Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hibah untuk Aparat, Buat Apa?

Mengapa Sungai Indonesia Cepat Kotor? Ini Penjelasan Ahli

Benarkah Mikroplastik Sudah Masuk ke Tubuh Manusia? Ini Fakta Ilmiahnya

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 14 Juli 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

S.K. Trimurti: Suara Perempuan Merdeka

Dalam kebisuan penjajahan, ia menulis. Dalam kekerasan rezim, ia bersuara. Perempuan ini memilih perlawanan, bukan kepatuhan.
Alfi SalamahAlfi Salamah28 Januari 2026 Profil
Surastri Karma Trimurti
Surastri Karma Trimurti (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Sosok perempuan ini bukan hanya bagian dari sejarah, tapi penulis sejarah itu sendiri. Surastri Karma Trimurti atau lebih dikenal sebagai S.K. Trimurti adalah satu dari sedikit perempuan yang perannya sangat nyata dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun ironisnya, nama dan jejaknya kerap luput dari sorotan utama dalam buku-buku pelajaran.

Dari seorang guru, ia menjelma menjadi wartawan, aktivis, dan menteri. Namun lebih dari itu, Trimurti adalah simbol perlawanan perempuan terhadap sistem yang menindas baik kolonialisme, patriarki, maupun rezim otoriter.

Awal Hidup dan Pendidikan yang Membebaskan

S.K. Trimurti lahir di Boyolali, Jawa Tengah pada 11 Mei 1912. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mendidik perempuan untuk bersikap sopan dan tunduk, namun ia menempuh jalan berbeda. Sejak muda, ia sudah menunjukkan semangat belajar dan keberanian berpikir kritis.

Pendidikan guru yang ia jalani tidak menjadikannya sekadar pengajar, tapi juga pembentuk kesadaran. Ia mengajar di berbagai kota seperti Bandung, Surakarta, dan Banyumas. Dalam proses itu, ia menyadari bahwa kemerdekaan bangsa tidak bisa menunggu.

Dari Pena ke Penjara

Trimurti aktif dalam Partindo, organisasi nasionalis anti-kolonial. Tapi perjuangannya bukan dengan senjata, melainkan pena. Ia menulis artikel-artikel tajam di surat kabar seperti Pesat, Genderang, dan Pikiran Rakyat — menyuarakan ketidakadilan dan menyulut semangat rakyat.

Karena tulisan-tulisannya yang menggugah dan anti-kolonial, ia ditangkap pemerintah Belanda dan dipenjara di Semarang selama sembilan bulan. Tapi itu tak menghentikannya. Bahkan di masa pendudukan Jepang, ia terus menulis hingga akhirnya ditangkap dan disiksa oleh Kempetai (polisi militer Jepang).

Baca Juga:
  • Elon Musk Cetak Sejarah, Kekayaan Tembus Rp 7.000 Triliun
  • Ibnu Al‑Haytham: Sang Bapak Optik Dunia
  • Daniel Kahneman: Akhir Tragis Seorang Peraih Nobel
  • Harun Ar Rasyid: Al Qur’an dan Kuam Muslimin Ibarat Ikan dengan Air

Ikut Menyaksikan Proklamasi Kemerdekaan

Trimurti bukan hanya saksi sejarah, tapi bagian darinya. Ia hadir dalam upacara Proklamasi 17 Agustus 1945. Bendera Merah Putih yang berkibar bukan sekadar lambang bagi dirinya, tapi hasil dari perjuangan yang telah ia bayar mahal: penjara, penyiksaan, dan pengucilan.

Keterlibatannya dalam momen penting ini menunjukkan bahwa perempuan pejuang bukan sekadar pendukung, tapi penggerak kemerdekaan itu sendiri.

Menteri Perempuan Pertama di Republik

Pada tahun 1947, Trimurti diangkat menjadi Menteri Perburuhan pertama dalam Kabinet Amir Sjarifuddin. Di tengah kekacauan pasca-kemerdekaan, ia mengadvokasi hak buruh, terutama perempuan, dan memperjuangkan sistem kerja yang adil.

Ia tidak hanya menjadi simbol representasi perempuan di pemerintahan, tapi juga memperjuangkan kebijakan riil. Ia memimpin Partai Buruh Indonesia dan memfokuskan perjuangan pada kesejahteraan kelas pekerja.

Memelopori Gerakan Perempuan

Pada tahun 1950, Trimurti ikut mendirikan Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sosialis), yang kemudian berubah menjadi Gerwani. Tujuan utamanya adalah memperjuangkan kesetaraan hak perempuan, baik dalam rumah tangga, pendidikan, maupun politik.

Namun karena perbedaan prinsip, ia kemudian keluar dari organisasi tersebut. Trimurti tidak mencari kekuasaan organisasi, tetapi mengawal prinsip perjuangan yang bersih dan tidak manipulatif.

Artikel Terkait:
  • Dari Sel Penjara ke Ruang Sidang
  • Ayi Mulyana: Membangun Pramuka yang Berkontribusi Nyata
  • Husodo Angkosubroto: Nahkoda Gunung Sewu Group
  • Risma Nurrohmah, Empati yang Menjadi Strategi

Tak Takut Melawan Rezim Orde Baru

Pada tahun 1980, Trimurti menjadi satu dari tokoh nasional yang menandatangani Petisi 50 surat terbuka yang mengecam penyalahgunaan Pancasila oleh Presiden Soeharto. Langkah ini dianggap sangat berani, karena pada masa itu kritik terhadap pemerintah bisa berujung pada represi.

Sikapnya menunjukkan bahwa ia tetap konsisten dalam memperjuangkan demokrasi dan kebebasan, bahkan di usia senja. Ia tidak pernah tunduk pada kekuasaan yang menindas, dalam bentuk apapun.

Warisan Pemikiran dan Penghormatan

Trimurti wafat pada 20 Mei 2008, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sebagai bentuk penghormatan, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menamai penghargaan kebebasan pers dengan namanya: S.K. Trimurti Award, yang diberikan kepada tokoh perempuan pembela kebebasan berekspresi dan keadilan.

Melalui ini, namanya tetap hidup tidak dalam patung atau tugu, tapi dalam perjuangan sehari-hari para jurnalis, aktivis, dan perempuan Indonesia.

Ia tidak pernah minta dikenang sebagai pahlawan, tetapi sejarah tidak bisa menghapus jasanya. Trimurti mengajarkan bahwa perjuangan bisa dilakukan siapa saja, bahkan oleh seorang guru yang menulis dengan nama samaran, di tengah ancaman penjara dan penyiksaan.

Jangan Lewatkan:
  • Dari Dapur ke Ruang Strategis
  • B.J. Habibie: Arsitek Kebebasan Pers Indonesia
  • Sarwo Edhie Wibowo, Prajurit dalam Badai Sejarah
  • Tan Malaka: Pejuang Tanpa Mahkota

S.K. Trimurti bukan hanya milik masa lalu, tetapi inspirasi untuk masa depan.

Kemerdekaan Indonesia Perempuan Pejuang Profil Tokoh Sejarah Indonesia Trimurti
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleKastil Neuschwanstein, Dongeng Itu Nyata
Next Article Ephesus: Kota Legendaris yang Tak Pernah Mati

Informasi lainnya

Izzuddin Al-Qassam, Ulama yang Menggerakkan Perlawanan

27 April 2026

Tidur Nanti Saja

21 April 2026

Dalam Diam, Tumbuh Arah

21 April 2026

Jejak Muda, Prestasi Nyata

21 April 2026

Dari Dapur ke Ruang Strategis

21 April 2026

Ma Eroh, Perempuan Bertangan Batu

31 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Makna Idul Adha dan Sejarah Pengorbanan Nabi Ibrahim

Islami Alfi Salamah

Rp8.100 per Dolar: Berkah atau Bencana?

Opini Udex Mundzir

Shin Tae Yong Beri Dampak Positif pada Sepak Bola Indonesia

Kroscek Alfi Salamah

Menjadi Bintang

Islami Syamril Al-Bugisyi

Modus Baru Penipuan Video Call Gunakan Wajah Baim Wong

Techno Silva
Berita Lainnya
Hukum
Ericka5 Agustus 2025

Silfester Matutina Dieksekusi Terkait Fitnah Jusuf Kalla

Tradisi Poligami Raja-Raja Arab Saudi dalam Mempersatukan Negara

Bahaya Tidur Terlalu Lama untuk Kesehatan Tubuh

Pelayanan Terbaik Arab Saudi untuk Jamaah Haji Indonesia

Mengenang Rachmat Gobel, Putra Bangsa yang Mendedikasikan Hidup bagi Industri dan Negeri

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Buku Anak Islami Murah Produk Dapur Terlaris Alat Tulis Sekolah Murah
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi