Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengenal Suku Kajang, Penjaga Hutan Adat Bulukumba

Emas Antam Naik Rp46 Ribu, Tembus Rp2,71 Juta

100 Mahasiswa UBB Dapat Beasiswa Kelapa 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Minggu, 6 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Meski Telah Berpura-pura jadi Jakmania, Kang Emil Tetap Kalah

Udex MundzirUdex Mundzir9 Desember 2024 Perspektif
Ridwan Kamil-Suswono saat mendaftar ke KPU DKI Jakarta
Ridwan Kamil-Suswono saat mendaftar ke KPU DKI Jakarta (.lip6)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Kekalahan Ridwan Kamil-Suswono dalam Pilkada DKI Jakarta 2024 menyimpan pelajaran penting tentang kompleksitas politik ibu kota. Sebagai mantan gubernur Jawa Barat dengan popularitas nasional, Ridwan Kamil tampak percaya diri maju ke Jakarta. Namun, hasil akhir menunjukkan pasangan Pramono Anung-Rano Karno justru menguasai panggung dengan perolehan 50,07% suara, unggul satu putaran. Apa yang membuat Ridwan Kamil gagal di Jakarta?

Salah satu faktor utama adalah sentimen identitas yang tak bisa diabaikan. Jakarta, sebagai pusat politik dan ekonomi, memiliki karakter masyarakat yang unik. Meski dikenal secara nasional, Ridwan Kamil masih dianggap sebagai “tokoh Jawa Barat.” KTP Bandung dan fakta bahwa ia mencoblos di Jawa Barat pada hari pemungutan suara semakin menguatkan anggapan bahwa RK-Suswono adalah “pendatang” di Jakarta. Ini kontras dengan pasangan Pramono-Rano, di mana Rano Karno lekat dengan budaya Betawi melalui perannya di “Si Doel Anak Sekolahan.”

Langkah Ridwan Kamil untuk “mendekatkan diri” dengan Jakarta juga menjadi bumerang. Upayanya mengenakan seragam Persija dalam kampanye, misalnya, dianggap publik sebagai pencitraan yang berlebihan. Jakarta, dengan pemilih yang lebih kritis, melihat ini sebagai “pura-pura Jakarta” daripada usaha tulus untuk memahami masyarakat.

Pemilih Jakarta, dengan tingkat pendidikan dan akses informasi yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa mereka tidak mudah terbuai pencitraan kosong—berbeda dengan Jawa Barat yang kerap masih terjebak dalam politik transaksional dan pesona permukaan.

Baca Juga:
  • Biru Fund dan Masa Depan Tambak
  • Mengemudi Visi, Bukan Hanya Mobil Listrik
  • Urban Farming: Mandiri di Kota
  • Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

Faktor lain adalah strategi politik yang terlalu bergantung pada dukungan partai. Ridwan Kamil diusung oleh koalisi besar yang mencakup Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto.

Namun, banyak partai di dalam koalisi itu tidak mengerahkan kekuatan penuh. Sebagian “mematikan mesin partai,” sementara yang lain menjalankan kampanye setengah hati. Akibatnya, dukungan besar ini justru menjadi beban yang tak memberikan dampak signifikan di lapangan.

Selain itu, tingkat partisipasi pemilih yang rendah, hanya 57,52%, menjadi tantangan tambahan. Banyak warga Jakarta memilih golput, merasa kandidat yang ada tidak cukup mewakili aspirasi mereka. Hal ini menunjukkan apatisme politik yang semakin meningkat, terutama dibandingkan dengan Pilkada 2017 yang mencatat partisipasi hingga 77,8%.

Blunder besar lainnya adalah pernyataan kontroversial Ridwan Kamil yang bernada seksis. Di kota seperti Jakarta, dengan masyarakat yang lebih terdidik dan progresif, komentar-komentar seperti itu menjadi penghalang besar dalam meraih simpati. Ridwan Kamil tampak kurang memahami karakter masyarakat Jakarta, di mana ketelitian dalam komunikasi politik sangat penting.

Artikel Terkait:
  • Benturan Kekuasaan dan Kemanusiaan
  • Inilah Seputar Mental Illness yang Perlu Anda Ketahui!
  • KDM, Calon Diktator yang Terlihat Merakyat
  • Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

Sebaliknya, kemenangan Pramono Anung dan Rano Karno menunjukkan bahwa politik identitas masih kuat di Jakarta. Rano Karno sebagai figur budaya Betawi memberikan keunggulan emosional yang tidak dimiliki pasangan lain. Peran Pramono Anung, meski dianggap tokoh administratif tanpa daya tarik elektoral yang besar, juga berhasil dimaksimalkan oleh PDIP untuk menghadirkan narasi solid.

Namun, kemenangan ini juga tak lepas dari realitas politik Jakarta. Dengan pemilih yang kritis, pasangan yang mampu membangun koneksi emosional dan menawarkan identitas lokal yang kuat lebih cenderung menang. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa popularitas semata, seperti yang dimiliki Ridwan Kamil di Jawa Barat, tidak otomatis berbuah kemenangan di Jakarta.

Kekalahan Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta 2024 adalah cerminan bahwa strategi politik yang gagal memahami masyarakat lokal akan sulit berhasil. Politik metropolitan menuntut lebih dari sekadar popularitas nasional—ia memerlukan pendekatan yang relevan, komunikasi yang cermat, dan koneksi emosional yang tulus. Jakarta adalah arena yang kompleks, dan bagi Ridwan Kamil, ibu kota tetap menjadi kota yang tak tergapai.

Jangan Lewatkan:
  • Calon Kalah Kolom Kosong, Maju Lagi?
  • Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik
  • Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar
  • Membangun Keterampilan Sosial untuk Mengurangi Insecure
Pilkada Jakarta 2024 Politik identitas Ridwan Kamil kalah
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleSunarto: Tiga Strategi untuk Integritas Hakim yang Lebih Baik
Next Article Jika Nanti Status DKI Resmi Dicabut, Ini Dampaknya

Informasi lainnya

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

Outfit Kantor Simpel ala Capsule Wardrobe

Daily Tips Ericka

Cappadocia: Kota Bawah Tanah yang Membongkar Sejarah

Travel Alfi Salamah

Risma Nurrohmah, Empati yang Menjadi Strategi

Profil Adit Musthofa

Gunung Galunggung Tetap Tenang dan Menawan

Travel Alfi Salamah

Lindungi Uangmu, Cerdas Finansial dengan PeKA

Daily Tips Ericka
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi