Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Rekening Botok Dibuka Lagi Usai Klarifikasi Polisi

Kwarnas Dorong Jutaan Jam Bakti Pramuka Tercatat Global

Aura Farming Viral, Mengapa Semua Ingin Terlihat Keren?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 27 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Rakyat Jabar Dijadikan Figuran “Bapak Aing”

Ketika rakyat hanya jadi latar pencitraan, dan pemimpinnya sibuk tampil di depan kamera.
Lina MarlinaLina Marlina13 April 2025 Perspektif
Rakyat Figuran dalam Pencitraan Politik
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Julukan “Bapak Aing” yang disematkan pada Kang Dedi Mulyadi telah melejit menjadi simbol populisme digital. Di balik tawa dan komentar lucu netizen, sesungguhnya ada ironi sosial yang dalam. Rakyat tidak benar-benar sedang dibantu. Mereka sedang digunakan. Dijadikan latar cerita dramatis. Dijadikan figuran dalam panggung besar seorang politisi yang sedang memoles citra.

Setiap konten yang viral itu tampak heroik di permukaan. Tapi narasinya nyaris sama: pemimpin muncul tiba-tiba, melihat rakyat yang “salah”, memberi teguran keras, lalu mengakhiri dengan bantuan uang, barang, atau sekadar pelukan. Semua dalam satu frame. Semua di depan kamera.

Terlalu sering, terlalu rapi, terlalu sesuai dengan algoritma. Sulit untuk percaya bahwa semua itu alami. Apalagi jika muncul secara rutin dan teratur di berbagai platform sosial media. Semuanya terlihat seperti bagian dari strategi komunikasi politik yang disengaja.

Di titik ini, kita patut bertanya: benarkah rakyat menyebutnya “Bapak Aing” karena cinta dan kedekatan? Ataukah sebutan itu dimunculkan secara sistematis oleh buzzer dan tim media untuk membentuk persepsi publik bahwa KDM adalah pemimpin sejati yang membumi?

Rakyat yang benar-benar membutuhkan pertolongan biasanya tidak ingin direkam saat sedang susah. Mereka tidak ingin dihujat, dinasihati keras, lalu disorot kamera. Apalagi dipermalukan di hadapan jutaan penonton demi konten yang mendulang simpati.Ini bukan empati. Ini eksploitasi visual.

Baca Juga:
  • TikTok & Konten Viral
  • Penyebab dan Dampak Kesombongan dalam Kehidupan Sehari-Hari
  • Bumi Tanpa Pohon, Krisis yang Tak Terlihat
  • Cuaca Panas? Inilah Tanaman yang Bisa Menyejukan Rumah

Sungguh ironis jika seorang pemimpin merasa perlu marah-marah setiap hari hanya untuk menunjukkan ketegasan. Jika sistem pemerintahan bekerja dengan baik, maka semua pelanggaran bisa diselesaikan melalui mekanisme dan regulasi yang berlaku. Bukan dengan teguran dadakan yang viral.

Pemimpin yang baik tidak perlu hadir di setiap masalah kecil. Ia membangun sistem agar semua berjalan disiplin tanpa intervensi langsung terus-menerus. Negara tidak dikelola seperti acara reality show. Kepemimpinan bukan soal siapa yang paling sering muncul di layar.

Yang lebih berbahaya adalah efek psikologis yang ditimbulkan pada masyarakat. Mereka jadi terbiasa melihat pemimpin sebagai penyelamat tunggal. Segala hal diserahkan pada satu figur. Padahal dalam demokrasi, kekuasaan tidak boleh dikultuskan.

Fenomena ini juga menciptakan semacam ketergantungan rakyat pada sensasi. Rakyat jadi menanti momen viral berikutnya, berharap suatu hari disorot juga oleh kamera “penyelamat”. Bukan karena ingin dibantu, tapi karena merasa hanya lewat kontenlah bantuan itu datang.

Artikel Terkait:
  • Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?
  • Mengapa Banyak Pikiran Bikin Lapar?
  • Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius
  • UI Mesin Gelar Doktor Pejabat

Lebih buruk lagi, para penjilat di sekitar pemimpin semacam ini tidak akan pernah berani mengkritik. Mereka ikut terseret dalam pusaran konten. Mereka tahu semuanya adalah bagian dari strategi. Tapi selama mereka masih kebagian sorotan, mereka akan tetap ikut menyanyi di paduan suara pencitraan.

Ini bukan lagi soal KDM. Ini refleksi dari bagaimana rakyat perlahan diposisikan sebagai alat. Yang penting bukan lagi kesejahteraannya, tapi seberapa dramatis ceritanya di kamera. Mereka yang miskin, yang tua renta, yang bodoh, yang “nakal”, jadi karakter pendukung dalam skenario yang sudah ditulis.

Dan jika ini terus berlangsung, akan lahir generasi rakyat yang pasrah jadi objek. Mereka tidak lagi bersuara. Mereka hanya menunggu kapan mereka akan jadi tokoh konten berikutnya.Ingat, rakyat bukan figuran. Mereka punya martabat. Mereka berhak dihargai bukan karena bisa membuat pemimpin terlihat hebat, tapi karena mereka manusia yang sejajar.

Jangan Lewatkan:
  • Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?
  • Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur
  • Jangankan Membuktikan Ijazah Asli?
  • Banyak Tapi Kurang

Jika hari ini banyak yang memuji “Bapak Aing”, bisa jadi karena belum ada ruang untuk bertanya: siapa sutradaranya? Siapa kameramennya? Dan siapa sebenarnya yang sedang dikibuli?

Bapak Aing Dedi Mulyadi Konten Politik Pencitraan Digital Rakyat dan Kepemimpinan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRK vs Lisa: Viral yang Disusun Rapi
Next Article Bela Negara atau Bela Penguasa?

Informasi lainnya

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Angin Segar bagi Narapidana

Editorial Udex Mundzir

Kerja Seru di Luar Rumah, Bukan Sekadar Gaya

Happy Alfi Salamah

Siapa Kenyang dari Proyek Makan Bergizi?

Editorial Udex Mundzir

Harun Ar Rasyid: Al Qur’an dan Kuam Muslimin Ibarat Ikan dengan Air

Profil Dexpert Corp

Menunda Panggilan Haji: Benarkah Kehendak atau Keragu-raguan

Islami Alfi Salamah
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Buku Anak Islami Murah Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi