Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bank Mandiri dan Krisis Kepercayaan

Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Usai Karhutla

Dating Tanpa Alkohol, Tren Baru Generasi Muda

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Sekolah Jam 6, Jam Malam Jam 9

Ketika disiplin dijadikan solusi utama, ruang dialog dan kebutuhan anak bisa terabaikan.
Udex MundzirUdex Mundzir4 Juni 2025 Editorial
Kebijakan Jam Sekolah dan Jam Malam Siswa
Ilustrasi Jalanan Bandung Sepi karena Kebijakan Jam Sekolah dan Jam Malam Siswa (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Jawa Barat kembali membuat gebrakan. Gubernur Dedi Mulyadi menginstruksikan pemberlakuan dua aturan besar sekaligus: jam malam untuk siswa mulai pukul 21.00 hingga 04.00 WIB dan jam masuk sekolah pukul 06.00 pagi. Aturan ini akan mulai efektif pada Juni 2025 dan berlaku di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat, dari tingkat dasar hingga menengah.

Instruksi ini tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jabar Nomor 51/PA.03/Disdik, yang menyasar hingga ke level kecamatan dan desa. Tujuannya? Menciptakan suasana kondusif agar generasi muda bisa tumbuh dalam lingkungan yang tertib, aman, dan lebih terarah. Di atas kertas, niat ini tampak mulia. Namun dalam praktiknya, kebijakan ini mengundang lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Jam malam untuk siswa sejatinya bukan hal baru. Beberapa daerah pernah menerapkannya sebagai respons terhadap kenakalan remaja atau kekhawatiran akan pergaulan bebas. Namun, efektivitasnya masih jadi perdebatan panjang. Kini, Jawa Barat melangkah lebih jauh. Tidak hanya membatasi ruang gerak siswa di malam hari, tapi juga memajukan waktu masuk sekolah menjadi pukul 06.00 pagi—yang berarti siswa harus bangun setidaknya pukul 04.30 atau bahkan lebih awal.

Pertanyaannya: apakah pendekatan ini benar-benar menjawab akar masalah?

Dalam banyak studi kesehatan dan pendidikan, termasuk yang dirilis oleh American Academy of Pediatrics, waktu mulai sekolah yang terlalu pagi terbukti berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental remaja. Remaja membutuhkan waktu tidur 8-10 jam per malam, dan pola tidur mereka cenderung bergeser lebih malam akibat perubahan biologis di masa pubertas. Artinya, bangun terlalu pagi akan mengurangi durasi tidur, meningkatkan risiko stres, penurunan konsentrasi belajar, hingga gangguan kesehatan jangka panjang.

Baca Juga:
  • Polres Sampang Kecolongan
  • Bahlil dan Wajah Baru Penjajahan
  • Populer, Bukan Baik: Demokrasi yang Terjebak
  • Di Balik Pagar yang Menyandera Laut

Apalagi, siswa di daerah-daerah penyangga seperti Cianjur, Garut, atau Sukabumi, kerap menghadapi tantangan infrastruktur dan jarak tempuh yang jauh. Jam masuk pukul 06.00 akan semakin membebani mereka. Di sisi lain, pembatasan jam malam juga menimbulkan masalah praktis: bagaimana implementasinya, terutama di kota-kota besar seperti Bandung atau Bekasi? Siapa yang akan mengawasi? Apakah tidak membuka ruang bagi tindakan represif dan potensi pelanggaran hak anak?

Secara sosial, aturan ini juga patut dikritisi karena berpotensi menambah tekanan pada keluarga, khususnya ibu-ibu pekerja yang harus menyiapkan anak lebih pagi dari biasanya. Apakah ada kebijakan pendukung seperti transportasi aman dini hari atau fasilitas sarapan sehat di sekolah? Tanpa ekosistem pendukung, kebijakan ini bisa menjadi beban tambahan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Di sisi politik, keputusan ini menunjukkan kecenderungan sentralisasi pengambilan kebijakan di tingkat provinsi yang langsung menyasar level paling bawah, yakni desa. Koordinasi lintas sektor tentu menjadi tantangan besar. Pemerintah kabupaten dan kota kini dibebani tugas koordinasi dan pengawasan di lapangan, sementara kesiapan infrastruktur dan SDM di banyak daerah masih minim.

Dari sisi hukum, belum jelas apakah kebijakan ini berbentuk aturan yang mengikat secara hukum atau hanya imbauan administratif. Jika hanya berbentuk surat edaran, maka daya paksa hukumnya lemah dan pelaksanaan di lapangan bisa tidak seragam. Ini menimbulkan ambiguitas, bahkan bisa dimanfaatkan oleh oknum yang ingin menegakkan aturan secara sepihak.

Kita juga perlu melihat kebijakan ini dari sisi ekonomi. Memulai sekolah lebih awal berarti biaya tambahan untuk listrik, transportasi, dan konsumsi. Sekolah harus membuka gerbang lebih pagi, guru harus hadir lebih awal, dan siswa harus mengatur ulang ritme harian mereka. Jika pemerintah daerah tidak menyediakan insentif atau dukungan logistik, beban akan jatuh ke keluarga dan tenaga pendidik.

Artikel Terkait:
  • Pajak Bukan Satu-Satunya Jalan
  • Dulu Dipaksa-Paksa Menggunakan Gas Elpiji 3 Kg, Sekarang Malah Haram
  • Selamat Tinggal Agustus Kelabu: Tinggalkan Joget-joget di Istana
  • Ijazah Pejabat Harus Diverifikasi Ulang

Tidak bisa disangkal, ada kegelisahan yang melatarbelakangi munculnya kebijakan ini—kegelisahan tentang merosotnya kedisiplinan, meningkatnya kenakalan remaja, dan menurunnya kualitas belajar. Tetapi menjawab masalah kompleks dengan pendekatan disiplin tunggal bisa jadi kontraproduktif. Ini adalah contoh klasik dari kebijakan satu dimensi yang mengabaikan keberagaman konteks sosial, geografis, dan psikologis masyarakat.

Sebaliknya, solusi yang lebih menyentuh akar persoalan justru dimulai dari investasi pada pendidikan karakter, pemulihan kualitas pengajaran, dan peningkatan keterlibatan orang tua serta komunitas sekolah. Jam malam dan jam sekolah bukanlah instrumen utama dalam membentuk generasi unggul. Mereka hanyalah pelengkap dari sistem yang lebih luas—sistem yang mestinya menempatkan kebutuhan dan kesejahteraan anak sebagai prioritas utama.

Alih-alih memaksa anak-anak bangun dini hari, mengapa tidak memperkuat program literasi digital, pelatihan guru, dan konseling psikologis di sekolah? Mengapa tidak mengembangkan ruang-ruang aman bagi remaja di luar jam sekolah seperti taman edukatif, perpustakaan komunitas, atau pusat kreativitas pemuda yang aktif malam hari?

Kebijakan pendidikan semestinya dirancang melalui dialog antara pemerintah, tenaga pendidik, pakar kesehatan, orang tua, dan tentu saja para siswa itu sendiri. Tanpa melibatkan suara mereka yang terdampak langsung, kebijakan akan kehilangan legitimasi moral dan efektivitas jangka panjangnya.

Jangan Lewatkan:
  • Ladang Ganja di Bromo: Polisi Tidak Tahu atau Tutup Mata?
  • Jejak Warisan dan Peluang di Desa Krampon
  • Angin Segar bagi Narapidana
  • Nasaruddin Umar di Puncak Kepuasan Publik

Pendidikan bukan sekadar soal waktu dan aturan. Pendidikan adalah proses membangun manusia seutuhnya—yang butuh ruang, waktu, dan dukungan emosional. Jika terlalu banyak menekan, sistem justru akan mematahkan semangat belajar yang sedang tumbuh.

Jam Masuk Sekolah Kebijakan Daerah Kesejahteraan Siswa Pendidikan Indonesia Politik Pendidikan
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleChina Terbitkan Visa ASEAN, Izin Tinggal 180 Hari Berlaku 5 Tahun
Next Article Rupiah Menguat Tipis Akibat Prospek Suram Ekonomi AS

Informasi lainnya

Mengapa Universitas Republik Indonesia Jadi Sorotan?

23 Juli 2026

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

12 Juli 2026

Tahun Ajaran Baru 2026, MPLS Ramah Jadi Wajah Baru Sekolah

8 Juli 2026

JPU: Vonis Nadiem Kembalikan Hak Anak Sekolah

1 Juli 2026

Ketika Pesta Dimulai Tanpa Penonton (Indonesia)

12 Juni 2026

Pesta Babi dan Sensor atas Luka Papua

17 Mei 2026
Paling Sering Dibaca

Dari Memalukan ke Menakutkan

Editorial Udex Mundzir

Ketika Relawan Butuh Akal Sehat, Bukan Sekadar Semangat

Perspektif Udex Mundzir

Bulu Kucing Rontok, Najis atau Tidak?

Islami Udex Mundzir

Bisakah Bertafakur dengan Berjalan Kaki? Ini Penjelasannya

Islami Alfi Salamah

Melintasi Kesibukan Pembangunan IKN

Travel Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Ujian Tatap Muka UT di Tasikmalaya Berjalan Tertib dan Ketat

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Lari Rutin Tapi Berat Badan Naik? Ini Penyebabnya!

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Produk Dapur Terlaris Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi