Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

SPPG De La Tina Ciamis Terapkan Inovasi Pengelolaan Limbah Dapur MBG

Generasi Strawberry: Saat Gen Z Dinilai Rentan Tekanan

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 29 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar

Kadang yang paling menyakitkan bukan ketika dibohongi, tapi saat menyadari bahwa kita ikut menyebarkan kebohongan itu.
Udex MundzirUdex Mundzir11 April 2025 Perspektif
Refleksi Wartawan Indonesia dan Keberpihakan Prabowo
Ilustrasi Refleksi Wartawan Indonesia dan Keberpihakan Prabowo
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Saya menulis ini sebagai wartawan yang pernah percaya. Bukan karena naif, tapi karena pada satu titik saya ingin percaya bahwa pemimpin bisa berubah, bahwa negara bisa jadi lebih baik lewat suara rakyat, bukan warisan dinasti.

Sepuluh tahun lalu, kami—media, seniman, influencer, akademisi—berlomba menyuarakan “harapan.” Kami menertawakan mobil Esemka karena polos dan lokal, bukan karena palsu. Kami mengangkat narasi “anak tukang kayu” dan membandingkannya dengan elit lama yang dikira penuh dosa. Kami bantu bentuk pencitraan yang sekarang justru mencemari logika publik.

Kini, saya bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya telah kami bantu bangun?

Hari ini kita tahu, Esemka tidak pernah benar-benar ada. Kita tahu, kebijakan yang digadang-gadang sebagai pro-rakyat, dari kartu-kartu sakti sampai bansos digital, ternyata jadi ladang korupsi baru. Kita tahu bahwa di balik senyum dan baju putih polos itu, ada kekuasaan yang senang bermain abu-abu.

Kita menyaksikan runtuhnya KPK, revisi UU, pengangkatan para buzzer jadi komisaris, dan hukum yang bengkok ke arah istana.

Dan ketika suara rakyat mulai kritis, kekuasaan membalas dengan kedap. Tak ada ruang untuk oposisi, bahkan di media. Kritik disebut hoaks, oposisi dijadikan lawakan.

Yang lebih menyakitkan, sebagian dari kami masih diam.Banyak wartawan—maaf, rekan seprofesi saya—yang akhirnya memilih “netral,” padahal tahu apa yang sedang terjadi. Ada yang dibeli lewat proyek, ada yang dijinakkan lewat penghargaan, ada juga yang hanya ingin “aman.”

Baca Juga:
  • Mengapa Cokelat Bisa Naikkan Mood?
  • Alam dan Ego Pembangunan
  • Demokrasi yang Tersandera Kotak Kosong
  • Biru Fund dan Masa Depan Tambak

Saya tahu, karena saya pernah jadi salah satunya.Kami wartawan dibesarkan dengan idealisme: “berpihak kepada kebenaran dan kepentingan publik.” Tapi di lapangan, kami dicekik oleh iklan, tekanan pemilik media, dan redaktur yang harus tunduk pada pemegang saham yang dekat kekuasaan.

Kini, kami hidup di negeri yang penuh ilusi.Pemerintah bicara pertumbuhan ekonomi, tapi jutaan rakyat tak mampu mudik karena kehilangan kerja. Mereka bicara digitalisasi, tapi anak-anak di pedalaman masih berjalan 10 km untuk sinyal. Mereka bangga buka taman 24 jam, tapi masjid malah diminta sepi dan sunyi.

Mereka bangga proyek IKN dikunjungi wisatawan, padahal fungsinya untuk pusat pemerintahan, bukan taman safari beton.

Dan kini, ketika korupsi sudah telanjang di depan mata, Prabowo pun bicara soal “keadilan bagi anak dan istri koruptor.” Pernyataan itu terdengar simpatik, tapi mematikan.

Karena ia mengaburkan batas antara pelaku dan korban. Antara pencuri dan penadah. Antara empati dan pembiaran.

Lebih parah lagi, pernyataan itu mengungkap satu hal yang mengkhawatirkan: Prabowo cenderung lebih berempati pada koruptor dan keluarganya ketimbang kepada penderitaan rakyat.

Rakyat kecil yang kehilangan hak atas kesehatan, pendidikan, pekerjaan, bahkan sekadar harga bahan pokok yang wajar, tak pernah mendapat empati sebesar itu.

Artikel Terkait:
  • Bela Negara atau Bela Penguasa?
  • Peran dan Pengaruh Kucing dalam Film, Buku, dan Musik
  • Ketika Kebenaran Harus Antre di Meja Korupsi
  • Kalau Tidak Viral, Mana Mau Kalian Membantu?

Tak ada pidato menyentuh soal anak petani yang gagal panen, atau buruh yang di-PHK tanpa pesangon. Tapi untuk istri dan anak koruptor, negara diminta “berperasaan.”Ini bukan hanya keliru secara moral. Ini pengkhianatan terhadap akal sehat.

Sebagai wartawan, saya paham kekuatan narasi. Narasi bisa membangkitkan perlawanan, atau meninabobokan rakyat. Dan kekuasaan sekarang sedang memainkan narasi yang licin: empati kepada elit, kekerasan kepada rakyat kecil.

Kita sudah menyaksikan rakyat miskin disita motornya karena telat bayar pajak. Tapi saat bicara keluarga koruptor, negara justru mengingatkan kita untuk “adil.” Di mana adilnya?Lebih ironis lagi, saat media massa kini lebih sibuk menyoroti pesta pernikahan artis, drama influencer, atau jargon pejabat viral. Kita, wartawan, sedang kehilangan akal sehat kolektif.

Hari ini, negara tak lagi menunggu berita baik. Negara ingin berita yang dipesan.

Saya menulis ini sebagai pengakuan, dan mungkin penyesalan. Tapi juga sebagai seruan: mari berhenti pura-pura tidak tahu. Kita semua tahu ini salah. Kita semua tahu ini busuk. Dan kalau kita diam, maka kita bagian dari kebusukan itu.

Sudah cukup kita tertawa atas kebohongan yang kita tahu tak lucu.

Jangan Lewatkan:
  • Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?
  • Fokus Berlebih yang Tak Disadari
  • Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet
  • Tren Fashion Terbaru 2026

Sudah cukup kita diam karena takut kehilangan akses.Sudah saatnya kita menulis dengan satu tujuan: menyuarakan kembali apa yang tersisa dari nurani publik.

Karena jika wartawan ikut bungkam, lalu siapa yang akan bicara?

Keadilan Sosial Korupsi Kritik Kekuasaan Prabowo Subianto Wartawan Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePrabowo Lebih Pro pada Koruptor
Next Article Titiek Puspa: Legenda Musik yang Menembus Zaman

Informasi lainnya

Dana Pendidikan Dikorupsi, Sitaan Korupsi untuk Pendidikan Gratis. Aneh!

22 September 2026

Ketika Peneliti Mengurus Kuitansi

10 September 2026

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

25 Agustus 2026

Jangan Menabung di Mandiri, Blokir Bisa Dilakukan atas Permintaan Misterius

24 Agustus 2026

Ketika Pramuka Belajar Korupsi

14 Agustus 2026

Efisiensi atau Salah Kelola?

4 Agustus 2026
Paling Sering Dibaca

Chef Degan Septoadji: Membawa Rasa Indonesia ke Meja Dunia

Biografi Alfi Salamah

Menjadi Kepala Daerah

Refleksi Syamril Al-Bugisyi

Bisnis Militer: Jalan Menuju Politik?

Editorial Udex Mundzir

Langkah Skuad Muda yang Tertatih

Perspektif Assyifa

Gubernur Bayangan di Tambang Rakyat

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Puncak Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Dua Kali

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi