Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Usai Karhutla

Dating Tanpa Alkohol, Tren Baru Generasi Muda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Alam dan Ego Pembangunan

Ketika ambisi manusia bertabrakan dengan hukum alam, siapa yang sesungguhnya harus menyesuaikan diri?
Udex MundzirUdex Mundzir26 Desember 2024 Perspektif
Dampak Deforestasi IKN terhadap Lingkungan.
Dampak Deforestasi IKN terhadap Lingkungan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Banjir besar melanda kawasan strategis Ibu Kota Nusantara (IKN), menghancurkan infrastruktur di rute Samboja-Sepaku. Jalanan terbelah dua, menyisakan tanda tanya besar tentang daya dukung lingkungan di kawasan yang dirancang menjadi simbol masa depan Indonesia. Fenomena ini bukan hanya soal cuaca ekstrem, tetapi juga cerminan dari ketidakseimbangan antara ambisi pembangunan dan realitas ekologi.

Sejak awal, pembangunan IKN telah menuai kontroversi. Pada satu sisi, proyek ini digadang-gadang sebagai solusi atas tekanan Jakarta yang semakin padat. Namun, di sisi lain, banjir yang terjadi hingga empat kali sepanjang tahun ini, menurut Greenpeace, mengindikasikan ketidakcocokan ekosistem Kalimantan dengan konsep urbanisasi masif. Lebih jauh, data Forest Watch Indonesia mencatat deforestasi masif, mencapai 18.000 hektare sejak 2018. Ini bukan hanya statistik, melainkan sinyal bahaya akan hilangnya daya dukung lingkungan yang berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem.

Dampak ini bukan sekadar bencana alam. Ketika hujan deras menghancurkan jalan, masyarakat lokal yang paling merasakan dampaknya. Infrastruktur rusak memutus akses, mempersulit kehidupan sehari-hari, sekaligus menciptakan ketidakpastian tentang keberlanjutan proyek. Ironisnya, di tengah kekacauan ini, pemerintah terus mempromosikan IKN sebagai “smart forest city,” meskipun tutupan hutan alami sudah diganti dengan hutan tanaman industri (HTI).

Pendekatan reforestasi yang dijalankan Otorita IKN untuk memulihkan kerusakan lingkungan belum cukup memberikan dampak nyata. Menurut Deputi Bidang Lingkungan Hidup OIKN, Myrna Safitri, program ini dirancang untuk merehabilitasi ekosistem hutan tropis. Namun, kritik dari banyak pihak, termasuk Greenpeace, menegaskan bahwa upaya ini tidak akan mengembalikan fungsi hutan alami yang telah hilang. Deforestasi terus mengikis habitat flora dan fauna, memperburuk erosi tanah, dan mengganggu siklus hidrologi.

Baca Juga:
  • Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan
  • Membangun Keterampilan Sosial untuk Mengurangi Insecure
  • Ijazah Jokowi, Ada Atau Tidak?
  • Mantan Presiden Bikin Gaduh

Masalah ini juga tidak bisa dilepaskan dari fenomena perubahan iklim yang semakin nyata. NASA mencatat perubahan tutupan lahan yang signifikan di Kalimantan sejak dimulainya pembangunan IKN. Dampaknya, kawasan tersebut rentan terhadap bencana hidrologi seperti banjir dan longsor. Ketika rencana pembangunan gedung-gedung pemerintahan dan hunian ASN terus dikebut, kita perlu bertanya: apakah ambisi ini sebanding dengan risiko yang dihadapi?

Solusi jangka pendek seperti pembangunan drainase atau tanggul mungkin dapat meredam kerusakan sementara. Namun, solusi ini tidak menyentuh akar masalah. Pemerintah harus mengambil langkah radikal untuk meninjau ulang rencana induk IKN dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Kajian mendalam, sebagaimana disarankan Greenpeace, diperlukan untuk memastikan pembangunan ini tidak hanya memaksakan kehendak manusia atas alam, tetapi juga harmonis dengan ekosistem setempat.

Lebih dari itu, pemerintah perlu membangun komunikasi yang jujur dengan masyarakat. Transparansi dalam penyusunan kebijakan, termasuk partisipasi masyarakat lokal, adalah kunci untuk menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Pendidikan lingkungan juga harus menjadi prioritas agar semua pihak, termasuk generasi muda, memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Artikel Terkait:
  • Bela Negara atau Bela Penguasa?
  • Rakyat Tidak Punya Hak untuk Mendapat Keadilan di Negara Hukum
  • Pilkada Kabupaten Tasikmalaya 2024, Hanya Legitimasi Kemenangan Petahana
  • Bela Negara Bukan Membungkam Kritik

Dunia telah melihat banyak contoh kegagalan proyek besar karena mengabaikan faktor lingkungan. Dari kota-kota yang tenggelam hingga padang gurun yang kehilangan kesuburannya, semua adalah pelajaran berharga bahwa alam selalu memiliki batas yang tidak bisa dilanggar. Indonesia harus belajar dari sejarah ini.

Kami percaya, pembangunan yang berhasil bukan hanya diukur dari gedung-gedung megah yang berdiri, tetapi dari keseimbangan antara kemajuan dan keberlanjutan. Saat ini, IKN berdiri di persimpangan yang genting. Pilihan kita hari ini akan menentukan apakah IKN akan menjadi simbol masa depan yang cerah atau bukti kegagalan dalam menghormati alam.

Jangan Lewatkan:
  • Dapur Rapi, Pikiran Tertata
  • Korupsi Dana Desa Tak Bisa Lagi Dimaafkan
  • Jangan-Jangan Semua Kampus Seperti UI?
  • Mengemudi Visi, Bukan Hanya Mobil Listrik
Banjir Kalimantan Deforestasi IKN Ekosistem Rusak Pembangunan Berkelanjutan Perubahan Iklim
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleHasto Kristiyanto: Demi Demokrasi, Kami Tidak Akan Menyerah
Next Article Mahfud Wanti-Wanti Denda Damai Bisa Perparah Korupsi

Informasi lainnya

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Memisah Pemilu, Memecah Stabilitas

Editorial Udex Mundzir

KTP dan Pajak yang Tak Sederhana

Editorial Udex Mundzir

Tom Lembong dan Kriminalisasi Kebijakan Publik

Editorial Udex Mundzir

Mengulang Jejak Sejarah: Tradisi Mengantar Jamaah Haji

Islami Udex Mundzir

Bisnis Militer: Jalan Menuju Politik?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi