Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Cak Sholeh Wafat, Tinggalkan Jejak Advokasi Warga

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Ketua Dewan Racana Pesantren Khalifa Dilantik

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Rabu, 12 Agustus 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ketika Umar Menangis di Tengah Malam

Pemimpin besar itu tak tidur nyenyak, karena rakyatnya belum tenang.
Alfi SalamahAlfi Salamah10 Februari 2026 Islami
Ilustrasi Umar Bin Khotob
Ilustrasi Umar Bin Khotob (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Keteladanan sejati bukan hanya tentang keberanian di medan perang atau kebijakan politik yang mengesankan. Dalam sejarah Islam, sosok seperti Umar bin Khattab justru dikenang karena air matanya di malam hari. Air mata itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedalaman tanggung jawab dan cinta terhadap umat.

Sosok Kuat yang Lembut Hati

Umar bin Khattab RA dikenal sebagai khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia memimpin Kekhalifahan Islam selama 10 tahun (634–644 M) dan membawa Islam pada masa keemasan ekspansi wilayah serta penataan sistem pemerintahan.

Namun di balik ketegasan dan keberaniannya, Umar memiliki sisi lembut yang jarang disorot. Ia sering kali menangis dalam kesendirian, terutama di malam hari. Bukan karena takut pada manusia, tapi karena rasa takutnya kepada Allah dan tanggung jawab terhadap rakyat.

Dalam banyak riwayat disebutkan, Umar kerap berjalan malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya secara langsung. Dalam sunyi malam itu, ia mendengar sendiri kelaparan, kesulitan, dan kesedihan yang tak tersampaikan. Seringkali, setelah mendengar keluhan rakyat, Umar pulang membawa beras dan memanggulnya sendiri, sambil menangis karena merasa belum mampu memenuhi amanahnya secara sempurna.

Pemimpin yang Takut Akan Neraka

Satu kisah masyhur berasal dari seorang pembantu yang mendapati Umar menangis di malam hari. Ketika ditanya, Umar menjawab: “Aku khawatir akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah jika ada rakyatku yang kelaparan, atau tak terpenuhi kebutuhannya, sementara aku tidur nyenyak.”

Kisah lainnya menyebutkan bahwa Umar mendengar seorang ibu sedang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Umar langsung turun tangan tanpa menyuruh ajudannya, membawa gandum, dan memasak sendiri untuk keluarga tersebut.

Kisah itu menunjukkan tangisan Umar bukanlah kelemahan, tapi refleksi dari hati yang dipenuhi takwa, empati, dan kepedulian mendalam. Umar tidak hanya pemimpin administratif, ia adalah pelayan rakyat yang takut jika ada satu saja dari mereka yang menderita karena kelalaiannya.

Menangis Bukan Tanda Lemah, Tapi Tanda Iman

Menangis di malam hari telah lama menjadi kebiasaan para sahabat Rasulullah SAW. Mereka bukan menangis karena masalah dunia, tapi karena perenungan terhadap akhirat. Umar bin Khattab dikenal sebagai sosok yang berubah drastis setelah memeluk Islam. Dari pria yang keras terhadap Islam, menjadi pemimpin paling bijak dan lembut hatinya.

Baca Juga:
  • Pergi Haji atau Umroh Dulu? Ini Jawaban Ustadz Abdul Somad
  • Menuju Haji Suci: Panduan Perjalanan Sebelum Berangkat
  • Ciri Orang Beriman: Sujud dan Ketundukan kepada Allah
  • Hukum Membaca Surah Pendek dalam Shalat Khafifatain

Menurut riwayat, Umar sering menangis ketika membaca Al-Qur’an atau mendengarkan ayat-ayat yang menyentuh tentang hari pembalasan. Bahkan dalam shalat, suaranya sering terdengar parau karena tangisan. Ketika menjadi imam shalat, makmum bisa mendengar tangisnya dari beberapa barisan di belakang.

Tangisan ini mencerminkan keimanan yang dalam dan hati yang hidup. Dalam Islam, menangis karena takut kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang tinggi. Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari tiada naungan selain dari-Nya… salah satunya adalah seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Refleksi Kepemimpinan Zaman Kini

Di tengah dunia modern saat ini, sangat jarang ditemukan pemimpin yang menangis karena takut tidak adil terhadap rakyatnya. Banyak justru menangis karena tersangkut kasus korupsi atau kehilangan jabatan. Kepemimpinan Umar bin Khattab menegaskan bahwa rasa takut yang benar adalah kepada Allah, bukan kehilangan kekuasaan.

Saat ini, banyak rakyat yang masih kelaparan, pendidikan tak merata, dan fasilitas kesehatan yang timpang. Namun kita jarang melihat pemimpin yang benar-benar mau terjun langsung ke tengah masyarakat tanpa pencitraan. Umar bin Khattab, tanpa kamera, tanpa publikasi, berkeliling malam hari untuk memastikan rakyatnya tidak menderita.

Jika kita menilik realita sosial sekarang, apakah kita masih memiliki pemimpin yang menangis di malam hari karena rakyatnya?

Tanggung Jawab Seorang Pemimpin Menurut Islam

Dalam Islam, jabatan bukanlah kemuliaan, tapi amanah yang berat. Rasulullah SAW pernah bersabda:

Artikel Terkait:
  • Rahasia Batu Kerikil Jamaah Haji Setelah Lempar Jumrah
  • 5 Tips Efektif Mengatur Waktu Selama Ramadhan
  • Tips Penting bagi Jamaah Haji Baru Tiba, Perhatikan 5 Hal Ini
  • Diam dalam Islam, Keutamaan yang Sering Terlupakan

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umar memahami hadis ini sepenuhnya. Ia menyadari bahwa kekuasaan adalah ujian, bukan keistimewaan. Karena itu, ia hidup sangat sederhana meski memimpin wilayah kekuasaan yang luas. Pakaian Umar biasa saja, bahkan ia menolak hidup mewah. Ketika ditawari hidup seperti kaisar Persia yang ia taklukkan, Umar menolak.

Hal ini menjadi pengingat bahwa pemimpin sejati bukan yang disanjung-sanjung, tetapi yang bisa tidur dengan tenang karena tahu rakyatnya telah hidup layak.

Keteladanan yang Harus Dihidupkan Kembali

Kisah Umar menangis di malam hari bukan sekadar cerita manis dari masa lalu. Ini adalah cermin yang harus kita pakai untuk mengevaluasi kehidupan hari ini baik sebagai pemimpin, maupun sebagai pribadi.

Jika kita seorang pemimpin keluarga, organisasi, atau negara sudahkah kita merasa cukup peduli dengan orang-orang yang kita tanggung jawabkan?

Jika kita rakyat biasa, sudahkah kita ikut mendoakan para pemimpin, mengingatkan mereka, atau meneladani sifat tanggung jawab dari Umar bin Khattab dalam lingkup kecil kita?

Jangan Lewatkan:
  • Bubur Kacang Hijau: Kelezatan Tradisional Selama Puncak Haji
  • Puncak Haji Tiba: Irjen Kemenag Minta Petugas Bersiap
  • Jamaah Laksanakan Safari Wukuf, Puskes Haji akan Skrining
  • Perisai Kehidupan

Air Mata Umar, Cermin Nurani Umat

Air mata Umar bin Khattab yang jatuh di malam hari adalah simbol keberanian yang sesungguhnya berani menghadapi Allah dengan penuh kesadaran dan rasa takut. Ia mengingatkan kita bahwa pemimpin besar bukan yang tak pernah menangis, tapi yang tahu kapan harus menangis demi rakyatnya.

Di masa yang penuh kekacauan moral dan kepemimpinan yang rapuh, kisah Umar harus menjadi inspirasi abadi. Bahwa menangis karena Allah, dan karena cinta pada umat, adalah tanda kekuatan sejati.

Ibadah Malam Kepemimpinan Islami Kisah Teladan Tokoh Islam Umar Bin Khattab
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRamadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid
Next Article Minuman Ini Redakan Nyeri Haid

Informasi lainnya

Makna Idul Adha dan Sejarah Pengorbanan Nabi Ibrahim

7 Mei 2026

Lupa Takbir Shalat Id, Sahkah Ibadahnya?

22 Maret 2026

Makna Idul Fitri

20 Maret 2026

Sunnah Sunnah Sholat Ied di Hari Raya

20 Maret 2026

Mengeluh Lapar dan Haus Saat Puasa, Ini Hukumnya

15 Maret 2026

Sahabat Kecil Rasulullah

13 Februari 2026
Paling Sering Dibaca

Evolusi Kecerdasan Buatan: Sejarah, Tokoh Penting, dan Masa Depan

Techno Udex Mundzir

Selain 8 dan 20 Rakaat, Ini Ada Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Islami Ericka

Senyum Sebagai Sedekah yang Bernilai Ibadah

Islami Silva

Mengulang Jejak Sejarah: Tradisi Mengantar Jamaah Haji

Islami Udex Mundzir

Marselino Ferdinan, Bintang Muda Gemilang di Timnas Indonesia

Kroscek Alfi Salamah
Berita Lainnya
Ekonomi
Ericka29 Mei 2025

Presiden Prabowo Izinkan Ekspor Beras ke Malaysia

Diplomasi Ubah Peta, Sebatik Bertambah Luas

Curi Start, Mugus PP Khalifa Langsung Eksekusi SK Kwarnas Terbaru

Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Resmi Kembali di SMA Mulai 2025

PP Khalifa Matangkan Adaptasi SK Kwarnas Terbaru Menjelang Mugus

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Perlengkapan Pramuka Lengkap Alat Tulis Sekolah Murah Mic Wireless Untuk Masjid
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi