh ironis jika seorang pemimpin merasa perlu marah-marah setiap hari hanya untuk menunjukkan ketegasan. Jika sistem pemerintahan bekerja dengan baik, maka semua pelanggaran bisa diselesaikan melalui mekanisme dan regulasi yang berlaku. Bukan dengan teguran dadakan yang viral.

Pemimpin yang baik tidak perlu hadir di setiap masalah kecil. Ia membangun sistem agar semua berjalan disiplin tanpa intervensi langsung terus-menerus. Negara tidak dikelola seperti acara reality show. Kepemimpinan bukan soal siapa yang paling sering muncul di layar.

Yang lebih berbahaya adalah efek psikologis yang ditimbulkan pada masyarakat. Mereka jadi terbiasa melihat pemimpin sebagai penyelamat tunggal. Segala hal diserahkan pada satu figur. Padahal dalam demokrasi, kekuasaan tidak boleh dikultuskan.

Fenomena ini juga menciptakan semacam ketergantungan rakyat pada sensasi. Rakyat jadi menanti momen viral berikutnya, berharap suatu hari disorot juga oleh kamera “penyelamat”. Bukan karena ingin dibantu, tapi karena merasa hanya lewat kontenlah bantuan itu datang.

Artikel Terkait:
  • Jenis-Jenis Bunga, Mengungkap Keindahan dan Pesan di Baliknya
  • Cuaca Panas? Inilah Tanaman yang Bisa Menyejukan Rumah
  • Ironi di Balik Program Bergizi
  • Alam dan Ego Pembangunan

Lebih buruk lagi, para penjilat di sekitar pemimpin semacam ini tidak akan pernah berani mengkritik. Mereka ikut terseret dalam pusaran konten. Mereka tahu semuanya adalah bagian dari strategi. Tapi selama mereka masih kebagian sorotan, mereka akan tetap ikut menyanyi di paduan suara pencitraan.

Ini bukan lagi soal KDM. Ini refleksi dari bagaimana rakyat perlahan diposisikan sebagai alat. Yang penting bukan lagi kesejahteraannya, tapi seberapa dramatis ceritanya di kamera. Mereka yang miskin, yang tua renta, yang bodoh, yang “nakal”, jadi karakter pendukung dalam skenario yang sudah ditulis.

Dan jika ini terus berlangsung, akan lahir generasi rakyat yang pasrah jadi objek. Mereka tidak lagi bersuara. Mereka hanya menunggu kapan mereka akan jadi tokoh konten berikutnya.Ingat, rakyat bukan figuran. Mereka punya martabat. Mereka berhak dihargai bukan karena bisa membuat pemimpin terlihat hebat, tapi karena mereka manusia yang sejajar.

Jangan Lewatkan:
  • Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?
  • Peta Jalan Pendidikan: Benang Kusut yang Perlu Diurai
  • Suka Membaca? Ini Tips Efektif untuk Menambah Pengetahuan
  • Ketika Kebenaran Harus Antre di Meja Korupsi

Jika hari ini banyak yang memuji “Bapak Aing”, bisa jadi karena belum ada ruang untuk bertanya: siapa sutradaranya? Siapa kameramennya? Dan siapa sebenarnya yang sedang dikibuli?

Bapak Aing Dedi Mulyadi Konten Politik Pencitraan Digital Rakyat dan Kepemimpinan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRK vs Lisa: Viral yang Disusun Rapi
Next Article Bela Negara atau Bela Penguasa?

Informasi lainnya

Syarat Tak Bisa Dicuci Kekuasaan

3 Oktober 2026

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

22 September 2026

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Kosakata Hari yang Jarang Diketahui Masyarakat

Daily Tips Udex Mundzir

Waktu Takbiran Idul Adha, Kapan Dimulai?

Islami Udex Mundzir

Tessa Wijaya, Wanita di Balik Kesuksesan Xendit

Profil Assyifa

Stop Putar Lagu atau Musik Lokal Indonesia

Editorial Udex Mundzir

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Politik
Udex Mundzir1 Oktober 2026

Jika Gibran Didiskualifikasi, Siapa Pengganti Wapres?

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Rahasia Daisugi, Teknik Bertani Pohon Tanpa Membabat Hutan

Hukum Barang Temuan dalam Islam

PANDI Perketat Aturan Sengketa Domain untuk Cegah Cybersquatting

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi