Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

Indonesia Jadi Tuan Rumah Forum Imam Dunia 2026

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 28 April 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Bayang Luhut di Tubuh Prabowo

Selama oligarki masih bercokol lewat figur lama, pemerintahan baru sulit menunjukkan arah independen.
Udex MundzirUdex Mundzir30 Agustus 2025 Editorial
Presiden Prabowo Subianto menerima Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan Baca artikel CNBC Indonesia "Luhut Boyong Ilmuwan Top Temui Prabowo, Ternyata Mau Ada Proyek Ini" selengkapnya di sini: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20250827193446-37-661939/luhut-boyong-ilmuwan-top-temui-prabowo-ternyata-mau-ada-proyek-ini Download Apps CNBC Indonesia sekarang https://app.cnbcindonesia.com/
Presiden Prabowo Subianto menerima Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Pemerintahan Prabowo Subianto menghadapi tantangan besar sejak hari pertama. Bukan hanya soal ekonomi dan keamanan, melainkan juga bayang-bayang tokoh kuat warisan Jokowi yang masih menempel. Nama Luhut Binsar Pandjaitan menjadi simbol paling nyata dari persoalan itu.

Selama masa Jokowi, Luhut dikenal sebagai menteri serba bisa. Ia memegang banyak peran sekaligus: dari investasi, energi, pertambangan, hingga hubungan luar negeri. Perannya bahkan sering dianggap lebih dominan daripada para menteri lain, sehingga publik menyebutnya sebagai “otak” kekuasaan di balik Jokowi.

Kritik terhadap Luhut bukan semata personal, melainkan terkait jejaring oligarki yang melekat padanya. Banyak proyek strategis nasional, seperti hilirisasi nikel dan pembangunan infrastruktur, dipandang lebih menguntungkan kelompok bisnis besar ketimbang rakyat. Transparansi minim, sementara keuntungan besar justru mengalir ke investor asing dan konglomerat lokal.

Inilah yang membuat publik bertanya: apakah Prabowo mampu melepaskan diri dari bayang-bayang tersebut? Jika figur lama seperti Luhut tetap diberi ruang besar, maka sulit bagi Prabowo membangun citra sebagai pemimpin baru yang independen. Alih-alih membawa arah segar, ia akan dianggap sekadar melanjutkan pola lama dengan wajah berbeda.

Secara politik, posisi Luhut kuat karena jejaringnya luas. Ia punya akar di militer, dekat dengan konglomerat, dan punya pengalaman panjang dalam kabinet. Bagi presiden mana pun, sosok semacam ini bisa menjadi aset sekaligus ancaman. Jika dirangkul, ia membawa stabilitas. Jika dilawan, ia bisa menggerakkan kekuatan yang berpotensi mengganggu pemerintahan.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa dominasi individu selalu berbahaya bagi demokrasi. Negara seharusnya berjalan berdasarkan sistem, bukan pada kekuatan personal. Selama figur semacam Luhut terlalu dominan, institusi negara menjadi lemah, dan keputusan politik mudah diarahkan pada kepentingan sempit.

Baca Juga:
  • Harga BBM Turun, Asal Bukan Oplosan
  • Sekolah Jam 6, Jam Malam Jam 9
  • Gema Impian di Tengah Asa: Piala AFF 2024
  • Menag di Vatikan: Diplomasi Iman dan Kemanusiaan

Dari sisi hukum, presiden memiliki kewenangan penuh menentukan siapa yang duduk di kabinet. Tidak ada aturan yang memaksa Prabowo mempertahankan warisan lama. Artinya, jika ada tokoh yang dianggap lebih merepresentasikan kepentingan oligarki ketimbang rakyat, Prabowo berhak menyingkirkannya. Kewenangan ini sah menurut konstitusi.

Namun, dilema muncul karena realitas politik berbeda dari aturan tertulis. Menggeser Luhut, misalnya, bukan sekadar keputusan presiden, melainkan bisa berimplikasi pada hubungan dengan jaringan bisnis dan elite politik. Di sinilah ujian kepemimpinan Prabowo: berani menegakkan kedaulatan, atau memilih kompromi yang mengekalkan bayangan lama.

Dari sisi sosial, masyarakat semakin jenuh. Publik berharap ada arah baru yang lebih berpihak pada rakyat. Jika pemerintahan baru tetap dipenuhi tokoh lama, rasa apatis akan semakin menguat. Demokrasi kehilangan makna ketika rakyat melihat pergantian presiden tidak mengubah struktur kekuasaan yang sesungguhnya.

Ekonomi juga berisiko besar jika oligarki tetap dominan. Hilirisasi nikel yang digadang-gadang membawa kesejahteraan rakyat, misalnya, justru memunculkan ketimpangan baru. Laporan menunjukkan sebagian besar keuntungan justru dinikmati perusahaan besar dengan akses politik, sementara masyarakat sekitar hanya mendapat dampak lingkungan. Situasi ini memperlihatkan bagaimana kebijakan ekonomi mudah dibajak oleh kepentingan segelintir orang.

Budaya politik kita juga turut memperparah keadaan. Patronase dan loyalitas personal lebih dominan dibandingkan meritokrasi. Figur lama dipertahankan bukan karena kinerja, tetapi karena koneksi. Akibatnya, regenerasi politik terhambat, dan wajah-wajah baru sulit muncul di panggung nasional.

Artikel Terkait:
  • Relawan Muda di Arus Mudik
  • Coba Vaksin? Wakil Rakyat Dulu!
  • Kehadiran Prabowo di Kongres Projo, Akan Menegaskan Dirinya “Termul”
  • Tarif Ojol Naik: Siapa Diuntungkan?

Tetapi, solusi tidak bisa sekadar menyingkirkan individu. Jika Prabowo ingin benar-benar lepas dari bayang-bayang Luhut dan oligarki, ia harus membangun sistem yang lebih kuat dari individu. Regulasi investasi harus transparan, kontrak bisnis negara harus diawasi publik, dan lembaga hukum harus berani berdiri independen dari tekanan politik.

Reformasi birokrasi juga penting. Selama jalur karier pejabat publik masih ditentukan oleh kedekatan dengan elit, pola lama akan terus berulang. Meritokrasi harus ditegakkan agar pejabat dipilih karena kompetensi, bukan karena loyalitas. Dengan begitu, peran individu superpower bisa diminimalisir.

Komunikasi politik juga harus tegas. Prabowo perlu menunjukkan bahwa pemerintahannya berjalan atas dasar visi sendiri, bukan perpanjangan dari agenda lama. Transparansi kebijakan menjadi kunci untuk mengikis kecurigaan publik bahwa oligarki masih memegang kendali.

Masyarakat sipil berperan penting dalam mengawal. Tekanan publik bisa menjadi faktor penentu agar pemerintah berani mengambil jarak dari figur lama. Media, akademisi, dan aktivis harus konsisten mengkritisi, bukan justru ikut terjebak dalam narasi propaganda. Tanpa tekanan dari bawah, sulit mengharapkan perubahan dari atas.

Pada akhirnya, masalah ini bukan sekadar tentang Luhut. Ia hanyalah simbol dari masalah yang lebih besar: keterikatan negara pada oligarki. Jika Prabowo tidak berani membongkar pola lama, ia akan kehilangan kesempatan emas untuk mencatatkan dirinya sebagai presiden yang membawa arah baru.

Jangan Lewatkan:
  • Kebebasan Pers yang Dikikis Diam-Diam
  • Hukum yang Dikebut, Rakyat yang Terjebak
  • Prabowo Lebih Pro pada Koruptor
  • Wibawa Prabowo Dipertanyakan, Siapa Pemimpin Sebenarnya?

Sebagai media, kami menegaskan bahwa pemerintah harus berani mengambil langkah jelas. Bayangan figur lama tidak boleh terus mendikte arah bangsa. Jika Indonesia ingin maju, oligarki harus dipangkas, dan keputusan negara harus kembali berpihak pada rakyat.

Demokrasi Luhut Binsar Pandjaitan Oligarki Politik Indonesia Prabowo Subianto
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleBersihkan Warisan Kabinet Jokowi
Next Article Prabowo Akan Kehilangan Kesempatan Emas

Informasi lainnya

Ilmu Bukan Sekadar Mesin Industri

27 April 2026

Batas Kuasa, Uji Demokrasi

26 April 2026

e-KTP: Teknologi Tanpa Arah

25 April 2026

Ikan Sapu-Sapu dan Krisis Sunyi

23 April 2026

UKT dan Ilusi Kesejahteraan ASN

19 April 2026

War Ticket: Ilusi Akses Setara

12 April 2026
Paling Sering Dibaca

Gema Impian di Tengah Asa: Piala AFF 2024

Editorial Udex Mundzir

Serangan Fajar: Hari Tenang yang Tak Tenang

Editorial Udex Mundzir

Cerdas Beramal

Islami Syamril Al-Bugisyi

Kopi Tuku Branding MRT Cipete

Bisnis Assyifa

Waktu Takbiran Idul Adha, Kapan Dimulai?

Islami Udex Mundzir
Berita Lainnya
Pendidikan
Alfi Salamah21 April 2026

Empat Tim Mahasiswa UT dari Pesantren Khalifa Lolos Pendanaan Riset

Alumni SMAN 1 Cisayong Lolos Seleksi Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka 2026

5 E-Commerce Dominasi Pasar Usai Bukalapak Tutup Layanan

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Ledakan Ikan Sapu-sapu, Jakarta Cari Cara Ampuh

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi