Close Menu
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BI Kaltim Siapkan Rp2,18 T untuk Serambi 2026

Tim Kaltim Pantau Harga Pangan di Berau

Awal Ramadhan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp
Kamis, 26 Februari 2026
  • Advertorial
  • Rilis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram WhatsApp YouTube
Onews.idOnews.id
  • Beranda
  • News
    • Nasional
    • Daerah
    • Figur
    • Info Haji
    • Rilis Berita
  • Info Haji 2025
  • Politik
  • Ekonomi
  • Saintek
  • Artikel
WhatsApp Channel
Onews.idOnews.id

Kyoto Kerek Tarif Wisata Demi Selamatkan Warisan Budaya

Menyeimbangkan kunjungan dengan keberlanjutan adalah kunci masa depan pariwisata yang cerdas.
Alfi SalamahAlfi Salamah13 November 2025 Travel
Destinasi Wisata Jepang
Kyoto
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Gelombang wisatawan yang tak terkendali membuat Kyoto, kota bersejarah Jepang, mengambil langkah tegas. Pemerintah kota ini resmi menaikkan tarif penginapan dan pajak wisata mulai tahun depan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap krisis overtourism yang memuncak pascapandemi, yang menekan infrastruktur, lingkungan, dan kualitas hidup warga lokal.

Setelah pembatasan perjalanan dilonggarkan, jumlah wisatawan ke Kyoto melonjak tajam. Jalanan di kawasan seperti Gion menjadi penuh sesak, situs-situs budaya seperti Kuil Kiyomizudera kewalahan menerima pengunjung, dan masalah sampah menjadi hal biasa. Penduduk mengeluh kehilangan ruang hidup mereka.

Bukan hanya gangguan visual, krisis overtourism ini berdampak pada pelestarian budaya dan lingkungan. Pemerintah akhirnya memilih bertindak.

Tarif Naik, Wisata Lebih Tertata

Mulai Maret 2026, tarif penginapan dan pajak wisata di Kyoto akan naik signifikan. Pajak akomodasi akan kena berdasarkan harga per malam per orang. Hotel-hotel kelas atas akan menerima pajak tertinggi, mencapai ¥10.000, naik dari sebelumnya ¥1.000.

Kenaikan ini bukan semata demi pemasukan. Wali Kota Kyoto menyatakan, “Kebijakan ini untuk menjaga keseimbangan antara kunjungan wisata dan kenyamanan hidup warga.” Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk memperbaiki transportasi publik, melestarikan situs budaya, dan mendukung usaha lokal.

Dampak Beragam dari Berbagai Pihak

Reaksi terhadap kebijakan ini beragam. Sebagian wisatawan menganggap biaya tambahan sebagai beban baru. Beberapa agen perjalanan bahkan memperkirakan wisatawan akan berpindah ke kota seperti Osaka dan Nara yang lebih murah.

Namun warga lokal justru menyambut baik langkah ini. Mereka berharap kebijakan ini bisa mengurangi kepadatan dan membawa kembali ketenangan di lingkungan mereka.

“Kami merasa kota ini kembali menjadi milik kami, bukan hanya destinasi selfie turis,” ujar Haruka, warga Kyoto yang tinggal di dekat kawasan wisata Arashiyama.

Mengikuti Jejak Kota Dunia

Kebijakan ini bukan hal baru dalam dunia pariwisata. Kota-kota seperti Venesia dan Barcelona telah lebih dulu menerapkan tarif tambahan untuk wisatawan. Kyoto kini mengikuti jejak serupa dengan pendekatan yang sesuai dengan budaya Jepang.

Selain tarif, Kyoto berencana menerapkan sistem pemesanan online bagi wisatawan yang ingin mengunjungi lokasi-lokasi populer. Ini bertujuan membatasi jumlah pengunjung harian secara efektif.

Strategi Jangka Panjang untuk Warga

Pendapatan dari pajak dan tarif baru akan berguna untuk mendukung sektor publik dan komunitas. Fokus utama adalah pada pelestarian situs warisan dunia, peningkatan layanan publik, dan promosi wisata berbasis komunitas.

Dengan pengunjung yang lebih tertata, harapannya ekonomi lokal tumbuh dengan inklusif. Warga tidak lagi sekadar menjadi penonton, tapi ikut menikmati manfaat ekonomi dari pariwisata yang lebih berkualitas.

Menjadi Contoh Dunia

Kebijakan ini mencerminkan arah baru dunia pariwisata: dari kuantitas menuju kualitas. Kyoto ingin membangun pariwisata yang sadar budaya dan ramah lingkungan.

Langkah ini bukan bentuk pembatasan, tapi strategi agar kota tetap bisa menyambut pengunjung dengan cara yang menghargai ruang hidup dan warisan sejarah. Jika berhasil, Kyoto bisa menjadi contoh global dalam praktik pariwisata berkelanjutan.

Destinasi Kyoto Destinasi Wisata Jepang Tokyo Travel
Share. Facebook Pinterest LinkedIn WhatsApp Telegram Email
Previous ArticleDPRD Kutim Desak Efisiensi Anggaran, Peringatkan Potensi Sanksi
Next Article Curug Malela: Niagara Mini di Jantung Hutan Jawa Barat

Informasi lainnya

Aphrodisias: Kota Dewi Cinta yang Abadi

31 Januari 2026

Cappadocia: Kota Bawah Tanah yang Membongkar Sejarah

30 Januari 2026

Ephesus: Kota Legendaris yang Tak Pernah Mati

28 Januari 2026

Kastil Neuschwanstein, Dongeng Itu Nyata

27 Januari 2026

Liburan Seru Cuma Rp1 Juta?

19 Januari 2026

Ledakan Wisata Labuan Bajo

17 Januari 2026
Paling Sering Dibaca

Rekomendasi Menu untuk Mengelola Daging Qurban

Islami Alfi Salamah

Tips Anti Baper Saat Lihat Pasangan Halal Muda

Daily Tips Alfi Salamah

Kontroversi Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Antikritik dan Kemewahan Helikopter

Argumen Udex Mundzir

Pentingnya Self-Care dan Cara Menjaganya

Opini Alfi Salamah

Mengapa Aisyah Dinikahi di Usia Muda?

Islami Ericka
Berita Lainnya
Nasional
Lisda Lisdiawati5 Februari 2026

Ramadan 2026: Kemenag Tetapkan Batas Volume Toa Masjid

Limbah Kelapa Muda Menumpuk, Teh Ros Tawarkan Gratis

Haji 2026 Diperketat, Jemaah Tak Sehat Terancam Gagal Berangkat

Pelaku UMKM Kesulitan Jadi Mitra MBG, Syarat Dinilai Berat

Layanan Legalisasi Apostille, Langkah Terbaru Ditjen AHU

  • Facebook 920K
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
“Landing
© 2021 - 2026 Onews.id by Dexpert, Inc.
PT Opsi Nota Ideal
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

boscuan303 boscuan303 rtp boscuan303 slot mpo slot thailand slot gacor slot gacor slot gacor