Namanya mulai dikenal kembali ketika Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada tahun 2017. Namun sejatinya, Malahayati telah menulis sejarah jauh sebelum itu, dengan keberanian dan strategi yang bahkan sulit disaingi oleh panglima lelaki sezamannya.
Ia bukan sekadar simbol perempuan tangguh. Ia adalah laksamana perempuan pertama di dunia modern seorang pemimpin angkatan laut yang memimpin pasukan perang, menantang penjajah asing, dan menorehkan keberanian dalam lembar sejarah Kesultanan Aceh abad ke‑16.
Dari Daratan Aceh ke Lautan Perlawanan
Keumalahayati lahir dari keluarga bangsawan Aceh yang dekat dengan lingkungan istana dan militer. Sejak kecil, ia terpapar pada budaya maritim dan sistem pertahanan kerajaan. Ia tumbuh sebagai perempuan yang tidak hanya terpelajar, tapi juga terlatih secara militer.
Pendidikan militernya tak sekadar formalitas. Ia mempelajari strategi perang laut dan menjadi ahli dalam pergerakan pasukan, termasuk penguasaan taktik melawan armada asing. Di bawah pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil, ia diangkat sebagai Laksamana bukan karena garis keturunan, tapi karena kapabilitas dan pengabdiannya.
Inong Balee: Pasukan Perempuan Pembalas
Kepemimpinan Malahayati menjadi nyata saat ia membentuk dan memimpin pasukan Inong Balee, yang berarti “janda-janda pejuang.” Pasukan ini berisi perempuan-perempuan yang ditinggal mati oleh suami mereka di medan perang, dan memilih melanjutkan perjuangan dengan senjata.
Jumlah pasukan ini mencapai ribuan, dan mereka bukan hanya simbol ketangguhan moral, tetapi kekuatan tempur sejati. Dipimpin langsung oleh Malahayati, mereka menjaga perairan Aceh dari gangguan Portugis dan Belanda dua kekuatan kolonial utama pada masa itu.
Duel di Laut: Kematian Cornelis de Houtman
Salah satu peristiwa paling legendaris dalam sejarah Malahayati adalah keterlibatannya dalam konflik dengan armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman. Dalam sebuah pertempuran laut tahun 1599, Malahayati berhasil mengalahkan dan dikabarkan membunuh langsung Houtman tokoh penting dalam sejarah pelayaran kolonial Belanda.
Peristiwa ini membuat Belanda menyadari kekuatan dan kecerdikan strategi militer Aceh, khususnya di bawah komando seorang perempuan. Ini juga menjadi momen simbolik bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, tapi bisa menjadi penentu jalannya peradaban.
Diplomasi dan Ketegasan
Malahayati tidak hanya ahli perang, tapi juga cakap dalam diplomasi. Ketika Belanda kembali mengirim utusan, ia menerima negosiasi secara resmi tetapi tetap menunjukkan posisi tegas bahwa kedaulatan Aceh bukan untuk ditawar.
Kemampuan berpolitik ini menjadikan dirinya bukan hanya jenderal tempur, tetapi negarawan. Ia mampu membaca situasi geopolitik dan melindungi martabat bangsanya melalui jalur perang maupun diplomasi.
Jejak yang Terhapus, Tapi Tak Pernah Hilang
Meski sosoknya sangat penting, catatan sejarah tentang Malahayati sempat tenggelam. Narasi besar sejarah Indonesia, terutama pada masa kolonial dan pasca-kemerdekaan, jarang menyebut peran perempuan dalam medan perang.
Namun sejarawan lokal dan nasional akhirnya mulai mengangkat kembali namanya, terutama melalui studi tentang Kesultanan Aceh dan peran militer perempuan. Dengan data dan bukti sejarah yang cukup, pemerintah Indonesia pada 9 November 2017 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Malahayati.
Warisan di Atas Samudra
Warisan Malahayati hidup hingga kini. Namanya diabadikan sebagai KRI Malahayati (362), kapal perang milik TNI Angkatan Laut yang aktif menjaga wilayah kedaulatan laut Indonesia.
Namanya juga dijadikan nama universitas, jalan raya, pelabuhan, dan pusat riset perempuan di Aceh dan berbagai wilayah lainnya. Di tingkat internasional, kisahnya mulai dikenal sebagai pelopor militer perempuan dunia bahkan disebut dalam forum UNESCO.
Namun warisan terbesarnya adalah semangat. Semangat bahwa perempuan punya tempat dalam sejarah bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai pemimpin, pengambil keputusan, dan pembela tanah air.
Inspirasi Perempuan Masa Kini
Di tengah masyarakat yang masih menyisakan bias gender dalam kepemimpinan, kisah Malahayati menjadi sangat relevan. Ia bukan hanya melawan penjajah asing, tapi juga melawan stereotip yang membatasi perempuan dalam ruang domestik.
Ia menunjukkan bahwa keberanian dan kecerdasan tidak mengenal jenis kelamin. Kepemimpinan tidak ditentukan oleh suara berat atau seragam tebal, tapi oleh keberpihakan pada rakyat dan kesetiaan pada prinsip.
Malahayati telah membuktikan bahwa medan laut, seperti medan sejarah, bisa diarungi oleh siapa pun yang berani.
