Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mau Berhasil ? Inilah Morning Routine Orang Sukses

Lampu LED Terang Picu Kunang-Kunang Kian Menghilang

JPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 8 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Menulis dari Negara yang Terlambat Sadar

Kadang yang paling menyakitkan bukan ketika dibohongi, tapi saat menyadari bahwa kita ikut menyebarkan kebohongan itu.
Udex MundzirUdex Mundzir11 April 2025 Opini
Refleksi Wartawan Indonesia dan Keberpihakan Prabowo
Ilustrasi Refleksi Wartawan Indonesia dan Keberpihakan Prabowo
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Saya menulis ini sebagai wartawan yang pernah percaya. Bukan karena naif, tapi karena pada satu titik saya ingin percaya bahwa pemimpin bisa berubah, bahwa negara bisa jadi lebih baik lewat suara rakyat, bukan warisan dinasti.

Sepuluh tahun lalu, kami—media, seniman, influencer, akademisi—berlomba menyuarakan “harapan.” Kami menertawakan mobil Esemka karena polos dan lokal, bukan karena palsu. Kami mengangkat narasi “anak tukang kayu” dan membandingkannya dengan elit lama yang dikira penuh dosa. Kami bantu bentuk pencitraan yang sekarang justru mencemari logika publik.

Kini, saya bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya telah kami bantu bangun?

Hari ini kita tahu, Esemka tidak pernah benar-benar ada. Kita tahu, kebijakan yang digadang-gadang sebagai pro-rakyat, dari kartu-kartu sakti sampai bansos digital, ternyata jadi ladang korupsi baru. Kita tahu bahwa di balik senyum dan baju putih polos itu, ada kekuasaan yang senang bermain abu-abu.

Kita menyaksikan runtuhnya KPK, revisi UU, pengangkatan para buzzer jadi komisaris, dan hukum yang bengkok ke arah istana.

Dan ketika suara rakyat mulai kritis, kekuasaan membalas dengan kedap. Tak ada ruang untuk oposisi, bahkan di media. Kritik disebut hoaks, oposisi dijadikan lawakan.

Yang lebih menyakitkan, sebagian dari kami masih diam.Banyak wartawan—maaf, rekan seprofesi saya—yang akhirnya memilih “netral,” padahal tahu apa yang sedang terjadi. Ada yang dibeli lewat proyek, ada yang dijinakkan lewat penghargaan, ada juga yang hanya ingin “aman.”

Baca Juga:
  • Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur
  • Tips Temukan Passion dan Bakat ala Remaja Masa Kini
  • Tips Efektif untuk Tingkatkan Produktivitas Sehari-hari
  • KDM, Calon Diktator yang Terlihat Merakyat

Saya tahu, karena saya pernah jadi salah satunya.Kami wartawan dibesarkan dengan idealisme: “berpihak kepada kebenaran dan kepentingan publik.” Tapi di lapangan, kami dicekik oleh iklan, tekanan pemilik media, dan redaktur yang harus tunduk pada pemegang saham yang dekat kekuasaan.

Kini, kami hidup di negeri yang penuh ilusi.Pemerintah bicara pertumbuhan ekonomi, tapi jutaan rakyat tak mampu mudik karena kehilangan kerja. Mereka bicara digitalisasi, tapi anak-anak di pedalaman masih berjalan 10 km untuk sinyal. Mereka bangga buka taman 24 jam, tapi masjid malah diminta sepi dan sunyi.

Mereka bangga proyek IKN dikunjungi wisatawan, padahal fungsinya untuk pusat pemerintahan, bukan taman safari beton.

Dan kini, ketika korupsi sudah telanjang di depan mata, Prabowo pun bicara soal “keadilan bagi anak dan istri koruptor.” Pernyataan itu terdengar simpatik, tapi mematikan.

Karena ia mengaburkan batas antara pelaku dan korban. Antara pencuri dan penadah. Antara empati dan pembiaran.

Lebih parah lagi, pernyataan itu mengungkap satu hal yang mengkhawatirkan: Prabowo cenderung lebih berempati pada koruptor dan keluarganya ketimbang kepada penderitaan rakyat.

Rakyat kecil yang kehilangan hak atas kesehatan, pendidikan, pekerjaan, bahkan sekadar harga bahan pokok yang wajar, tak pernah mendapat empati sebesar itu.

Artikel Terkait:
  • Pramuka Cisayong, Saatnya Bergerak
  • TikTok & Konten Viral
  • Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?
  • Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

Tak ada pidato menyentuh soal anak petani yang gagal panen, atau buruh yang di-PHK tanpa pesangon. Tapi untuk istri dan anak koruptor, negara diminta “berperasaan.”Ini bukan hanya keliru secara moral. Ini pengkhianatan terhadap akal sehat.

Sebagai wartawan, saya paham kekuatan narasi. Narasi bisa membangkitkan perlawanan, atau meninabobokan rakyat. Dan kekuasaan sekarang sedang memainkan narasi yang licin: empati kepada elit, kekerasan kepada rakyat kecil.

Kita sudah menyaksikan rakyat miskin disita motornya karena telat bayar pajak. Tapi saat bicara keluarga koruptor, negara justru mengingatkan kita untuk “adil.” Di mana adilnya?Lebih ironis lagi, saat media massa kini lebih sibuk menyoroti pesta pernikahan artis, drama influencer, atau jargon pejabat viral. Kita, wartawan, sedang kehilangan akal sehat kolektif.

Hari ini, negara tak lagi menunggu berita baik. Negara ingin berita yang dipesan.

Saya menulis ini sebagai pengakuan, dan mungkin penyesalan. Tapi juga sebagai seruan: mari berhenti pura-pura tidak tahu. Kita semua tahu ini salah. Kita semua tahu ini busuk. Dan kalau kita diam, maka kita bagian dari kebusukan itu.

Sudah cukup kita tertawa atas kebohongan yang kita tahu tak lucu.

Jangan Lewatkan:
  • Belajar dari Kegagalan, Tips Bangkit dari Kekalahan dengan Penuh Semangat
  • Biru Fund dan Masa Depan Tambak
  • Pentingnya Self-Care dan Cara Menjaganya
  • Dapur Rapi, Pikiran Tertata

Sudah cukup kita diam karena takut kehilangan akses.Sudah saatnya kita menulis dengan satu tujuan: menyuarakan kembali apa yang tersisa dari nurani publik.

Karena jika wartawan ikut bungkam, lalu siapa yang akan bicara?

Keadilan Sosial Korupsi Kritik Kekuasaan Prabowo Subianto Wartawan Indonesia
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticlePrabowo Lebih Pro pada Koruptor
Next Article Titiek Puspa: Legenda Musik yang Menembus Zaman

Informasi lainnya

Ratusan Lembaga di Indonesia, tapi Tak Ada Satupun yang Bisa Menjawab Tuntas Soal Ijazah Gibran

23 Juni 2026

Demokrasi yang Mahal untuk Sekadar Mencari Kepastian

22 Juni 2026

Negeri yang Tak Kekurangan Lembaga, Tapi Kekurangan Kejelasan

21 Juni 2026

Rakyat Bertanya, Negara Menjawab dengan Prosedur

20 Juni 2026

Negara Hukum yang Sistem Hukumnya Dibuat Ruwet

19 Juni 2026

Ketika Presiden Diganti, Siapa Memimpin?

19 Juni 2026
Paling Sering Dibaca

APBS Siapkan Santri Jadi Pengusaha Tangguh

Bisnis Ericka

Ubah Lontar Jadi Pemanis Sehat: Inovasi Hebat Mahasiswa UPER!

Bisnis Udex Mundzir

Dropbox PHK 528 Karyawan, Alihkan Fokus pada Investasi AI

Bisnis Silva

Keadilan Dibelokkan oleh Kekuasaan

Editorial Udex Mundzir

Ijazah Jokowi: Bukan Privasi, Tapi Legitimasi

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Hukum
Lisda Lisdiawati30 Juni 2026

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun dalam Kasus Chromebook

Venezuela Diguncang Dua Gempa dalam 39 Detik, Korban Berjatuhan

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Invasif? Ini Faktanya

Modus Janji Cinta Diancam Penjara dalam KUHP Baru

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Mic Wireless Untuk Masjid Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi