Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Hari Kunjung Perpustakaan, Masihkah Siswa Gemar Membaca?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 15 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Alam dan Ego Pembangunan

Ketika ambisi manusia bertabrakan dengan hukum alam, siapa yang sesungguhnya harus menyesuaikan diri?
Udex MundzirUdex Mundzir26 Desember 2024 Perspektif
Dampak Deforestasi IKN terhadap Lingkungan.
Dampak Deforestasi IKN terhadap Lingkungan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Banjir besar melanda kawasan strategis Ibu Kota Nusantara (IKN), menghancurkan infrastruktur di rute Samboja-Sepaku. Jalanan terbelah dua, menyisakan tanda tanya besar tentang daya dukung lingkungan di kawasan yang dirancang menjadi simbol masa depan Indonesia. Fenomena ini bukan hanya soal cuaca ekstrem, tetapi juga cerminan dari ketidakseimbangan antara ambisi pembangunan dan realitas ekologi.

Sejak awal, pembangunan IKN telah menuai kontroversi. Pada satu sisi, proyek ini digadang-gadang sebagai solusi atas tekanan Jakarta yang semakin padat. Namun, di sisi lain, banjir yang terjadi hingga empat kali sepanjang tahun ini, menurut Greenpeace, mengindikasikan ketidakcocokan ekosistem Kalimantan dengan konsep urbanisasi masif. Lebih jauh, data Forest Watch Indonesia mencatat deforestasi masif, mencapai 18.000 hektare sejak 2018. Ini bukan hanya statistik, melainkan sinyal bahaya akan hilangnya daya dukung lingkungan yang berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem.

Dampak ini bukan sekadar bencana alam. Ketika hujan deras menghancurkan jalan, masyarakat lokal yang paling merasakan dampaknya. Infrastruktur rusak memutus akses, mempersulit kehidupan sehari-hari, sekaligus menciptakan ketidakpastian tentang keberlanjutan proyek. Ironisnya, di tengah kekacauan ini, pemerintah terus mempromosikan IKN sebagai “smart forest city,” meskipun tutupan hutan alami sudah diganti dengan hutan tanaman industri (HTI).

Pendekatan reforestasi yang dijalankan Otorita IKN untuk memulihkan kerusakan lingkungan belum cukup memberikan dampak nyata. Menurut Deputi Bidang Lingkungan Hidup OIKN, Myrna Safitri, program ini dirancang untuk merehabilitasi ekosistem hutan tropis. Namun, kritik dari banyak pihak, termasuk Greenpeace, menegaskan bahwa upaya ini tidak akan mengembalikan fungsi hutan alami yang telah hilang. Deforestasi terus mengikis habitat flora dan fauna, memperburuk erosi tanah, dan mengganggu siklus hidrologi.

Baca Juga:
  • Rp10 Ribu, Antara Anggaran dan Harapan
  • Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius
  • Polemik Privasi di Era Digital
  • Koruptor Dimanja, Rakyat Dihukum Pajak

Masalah ini juga tidak bisa dilepaskan dari fenomena perubahan iklim yang semakin nyata. NASA mencatat perubahan tutupan lahan yang signifikan di Kalimantan sejak dimulainya pembangunan IKN. Dampaknya, kawasan tersebut rentan terhadap bencana hidrologi seperti banjir dan longsor. Ketika rencana pembangunan gedung-gedung pemerintahan dan hunian ASN terus dikebut, kita perlu bertanya: apakah ambisi ini sebanding dengan risiko yang dihadapi?

Solusi jangka pendek seperti pembangunan drainase atau tanggul mungkin dapat meredam kerusakan sementara. Namun, solusi ini tidak menyentuh akar masalah. Pemerintah harus mengambil langkah radikal untuk meninjau ulang rencana induk IKN dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Kajian mendalam, sebagaimana disarankan Greenpeace, diperlukan untuk memastikan pembangunan ini tidak hanya memaksakan kehendak manusia atas alam, tetapi juga harmonis dengan ekosistem setempat.

Lebih dari itu, pemerintah perlu membangun komunikasi yang jujur dengan masyarakat. Transparansi dalam penyusunan kebijakan, termasuk partisipasi masyarakat lokal, adalah kunci untuk menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Pendidikan lingkungan juga harus menjadi prioritas agar semua pihak, termasuk generasi muda, memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Artikel Terkait:
  • Biru Fund dan Masa Depan Tambak
  • Jangan-Jangan Semua Kampus Seperti UI?
  • Haji Idi dan Situasi Simalakama di Pilkada Sampang
  • Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

Dunia telah melihat banyak contoh kegagalan proyek besar karena mengabaikan faktor lingkungan. Dari kota-kota yang tenggelam hingga padang gurun yang kehilangan kesuburannya, semua adalah pelajaran berharga bahwa alam selalu memiliki batas yang tidak bisa dilanggar. Indonesia harus belajar dari sejarah ini.

Kami percaya, pembangunan yang berhasil bukan hanya diukur dari gedung-gedung megah yang berdiri, tetapi dari keseimbangan antara kemajuan dan keberlanjutan. Saat ini, IKN berdiri di persimpangan yang genting. Pilihan kita hari ini akan menentukan apakah IKN akan menjadi simbol masa depan yang cerah atau bukti kegagalan dalam menghormati alam.

Jangan Lewatkan:
  • Kenali Calon Istrimu dengan 3 Cara Ini: Panduan Islami untuk Memilih Pasangan
  • Penyebab dan Dampak Kesombongan dalam Kehidupan Sehari-Hari
  • Kalau Taman Bisa Dibuka 24 Jam, Mengapa Masjid Tidak?
  • Vasektomi Bukan Jawaban Kemiskinan
Banjir Kalimantan Deforestasi IKN Ekosistem Rusak Pembangunan Berkelanjutan Perubahan Iklim
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleHasto Kristiyanto: Demi Demokrasi, Kami Tidak Akan Menyerah
Next Article Mahfud Wanti-Wanti Denda Damai Bisa Perparah Korupsi

Informasi lainnya

Mengapa Api Gambut Sulit Benar-Benar Padam?

11 September 2026

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Makanan Sehat untuk Sahur dan Berbuka Puasa

Food Assyifa

Serangan Fajar: Hari Tenang yang Tak Tenang

Editorial Udex Mundzir

Mengakhiri Bayang Jokowi

Editorial Udex Mundzir

Rasa Malu Perempuan: Mahkota Kehormatan dan Kemuliaan

Islami Lina Marlina

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Perspektif Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Susu Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

Temaram di Khalifa

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Alat Tulis Sekolah Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi