Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Danny Setiawan Wafat, Jejak Panjang Birokrat Jabar

24.200 Hektare Sawah Bandung Menuju LP2B

Bazar Murah Bandung, Berapa Warga Bisa Berhemat?

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Selasa, 22 September 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Ketika Umar Menangis di Tengah Malam

Pemimpin besar itu tak tidur nyenyak, karena rakyatnya belum tenang.
Alfi SalamahAlfi Salamah10 Februari 2026 Islami
Ilustrasi Umar Bin Khotob
Ilustrasi Umar Bin Khotob (.inet)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Keteladanan sejati bukan hanya tentang keberanian di medan perang atau kebijakan politik yang mengesankan. Dalam sejarah Islam, sosok seperti Umar bin Khattab justru dikenang karena air matanya di malam hari. Air mata itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedalaman tanggung jawab dan cinta terhadap umat.

Sosok Kuat yang Lembut Hati

Umar bin Khattab RA dikenal sebagai khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia memimpin Kekhalifahan Islam selama 10 tahun (634–644 M) dan membawa Islam pada masa keemasan ekspansi wilayah serta penataan sistem pemerintahan.

Namun di balik ketegasan dan keberaniannya, Umar memiliki sisi lembut yang jarang disorot. Ia sering kali menangis dalam kesendirian, terutama di malam hari. Bukan karena takut pada manusia, tapi karena rasa takutnya kepada Allah dan tanggung jawab terhadap rakyat.

Dalam banyak riwayat disebutkan, Umar kerap berjalan malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya secara langsung. Dalam sunyi malam itu, ia mendengar sendiri kelaparan, kesulitan, dan kesedihan yang tak tersampaikan. Seringkali, setelah mendengar keluhan rakyat, Umar pulang membawa beras dan memanggulnya sendiri, sambil menangis karena merasa belum mampu memenuhi amanahnya secara sempurna.

Pemimpin yang Takut Akan Neraka

Satu kisah masyhur berasal dari seorang pembantu yang mendapati Umar menangis di malam hari. Ketika ditanya, Umar menjawab: “Aku khawatir akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah jika ada rakyatku yang kelaparan, atau tak terpenuhi kebutuhannya, sementara aku tidur nyenyak.”

Kisah lainnya menyebutkan bahwa Umar mendengar seorang ibu sedang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Umar langsung turun tangan tanpa menyuruh ajudannya, membawa gandum, dan memasak sendiri untuk keluarga tersebut.

Kisah itu menunjukkan tangisan Umar bukanlah kelemahan, tapi refleksi dari hati yang dipenuhi takwa, empati, dan kepedulian mendalam. Umar tidak hanya pemimpin administratif, ia adalah pelayan rakyat yang takut jika ada satu saja dari mereka yang menderita karena kelalaiannya.

Menangis Bukan Tanda Lemah, Tapi Tanda Iman

Menangis di malam hari telah lama menjadi kebiasaan para sahabat Rasulullah SAW. Mereka bukan menangis karena masalah dunia, tapi karena perenungan terhadap akhirat. Umar bin Khattab dikenal sebagai sosok yang berubah drastis setelah memeluk Islam. Dari pria yang keras terhadap Islam, menjadi pemimpin paling bijak dan lembut hatinya.

Baca Juga:
  • Makna Idul Adha dan Sejarah Pengorbanan Nabi Ibrahim
  • Lelah Beribadah
  • Adab dan Sunnah Menyambut Ibadah Qurban
  • Harapan Terwujud: Jamaah Haji Tambahan Menyentuh Tanah Suci

Menurut riwayat, Umar sering menangis ketika membaca Al-Qur’an atau mendengarkan ayat-ayat yang menyentuh tentang hari pembalasan. Bahkan dalam shalat, suaranya sering terdengar parau karena tangisan. Ketika menjadi imam shalat, makmum bisa mendengar tangisnya dari beberapa barisan di belakang.

Tangisan ini mencerminkan keimanan yang dalam dan hati yang hidup. Dalam Islam, menangis karena takut kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang tinggi. Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari tiada naungan selain dari-Nya… salah satunya adalah seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Refleksi Kepemimpinan Zaman Kini

Di tengah dunia modern saat ini, sangat jarang ditemukan pemimpin yang menangis karena takut tidak adil terhadap rakyatnya. Banyak justru menangis karena tersangkut kasus korupsi atau kehilangan jabatan. Kepemimpinan Umar bin Khattab menegaskan bahwa rasa takut yang benar adalah kepada Allah, bukan kehilangan kekuasaan.

Saat ini, banyak rakyat yang masih kelaparan, pendidikan tak merata, dan fasilitas kesehatan yang timpang. Namun kita jarang melihat pemimpin yang benar-benar mau terjun langsung ke tengah masyarakat tanpa pencitraan. Umar bin Khattab, tanpa kamera, tanpa publikasi, berkeliling malam hari untuk memastikan rakyatnya tidak menderita.

Jika kita menilik realita sosial sekarang, apakah kita masih memiliki pemimpin yang menangis di malam hari karena rakyatnya?

Tanggung Jawab Seorang Pemimpin Menurut Islam

Dalam Islam, jabatan bukanlah kemuliaan, tapi amanah yang berat. Rasulullah SAW pernah bersabda:

Artikel Terkait:
  • Bolehkah Menulis Nama di Batu Nisan Kuburan?
  • Rahasia Batu Kerikil Jamaah Haji Setelah Lempar Jumrah
  • Sadar MIMPI
  • Tips Terbaru Kementerian Haji Saudi, Hati-hati Travel Haji-Umroh

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umar memahami hadis ini sepenuhnya. Ia menyadari bahwa kekuasaan adalah ujian, bukan keistimewaan. Karena itu, ia hidup sangat sederhana meski memimpin wilayah kekuasaan yang luas. Pakaian Umar biasa saja, bahkan ia menolak hidup mewah. Ketika ditawari hidup seperti kaisar Persia yang ia taklukkan, Umar menolak.

Hal ini menjadi pengingat bahwa pemimpin sejati bukan yang disanjung-sanjung, tetapi yang bisa tidur dengan tenang karena tahu rakyatnya telah hidup layak.

Keteladanan yang Harus Dihidupkan Kembali

Kisah Umar menangis di malam hari bukan sekadar cerita manis dari masa lalu. Ini adalah cermin yang harus kita pakai untuk mengevaluasi kehidupan hari ini baik sebagai pemimpin, maupun sebagai pribadi.

Jika kita seorang pemimpin keluarga, organisasi, atau negara sudahkah kita merasa cukup peduli dengan orang-orang yang kita tanggung jawabkan?

Jika kita rakyat biasa, sudahkah kita ikut mendoakan para pemimpin, mengingatkan mereka, atau meneladani sifat tanggung jawab dari Umar bin Khattab dalam lingkup kecil kita?

Jangan Lewatkan:
  • Selain 8 dan 20 Rakaat, Ini Ada Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
  • Childfree dalam Pandangan Islam
  • MUI Bantah Keterlibatan Resmi di Islam Ala Prabowo
  • Lansia dan Buta Boleh Tidak Melaksanakan Sholat Jumat?

Air Mata Umar, Cermin Nurani Umat

Air mata Umar bin Khattab yang jatuh di malam hari adalah simbol keberanian yang sesungguhnya berani menghadapi Allah dengan penuh kesadaran dan rasa takut. Ia mengingatkan kita bahwa pemimpin besar bukan yang tak pernah menangis, tapi yang tahu kapan harus menangis demi rakyatnya.

Di masa yang penuh kekacauan moral dan kepemimpinan yang rapuh, kisah Umar harus menjadi inspirasi abadi. Bahwa menangis karena Allah, dan karena cinta pada umat, adalah tanda kekuatan sejati.

Ibadah Malam Kepemimpinan Islami Kisah Teladan Tokoh Islam Umar Bin Khattab
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleRamadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid
Next Article Minuman Ini Redakan Nyeri Haid

Informasi lainnya

Syekh Al-Albani, Ketekunan Menjaga Warisan Hadis

11 September 2026

MUI Bantah Keterlibatan Resmi di Islam Ala Prabowo

10 September 2026

Jejak Dapur Gratis Ottoman, Amal atau Legitimasi?

20 Agustus 2026

MUI Ajak Keluarga Perkuat Moral di Momentum HUT RI

17 Agustus 2026

Makna Idul Adha dan Sejarah Pengorbanan Nabi Ibrahim

7 Mei 2026

Lupa Takbir Shalat Id, Sahkah Ibadahnya?

22 Maret 2026
Paling Sering Dibaca

Logika Nol yang Menyesatkan

Editorial Udex Mundzir

Hindari 5 Jenis Orang Ini Jika Ingin Sukses dalam Bisnis

Bisnis Assyifa

Menyesap Filosofi di Balik Secangkir Teh Jepang

Travel Alfi Salamah

Keutamaan Puasa Arafah, Ampunan Dosa dan Keselamatan dari Neraka

Islami Alfi Salamah

Apa yang Sebenarnya Disembunyikan dari Dana Desa?

Editorial Udex Mundzir
Berita Lainnya
Lingkungan
Alfi Salamah21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan, Benarkah Ada yang Sengaja Membakar?

Gunung Raung Erupsi, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius Tiga Kilometer

Tugu Titik Nol IKN Bertuliskan ‘Lorem Ipsum’, Jadi Simbol Ibu Kota yang Masih ‘Draft’

Jejak Pemilik PT IWIP dan Keterkaitannya dengan IMIP Morowali

Prioritas Silaturahmi Lebaran, Siapa Didahulukan?

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
Alat Tulis Sekolah Murah Buku Anak Islami Murah Perlengkapan Pramuka Lengkap
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot gacor https://kkyt.edu.my/hubungi-kami/ https://kkyt.edu.my/faq/ https://kkyt.edu.my/peta-laman/ mpo slot https://mk-gracia.ru/kompaniya/ boscuan303 boscuan303 boscuan303 boscuan303 slot resmi